
DAR DAR DAR
"Arghh susahnya!", keluh Okta.
"Bagaimana?", tanya Yuki.
"Apanya yang bagaimana? Apinya terus saja meledak, ugh menyebalkan".
Hari keempat semenjak kejadian itu. Okta, Yuki, dan Arina tinggal di rumah kayu yang sudah reot milik seorang manusia tak dikenal. Lokasinya berada diplanet laik huni yang belum pernah dijangkau siapapun. Rumah itu terletak dipinggir pantai yang dibelakangnya terdapat hutan belantara.
Disana terdapat batu-batu sebesar bukit besar yang mencuat keatas langit seperti cerobong kapal. Bulan disana juga ada dua, salah satunya akan muncul disiang hari dan tampak seperti matahari kedua.
Lelaki pemilik rumah itu, bercirikan jenggot dan kumis yang lebat, tinggi, badan yang gemuk dan sedikit membungkuk, serta terlihat kumal. Entah apa alasan seorang manusia membangun sebuah rumah yang sangat jauh diantara bintang-bintang.
Setiap harinya Okta terus berlatih untuk mengendalikan apinya. Elemen itu terus saja meledak dan membuat luka ditubuhnya. Sementara Yuki mengurus Arina yang masih ditahap pemulihan.
"Sudahlah, ini minum dulu", ucap Yuki sambil menyodorkan minuman dingin kepada Okta.
"Makasih".
Disaat yang sama lelaki pemilik rumah keluar untuk mencari tanaman herbal di hutan. Ia berjalan tanpa menghiraukan mereka berdua yang terpaku melihatnya.
Ditambah lagi ia akan marah jika ada orang yang mengikutinya. Dia juga jarang bicara dan lebih sering mengunci diri di kamar. Setelah dia pergi cukup jauh, Okta diam-diam mengikutinya dari belakang.
"Hey, mau kemana kamu?"
"Tetap disini dan jangan ikuti aku!"
"Kamu mau dimarahi lagi?", Yuki memberi peringatan.
"Shht, diamlah".
Orang itu berjalan menyusuri hutan. Meski ada hewan buruan disekitarnya, orang itu tidak sekalipun menyentuh senapan di punggungnya. Ia terus berjalan lurus sambil sesekali melihat kebelakang. Tingkah anehnya itu terus diikuti Okta hingga ia berhenti di tengah tengah hutan.
Orang itu kemudian mendekati salah satu pohon menekan nekan batangnya seperti tombol. Ditepuk-tepuk tangannya seperti memanggil burung lalu memeluk pohon itu.
"Apa orang ini masih sehat?", gumam Okta dengan wajah datar.
Tak disangka Okta batang pohon itu tiba-tiba terbuka dan menampakkan mesin didalamnya. Selanjutnya tanah di sampingnya tenggelam ketanah dan membentuk suatu tangga menuju bawah tanah. Dipandang dulu sekelilingnya baru ia masuk kedalam tanah.
Sebelum tanah itu kembali, Okta melompat kedalam lalu membuntutinya dari jarak aman. Tangga itu menuju suatu lubang tanah seperti lubang tentara jepang. Didalamnya hanya ada sebuah lampu tiap empat meter, ditambah lagi hanya beberapa yang menyala.
Suhu disana panas dan pengap. Semakin dalam mereka berjalan semakin panas pula suhunya. Perjalanan orang itu berhenti didepan sebuah pintu besi. Ia memasuki pintu itu, sementara Okta mengamatinya dari kaca pintu.
Didalamnya tertata rapi puluhan tabung reaktan beserta isi-isinya. Tempat itu seperti labolatorium gelap dengan banyak plak di dindingnya. Kertas-kertas tertempel dimana mana, berisi tulisan rumit dengan bahasa yang asing. Beberapa isi kertas itu terdapat gambar rasi bintang, planet, serta anatomi manusia.
