
Beberapa bulan kemudian, perang antar kedua planet pecah. Ribuan pesawat perang terbang memasuki luar angkasa. Mereka bersamaan diberi perintah untuk maju dengan kecepatan cahaya ke titik A atau medan perang.
Sesampainya disana, radar pesawat induk mendeteksi musuhnya. Segera pintu-pintu pesawat dibuka, mengeluarkan ribuan tentara robot dan cyborg elemen lengkap dengan senjata dan peluncur roketnya.
"C4 dan C5 sudah dikeluarkan kapten".
"Bagus, mari kita lihat apakah mereka bisa melawan pasukan klon elemen milik kita yang berjumlah ribuan", balas Erkan di dalam pesawat induk.
Dari Aquopora keluar robot-robot raksasa dengan pedang dan senjata plasma jumbo. Mereka mengobrak abrik pesawat tempur yang berada di barisan depan. Disaat itulah fungsi cyborg mutan sangat terpakai. Mereka memasuki robot-robot raksasa itu. Lalu merusak komponen didalamnya.
Ribuan pesawat tempur juga tidak tinggal diam. Mereka mengejar dan menembaki pesawat musuh yang memasuki garis pertahanan dengan tembakan lasernya.
Senjata yang dipakai di pesawat-pesawat tempur C40Res adalah senjata buatanku yang pernah populer. Plasma yang ditembakkan akan menempel pada target, lalu meledak dengan suhu yang fantastis. Tidak mau kalah, pesawat tempur Aqoupora bersenjata rudal yang mampu mengejar lalu meledakkan musuhnya.
Pertempuran epik itu terjadi selama berjam-jam. Menghabiskan total jutaan tentara dan ribuan pesawat dari kedua kubu.
Meski jumlah pasukan C40Res lebih sedikit, namun kehancuran yang diperoleh justru lebih banyak. Menanggapi pasukan mereka akan kalah, satu-persatu pesawat tempur dan robot ditarik mundur untuk berlindung.
Aku menyadari ada yang janggal, sampai saat ini tanda-tanda kemunculan manusia elemen musuh masih belum juga terlihat.
"Picu mereka keluar dengan menyerang pesawat induk mereka!", perintah walikota Inaba.
Pesawat tempur C40Res langsung berputar arah menuju pesawat induk Aquopora. Pesawat induk Aquopora langsung memunculkan perisai yang terbentuk dari kumpulan perisai segi enam, melingkari seluruh pesawat.
Perisai itu transparan dan keras. Seluruh pasma dan laser termasuk bom tidak mampu menembusnya. Pasukan C40Res berkumpul dan menembak perisai bersama-sama.
Pesawat besar itu membuka pintunya lalu mengeluarkan sepuluh robot besar yang langsung terbang menuju planet C40Res dengan kecepatan cahaya. Disaat seluruh pandangan pilot pesawat tempur teralihkan, ribuan rudal-rudal terbang dan meledakkan mereka seperti kembang api. Seluruh orang di pesawat induk panik dan marah karena itu.
"Kapten, robot-robot raksasa musuh berhasil memasuki atmosfer".
"Daerah mana?", tanya Frank.
"Ini... E.. Inaba dan tambang tua".
"APA?!",
"Cepat keluarkan pasukan pelindung masing-masing kota!", "SEKARANG!!"
"Baik kapten"
"Mereka ingin bermain curang rupanya".
"Ini membahayakan penduduk sipil dan menyalahi aturan perang".
"Benar", Dimana Ken?"
"Dia ada di kapal ini, bbagian mekanik", jawab Erkan.
"Erkan, teleportasi kembali ke C40Res bersama, Ken!",
"Hancurkan robot itu sebelum mereka membunuh penduduk sipil", perintah Jendral Cops.
"Diterima", Erkan langsung berubah menjadi debu kuning dan menghilang.
"Ken!", panggilnya sambil menepuk pundakku.
"HAH!? Apa?"
"Kita kembali ke markas sekarang!"
