The Escapade

The Escapade
EPISODE 61


__ADS_3

Oberyn diam, sejujurnya iya. Tapi dia agak ragu tentang itu, terlebih pada kata ‘sesuatu yang paling disayangi’. Apakah kata itu mengacu pada dirinya atau sesuatu yang lain.


   “Jika tidak maka aku akan pergi,” kata Shinrain agak kasar, menyentak Oberyn kembali ke alam nyata.


“Kenapa? Tidak punya jawaban?”


   “Pergilah, dasar penyihir!”


Oberyn membanting tubuhnya ke kasur dan menutupi kepalanya dengan bantal, berusahan meredam semua ocehan yang tiba-tiba saja timbul dalam kepalanya.


Tidak dipungkiri bahwa dia juga sebenarnya sangat ingin tahu, jika memang benar bahwa Hydra sangat menyayanginya lalu ada apa dengan sikap kasarnya itu?


Bukankah seharusnya dia sangat peduli, bukannya malah sebaliknya. Pria itu hanya memikirkan masalah akademi dan akademi. Sumber daya dan materi.


   “Aggrh, Brengsek!” teriaknya dalam hati.


Shinrain mendengus dingin saat dia membalik tubuhnya untuk melihat Oberyn.


   “Kau pengecut,” cela Shinrain.


Oberyn hanya menggeram dari balik bantalnya sebagai reaksi atas hinaan itu.


   “Harusnya kau tahu, tapi kau terlalu penakut untuk menyadari semuanya.”


Oberyn menggeram lebih keras dari sebelumnya, hanya saja teredam oleh bantal yang menutupi seluruh kepalanya.


  “Kau seharusnya—”


   “Diamlah!” Oberyn akhirnya duduk dan berteriak saat dia melempar bantalnya ke arah Shinrain sehingga gadis itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.


   “Jika kau ingin bicara maka bicaralah dan jika tidak silahkan keluar, aku sudah sangat pusing sekarang!”


Shinrain menarik sudut bibirnya. Akhirnya adiknya yang konyol itu menampakkan kekonyolannya lagi, itu adalah salah satu dari keunggulannya di mata Shinrain.

__ADS_1


Dia kemudian menarik satu kursi untuk duduk sambil terus memperhatikan Oberyn yang kini menarik-narik rambutnya sendiri seperti orang gila. Dia tampak sangat buruk dengan rambut acak-acakan dan wajah tertekan yang tergambar sangat jelas.


   “Yah, menurutmu aku akan bicara pada orang gila?”


   “Oh, berhenti bicara seolah-olah aku sudah gila, kakak!”


Shinrain semakin menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah bulan sabit yang merah ranum, tapi sepersekian detik kemudian wajahnya berubah menjadi serius lagi.


   “Itu dimulai saat kau masih dalam kandungan ibu.” Pikiran Shinrain hampir melayan saat Oberyn dengan tidak sopan langsung menyela ucapannya.


   “Tunggu, kau baru berusia tiga tahun saat itu! Bagaimana mungkin kau masih ingat,” cibirnya tidak percaya.


   “Dengarkan dulu, dasar bodoh!”


   “Oke, lanjutkan.”


Shinrain mendengus kesal, tapi tetap melanjutkan ceritanya.


   “Saat kau hampir dilahirkan, ibu tiba-tiba jatuh sakit. Penyakitnya sangat misterius dan tidak ada satupun tabib yang bisa mengobatinya, seperti semuanya telah menemui jalan buntu. Sampai akhirnya waktu persalinan telah tiba, tabib mengatakan bahwa kemungkinan keduanya__Ibu dan anak__ akan hidup sangatlah tipis.


Shinrain berkali-kali menghembuskan napasnya setiap kali dia mengucapkan kata demi kata. Hatinya sangat sakit menceritakan masa lalu pilu itu tapi dia harus, Obeyrn harus tahu bahwa ayahnya sangat mencintanya. Sangat.


   “Sudah selesai?” tanya Oberyn saat Shinrain tidak berbicara lagi dalam waktu yang cukup lama.


Shinrain meliriknya sebentar sebelum melanjutkan.


   “Tepat saat kau baru saja lahir, tubuh ibu langsung berubah menjadi biru. Kulitnya menjadi sangat gelap dan sarafnya menonjol keluar dengan warna biru, bibirnya menjadi sangat pucat dan matanya ... menjadi merah,” kata Shinrain dengan suara gemetar.


