The Last Era

The Last Era
Act 16 [Selepas Kepergian Sahabat]


__ADS_3

Pagi baru suasana baru, begitulah kata pepatah tua. Kami sudah melakukan apa yang terbaik. Kalaupun kami dipanggil satu persatu, kami memang harus pasrah. Sebab, itu memanglah kodrat manusia.


"Don, kamu masih baca kertas?"


"Oh pagi, Rin", "Kertas-kertas ini menarik bagiku".


"Akhir ini kamu sering baca buku ya?"


"Hahaha, iya, kamu mau baca?"


"Nggak aku bosan baca buku."


"Ya, nggak apa-apa".


"Wah, kalian berdua ini benar benar kuno", "Hari gini masih baca kertas", kata Linda yang masih belum mengikat rambutnya.


"Pagi Lin", "Kamu baru bangun?"


"Nggak juga".


"Shina masih marah denganku?"


"Ya begitulah", "Tapi dia sudah kusuruh membersihkan kamarnya".


"Begitu ya..."


"Yang lain kemana Lin?", tanya Arina tiba-tiba.


"Mabel sama Nadia beli makan, dan Ramko akhir-akhir ini jadi lebih protektif dengan temannya".


"Hmm, baiklah".


"Dokter kemana?"


"Katanya ada urusan diluar".


Kebencianku dengan Dokter Jassen masih ada, terutama kami para laki-laki. Ia seperti tidak memiliki hati lagi. Sementara kami memanggapnya seperti ayah sendiri.


Shina berjalan melewati kami, kedua tangannya dimasukkan kesaku dengan tatapan dingin. Ia merogoh sakunya dan melemparkan sebuah foto ke arahku, lalu berjalan pergi keluar. Foto itu berisi seorang tokoh yang tidak kuketahui namanya.


"Siapa ini, Lin?", tanyaku


"Kayaknya aku pernah liat, sebentar", katanya sambil menelusuri foto itu lewat handphonenya.


"Namanya Samus, tokoh fiksi dari game tahun 1900-an".


"Mirip senapanku", kataku sambil membentuk senapan di tanganku.


"Iya, cuma dia ini pakai kostum robot, beda sama kamu yang pakai syal".


"Sepertinya aku perlu berbincang sebentar dengan Shina", ucapku sambil berdiri.


Aku pergi untuk membicarakan masalahku dengan Shina. Kulihat dia berdiri halaman belakang sambil memegang kedua tangannya. Dari tangannya keluar api berwarna biru ke putihan disertasi suara percikan. Ia menatap langit dan membelakangiku.


"Shin, apa kabar?"


"Ah, tidak buruk", "Tidak juga baik", katanya sambil memadamkan apinya.


"Cuacanya cerah ya?"


"Yah, begitulah".


"Ngomong ngomong", "Apa kamu memaafkanku?"


"Hm", jawabnya sambil menganggukan kepalanya.


"Semoga dia bisa beristirahat dengan tenang".


"Semoga".

__ADS_1


Shina melihat kearahku lalu merogoh sakunya. Kemudian ia melemparkan sebuah foto kearahku sambil berkata, "Tangkap ini".


"Ini tahun 4000, Shin", "Dimana kertas tidak digunakan lagi".


"Lihat saja foto itu!"


"Foto?"


Aku dibuat penasaran dengan ucapannya. Setelah kulihat isi foto itu, aku terheran sebab terdapat foto kami semua, yang telah dicorat-coret dengan tinta. Aku ingat kita belum pernah foto bersama sebelumnya.


"Dari mana kamu dapat ini?"


"Itu rahasia", "Yang jelas, hanya kamu yang bisa memecahkan misteri foto itu", balasnya seraya berjalan melewatiku dan masuk kerumah.


"Shin, apa artinya ini?", "Shina, oy!"


Namun, ia tak membalas pertanyaanku. Aku kemudian memasukkan foto itu ke sakuku dan berjalan masuk seolah tidak mengetahui sesuatu.


Kembali ke tempat tadi, kulihat Arina dan Linda bermain-main dengan elemen mereka. Linda membentuk angin puyuh kecil, lalu angin itu di bekukan oleh Arina. Sepertinya mereka berdua sedang bosan, dan enggan bermain dengan handphone mereka.


Shina datang lagi sambil membawa ikat rambut.


"Pakabar Shin?", tanya Arina.


Linda tek berani melihat Shina tanpa alasan yang kuketahui. Ia lalu mendekati Linda dan memberikan ikat rambut itu ke Linda.


"Rapikan rambutmu dengan benda ini".


"Ya...ma...kasih", jawabnya malu-malu.