"Lang-"
Lampu evakuasi pesawat menyala. Semua orang panik dan lari tak tentu arah. Lingkaran-lingkaran cahaya kuning muncul dimana-mana, mengeluarkan para monster yang kami kenali.
Kami berdua mengambil senjata kami dan memasang zirah yang punya. Kami berdua bertarung bersama, dibantu oleh pekerja para pesawat ini. Monster itu mampu merayap diatap dan dinding
"Erkan! Panggil pasukan untuk mundur!"
"FRANK!!", "BAGIAN MEKANIK DISERANG!!",
"TARIK PASUKAN MUNDUR SEKARANG!!",
"FRANK, FRANK KAU DENGAR AKU!? COPS, COPS, JAWAB!?", teriak Erkan diteleponnya.
Melihat adanya ledakan dari pesawat musuh. Pesawat induk Aquopora menarik pasukannya dan menyerang kembali. Membuat pasukan milih C40Res hancur sedikit demi sedikit.
Lingkaran itu tak kunjung menutup dan terus mengeluarkan monster-monster. Kami terpojok, terkepung dengan jumlah yang terlaku banyak. Darah para pekerja berjejak dimana-mana, membuat kami semakin takut.
Erkan memegang tanganku, memindahkan kami langsung ke luar Kota Inaba. Betapa terkejutnya kami ketika sampai disana. Menemukan kota Inaba yang hangus terbakar dan ledakan dimana-mana.
Tanpa pikir panjang, syalku mengikat kakiku dan membentuk roket plasma. Terbang langsung kelangit kota yang penuh asap dan jago merah. Setelah aku meninggalkannya, Erkan tak sengaja melihat bayangan raksasa ditanah.
Saat ia melihat katas, ia dikejutkan dengan tubuh robot raksasa yang hancur dan jatuh kearahnya. Untunglah ia berteleportasi tepat sebelum tubuhnya hancur.
Tiba-tiba dari langit, muncul hujan anak panah yang mengarah kearahnya. Erkan menghantamkan kepalan ke tubuh robot raksasa, lalu ia mencabut sebuah puing logam besar dari armor robot itu.
Ia menerbangkannya ke atas kepalanya untuk menjadi sebuah tameng. Anak panah itu tidak mampu menembusnya karena mereka ternyata terbuat dari air. Setelah hujan panah itu selesai, anak panah yang jatuh ketanah berubah menjadi genangan air dan membentuk tubuh manusia.
Air itu berubah menjadi seorang gadis dan menendang tubuh Erkan sampai terpental ke langit. Sebuah es besar tiba-tiba muncul untuk membenturkannya ke sana. Dengan cepat ia hancurkan es besar itu dengan telekinesisnya dan berteleportasi ketanah.
Belum juga sempat menarik nafas, ia langsung dikejutkan dengan robot raksasa lain yang jatuh kearahnya. Sekali lagi ia selamat dari maut berkat teleportasinya.
Dari kakinya muncul genangan air yang berubah menjadi tangan air berwarna biru. Tangan itu langsung menyambar lehernya dan membenturkannya ke dinding es yang tiba-tiba muncul.
Empat buah bongkahan es terbang kearahnya, membentur tangan dan kakinya. Es yang menempel membesar lalu membeku, membuatnya terikat ke dinding es.
Tangan itu tertarik kembali ke genangan air lalu berubah menjadi seorang gadis, Mabel. Kemudian robot lain muncul entah dari mana untuk melepas bagian depan helm Erkan. Seyelah itu, mereka justru terkejut setelah melihat wajah Erkan.
"Afton?"
"Kau masih hidup?"
"Aku bukanlah, Afton!".
Erkan memfokuskan telekinesisnya pada leher Arina lalu mencekiknya supaya kesulitan bernafas. Tangan mabel langsung berubah menjadi leher runcing yang mengarah tepat didepan mata Erkan.
