
Sebulan kemudian, kami disuruh Dokter Jassen untuk berkumpul di ruang tengah. Dengan gembira pak tua itu mengatakan, "Kalian boleh keluar mulai sekarang". Untuk kesekian kalinya kami di buat bingung oleh Dokter Jassen. "Kalian akan paham", lanjutnya sambil menekan suatu tombol.
Atap ruangan itu terbuka, angin menerpa kami, cahaya matahari bersinar gembira. Kami semua takjub dengan apa yang kami lihat.
"Jadi selama ini kita berada di bumi?", tanya Mabel.
"Ya begitulah, sekarang kalian merasakan udara yang segar setelah 400 tahun berkurangnya polusi di bumi".
"Mungkin kalian bisa berkeliling tempat ini untuk bersantai, tapi ingat jalan berjalan terlalu jauh dari sini", tawar Dokter Jassen.
"Baik dok", jawab kami semua dengan gembira. "Aku akan pergi untuk mengecek reaktor nuklir dulu", "Bersenang-senanglah". Dr Jassen kemudian pergi meninggalkan kami.
Pintu didepan kami terbuka lebar, terlihat pohon-pohon dan rumput hijau melambai kearah kami. Kami segera berlari keluar, seketika kami disambut cahaya matahari petang yang indah. Tapi kami teringat perkataan Dokter Jassen, untuk jangan menatap matahari terlalu lama. Sehingga kami melihat yang lain saja.
"Don, lihat ada benda menggantung", panggil Afton sambil menunjuk ke arah sarang lebah yang tergantung di ranting pohon. Para pemuda menuju ke pohon itu, sementara pemudi pergi ke taman bunga.
Sarang lebah itu sangat besar dan berwarna kehitaman. Disekitarnya terdapat banyak lebah yang akan memasuki sarang itu. Dengan rasa penasaran Ramko lalu mengeluarkan pisaunya dan menebas sarang itu. Sarang lebah itu lalu jatuh pecah dan lebah-lebah didalamnya keluardengan sengatnya.
"LARI!", teriak Shina. Kami langsung lari tanpa pikir panjang. Lebah itu mengejar kami kemanapun kami pergi.
"Ramko kenapa kau hancurkan rumah lebah itu?", tanya Afton.
"Aku cuma penasaran sama isinya".
Sementara para laki-laki dikejar lebah, para gadis berbincang satu sama lain sambil bermain dengan bunga-bunga ditaman. Mereka membuat rajutan, kalung dan pita dari bunga dan tanaman.
"Nadia bagaimana dengan kalungnya?", tanya Mabel.
"Cantik sekali aku suka ini", balasnya.
Sejak saat itu Mabel menyukai kerajinan dari bahan tanaman. Dia juga membuatkan kalung untuk Arina dan Linda juga. Mereka menyukainya karena sesuai dengan warna kesukaan mereka.
"Oh iya Nadia, apa kamu tertarik salah satu dari mereka berempat?", tanya Linda iseng. "Siapa?"
"Cowo-cowo itu dong."
"Mungkin kamu lebih cocok dengan Donny atau Shina", ucap Mabel. Wajah Nadia memerah lalu terunduk malu.
"Ka..Kamu sendiri yang seharusnya lebih cocok dengan Ramko karena kamu sering menghajarnya."
"Itu bisa dibilang manifestasi rasa marahku", balasnya dengan wajah cemberut.
"Lalu bagaimana dengan Arina?", "Dia terlihat dekat dengan Afton", kata Mabel sambil nyengir.
__ADS_1
"Tidak juga", jawabnya dengan muka datar.
"Kalau begitu Shina."
"Benar juga ya, diakan anak yang jenius", sambung Linda.
"Bilang saja kalau kamu tertarik dengannya Linda", balasnya dengan senyum meledek.
"Hey"
"Aku setuju ayo kita panggil dia!", sambung Nadia. Muka Linda memerah lalu dia menutupi wajahnya. Saat akan melihat Shina, mereka baru menyadari kalau Shina dan yang lainnya dikejar oleh sekawanan lebah.
Selanjutnya mereka melompat ke kolam. Para pemudi menonton mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah lebah itu pergi, mereka baru bisa keluar dari kolam itu. Mereka kelelahan setelah berlari sangat lama.
Anak-anak, ini saatnya mandi dan makan, masuklah sekarang! Hari mulai gelap dan kami masuk dengan tubuh kedinginan. Selanjutnya kami mandi dan makan seperti biasa. Malamnya kami masih diperbolehkan untuk keluar. Jadi, malam harinya ketika teman-temanku sedang tidur, aku keluar sendiri dan menikmati cahaya bulan dan bintang.