Kondisi ruangan itu membuat Okta bergidik ngeri. Orang itu mengambil sebuah suntikan berisi cairan berwarna hijau muda. Didalamnya juga terdapat sebuah krital hijau bercahaya yang familiar bagi Okta, kristal mutan.
Orang itu kemudian melepas bajunya, tampak tangan kirinya penuh dengan bengkak berwarna kehijauan. Tangan itu juga juga yang kemudian disuntikkan senyawa tadi. Disaat itu Okta menyadari sesuatu. Ia mengeluarkan angin kecil yang menangkis suntikan dari tangan orang tadi.
Suntikan itu kemudian terlempar dan pecah menghantam dinding. Tiba-tiba rantai api muncul dari dinding dan mengikat kedua tangan Okta. Selanjutnya orang itu berjalan kearah Okta dengan langkahnya yang berat. Okta membuat angin kuat untuk memecahkan rantai itu lalu berlari menjauh.
Orang itu membuka pintu besi lalu melemparkan sebuah bola api kepada Okta. Bola api itu meledak dan membuat Okta jatuh tersungkur ke tanah. Okta membalikkan badannya lalu mengerahkan angin kuat yang mendorong orang itu.
Angin itu tidak menerbangkannya, namun hanya membuatnya melambat. Rantai besi api melilit Okta, lalu menariknya kearah orang itu.
"Mau apa kamu kesini?", tanyanya.
"Jelaskan dulu, tempat apa itu?"
Rantai api itu semakin menyala. Okta mengerang kesakitan, meski begitu ia tetap mengulang pertanyaan yang sama.
"Kalau kau tidak menjawabnya, akan kubuat kamu jadi abu!", gertaknya dengan tatapan tajam.
Okta menggulirkan udara sampai menciptakan musaran angin di seluruh lorong. Membuat rantai-rantai api itu pecah seperti kaca. Okta menepakkan tangannya ke dada orang itu. Serangan itu memberikan tekanan angin yang luar biasa hingga membuat punggung orang itu berhantaman langsung dengan pintu besi.
Okta sontak berlari ke arah mesin tangga sambil menahan tangin karena luka di badannya. Tombol merah pada dinding ditekannya. Terbentuklah tangga untuk kepermukaan dari bawah tanah. Okta segera berlari keluar lalu terbang kelangit.
Tiba-tiba orang itu terbang dan mampu mengimbangi kecepatan Okta. Tubuhnya dipenuhi api kuning yang menyala dan mulutnya mengeluarkan asap putih. Orang itu lebih tampak seperti monster.
Ia selanjutnya menjerat tangan dan kaki Okta. Tubuh Okta kemudian diikat seluruhnya lalu diganting diatas pohon seperti kepompong. Setelah melakukan itu, orang itu berubah wujud kembali ke asalnya. Ia mengambil jarum sunting dari sakunya lalu menyuntikkannya ke pada Okta. Sesaat kemudian penglihatannya menjadi kabur dan tak sadarkan diri.
......\=......
"Bangun..."
"Bangun!"
Okta membuka matanya yang terasa berat. Sambil terbungkus kain tebal, Okta menatap bintang-bintang di langit malam. Disamping kanan ada sebuah sungai kecil, sementara di kirinya tampak orang tadi yang menekuk lutunya sambil memberikannya sebuah daging bakar.
Okta langsung terduduk dan mencoba berlari. Orang itu dengan sigapnya menarik tangan Okta dan menenangkannya.
"Tenanglah nak, kamu aman disini", ucapnya santai.
__ADS_1
Okta tampak kebingungan.
"Ini, dimakan!"
Tangan kanan Okta langsung saja menepisnya dengan kasar. Berseraklah daging itu di atas bebatuan sungai. Tampaknya Okta masih marah karena kejadian tadi.
"Apa maumu?", tanyanya.
"Lihatlah ke piringmu", ucap orang itu.
Okta melirik kearah piring itu. Ia sontak sangat terkejut karena benda itu terlahap api berwarna oranye.
