
Ramko, Yuki, dan Arina dibawa ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka. Selang beberapa hari setelah mereka sembuh total. Ramko, Mabel, dan Arina pergi ke pusat penelitian untuk memberikan data mengenai portal milik musuh termasuk menanyakan perihal syal milik Arina.
Para peneliti menerimanya dan langsung melakukan observasi. Para peneliti yakin hanya dengan foto 3D hologram yang diambil Ramko. Mereka mampu menciptakan portal milik mereka sendiri. Dengan begitu kapanpun dan dimanapun, militer Aquopora mampu melakukan serangan balasan yang mendadak dan agresif.
Lalu, alasan Arina meminta syalnya untuk diteliti adalah karena benda itu berubah warna menjadi merah ketika berdekatan dengan Lava. Memang syal itu pada dasarnya berwarna merah, namun semenjak dipegang Arina. Syal itu berubah warna menjadi putih bersih seperti es.
Dua bulan kemudian, seorang penjaga pantai mengaku adanya sebuah anomali yaitu kenaikan permukaan air laut. Ia berkata bahwa ombak pantai juga semakin tinggi tiap minggunya.
Pernyataan itu direspon oleh pemerintah. Merela segera bertindak cepat dengan menyiapkan pesawat pengungsian. Terungkaplah fakta bahwa planet Aquopora ternyata sangat dekat dengan lubang hitam.
Planet ini sejatinya sudah tertarik ke lubang hitam sejak lama. Namun, mampu ditahan oleh anti gravitasi yang menggunakan kristal elemen sebagai sumber energinya. Semenjak kristal itu musnah, energi untuk anti gravitasi semakin habis. Hal akan membuat planet Aquopora perlahan tertarik ke lubang hitam.
Kenaikan permukaan air laut disebabkan karena adanya lawan gravitasi yang lebih kuat dari planet Aquopora. Jika dibiarkan, anti gravitasi akan mati total dan menarik mereka ke singularitas lubang hitam. Lalu mereka musnah didalamnya seperti planet-planet lain.
Setelah mengetahui portal teleporter yang diteliti sudah jadi. Pemerintah langsung saja memberikan arahan untuk mengungsi menggunakan pesawat pesawat raksasa. Pesawat-pesawat itu sudah lama diciptakan untuk mengantisipasi masalah ini.
Seluruh orang diplanet kecil itu terbang menggunakan 20 pesawat raksasa kecuali sebagian besar militer dan tiga orang manusia elemen lama. Tujuan planet sudah diketahui, sebuah planet biru bernama Nemesis. Laik huni namun sangat jauh, jaraknya hampir sama dengan diameter galaksi andromeda.
Karena jaraknya yang jauh, teleporter tidak mampu mencapainya dan hanya mampu memindahkan mereka setengah dari jaraknya. Setengahnya lagi harus ditempuh dengan kecepatan cahaya selama seminggu.
Okta, Yuki, dan Sami dipisahkan pada tiga pesawat pengungsian yang berbeda. Supaya jika ada musuh yang menyerang, mereka dapat menahannya sampai bala bantuan datang.
Setelah pesawat terakhir terbang, semua pasukan perang dikumpulkan. Kala itu presiden mengundurkan diri, sehingga pemimpin negara jatuh kepada wakilnya. Wakil presiden ini berbeda dengan presiden, ia kurang jelas dalam memberi arahan perang. Sehingga, para jendral dan panglima tidak mempedulikan perintahnya. Mereka memilih untuk bekerja sama dan membangun strategi sendiri.
Teleporter ditutup lalu diubah koordinatnya ke plamet musuh. Disana ada satu masalah, teleporter perlu dimatikan secara manual dari pusat atau penghidupnya. Sebab musuh dapat masuk melalui sisi lain yang sekarang merupakan pintu keluar teleporter bagi para pasukan perang Aquopora.
Jika tidak dimatikan, dikhawatirkan musuh akan masuk dan mencari data tentang jalur pengungsian. Jelas saja hal ini akan membahayakan yang lainnya. Untuk mengantisipasi itu, 4 orang mengorbankan diri mereka untuk menutup portal itu.
Mereka juga akan membakar seluruh planet untuk menghapus benda-benda yang masih tertinggal disana. Akhirnya yang diputuskan, portal teleporter dibuka dan pasukan perang terbang masuk kedalam.
Robot-robot raksasa yang ada didalam tanah juga dibangunkan lalu terbang masuk keteleporter.
"Nama kalian akan selalu kami ingat sampai keanak turun kami, terima kasih atas jasa kalian", ucap seorang panglima kepada mereka.
