The Last Era

The Last Era
Act 9 [Kelemahan]


__ADS_3

Setelah mendengar kisah kelam itu. Kami perlahan terkembalikan ingatan 1000 tahun yang lalu. Terkecuali Afton, yang melamun saat diceritakan. Kemudian Dr Jassen memanggilnya berulang kali. Kami semua memandanginya dengan rasa heran.


Namun, Afton belum juga berubah posisi. Dr Jassen kemudian melempar gelas ke arahnya. ketika gelas membentur tubuhnya gelas itu pecah dan tubuh afton berubah menjadi tanah. Aku dan Shina yang duduk di samping Afton, terkejut setengah mati.


"Sepertinya aku tahu dimana dia sekarang". Setelah berkata begitu Dr Jassen menyuruh salah satu robot pelayan untuk menggunakan senjatanya ke kamar laki-laki.


Setelah robot itu pergi, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menggema. Selanjutnya tanah yang kami injak bergetar termasuk meja makan. Kami semua keheranan, tapi tidak dengan Dr Jassen, dia terlihat menahan amarahnya.


Afton berlari menuju ruang makan sambil berteriak. "Kemana saja kamu?", tanya Dr Jassen.


"Bukan tadi lagi kekamar mandi, Dok", jawabnya dengan sedikit tertawa. Kami semua berpura-pura tak melihat Afton sambil melanjutkan makan.


"Lalu kenapa kamu membuat tiruan dirimu?", kata Dr Jassen yang mulai mengejar jawaban Afton.


"Ah, nggak cuma pengen uji coba saja",


"Yasudah, sebagai hukumannya kamu harus belajar angka", kata Dr Jassen, sambil menaruh buku tua yang tebal.

__ADS_1


Ketika Afton membuka buku itu. Mukanya berubah kebingungan. Ternyata buku yang diberikan adalah buku fisika kuantum, dengan tulisan kanji.


"Ini ya apa dok?", tanyanya kebingungan.


"Itu tulisan kanji, belajarlah behasa Jepang supaya paham",


"Oya, besok lagi aku minta patung diriku ya", jawab dokter dengan santai. Kami semua tertawa, hingga dokter Afton berkata bahwa kami juga harus mempelajarinya termasuk yang lainnya.


"Lainnya apa lagi dok?", tanya Linda. "Ya pelajaran yang lainnya, seperti Matematika, kebahasaan sejarah dan lainnya", jawab Dr Jassen. "Artinya kami harus sekolah lagi dok?", tanyaku. "Yap". Selamat datang lagi mimpi burukku.


Setiap hari kami belajar pelajaran sekolah yang dulu pernah kami pelajari. Shina dan Mabel selalu mendapat nilai tertinggi, berkebalikan sengan Afton. Nilaiku sedang-sedang saja, walaupun lebih rendah dari pada Ramko dan Arina.


Sementara pelajaran olahraga kami diajarkan bertarung dan mengendalikan kekuatan. Disini terlihat Ramko yang terunggul karena elemen petir yang dimilikinya, dan Linda dengan angin dari jarak jauh.


Dua tahun kemudian kami telah menyelesaikan pembelajaran kami. Dr Jassen kemudian memberikan sebuah buku sesuai dengan elemen kami masing masing. Buku itu berisi senjata imajinasi zaman dulu.


"Ikuti saja bentuk senjata ini, pilihlah yang menurut kalian paling kuat", kata Dokter Jassen. Shina melihat bentuk-bentuk senjata disitu, ia kemudian memilih tongkat reaper dengan mata pisau di setiap ujungnya.

__ADS_1


Ramko memilih pisau petir yang pendek karena dianggapnya lebih ringat dan lincah. Mabel lebih menyukai pedang panjang dari air arus kuat. Setelah semua memiliki senjatanya masing-masing. Giliranku untuk membuka bukuku, namun isinya kosong semua.


"Dokter kenapa bukuku kosong?", tanyaku.


"Kau akan paham nantinya", jawab Dokter Jassen. Teman-temanku melihat ke arahku, lalu Shina memberikan bukunya untuk memberikan ide kepadaku. Aku mencobanya dengan syalku, namun syalku tak bisa membentuknya.


Tiba-tiba sebuah ide melintas di pikiranku. Kenapa tidak kurubah senapanku kebentuk hewan saja. Syalku mengelilingi tanganku dan beberbentuk senapan biasa. Selanjutnya aku mencobanya menjadi bentuk singa. Tapi belum bisa berubah. Teman-temanku melihatku berjuang dengan muka serius.


"Cukup, jangan di paksakan karena kau tidak berelemen itu akan berdampak besar bagi tubuhmu", kata Dokter Jassen.


"Akan kunaikkan suhunya, semoga saja bisa". Syalku berwarna merah menyala, tetap belum bisa. Aku menaikkannya lagi menjadi warna oranye menyala. Teman-temanku mulai menjauh dariku karena suhunya yang panas. Dr Jassen terlihat memasang muka serius.


Detak jantungku meningkat, tubuhku terasa panas. "Cukup", perintah Ramko. Dia lalu menjegal dan menjatuhkanku ketanah.


"Apa kau mau meledakkan ruangan ini?"


Aku hanya terdiam lalu menatap dalam ke syalku. Ternyata benar karena aku tak berelemen maka itu akan memberikan dampak kepada tubuhku. "Dr Jassen bisa kau jelaskan hal ini?" tanyaku dengan muka serius.

__ADS_1


"Tak ada yang perlu kau tanyakan", "Sudahlah kau akan paham nantinya, sekarang kita makan dulu", kata Dokter Jassen berjalan meninggalakan kami. Ramko meminta maaf kepadaku dan mengajakku ke ruangan makan bersama. Tapi aku menepis tangannya dan berjalan sendiri tanpa meninggalkan kata-kata.


Saat itu aku paham bahwa jika tubuhku kuat maka pengaruhnya juga akan berkurang. Maka setiap harinya aku terus melatih tubuhku supaya memiliki stamina yang tinggi.


__ADS_2