"Apa yang..."
Okta melihat tangannya, tersadarlah ia kalau tangannya juga meluarkan api. Ia langsung saja menepak-nepakkan tangannya ke bebatuan sebelum merendamnya didalam air. Bukannya padam, api itu justru semakin besar.
Api itu tak sengaja menyentuh bajunya yang membuat bajunya ikut terlahap api. Ia semakin panik dan sampai melepas bajunya. Orang itu tersenyum, lalu memegang pundak Okta.
"Tenanglah...", "Lihat tanganmu baik baik!",
"Bayangkan api itu mengecil seperti sebuah korek, lalu menghilang", kata orang itu.
Okta mengangguk, ia mengatur ulang nafasnya dan mengikuti apa kata orang itu.
"Tenang.. tenang..", ucapnya terus menerus.
Api itu mengecil untuk beberapa detik sebelum kemudian kembali besar. Hal itu membuat Okta semakin panik.
"Kenapa?! Kenapa?!"
"Tenanglah...", ucap orang itu sambil mengetukkan tongkatnya kekepala Okta dengan halus.
Pundak Okta perlahan kembali turun, diikuti dengan apinya dan semakin mengecil. Okta melihat cahaya ditangannya yang sangat kecil. Ia mencoba membayangkan api itu kembali membesar. Disaat itu juga apinya kembali menjadi besar. Selanjutnya Okta kembali mengecilkannya seperti sebuah korek.
Ia terus menerus melakukan itu hingga ia tertawa sendiri. Lalu mematikannya dengan mengatupkan tangannya. Terpampang jelas diwajahnya wajah bahagia sekaligus kagum yang membuat orang itu ikut senang.
Okta melihat kembali tangannya yang sebelumnya terluka. Kulitnya yang memar dan hangus menghilang. Ia juga heran bisa mengendalikan api tanpa melukai tubuhnya. Disaat itu juga ingatan suntikan tadi melintas dikepalanya.
"Apa yang kau lakukan padaku?", tanya Okta.
"Memberimu sebuah serum pelindung".
"Serum apa itu?", tanya Okta sambil mengambil posisi duduk.
"Membuatku kebal terhadap ledakan".
"Bukan ledakan, membuat tubuhmu cocok dengan kemampuanmu".
Orang itu duduk disamping Okta.
"Tubuhmu sangat dominan milik ibumu, sementara kekuatan apimu menurun dari ayahmu".
"Tunggu, kau kenal orang tuaku?"
"Ya ibumu sangat baik, ia orang yang pemberani dan senang membantuku".
"Kekuatan apimu.. jangan jangan, ka-"
"Tidak, aku hanya tangan kanan ayahmu, kekuatan apiku hanya pemberian darinya".
"Oh..", "Kalau boleh aku bertanya... bagaimana ayahku dulu?"
"Dia, dia orang yang keras dan ambisius", "Dia sangat aneh, terkadang ia aku menemukannya hendak mengantung lehernya di sebuah tali".
"Kenapa dia begitu?", tanya Okta.
"Hmm.. dia merasa bersalah atas kejadian yang menimpanya dulu".
"Apa yang terjadi dengannya dulu?", Okta semakin penasaran.
Orang itu menarik nafas panjang, lalu menatap Okta dalam-dalam.
"Maafkan aku Shina...",
"Dulu, saat dia dan ibumu dan manusia elemen lainnya termasuk lava, yang dulu namanya adalah Donny masih bersama",
"Ia kehilangan sahabatnya yang bernama Afton",
"Afton mengorbankan dirinya demi melindungi teman-temannya, saat itu ia masih lemah, ia tak mampu menyelamatkan Afton dan masih terus menyalahkannya atas kematiannya",
"Lalu diusia remaja, ia bertengkar dengan Donny yang kemudian membuat Donny berubah haluan",
"Ia sekarang bangkit dan menjadi monster jahat yang menjadi musuh bebuyutan kita".
