
Meski dengan napas Sandor yang terengah, dia tampaknya masih bisa betarung satu atau dua jam lagi. Paula menggertakkan giginya dengan marah, dia sangat tidak terima jika harus kalah dari bajingan gila ini.
“Eh, kenapa berhenti? Mau istirahat sebentar?”
“Diam!” Paula menatap marah pada Sandor.
Saat itu, suara klik sepatu yang berirama terdengar, sesaat kemudian seorang wanita dengan pakaian mewah muncul. Rambut hitamnya yang dihiasi bunga mawar sedikit bergerak saat dia berjalan.
Tanah di taman itu telah membeku sepenuhnya, tetapi itu tidak menghalanginya. Dia berjalan ke arah mereka dan tersenyum.
“Kakak, mereka membuat keributan di sini,” adu salah satu penjaga pada wanita cantik itu.
Wanita itu adalah pemilik dari rumah mawar, bibir merah ranumnya tersenyum. Dia melirik tajam pada para penjaga itu dan tatapannya sangat dingin, tetapi kemudian langsung beralih pada Wira.
“Bisakah kamu melepaskan mereka dulu?” dia tersenyum ramah dengan suara lembut.
Wira tidak mengatakan apa-apa dan tidak ada apa-apa di wajahnya selain ketenangan.
Es berangsur-angsur meleleh dan hilang, bahkan tidak ada air sama sekali yang tersisa. Magie, wanita cantik itu ternganga tapi langsung kembali pada tampilan anggunnya yang sebelumnya.
“Terima kasih,” katanya pada Wira.
Usianya tidak terpaut jauh dari Erina, setidaknya itulah yang bisa mereka lihat dari wajahnya. Kulit putihnya sangat kontras dengan gauh merah yang dia kenakan saat ini, juga riasan wajahnya yang tebal tetapi tidak norak sama sekali. Semua hal indah yang dia kenakan seolah memang diciptakan untuknya.
“Bisa aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini?” matanya tertuju pada gedung di tengah taman itu, di mana ada lubang besar di dindingnya. Taman bunga mawarnya juga rusak parah, jika itu orang lain maka dia pasti akan langsung menghabisinya di tempat.
Tetapi semua anak-anak ini adalah anak dari orang-orang penting. Yang satu adalah Tuan Muda dari keluarga Moa, yang satu adalah anak dari Si Banteng Merah dan seorang pria muda tampan yang kelihatannya tidak mudah untuk ditangani.
“Tanyakan saja pada gadis ini, mereka tiba-tiba datang dan langsung menyerang. Tidak tahu sopan santun!” Ansel berteriak sambil menudingkan jarinya pada Paula.
“Heh, bajingan sepertimu masih berharap untuk dihormati?” Paula tersenyum mengejek, ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya saat dia tersenyum.
“Kau ...!”
Magie menatap Paula cukup lama sebelum akhirnya dia menjentikkan jarinya ke udara dengan terkejut.
“Kau anaknya Pulcra, kan? Oh ya ampun, jika bukan karena ayahmu aku mungkin sudah mati sejak lama,” katanya panjang lebar.
“Hah?”
__ADS_1
“Kau tidak tahu ya? Tidak apa-apa, itu bukan masalah. Intinya aku berhutang nyawa pada keluargamu, Nona Muda.”
Magie melihat kerutan di dahi Paula dan wajahnya sangat buruk, ada kemarahan yang masih tersisa tergambar di sana.
Magie tertawa dan menampilkan deretan gigi-giginya yang putih, lalu menatap Paula.
“Lupakan, kalian bisa pergi sekarang. Aku tidak akan meminta ganti rugi, kok,” katanya pada mereka.
“Kecuali kalian, Tuan Muda Moa.”
Sandor terkesiap, Ansel dan beberapa temannya yang lain juga tampak terkejut.
“Apa maksutmu?” tanya Sandor dengan tawa kecilnya.
“Maksutku adalah, kalian bisa pergi setelah menyelesaikan pembayaran atas semua kerusakan yang telah kalian lakukan.”
Ketika mendengar ini, Sandor bingung untuk sesaat tapi di detik berikutnya dia menjadi marah. Apakah wanita di depannya ini baru saja meminta ganti rugi padanya? Apakah dia tidak tahu identitas macam apa yang dia miliki?