"Sama-sama pak", balas mereka.
Setelah menyampaikan itu, portal ditutup dan komunikasi keduanya terputus untuk selamanya. Beberapa saat kemudian seseorang masuk kedalam ruangan untuk menyampaikan sesuatu kepada panglima.
"Pak, planet musuh sudah didepan mata, tinggal menunggu arahan untuk memasuki orbit".
"Diterima!"
Panglima menelepon seluruh pesawat dan robot, selanjutnya ia menyampaikan,
"Kita terjun sekarang!",
"Dan ingat, habisi mereka sampai tak bersisa, seperti yang mereka lakukan kepada kita dahulu",
"Ini adalah akhir bagi mereka atau akhir bagi kita, bakar diri kalian sampai ini berakhir!!"
__ADS_1
"Siap, Pak!!", teriak semua orang di masing masing pesawat.
Tiba-tiba sebuah perisai muncul menutupi jalan masuk orbit. Perisai itu berbentuk mirip dengan sarang lebah. Untuk itu pesawat pemecah perisai masuk, pesawat itu menembakkan sebuah gelombang yang membuat lubang pada perisai itu.
Setelah perisai berlubang, semua pasukan masuk kedalam. Para pasukan itu dipecah menjadi tiga bagian untuk menghancurkan kelima markas musuh. Sementara ketiga manusia elemen diberi tugas untuk membunuh pemimpin musuh di pusat markas.
Sebelum berangkat, Arina menanyakan tentang syalnya. Ramko berkata jika syalnya hanya merupakan syal biasa. Donny memakai syal itu sebagai perantara kekuatannya.
"Begitulah kata profesor Eva", ucap Ramko.
"Ya", balas Arina.
Karena tidak mendapat apapun Arina meminta syalnya dikembalikan. Akhirnya Ramko meminta bawahannya untuk meberikan syal milik Arina.
Kelompok manusia elemen juga diberi bantuan pasukan dan empat buah robot raksasa. Kehadiran pesawat mereka memberikan kejutan kepada musuh. Dengan mudah pesawat itu menghabisi garis depan tanpa perlawanan berarti. Selanjutnya pesawat menurunkan pasukannya dan bergerak masuk kedalam markas musuh.
Baku tembakpun tak terhindarkan. Semua pasukan musuh dihancurkan dengan mudah oleh pasukan Aquopora. Perlahan mereka berhasil maju mendorong serdadu musuh masuk kembali kedalam markas mereka.
Melihat serdadunya mulai kalah dari Aquopora, musuh mengeluarkan senjata andalannya. Pasukan monster ganas berwarna kemerahan yang siap menyerang siapapun, kawan maupun lawan.
Kandang-kandang mahkluk itu terbuka serentak. Memberi jalan kebebasan bagi para monster ganas untuk keluar dan mencari mangsa. Mahkluk bergerak memenuhi lorong dan menyerang siapapun yang ada didepan mereka.
Pasukan ganas itu mulai tampak didepan Ramko, dan yang lainnya. Pasukan terdepan mengaktikan perisai teknologi nano yang langsung dihantam oleh monster-monster itu.
Arina menempelkan tangannya pada dinding. Dinding yang disentuhnya seketika membeku lalu tertutupi salju putih. Bekuan itu terus menjalar hingga kelorong bagian dalam. Selanjutnya Arina menumbuhkan es runcing pada dinding yang membeku, sehingga menusuk monster-monster didalamnya.
Tiba-tiba atap lorong dirobek, menampakkan sosok seukuran manusia dengan zirah merah tua yang langsung menarik tangan Ramko keluar lorong. Sosok itu kemudian menebaskan pedangnya ke tubuh Ramko.
Mabel melompat keluar untuk membantu suaminya. Sayangnya dia langsung dicekik oleh Metaloid yang sudah menunggunya. Mabel dan Metaloid membentuk tangannya menjadi sebuah pisau, keduanya bergerak bersamaan menusuk perut milik lawannya.
Tentu saja, kedua tusukan itu tak berarti bagi mereka berdua yang sama-sama berelemen benda cair. Mabel menarik tangannya lalu menebas tangan Metaloid yang masih mencengkram lehernya.
Tangan Metaloid terputus, membuat Mabel terbebas dan bisa kembali menyerang Metaloid. Serangan fisik ke Metaloid tak berarti baginya karena tubuhnya yang tertusuk dan terpisah akan kembali menyatu dan pulih. Kekuatan ini persis seperti milik Mabel.
