The Last Era

The Last Era
Act 6 [Teman Baru]


__ADS_3

Ranting dan es itu tiba-tiba saja hancur. Kami berdua terkejut dan menganpil kesempatan itu untuk berkumpul. "Apa itu tadi?", tanyaku ke Shina. "Entahlah", balasnya. Seorang laki-laki berdiri di hadapan kami sambil berkata, "Serahkan sisanya pada kami". Sebuah ombak datang dan menghantam Arina dan Nadia, seorang gadis pendek berpakaian sama dengan kami, melemparkan Arina dan Nadia kelangit.


Seseorang di depan kami seketika menghilang dan menebas leher Arina dan Nadia, kecepatannya tidak masuk akal. Mata mereka tiba-tiba tertutup dan pingsan. Melihat temanku di serang sembarang begitu, aku justru menyerang mereka dengan tembakanku. Namun, seorang gadis bertubuh pendek menekanku ke lantai dengan rantai airnya.


Melihat Arina dan Nadia kalah, cyborg penonton menjadi riuh dan mengeluarkan senjata mereka. "Gawat mereka mulai datang kemari", keluh seorang gadis yang menahanku. Tiba-tiba sebuah pesawat datang dan menghancurkan atap gladiator itu. Angin mengangkat kami dan cyborg itu ke luar angkasa. Pintu pesawat itu terbuka, dari dalam tampak juga seorang gadis menyuruh kami untuk masuk dengan melambaikan tangannya. "Ramko, cepat angkat mereka ke kapal itu!", teriak salah gadis itu. Laki-laki itu membawa kami semua ke pesawat itu dengan sangat cepat. Setelah kami semua masuk dan kapal itu tertutup. Barulah aku merasa lega karena Arina dan Nadia baik-baik saja. Tapi, tanganku terasa sakit karena tadi laki-laki itu membawaku dengan menarik tangan kiriku.


"Tenanglah tanganmu, hanya retak sedikit", kata seorang gadis didepanku. Aku terjatuh karena kelelahan, begitu juga Shina. Kami berdua pingsan karena kelelahan. "Ya ampun padahal aku baru saja ingin memperkenalkna diriku", kata seorang gadis bertubuh pendek. "Sudahlah bawa mereka keatas kasur", kata seorang lansia sambil tersenyum. "Baik dok", jawab mereka.


"Satu lagi, Ramko apa kau sudah menghancurkan chip di leher kedua gadis tadi?"


"Sudah dok",

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan menggunakan kecepatan cahaya, tolong berpegangan dan ikat mereka di kasur ya?", sambungnya.


"Baik dok", jawab mereka bertiga.


*


"Dimana aku?"


"Sepetinya itu bukanlah gudang". Aku terbangun dari kasur dan melihat teman-temanku yang masih tertidur di kasur. "Untunglah kalian baik-baik saja", kataku bahagia. Tiba-tiba suar pintu diketuk dan seseorang berkata, "Kami masuk". Ternyata mereka adalah orang-orang baru yang telah menolong kami tadi. Mereka terlihat semuran dengan kami. "Terima kasih ya telah menolong kami", kataku. "Tak perlu berterima kasih, itu memang tugas kami", jawab seorang gadis bertubuh pendek.


"Gadis yang tinggi ini bernama Mabel", "Dan yang pendek ini bernama Linda".

__ADS_1


Seketika Mabel mengalihkan pandangnya kearah samping, dan Ramko senyumnya di tambah ketakutan. Sepertinya mereka punya perasaan buruk tentang ini.


"Oy Ramko, tadi kau memanggilku apa?", kata Linda dengan tatapan mengerikan. Aku dan Mabel bergidik ngeri.


"Bukan-bukan kamu, maksudku... tempat sampah itu pendek dan tidak tinggi", jawabnya sambil tertawa. "Begitu ya", "Tapi, mana ada tempat sampah pendek, dia seharusnya di sebat besar atau kecil", "Lagi pula kau tadi menyebutkan namaku bukan. Memangnya aku ini tempat sampah, Ha?", teriaknya sambil menghantam perut Ramko.


Ramko sendiri jatuh tersungkur sambil memegangi perutnya. Sementara itu Mabel membisikkanku, "Ada satu peraturan disini, jangan pernah menyebut Linda pendek". "Ah iya aku paham", jawabku dengan lirih. "Sedang apa kalian?", kata Linda tiba-tiba.


"Ah tidak kami cuma ... "


"Ingin tahu nama-nama teman baru kami"

__ADS_1


"Ahaha ya begitulah", balasku.


"Begitu ya, ngomong-ngomong siapa namamu", tanya Linda kepadaku. "Aku Donny, gadis berambut putih itu namanya Arina", "Gadis yang setinggi dengan Mabel itu namanya Vanadia, panggil saja Nadia", "Laki-laki yang tidur pulas di ujung itu namanya Shina", kataku sambil menunjuk mereka satu-satu. "Dan aku bernama Afton", jawab Afton yang tiba-tiba terbangun.


__ADS_2