__ADS_1
"Aku tak tahu kalau ayahku membuat kekacauan selama ini, aku minta maaf".
"Tidak apa, lagipula ayahmu itu punya gangguan kejiwaan, ia mempunyai dua personalitas".
"Dua personalitas?"
"Namanya skizofrenia, penyakit kejiwaan yang muncul akibat trauma mendalam",
"Pengidapnya biasanya punya dua atau lebih personalitas yang punya nama dan sifatnya masing-masing, nama lain dari personalitas lain ini adalah alter ego".
"Begitu ya...", Okta menunduk malu.
"Lalu? Bagaimana dengan anak pemilik kekuatan air dan petir itu?"
"Dia... dia... dia tewas, namanya Sami, anak yang ceria dan terasa seperti adikku sendiri", ucap Okta sambil mengusap air matanya.
"Saat itu kecepatan cahaya pesawat pengungsi berhenti karena halangan asteroid",
"Pesawat kemudian kembali ke mode manual dan mukai bermanuver menghindari batuan angkasa yang melayang",
"Sayangnya kami tak memperkirakan ada penduduk asli planet terdekat disana",
"Mereka kemudian menyerang kami karena memasuki wilayah mereka tanpa ijin",
"Singkat cerita karena bahasa kami yang berlawanan, kamu terlibat pertarungan dengan mereka".
"Apa kalian tidak menyerang mereka?"
"Kami melakukannya, tapi karena peralatan mereka sangat canggih dan terus memanggil bala bantuan",
"Kami kewalahan karena melawan musuh yang tidak seimbang, alhasil satu-persatu pesawat gugur".
"Orang-orang dipesawat yang tersisa berlarian berpindah dari satu pesawat kepesawat pusat untuk menyelamatkan diri melalui portal yang tersedia",
"Singkat cerita pesawatku berlubang akibat ledakan sebuah misil, semua yang ada didalam tertarik keluar termasuk aku".
"Disaat itu juga Yuki datang dan membawaku kedalam portal",
"Selanjutnya kami kami berpindah pesawat Sami, kejadian yang sama terulang ke pada Sami, namun sayangnya ia tertarik keluar angkasa",
"Kalau saja aku mencengkram kakinya lebih kuat, kami bertiga pasti bisa lolos",
"Sebelum ia lepas, Sami menggelengkan kepalanya sambil berkata, 'kenapa, kak?' kepadaku",
"Andai saja aku bisa mengembalikan waktu", ucap Okta sambil terisak isak.
Orang itu menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena tidak melihat Sami yang terlempar ke angkasa lepas.
"Tenanglah... ayo kita pulang", ucap orang itu untuk menenangkan Okta.
"Hm", Okta menganggukkan kepalnya.
Okta berjalan menyusuri hutan sambil mengusap air matanya. Pikirannya kembali kosong dan mengunci mulutnya selama perjalanan.
Sesampainya dirumah mereka disambut oleh Yuki dari dalam kamar. Ia kemudian kembali bercengkrama dengan ibunya yang baru saja tersadar. Mendengar suara Arina, Okta seketika berlari memasuki kamar.
"Bibi, apa bibi baik baik saja", tanya Okta.
"Ya..", ucapnya sambil menganggukkam kepalnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Arina", ucap orang itu sambil berjalan kearah mereka.
Lalu saat orang itu memasuki kamar. Arina langsung terduduk dan terkejut setengah mati saat melihat wajah orang itu.
"Lama sekali tak berjumpa..., Arina", ucapnya serius.
"Tidak mungkin... ka-kau.. Shina!?"
"Syukurlah kamu masih ingat namaku, apa kamu masih membenciku?"
Okta tiba-tiba tersentak mendengar percakapan mereka. Seakan tak percaya ia berkata,
"Tunggu dulu, artinya kau adalah.."
"Kau adalah..."
"Ayahku?!"
.
.
"Maaf aku terpaksa menyembunyikan identitasku, Okta".
__ADS_1