"Lepa-"
"Kalau kalian tidak segera pergi dari sini dan menarik kembali portal kuning itu", "Dia yang akan kutarik", potong Erkan.
"Portal kuning?", tanya Mabel.
.......
.......
Disaat yang sama, Donny mendarat ke reruntuhan toko Paman Wyan yang masih terlahap api. Ia mengangkat puing-puing itu dengan syalnya satu persatu sambil berlinang air mata.
"TUAN WYAN!!", "FIN!!", ucapnya berulang ulang sambil terus melemparkan puing-puing bangunan.
Dari puing terakhir, tampak sebuah tangan besar dan bercakar. Langsung aku angkat puing itu dan menemukan Tuan Wyan dengan tubuh dingin dan kaku. Aku putus asa dan menangis diatas jasadnya.
Lingkaran kuning tiba-tiba muncul dibelakangku, mengeluarkan monster kepala gurita dengan tubuh seperti manusia. Membawa senjata kapak dan perisai besi, diikuti puluhan monster lainnya.
Angin berhembus ditengah-tengah puing kota, mengibarkan dua helai syal merahku. Kulepas semua zirah yang membatasi pergerakanku, lalu kututup mulut dan hidung dengan salah satu helai syalku.
"Tanpa elemen ya?", "Jangan anggap aku lemah tanpa elemen!".
"Kalian para monster menjijikan yang merusak masa depanku", kataku sambil menunjuk monster-monster itu dengan penuh amarah.
"Akan kuantar kalian semua ke neraka!"
Para monster itu mengamuk dan mulai menyerangku. Syalku sobek dan berubah banyak, menggulung di tangan kiri membentuk plasma. Dikakiku membentuk roket. Lalu sisanya meruncing dan bersiap menusuk seperti pedang.
Satu persatu mereka kuhabisi, tubuhku dimandikan cairan darah mereka. Rasa takutku kalah oleh kebencian dan dendam, membuatku seratus kali lebih brutal dari yang dulu. Syalku berubah menjadi putih, mengindikasi aku tidak lagi memikirkan nyawaku.
Aku mengisi kanonku sekuat yang aku bisa. Menembakkan plasma putih terbesar yang pernah kubuat. Berwarna putih panjang seperti railgun para monster itu hancur menjadi butiran debu.
Setelah memusnahkan mereka, dari kejauhan tampak Ramko dan Shina yang berlari kearahku dengan zirah tanpa helm. Langsung aku isi lagi kanonku dan kutembakkan kearah mereka. Untunglah Ramko cekatan membawa Shina berpindah dari jalur plasma itu.
"Kali ini dengan kanon ganda"
Aku membuat kanon lagi di tangan kananku, kusatukan lalu kutembakkan ke mereka. Plasmanya terang, lebih panas dan berdurasi lebih lama dari sebelumnya. Seperti sebelumnya mereka berhasil mengelak.
"Donny!", "Ini aku, Shina!"
"Kami kesini untuk membawamu pulang", sambung Ramko.
Aku tak menjawab apapun.
Memandang mereka kosong, seolah tak mempedulikan mereka. Kurobek sedikit syalku, lalu kujatuhkan ke tanah. Ketika robekan itu menyentuh tanah, ia melebar dan menjadi syal utuh yang melata seperti ular. Syal itu masuk ketanah dan menghilang.
Syal itu tiba-tiba muncul dari bawah tanah, tepat di bawah kaki Shina dan Ramko. Menjalar dan melilit seluruh tubuh mereka. Syal itu melumpuhkan pergerakan mereka. Kanonku kuarahkan kesana sembari berkata, "Ada pesan terakhir?"
"Tunggu, Donny", "Kamu pasti membenciku karena mengusirmu dulu", "Aku menyesal mengatakan itu", jelas Shina.
"Ku mohon kembalilah".
Aku tak menjawab apapun.
"Apa kamu tidak kasihan kepada, Arina?"
"Dia kesepian sejak kamu meninggalkannya", kata Ramko.