Aku duduk sendiri ditengah hamparan padang rumput yang luas. Udaranya yang dingin membuatku harus menebalkan syalku.
"Kamu sedang apa don?" tanya Arina dari belakang.
"Ah, tidak cuma nyari udara segar"
"Boleh aku duduk?"
Suasana menjadi tegang seketika. Aku bigung mau bicara apa dengan Arina. Begitu juga dengan Arina yang tidak berubah posisi. Tiba-tiba sebuah ide muncul di otakku.
"Kamu lihat bintang-bintang itu?"
"Iya memangnya kenapa?"
"Orang zaman dulu melihat arah mata angin dengan rasi bintang."
"Rasi bintang?"
"Yap, ketika suatu rangkaian bintang tertentu dihubungkan, maka akan terlihat sebuah pola yang membentuk sesuatu", "Semisalnya rangkaian itu, kau dihubungkan bisa membentuk kalajengking"
"Bagaimana kamu tahu?"
"Entahlah hal itu, seperti pernah kubaca sebelumnya."
"Ingatan masa lalu ya". Arina mulai menurunkan nada suaranya.
"Ya."
__ADS_1
Suasana menjadi tegang lagi, kami berdua tak ada yang berbicara. Pundak kiriku tiba-tiba terasa berat diikuti aroma bunga yang harum. Aku merinding ketakutan tapi aku harus terlihat berani. Kenapa aku takut aku juga tidak tahu.
Pundakku terasa semakin berat. Aku juga mendengar suara seseorang sedang bernafas dari kanan dengan angin yang menghembus ke kanan. Aku yang mendengar suara itu, memberanikan diriku melihat ke kanan. Tidak ada apa-apa.
Ketika aku melihat kekiri, kulihat Arina tertidur bersandar di bahu kiriku. Aku berharap ini hanya mimpi tapi inilah kenyataan. Tangannya terasa dingin sehingga aku melebarkan syalku dan menjadikan selimut bagi Arina. Mukaku memerah, detak jantungku sangat tinggi.
Tapi aku berusaha bersikap tenang, meskipun itu mustahil bagiku. Mataku kian berat, tak sengaja aku menutup mata dan tertidur.
...*...
"Arina bangun ini sudah siang!" panggil Mabel. Mata Arina masih setengah terpejam.
"Mungkin kamu akan bertanya kenapa kamu ada dikamar sekarang", kata Mabel sambil nyengir.
"Benar juga ya"
"Tadi pagi Donny mengantarmu ke kamar", "Dia bilang kamu ketiduran di taman", Nadia menjelaskan.
"Donny?"
"Sudahlah lupakan sekarang kamu mandi dulu!" perintah Linda. Arina lanhsung pergi kekamar mandi dengan cepat.
Sementara itu dikamar laki-laki, belum ada satupun yang terbangun. Mereka hanya terbangun untuk buang air kemudian melanjutkan mimpinya. Dokter Jassen datang ke kamar laki-laki diikuti yang perempuan. Dokter Jassen kemudian membuka pintu kamar, lalu Mabel menyiramkan air kemuka kami satu persatu.
"Mungkin kamu perlu menyiram air panas, bel", ucap Linda geram. Pagi yang suram ya? Aku, Ramko dan Shina langsung berlari ke kamar mandi. Sementara Afton masih tertidur.
"Anak ini", Arina mulai emosi.
"Tunggu, cara tidurnya tidak biasa, dia tak sadarkan diri", potong Dr Jassen.
"Sepertinya ada peniru disini."
"Peniru? Maksudnya robot?", tanya Linda.
"Begitulah."
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan benturan keras. Alaram di ruangan itu berbunyi. Robot-robot berlari menuju lokasi dengan senjata mereka. Shina berlari ke kamar laki-laki sambil tersengal.
"Dokter, Ramko menggila."
"Ternyata itu Ramko", "Mabel, Nadia bawa Afton ke kapal angkasa!"
"Arina, Linda cari Ramko yang asli, mungkin saja dia disembunyikan ke gudang", perintah Dokter Jassen.
__ADS_1
Sementara itu, aku sedang sibuk bertarung dengan peniru itu. Dia tidak bisa mengeluarkan elemen petir selayaknya Ramko. Namun, tubuhnya terbuat dari logam cair yang tidak bisa ditusuk. Ketika dia akan ditusuk tubuhnya mengeras seperti logam pada umumnya. Gerakannya juga selincah denganku. Robot itu juga bebas berubah bentuk menjadi apapun. Seperti tidak ada cara untuk melenyapkannya.