“Dengar, Tuan Muda Moa. aku tidak peduli identitas macam apa yang kamu miliki, kamu merusak gedung istimewaku dan taman bungaku jadi kamu harus menggantinya sebelum kamu pergi dari sini,” kata Magie menjelaskan seolah dia bisa mendengar isi kepala Sandor.
Setelah Magie selesia mengatakan itu, puluhan penjaga mengepungnya. Ansel yang berdiri di sebelah Sandor jatuh terduduk ketika kakinya tiba-tiba menjadi lemas seperti tulang telah hilang dari sana.
Sandor menggertakkan giginya dengan kesal kemudian melemparkan satu cincin dari sakunya kepada Magie, setelah melihat isinya senyum di bibir Magie kembali mengembang sempurna.
“Biarkan mereka pergi.”
...
Saat ini, Erina, Paula dan yang lainnya telah keluar dari Blody rose. Erina masih gemetar saat Paula dan Bella membantunya berjalan.
“Ayo kami antar pulang.”
“Tidak! Tidak bisa, aku tidak bisa pulang kerumah sekarang.”
Paula mengernyit. “Kenapa?”
“Ibu ... ibuku sedang sakit, jika dia dan adik-adikku tahu aku dalam keadaan begini itu tidak akan baik untuk kesehatannya.” Erina menjelaskan dengan panik.
“Sakit?” Mata Heaven tiba-tiba berbinar, dia kemudian melanjutkan. “Tidak masalah, Paula dan juga Wira mungkin bisa membantu. Jadi biarkan mereka melihat kondisi ibumu.”
__ADS_1
“Hah? Oh, iya benar.” Paula mengangguk setuju.
Kemudian mereka membawa Erina kembali setelah ia setuju untuk membiarkan mereka melihat kondisi ibunya.
Sekarang, setelah Erina mengganti pakaiannya, dia membawa Heaven dan yang lainnya menuju kamar ibunya.
Setelah pintu kayu itu dibuka, mereka bisa melihat seorang wanita tua sedang berbaring di tempat tidur. Tubuhnya sangat kurus hingga nyaris seperti hanya kulit yang membalut tulang saja.
“Er, itu kamu?”
Erina buru-buru menghampiri wanita itu saat tangannya melambai-lambai di udara.
“Ya, Bu. Aku membawa seseorang,” katanya.
Dia meraih kemudian menggenggam jemari ibunya yang terasa dingin dan membawanya ke pahanya. Air mata Erina tiba-tiba turun, dia menangis. Dia sudah menahannya sangat lama, Erina selalu tidak bisa menahan untuk tidak menangis di hadapan ibunya.
“Siapa? Nak, ibu tidak apa-apa, jangan habiskan uangmu dengan sia-sia.”
Erina menggeleng pelan dan isakan tangisnya pecah. “Tidak, Bu.”
Dia menghapus kasar air matanya dan bangkit kemudian menatap mereka dengan mata merah.
“Ibuku buta, dia juga memiliki penyakit pada kulit dan tulangnya. Dia selalu berjemur di bawah terik matahari karena bekerja sebagai buruh pemetik teh,” jelas Erina dengan suara serak.
“Juga, karena masalah usia dan jarang menerima asupan yang cukup karena kami sangat miskin,” katanya lagi kembali terisak, air matanya terus turun tanpa di minta.
Heaven melihat sekeliling, itu ruangan yang sangat kecil dan hanya ada satu tempat tidur dan satu meja kecil di sana. Mereka berenam bahkan saling berdempetan karena tempat yang sempit.
Paula dan Bella saling memandang sebentar sebelum akhirnya melangkah bersama untuk meraih tangan Erina dan menggenggamnya.
Mata Bella sudah mulai merah dan hidungnya juga, dia menarik napas dalam-dalam untuk tidak ikut menangis.
“Bu, jangan khawatir, kami pasti akan membantumu.” Kata-kata Paula membuat tangis Erina kembali pecah, dia sesenggukan dan tampak putus asa.
Erina sudah beberapa kali membawa tabib untuk memeriksa keadaan ibunya, tetapi setiap tabib yang datang selalu menggelengkan kepala mereka dan mengatakan tidak ada yang bisa membantu.
Ibunya tidak bisa sembuh.
Bersambung ...
__ADS_1