Lagi, aku tak menjawab apapun.
__ADS_1
"Shina, sepertinya ada yang salah dengannya", bisik Ramko.
"Hem, dia serius ingin membunuh kita".
"Syal ini, pasti bisa berubah menjadi pisau dan menusuk jantung kita dari belakang".
"Tapi bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini?"
"Aku punya ide".
"Donny!", "Apa kamu tahu, robot yang menyerang Aquopora dan kita dulu adalah robot C40Res?"
"..."
"Mereka pasti sudah mencuci pikiranmu, kembalilah bersama kami, teman".
"Biar aku kuceritakan kalian sebuah kisah", "Kisah ini tak sengaja kutemukan diperpustakaan bumi zaman dulu",
"Kisah sesorang bernama Theseus yang melawan monster banteng dengan tubuh seperti manusia bernama Minotaur".
"Dia adalah pangeran yang berani dan bijaksana, juga pahlawan".
"Suatu hari kotanya berada dalam masalah, ia dengan gagah berani membunuh Minotaur", "Membebaskan kotanya dari upeti yang menjerat", "Sebagai pahlawan".
"Tapi apa yang mereka lakukan padanya sebagai pahlawan kemudian?"
"Mereka mengusir Theseus dari kotanya sendiri",
"Orang-orang sudah tidak menganggapnya lagi sebagai pangeran dan pahlawan yang membunuh monster Minotaur",
"Theseus akhirnya mati di tanah pengasingan, setelah semua jasa yang ia lakukan pada kotanya",
"Kita diharapkan menjadi pahlawan yang melindungi Aquopora".
"Tapi apa yang terjadi?",
"Kita perang saudara"
"Kalian pikir dengan menjadi pahlawan maka akhircerita yang kita dapat akan harum seperti bunga?"
"Tidak.."
"Tidakkah kalian paham mereka hanya memperbudak kita!"
"Tidakkah kalian paham cerita kita sudah berantakan?"
"Itukah akhir cerita yang kalian mau?!", "Kehancuran?!"
"Kalau kalian memang ingin menjadi pahlawan"
"Maka matilah bersama kehancuran".
Kutembakkan kanon terkuat yang pernah kubuat. Plasmanya panjang hingga menembus langit. Tanah-tanah serta puing-puing kota hancur dilibasnya. Ramko dan Shina menghilang dari sana, kupikir mereka sudah lenyap.
Ternyata aku salah, Ramko tiba-tiba muncul dibelakangku dan langsung menebasku dengan pedangnya. Aku langsung menangkis serangannya dengan syalku.
"Kemari kamu!"
Secara tidak sadar Shina sudah mengikat tubuhku dengan rantai apinya, sementara Ramko sudah menghilang. Dengan sekuat tenaga Shina memutar rantainya lalu ia lemparkan ke langit.
Ketika aku kehabisan gaya lambungan, tiba-tiba kilatan cahaya biru muncul di atas langit. Ramko kemudian melemparkan trisula yang sudah ia siapkan kearahku. Shina tak mau kalah, ia melemparkan bola apinya dari bawah.
"SIAL!!", pekikku sembari menutupi seluruh tubuh dengan syalku.
.......
.......
"Tunggu! Portal itu bukanlah dari kami", jawab Mabel.
"Apa kau pikir aku akan percaya denganmu?",
"Sudah banyak dari kami yang mati karena mahkluk yang keluar dari sana kalian tahu?!"
"Kalian juga merusak kota kami, menyakiti penduduk sipil, dan membunuh teman kami!",
"Sekarang kita adil".
"Robot kami hanya untuk memata-matai kalian, suapaya kami bisa bersiap untuk serangan",
"Lalu kami menculik hanya untuk mengambil sampel DNA guna membuat senjata kami",
"Temanmulah yang bunuh diri, kami tidak berniat melakukannya".
"Oh ya?", "Lalu jelaskan robot logam cair yang menyerang kami".
