
Di kala sedang berbincang satu sama lain. Suasana semakin mencekam, jarak pandang didalam badai berkurang cepat. Terdengar juga suara gemuruh dari tanah yang membuat kamu harus terbang lebih tinggi.
Ketika berada cukup tinggi, badai salju menghilang begitu saja. Hal itu membuat kami menjadi bingung dan menatap satu sama lain.
Untuk menemukan jawaban, kami memutuskan untuk mendarat di tempat yang bersalju itu. Sebelum turun kami menghidupkan mode hangat pada baju kami, dan memakai sepatu yang cukup tebal.
Ramko langsung melompat dari mobil dengan girangnya. Tak di sangka salju itu sangat dalam dan membuatnya terperosok dan tenggelam didalam salju.
"Ram, kamu itu ngapain?", tanyaku sambil tertawa.
"Hati-hati, badai tadi membuat salju lebih tebal dari biasanya".
"Tewlat kamu, swin", balas Ramko yang mulutnya dipenuhi salju dingin.
Shina yang melihat lubang dalam yang di bentuk Ramko mencoba menahan tawanya.
"Bantwuin ngapa malah ngetawain".
"Iya Ram, iyahaha", balasku.
Aku memanjangkan syalku dan menarik kaki Ramko keatas permukaan salju.
"Bleh! hampir saja aku terkena hipotermia", jawab Ramko sambil memuntahkan salju yang ada di mulutnya.
"Kamu juga sih", "Aku ngomong nggak didengerin dulu", ejek Shina dari dalam mobil.
"Ngomongnya telat".
"Sudah .. lupakan saja, Ram".
Aku mengamati sekeliling yang berupa selimut putih tebal nan dingin. Tak ada apapun, semua jasad robot menghilang begitu saja.
"Shin, apa kamu melihat sesuatu?", tanyaku.
"Salju dan ... salju, tak ada apapun".
"Coba kamu lacak lagi sinyal mereka!"
"Disini tertulis 5 mil lagi kearah sana", jawab Shina sambil menunjuk ke arah matahari terbenam.
"Ayo bergerak sekarang", pinta Ramko sambil memasuki mobil.
"Mesinnya kepanasan", "Mungkin karena tadi membentur atmosfer", balas Shina.
"Semoga mereka berempat baik-baik saja".
"Semoga Don", "Kita jangan berfikir negatif dulu".
"Tidur dulu aja, di tempat gini nggak bakal ada apa-apa", kata Shina sembari mendatarkan bangku kokpit dan mengambil posisi tidur.
"Hmm, oke".
Kebetulan juga hari itu langit mulai gelap. Momen yang pas itu kami gunakan untuk beristirahat sejenak. Kami semua akhirnya tidur untuk sementara waktu.
......*......
Malamnya kami terbangun dan melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan suhu menurun drastis. Meskipun kami sudah memakai mode hangat di baju dan penutup kepala.
Tiba-tiba mobil kami terhempas ke salju. Mesin mobil tak kuasa menahan dinginnya salju dan memaksa mematikan mesin hingga suhu kembali normal.
__ADS_1
"Tidur lagilah dingin", ucapku.
"Sedingin ini kamu mau tidur", tanya Shina
"Pinjami syalmu, Don!".
Aku memanjangkan kedua ujung syalku dan mengalungkannya ke leher Shina dan Ramko. Terlihat seperti kakak berafik yang berbagi syal satu sama lain. Walaupun terpisah jrak bangku satu sama lain.
"Don", panggil Ramko.
"Apa?"
"Kalau syalmu bisa melayang, memegang dan menyerang", "Untuk apa tanganmu kalau begitu?", tanyanya polos.
"Cadangan", jawab Shina.
"Benar tapi salah juga".
"Bagaimana kamu menemukan canon plasma yang biasa muncul di tanganmu?", tanya Ramko penasaran.
"Ooo senjata itu tak sengaja kutemukan saat baru bangun dari peti", "Kenapa?"
"Ya, kan lebih baik kalau senjatanya bentuk gurita yang menusuk musuh atau canonmu menembak lebih dari sekali dalam sekali isi".
"Bisa saja, tapi kalau tembakan ganda", "Tapi aku harus berada di mode naga merah atau hijau normal dan itu pasti sakit".
