The Last Era

The Last Era
Act 17 [Gula dalam Kopi]


__ADS_3

Saat itu juga tubuhku kaku dan kepalaku kehabisan ide. Akhirnya aku mengajak Arina pulang. Dia menolak dengan alasan baru saja duduk disitu. Aku memahaminya dan duduk di sampingnya.


"Don, apa kamu pernah melihat kristal es seperti ini?", tanyanya sembari menunjukkan kristal es di telapak tangannya.


"Belum, kristal ini terlalu besar bukan?".


"Ya, sebab kubuat sendiri dengan teliti".


"Dan, aku ingin kamu menjaganya", katanya sambil memberikan kristal itu ke tanganku.


"Bagaimana kalau mencair?", tanyaku setengah gugup.


"Tenang, aku menyebutnya kristal jiwa", "Jadi kristal ini tak akan pernah mencair dan akan keras seiring umurku".


"Terima kasih Arina".


"Tak perlu, aku senang denganmu", "Maksudku senang memberi".


Hari ini akan menjadi hari yang panjang dan berkesan. Hari seperti ini sangat langka terjadi.


......\=......


Sementara Arina dan Donny sedang berduaan. Aku merapikan kamarku karena bagiku robot pembersih kurang efektif. Mulai dari menyapu lantai dari sabut kelapa yang kubuat. Hingga merapikan bantal.


Setelah selesai aku berniat menyapu ruang tamu. Di ruang tamu terlihat Afton yang sepertinya menungguku di depan TV.


"Duduklah", katanya.


Aku kemudian mengikuti arahannya dan duduk menghadapnya.


"Kenapa?"


"Sebelumnya aku minta maaf menanyakan ini",


"Apa kamu dulu suka sama Afton?".


"Dulu",


"Dia anak yang baik, meskipun sedikit menyebalkan", ucapku murung.


"Aku meminta maaf tak mampu membawanya pulang".


"Tak apa, itu sudah berlalu".


Ramko lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan pecahan kristal berlian hijau


"Aku ingin kau membawa ini".


"Apa ini?"


"Sebelum Afton melempar kami, ia memasukkan sesuatu ke celanaku", "Di atas kristal inj juga tertulis namamu".


"Aku yakin, Afton menitipkan benda ini untukmu", katanya sebari memberikan kristal hijau itu.


Aku tak suka menangis, tapi mataku perlahan sudah mengeluarkan air matanya. Aku tak percaya dengan apa yang kupegang. Benda terakhir dari temanku yang tiada.


"Afton memang bukan orang yang bisa dengan mudahnya mengutarakan perasaan",


"Tapi dia punya kesetiaan yang jauh diatas manusia normal".


Aku membuat tali kecil dengan akar yang keluar dari tanganku. Lalu mengikat kristal itu dan menjadikannya sebuah liotin, dengan sesekali terisak menahan tangis.


"Ide yang bagus Nadia",


"Kalau begitu akan kuberikan waktu sejenak untukmu", "Aku lapar mau makan".


Tak sengaja sebuah ingatan melintasi pikiranku.


"Tunggu!"

__ADS_1


"Katakan itu sekali lagi!"


"Aku lapar mau makan?".


Sudahlah, aku tak mampu membendungnya lagi.


"Te..terima kasih", ucapku sambil menangis keras.


"Eh kamu kenapa nangis lagi?", tanyanya panik.


"Tak apa, tak apa.."


Ramko terlihat kebingungan dan bermain dengan listriknya untuk memengangkanku. Dalam tangisku, aku bahagia. Bisa mendengar kata-kata itu untuk yang terakhir kalinya.


Sekarang aku bisa melepas kepergiannya.


......\=......


"Ayo main lagi!", pinta Mabel dengan emosi.


"Bel kamu sudah kalah 9x denganku", "Apa kamu masih belum puas?"


"Ini gamenya yang rusak, pasti alatku cacat".


"Kalau cacat, harusnya kita tidak bisa bermain sekarang", jelasku.


"Bel, bisa gantian sekar-"


"BELUM", bentaknya.


Shina menghela nafas dan memutar kepalanya kearah jendela. Dalam benaknya, ia marah besar. Tak sengaja samar-samar terdengar suara orang menangis.


"Suara apa itu?", tanyaku ketakutan.


"Aku nggak dengar apa-apa", balas Mabel.


Shina tak menjawab namun ia memberi sinyal dengan menggelengkan kepalanya.


"Apa itu hantu ya?", tanyaku semakin gelisah.


"Nggak ada yang namanya hantu, mana siang-siang lagi".


"Sudahlah mainnya aku ngeri sama ni game", kataku sambil melepaskan alat itu dari kepalaku.


Mabel kemudian ikut melepas alat itu dari kepalanya. Lalu melihatku dengan ekspresi kesal.


'Kalau ingin ditarung galak mana, maka aku akan menang 100% bel', batinku.


Shina tiba-tiba beranjak dari tempat bersemedinya dan pergi keluar kamar tanpa meninggalkan sepatah katapun. Akhir-akhir sifatnya sangat berbeda.