Ditengah situasi itu, Erkan mendapat sebuah ide untuk melarikan diri. Ia menarik Arina ke cengkraman tangannya kemudian berteleportasi ke kota Maqili.
Ketika ia berubah menjadi debu kuning, Mabel sadar dan langsung memegang kaki Arina. Mereka bertiga lantas berpindah ke kota Maqili bersama.
Mereka bertiga berpindah ke sebuah aula yang rapuh dan hampir tertutup pasir. Erkan langsung melepaskan Arina dari telekinesisnya karena kehabisan tenaga. Arina langsung terjatuh dan mengalami sesak nafas hebat.
Tali air mengikat atap gedung diatas Erkan dan kaki Arina. Mabel menarik keduanya, Arina tertarik ke Mabel sementara seluruh atap gedung runtuh. Mabel membuat perisai air berbentuk setengah lingkaran untuk menghindari benturan, tapi Erkan tertimpa reruntuhan atap
"Arina, Arina bernafaslah pelan-pelan", kata Mabel sambil mendudukkan tubuh Arina.
Pasir memasuki seluruh gedung dan masuk kedalam perisai air itu. Puing-puing atap itu terbang kelangit, Erkan melompat dari sana dengan mata kuning menyala. Pasir-pasir yang ada didalam perisai itu berubah menjadi pisau kecil yang mengarah ke Mabel dan Arina.
Mabel geram dan memutar perisainya seperti gasing, membuat puing bagunan disekitarnya terlempar. Dari perisai itu juga keluar bulir-bulir air setajam pisau yang melukai beberapa bagian tubuh Erkan.
Erkan terjatuh dengan posisi berlutut. Bajunya terobek-robek dan bersimpah darah. Ia bahkan tak punya tenaga untuk mengegerakkan tangannya. Mabel membuka perisainya dan membuat panah air. Tiba-tiba tangannya di pegang oleh Arina yang sudah pulih.
Arina menganggukan kepalanya, lalu membekukan anak panah air itu dan mengubahnya menjadi pedang es. Arina mendekatinya secara perlahan. Ia mengarahkan pedang esnya ke leher Erkan, bersiap menebal kepalanya.
"Dimana Donny?", tanya Arina.
"Aku tak mengerti apa maksudmu?"
Arina menampar wajah Erkan dan bertanya pertanyaan yang sama lagi.
"Dibunuh seorang gadis?", "Sepertinya ini mimpi buruk", jawab Erkan sambil tertawa.
Arina menamparnya lagi dan bertanya pertaan yang sama.
"Dimana Donny?"
"Ken?", "Dia ada di Kota Inaba"
"Inaba?"
"Ya, kota itu sangat jauh", "Matahari disana akan tenggelam lebih dahulu dan kalian tidak akan sampai disana tepat waktu tanpa teleportasi".
"Tunjukkan kami jalannya!", perintah Mabel.
"Haha, apa yang kalian mau darinya?", "Dia bukan temanmu lagi nona-nona".
Genangan air muncul dari tanah, membentuk tangan air dan mencengkram leher Erkan kedinding.
"Lagi?", "Aku sudah bosan dengan permainan ini".
"Aku tanya sekali lagi atau hidupmu akan berakhir", tanya Arina dengan mata putih menyala.
"Ok, ok, ikuti saja arah matahari terbi-"
Dari kejauhan muncul kilatan petir yang menggelapkan seluruh kota, disusul suara dentuman keras beberapa saat kemudian.
"Ramko!", ucap Mabel sontak.
"Itu pasti, Ken",
"Kalian berdua ikuti cahaya tadi!", "Dia ada disana".
"Terima kasih kawan lama", jawab Mabel.
"Sekarang, tebas aku!"
"Kami perlu penjelasanmu tentang perang ini", jawab Mabel.
"Tidak, aku sudah setengah nyawa", "Aku hanya ingin mati di tangan pendekar seperti kalian".
"Baiklah", "Maafkan ak-"
"Biar aku saja", tahan Arina.