   “Ternyata selama ibu mengandungmu dia telah menekan semua racun ganas yang ada di dalam tubuhnya hanya demi bisa melahirkanmu ke dunia ini, dan saat itu tiba ... ibu berpesan pada ayah bahwa dia harus merawatmu dengan baik dan penuh kasih sayang karena ibu tidak akan ada lagi, karena ibu tidak bisa melihat kau tumbuh menjadi seorang anak yang sehat.”


Shinrain menggigit bibirnya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri, sementara Oberyn termangu di atas kasurnya dengan tatapan kosong. Pikirannya sudah dipenuhi bayang-bayang masa kecilnya. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu.


   “Jadi ibu diracuni? Oleh siapa?” tanya Oberyn saat dia mengalihkan pandangannya dengan cepat untuk menatap Shinrain.

__ADS_1


Gadis itu hanya menggeleng pelan dengan tidak berdaya.


   “Tidak tahu, ayah tidak memberitahuku. Saat aku bertanya dia hanya mengatakan bahwa itu tidak perlu dibahas lagi, semua sudah berlalu. Kemudian dia pergi setelah mengatakan itu.”


   “Orang tua itu benar-benar payah!” Oberyn mengeram marah.


Shinrain kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu, dia berbalik sebentar dan mengatakan, “Aku sudah mengatakan apa yang kutahu, sisanya pikirkan sendiri. Apakah kau akan tetap jadi anak bodoh atau menyingkirkan kebodohan itu, terserah padamu.” Dia pergi setelah mengatakan itu.


Oberyn masih duduk di kasurnya untuk waktu yang lama, otaknya masih terus memutar-mutar ulang lagi kata demi kata yang Shinrain katakan sebelumnya.


   “Aggr! Aku benar-benar akan jadi gila sekarang.” Dia mengacak rambutnya dan menggeram seperti seekor serigala.


Setelah memikirkannya hampir semalam suntuk, Oberyn akhirnya telah mengambil keputusan. Jika itu terjadi di masa lalu dia pasti akan segera mencari cermin untuk melihat dirinya dan mencaci dirinya sendiri karena mengambil tindakan ini.


Dan di sinilah dia, berdiri di luar ruangan pribadi Hydra. Oberyn telah berdiri di sana hampir lima belas menit lamanya, untunglah bangunan itu terpisah dengan bangunan lainnya karena jika tidak,itu akan sangat memalukan saat orang lain melihat seorang Oberyn Chigo yang tidak berani mengetuk pintu.


Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, dia mengetuk pintu tapi saat tangannya hampir sampai seseorang telah membukanya dari dalam.


Jantungnya hampir lepas dari tempatnya!


   “Eh, Oberyn, kau di sini?” Ketua Taman Obat baru saja keluar dari ruangan Kepala Akademi setelah membahas beberapa hal secara pribadi.


Oberyn hanya menggaruk kepalanya dengan canggung. Drago Magani, Ketua Taman Obat langsung pergi setelah pertanyaan singkatnya. Dia tahu kedua orang ini perlu sedikit ruang untuk membenahi kesalahpahaman yang telah terjadi.


Setelah bertahun-tahun, Oberyn akhirnya masuk lagi ke ruangan itu. Ruangan pribadi milik Hydra. Dia mendorong pintu dan mulai berjalan masuk.


Melihat sekeliling dengan tingkah skeptisnya. Tidak banyak yang berubah, itu masih sesuai dengan ingatannya yang terasa samar-samar sekarang.


Dia ingat dia sering bermain di ruangan itu saat dia masih kecil dulu, tapi semakin dia tumbuh dewasa dan semakin tidak terlihatnya kasih sayang Hydra, dia mulai melupakan semua itu dan perlahan-lahan menjadi lebih sering bermain di luar sana.


Suara batuk seseorang menyentaknya kembali untuk fokus. Hydra duduk di kursinya, dia mengulurkan tangan untuk mempersilahkan Oberyn duduk tapi anak itu tidak duduk.


Dia berjalan ke arah meja, alih-alih duduk, Oberyn hanya menatap sekilas kursi di depannya kemudian beralih untuk menatap orang tua di depannya itu.

__ADS_1


   “Ada apa? Tidak biasanya kau datang ketempatku secara pribadi.”


Bersambung ...


__ADS_2