Karena penasaran dengan sumber suara tadi. Aku dan Mabel mencoba mencari sumber suara tadi diluar kamar. Suara tangisan itu semakin terdengar jelas ketika kami mendekati arah ruang tamu. Mabel mengeluarkan pisau airnya karena ia juga mulai ketakutan.


Ketika sampai ke ruang tamu aku melihat Nadia yang menangis terisak. Di depannya terlihat Ramko yang kebingungan menghiburnya.


"Hey kalian tolong aku", bisiknya.


Seketika rasa takutku menghilang dan berubah menjadi iseng.


"Hehe, Ramko ternyata kasar ya", ejek Linda


"Nadia yang lembut dan sabar saja sampai nangis, apalagi aku", sambung Mabel.


"Eh...hei kalian, bantuin kek".


Nadia tertawa melihat tingkah kami. Ramko pun merasa lega melihatnya. Kami bercanda dan bertukar pikiran satu sama lain layaknya saudara kakak beradik. Tak lama kemudian Shina datang membawa roti dan minuman seperti kopi.


Kami berbicara mulai dari kekuatan dan vara mengendalikannya.


"Shin, berapa mode api yang kau punya?", tanya Mabel.

__ADS_1


"Merah, jingga, kuning, biru dan putih", balasnya sambil menunjukkan apinya satu persatu.


"Kayak Donny ya?"


"Bedanya adalah dia tidak memiliki elemen dan kekuatannya terbatas waktu untuk setiap modenya".


"Kenapa bisa gitu?", tanya Linda lagi.


"Mungkin sel tubuh kita di satukan dengan pengendali suatu elemen", "Kalau Donny aku masih belum paham kenapa dia hanya mampu mengendalikan syalnya saja".


"Aku pikir, Donny sengaja di buat spesial oleh dokter, sebab dumia hanya mampu memanipulasi syalnya saja", sambungnya dengan tenang.


"Aku rasa dia bisa mengendalikan gravitasi", tegas Ramko.


"Mungkin" "Bisa jadi", Balasku dan Mabel.


"Pasti dia akan sangat kuat, pantas saja Arina mengincarnya terus", balasku sambil tertawa kecil.


"Kenapa anak yang tidak atau pura-pura tidak peka itu bisa diincar gadis seperti Arina, bagaimana nasibku yang peka ini", keluh Ramko sambil mengacak rambutnya.


Aku dan Mabel mengalihkan pandangan.


"Kalian ini kenapa?!", tanyanya balik.


"Don masuklah tidak baik menguping pembicaraan orang", kata Nadia tiba-tiba.


"Wah aku ketahuan".


"Itu alasan kenapa kamu harus menjaga jarak dengan tanaman", "Ingat aku ini memiliki indra yang bisa dipakai pada tanaman".


"Arina mana, Don?"


"Itu, lagi ngajak bermain anak tetangga".


"Wah anak kecil ya? Ikut dong", jawab Mabel sambil kegirangan.


"Aku ikut do-" "Kamu mau kemana, Ram?", tanyaku sambil menarik tangannya.


Dari dalam terlihat Dokter Jassen berdiri menghadap kami seraya berkata, "Untunglah ada kalian".


"Kenapa dok?", tanya Ramko.


"Hmm, aku ada tugas baru untuk kalian", jawabnya sambil menyeringai.


"Kalau dokter cuma mau mengurangi jumlah kami? Saya menolak ikut", balas Donny.


"Aku baru mendapat data dari kelembagaan negara", "Katanya ada robot jenis logam cair yang menyamar menjadi penduduk di sini".


"Yak yang perlu kalian lakukan hanyalah memusnahkannya", "Itu saja yang ingin aku katakan sisanya terserah kalian", ucapnya sambil berjalan keluar pintu melewati kami.


"Dokter mau kemana?",


"Aku ada rapat formal penting dengan presiden dan aku akan pulang minggu depan", balasnya sambil menaiki motor terbangnya.


"Apa dokter tahu daerah mana robot itu teridentifikasi pertama?", tanya Shina.


"Aku belum tahu banyak", "Yang jelas jaga diri kalian masing-masing aku pamit dulu".


"Hati-hati"


"Robot tipe logam cair", "Apa mungkin robot dulu itu?", tanyaku.


"Sepertinya ini robot baru dengan jenis yang sama", "Kalian tahukan, dia pasti sudah membeku dan ketinggalan sangat jauh dari sini", balas Shina.


"Benar juga", balas Ramko.


Sementara mereka tengah berdiskusi, aku, Arina dan Mabel bermain dengan anak tetangga. Ibunya terlihat senang begitu pula anaknya. Ia didampingi oleh robot pengawal berkostum maid.


Sepertinya orang-orang disekitar sini belum tahu banyak tentang kami. Sehingga mereka tidak begitu mengenal kami sebagai pemilik elemen, dan mereka juga berbicara dengan kami layaknya orang biasa.

__ADS_1


__ADS_2