Mabel menganggukan kepalanya. Tiba-tiba ia justru membekukan seluruh bangunan termasuk Erkan dengan es putihnya. Puing-puing remuk itu berubah menjadi kumpulan es runcing tajam di tengah-tengah gurun. Arina mengambil teleponnya dan memanggil untuk dijemput.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak mau ia menjelaskannya sekarang", jawab Arina sambil berjalan meninggalkan lokasi.
"Tapi, Arin-"
"Aku bilang aku tidak mau!", bentaknya sambil meneteskan air mata.
Mabel mengangukkan kepalanya. Tak lama kemudian datanglah pesawat yang menjemput mereka berdua. Mereka berdua pergi menuju Kota Inaba sebelum matahari terbenam. Sementara Erkan tertidur bersama es beku.
__ADS_1
.......
.......
Kota Inaba berubah menjadi sebuah neraka. Beberapa tanah merekah dan melontarkan batu panas dari rekahannya. Tampaknya ledakan tadi memicu gunung mati dibawahnya untuk aktif kembali.
Aku sudah sekarat, mataku berubah merah menyala kehabisan tenaga. Ramko dan Shina juga mengalami hal yang sama, meski tak separah aku. Untunglah lingkaran kuning sudah menghilang, namun gempa terjadi berulang kali.
"Pusat, jemput kami", "Misi sudah diluar kendali dan target sudah sekarat", pinta Shina lewat teleponnya.
"Lihat apa yang sudah kalian lakukan pada kotaku!", "Apa kalian pikir kalian akan pergi semudah itu?!"
"Sudahlah, Donny", "Ini sudah berakhir", "Kau bahkan tak punya tenaga untuk berdiri", kata Ramko.
"Ikutlah dengan kami", "Gunung api ini sudah bangun", "Kamu bisa terbakar olehnya", sambung Shina.
"Tidak!!"
"Mereka pasti sudah mencuci otakmu, Don",
"Kembalilah bersama kami!", sambung Shina.
"ENYAHLAH KALIAN!!"
Tiba-tiba dua buah pesawat mendarat di belakang Shina dan Ramko, satu pesawat besar satu pesawat kecil. Dari pesawat kecil, keluarlah dua sosok gadis yang aku kenal.
"Tunggu Arina!", "Jangan mendekat!"
"Arina?", gumamku.
"Tidak, biarkan aku bertemu dengannya".
"Kita tidak tahu rencan-"
"MENYINGKIRLAH!!"
Arina perlahan mendekatiku dengan penuh iba. Ia tak tega melihat sosokku yang penuh luka dan sekarat. Arina mengajakku bicara.
"Maafkan aku", "Aku tidak bisa menyelamatkan kalian lagi".
"Donny.."
"Ikutlah bersama kami.."
"Ayo pulang"
"Kita bisa bersama"
"Seperti dulu lagi".
Aku memaksakan berdiri dengan kepala penuh darah. Secara perlahan, Arina menyentuh wajahku
"Tidak perlu Arina", "Itu tidak perlu",
"Shina", "Kemarilah".
Shina berjalan kearahku dengan hati-hati. Aku mengambil tangan robotku yang terputus dengan syalku, lalu memberikannya ke pada Shina.
"Bawalah ini".
"Untuk apa?", tanyanya menahan sedih.
"Kamu akan mengerti beberapa menit lagi", "Untukmu Arina".
"Ambillah syalku ini", syalku melayang dan terbang melingkari leher Arina.
"Pergilah!", "Pergilah sekarang!", "Gunung api dibawah sini akan segera meletus", perintahku.
Tiba-tiba dibelakangku muncul monster berkuku panjang yang langsung menusuk dadaku keatas. Syal di leher Arina bereaksi dan membentuk bola perisai. Arina terpental dari tusukan sementara Shina melompat kembali.
"DONNY!!", teriak mereka semua.
"ARGHH", "Semuanya hancurkan monster itu!!", teriak Ramko marah.