"Apa perlu ku ikatkan?", tanyanya dingin


"Nggak, nggak perlu".


Arina kemudian menatapku dengan tatapan cemberut. Alisnya mengkerut, mulutnya menggembung sambil menyondongkan badannya ke arahku.


"Kamu kenapa?", tanyaku.


"Sudah kuduga kalian bisa berpasangan", kata Dokter dari kejauhan.


"Nggak, nggak gitu", balas Arina panik.


"Saya mau kekamar dulu untuk istirahat".


"Ok dok".


Aku dan Shina pura-pura tidak melihat. Kami masih perlu waktu untuk menyesuaikan kondisi. Untuk menghilangkan emosi aku berfikir untuk jalan-jalan sebentar dengan Arina.


"Rin, mau keluar?"


"Eh?!"


"Kok eh? Kalau mau ayo!".


"Kalian berdua mau ikut?"


"Ya bo-".


Linda langsung menyikunya sebagai kode untuk menolak.


"Aku mau di rumah", "Malas keluar".


"Iya aku juga", sambung Linda.


"Huh, dasar kalian".


Mataku melihat muka Arina yang memerah seperti tomat. Jadi aku bertanya kepadanya,


"Rin, kamu sakit?".

__ADS_1


"Nggak sehat kok", jawabnya secepat kilat.


"Oh oke".


"Penyamaran".


"Buat apa?".


"Aku benci di tanyai wartawan nanti", "Kalau wartawannya orang sih oke aja".


"Baiklah".


"Pakai kacamata jangan hitam".


"Ok".


Aku dan Arina pergi ke kamar masing-masing untuk ganti baju. Setelah berganti pakaian, aku pergi menunggunya di depan pintu keluar. Sambil menunggu aku menyiapkan skateboard roda 2 yang baru dibeli 4 hari lalu dan belum pernah kupakai.


"Maaf kelamaan".


"Iya ga-", "Kok bajumu kaya gitu?", tanyaku ke Arina yang berpakaian seperti orang kencan.


"Gimana kerenkan?", balas Ramko dari belakang Arina.


"Kau ini, bisakah hilangkan sifat terlampau bahagiamu itu?"


"Tanpa bahagia, hidupku akan layu dan lapuk".


Ramko kemudian mendekatiku dan membisikkanku, "Jangan pulang malam ya", dengan senyum sinisnya.


"HAH, emangnya kamu kira aku itu mau ngapain?"


"Ya siapa tahu liat bintang malam-malam kaya dulu".


"Nggak akan kaya gitu, sudahlah lupakan!", "Ngomong-ngomong kemana Mabel dan Nadia?"


"Udah masuk duluan".


"Kalian bicara apa?"


"Kalau gitu aku pamit dulu".


"Ayo, Rin".


Akupun pergi dari rumah dengan berjalan kaki. Lebih tepatnya aku lupa untuk memakai skateboardku dan masib menaruhnya di didepan rumah. Arina menaiki skateboardnya, tapi tak menghiraukan aku memakai skateboardku atau tidak.


Kami berkeliling sampai ke taman kota. Disana banyak anak-anak bermain, tamannya juga bersih meskipun di musim gugur. Warna tamannya menjadi indah dengan dominasi warna kuning dan oranye.


Tak ketinggalan bagian taman bunga yang berwarna warni. Hewan-hewan peliharaan juga terlihat senang disini. Suasananya seperti dulu, hanya saja banyak robot di taman ini.


Aku akhirnya sampai ke sebuah bangku taman panjangnya cukup untuk tiga orang. Aku menyuruh Arina untuk duduk terlebih dahulu. Sebelum duduk aku menarik nafas panjang kelegaan. Mataku tak sengaja aku melirik Arina yang tampak gugup.


Aku yakin Arina pasti sedang tidak sehat. Salahku mengajaknya keluar, belum lagi udaranya dingin. Aku menggunakan seluruh tenagaku untuk menjadi peka. Akhirnya sebuah ide muncul dikepalaku.


Syalku melayang memutari kening Arina. Seketika mukanya memerah panas. Setelah cukup lama akhirnya Arina angkat bicara, meskipun tebata-bata.


"Don, apa kamu pernah mencuci syalmu?"


Menusuk sekali.


"Tentu saja, bahkan sesekali aku melepasnya", balasku sedikit tertawa.


"Syukurlah".


"Syukur kenapa?"


"Aku bisa makai syal ini lebih lama", jawab Arina sambil memegang syal itu dengan kedua tangannya.


Entah mengapa, ketika ia memegang syal itu syal itu.

__ADS_1


Dia jadi terlihat sangat manis.


__ADS_2