Pasukan Aquopora berhasil memukul mundur pasukan monster. Memberi peluang bagi Arina untuk keluar dan membantu kedua temannya. Arina berlari menuju Mabel dan Metaloid yang masih sibuk menyerang satu sama lain.
Ia menghidupkan raksasa es ditengah padang pasir yang panas. Melihat raksasa es milik Arina yang bergerak kearahnya. Ia langsung melompat kembali kearah Arina, digantikan oleh raksasa itu
Tentu saja raksasa itu dikalahkan dengan mudah oleh Metaloid yang kebal akan serangan fisik. Namun Arina punya rencana tersembunyi. Ia meledakkan monster itu yang membuat semua benda dalam radius 20 meter membeku secara instan.
Metaloid yang berada sangat dekat dengan mahkluk tadi sontak membeku dan tidak dapat bergerak. Mabel mengubah tangannya menjadi tentakel gurita air. Ia langsung melilit tubuh Metaloid sekuat tenaga hingga tubuh metaloid hancur seperti kaca.
Panasnya gurun membuat es itu cepat mencair. Perlahan-lahan pecahan tubuh Metaloid kembali menyatu. Sebelum tubuh Metaloid menyatu sempurna, Mabel tak sengaja menemukan sebuah bola kelereng dengan lampu kelap kelip berwarna merah di dalam kepala Metaloid yang sedang tumbuh.
Mabel langsung berlari dan menusuk kepala Metaloid untuk menganbil kelereng itu. Setelah mendapatkannya Mabel langsung melemparkannya kepada Arina. Ternyata logam besi cair yang tadi hendak membentuk tubuh Metaloid, kembali meleleh dan mengalir menuju Arina.
"Rin!! Hancurkan benda itu!!", teriak Mabel tiba-tiba.
Arina sontak mengambil kelereng itu dan membekukannya sedingin mungkin. Ia kemudian meremasnya dengan satu tangannya sampai pesar seperti serpihan kaca. Saat itu juga aliran besi cair yang bergerak kearah Arina berhenti dan berubah menjadi logam cair biasa.
__ADS_1
"Kerja bagus", puji Mabel.
"Sama-sama", balas Arina sambil menganggukkan kepala.
"Ayo kita susul Ramko!"
Mabel dan Arina langsung saja bergerak kearah Ramko yang masih berduel sengit dengan sosok itu. Mabel menarik Ramko dengan tali airnya, sementara Arina membangunkan raksasa es yang kemudian melompat menginjak sosok itu.
Sama seperti sebelumnya, Arina meledakkan mahkluk itu dan membuat sosok itu membeku. Terasa kurang, Mabel menciptakan bola air raksasa yang selanjutnya dilempar kearah sosok itu. Bola itu mendarat tepat ditubuh sosok itu dan membuatnya terperangkap didalamnya.
Selanjutnya Arina memunculkan es runcing ditangan kanannya. Ia melemparkan es digenggamannya kedalam bola air Mabel. Es itu membekukan bola air Mabel dan merubahnya menjadi bola es yang amat keras.
"Kombo yang bagus", ucap Ramko.
"Sama-sama", balas Mabel
"Jangan lengah dulu!", tepis Arina
Tiba-tiba dari dalam terdengar suara yang menyambung pembicaraan mereka.
"Arina benar, kalian jangan lengah dulu!"
Tak disangka, tiba-tiba bola padat itu meledak dan sosok tadi keluar dari dalam bola itu. Sosok itu muncul kembali dengan perawakan manusia dengan pakai serba hitam tanpa zirahnya. Wajahnya yang sangat similiar hingga membuat Ramko, Arina, dan Mabel tercengang bukan main.
"Tidak.. Rin!? Apa kamu lihat apa yang kulihat!?", tanya Ramko.
"Aku seperti pernah melihat wajahnya, tapi siapa..", gumam Mabel.
"D.. Donny..", ucap Arina lirih.
"Nama itu.. sudah lama aku tidak mendengarnya", ucap orang itu.
"Donny, apa yang terjadi padamu?", tanya Arina sambil berjalan perlahan mendekatinya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan", balasnya.
"Arina! Kembali kemari!! Dia bukan Donny lagi!!", perintah Mabel.
"Biarkan aku bicara dengannya!", tepisnya tegas.
"Donny, apa yang terjadi padamu? Beri tahu aku!"
"Aku hanya mau kalian bergabung denganku!"
"Untuk apa?!", tanya Ramko.
"Menciptakan dunia yang baru"
"Dunia yang bersih tanpa adanya manusia yang egois dan arogan"
__ADS_1
"Dunia yang membebaskan kita dari jeratan manusia yang memperalat kita".