Semua elemen bersatu dan menyerang monster itu hingga hancur tak tersisa. Menyisakan tubuhku yang tergeletak kosong kaku. Tanah-tanah bergetar dan merekah satu persatu, menyemburkan magma panas dan gas beracun. Membuat pesawat
"Kita harus pergi sekarang, Ramko", telepon pusat.
"Semuanya", "Kita harus lekas pergi!"
"Tidak", "Donny!", "DONNY!!"
"Arina dengar!", "Donny sudah tiada dan kamu harus tahu itu!!", bentak Mabel setelah menarik Arina ke pesawat dengan tali airnya.
"Semua sudah naik?", tanya Shina dengan berlinang air mata.
"Sudah", "Tutup pintunya!", perintah Ramko.
"Sahabatku"
"Maaf kami tidak bisa diselematkan"
"Kita pasti, akan bertemu lain waktu", gumam Shina sambil menangis.
Arina tak kuat menahannya, ia memeluk Mabel dengan erat sambil menangis keras. Syal yang mengalung lehernya, berubah menjadi putih pucat seperti syal putih biasa.
Lava panas perlahan naik kepermukaan tanah. Membakar tubuhku dan seluruh puing kota. Batu-batu juga terlempar, diikuti suara dentuman keras.
"Kita sudah keluar dari atmosfer", suara speaker.
"A.. Apa penduduk.. kota apung... sudah dievakuasi dengan pesawat kita?", tanya Ramko sambil mengusap matanya.
"Sudah tuan!"
"Ya.."
.............
.......
.............
Beberapa hari kemudian, Aquopora berubah menjadi kota baru. Mereka para penduduk Aquopora dan C40Res sudah menerima masa lalu.
Yadewa, yahma, manusia semuanya bersatu kembali dan hidup dengan damai seperti dulu. Mereka saling bertukar teknologi dan membuat peradapan termaju di galaksi. Meski tidak kekal selamanya.
.......
.......
.......
......*......
......\=......
25 Tahun kemudian...
Disuatu lapangan yang kosong dan sepi.
"Kita kekurangan anggota geng", "Bagaimana ini boss?", "Jumlah mereka terlalu banyak".
"Tidak biar aku saja yang melakukannya".
"Boss?"
"Pecayalah padaku, Jun",
"Aku adalah ketua terkuat di geng ini",
"Aku diberi kutukan memberi nasib sial kepada semua orang mencoba menganggu kita", ucapku pecaya diri.
Semua anggota geng lawan yang sebelumnya merasa senang menghabisi anggotaku. Tiba-tiba berubah gemeteran setelah melihatku akan ikut serta dalam pertarungan.
"Oh tidak, itu Okta Kuryakin".
"Siapa yang memprak porandakan seluruh anggotaku", "Akan mendapat hukuman keras".
Seseorang berbadan manusia dengan tubuh kekar dan tanduk yang tajam berjalan kearah mereka dengan penuh keangkuhan.
"Jun, bawa semua anggota mundur", "Kami berdua akan berduel disini", pintaku.
"Siap boss".
Semua orang menjauh, memberikan tempat luas sebagai ring tanding. Aku melepas mantelku dan mengambil pisau dari sakuku. Sementara lawanku, mengambil kapak yang diantarkan oleh anggotanya.
"Kapten Hemi Si Banteng..",
"Sudah lama aku menantikan momen ini", ucapku gembira.
"Cih, sombong sekali kamu", "Kamu kira kutukanmu itu akan bekerja kepadaku?"
"Aku Hemi Si Banteng", "Ketua geng terkuat yang pernah ada", "Bahkan polisi pun takut kepadaku".
"Well, jadi", "Ini adil bukan?", "Kuat dengan kuat?"
__ADS_1
"Cam kan ini Okta Kuryakin", "Aku akan buktikan", "Bahwa hari ini, kutukanmu akan mental terhadapku", ia bersiap bertarung.
"Heh!", "Marilah!!"