"Kalau memang bisa", "Jangan sampai kita kehilangan teman lagi kali ini", sambung Shina sambil menghantukkan kepalanya ke stir mobil.
Kami terdiam beberapa saat setelah mendengar jawaban itu.
"Ram, aku yakin kamu terkuat disini", kataku.
"Listikmu kan dibentuk apapun", "Belum lagi kecepatanmu setara cahaya".
"Kecepatan boleh tinggi, tapi tenaga juga terpakai banyak", "Dan aku tidak bisa pakai serangan jarak jauh, akurasiku buruk", jelasnya.
"Pantas pakai pisau terus".
"Shin, panasi saja mesin mobilnya pakai ap-"
"Kalau terlalu banyak cahaya, bisa bisa mengundang musuh nanti", potongnya
Ketika sedang berbicara satu sama lain. Kami melihat sebuah benda terbang dan menghantam tumpukan salju didepan tak jauh dari mobil kami.
"Tunggu sebentar, biar aku cek".
Shina langsung turun dari mobil dan mengendap ngendap ke arah kepulan asap itu. Disana ia melihat pesawat tanpa awak yang setengah rusak.
Tak lama kemudian shina kembali kearah kami sambil membawa sebuah benda. Sesampainya di mobil shina menghidupakan alat itu dan muncul hologram peta berbahasa aneh.
Di peta itu terlihat ada dua titik kecil dan satu titik besar. Titik besar itu tak jauh dari lokasi kami. Kami menyimpulkan kemungkinan titik besar ini adalah markas atau target yang harus diintai.
Karena tak jauh dari sini, kami mencoba pergi ke tempat itu. Berharap bisa menemukan keempat teman kami disana.
Shina menaruh tangannya di atas kap mobil dan memanaskan tangannya. Selanjutnya ia masuk ke dalam mobil, menyalakannya dan membawa kami menuju lokasi.
Beberapa menit kemudian, kami memasuki hutan bersalju. Cukup lama kami didalam hutan itu hingga salah seorang dari kami mendengar ada suara riuh pasar tak jauh dari sini.
Kami bertiga turun dari mobil dan menutupi mobil kami dengan salju. Lalu mengendap-ngendap menuju sumber suara dan cahaya.
__ADS_1
Aku memecah syalku dan mengarahkannya ke depan bersiap menusuk jika ada serangan. Kami kemudian bersembunyi di balik semak-semak tebal dan mengintip melalui celah dedaunan.
Namun, bukan markas yang kami lihat, melainkan sebuah kota, selayaknya kota manusia. Tempat itu dipenuhi kendaraan dan mahkluk aneh setengah robot (cyborg).
Beberapa dari mereka terlihat seperti manusia dan berpakaian sederhana dan terkesan kuno. Setelah mengetahui situasi kami kembali ke mobil untuk mencari jalan lain.
Tapi, ketika membalik badan kami melihat mobil kami telah di bongkar oleh tiga robot asing. Mereka mengambil barang dan bahkan mencabut mesin mobil kami lalu dimasukkan ke dalam karung.
Diam-diam aku menusuk salah satu dari mereka. Dua lainnya melarikan diri, namun berhasil di tebas oleh Ramko dengan cepat.
"Usaha yang bagus pencuri", ledek Ramko.
"Mahkluk disini rata rata mesin ya?", kataku.
"Mungkin", jawab Shina selahi membuka kap mobil yang penyok dan kosong.
"Bagaimana sekarang?"
"Tak ada cara lain, kita harus masuk ke kota".
"Tapi, baju kita begini", "Pasti ketahuan", sambung Ramko.
"Hmm, coba kita buang isi mesin robot ini dan memasukkan tangan dan kaki kita ke tangan dan kaki robot ini untuk penyamaran".
"Ide bagus, Don".
Kami mengeluarkan rangka dalam kaki dan tangan robot-robot itu lalu memasukkan tangan dan kaki kami ke dalamnya. Menyadari ada minus pada pakaian kami yang terlalu modern.
Kami berniat membeli pakaian yang ada di toko di kota itu. Tapi sebelumnya kami harus mencari tahu alat tukarnya. Kami menunggu contoh pelanggan di balik semak.
Sampai akhirnya ada salah seorang pelanggan ke toko itu sambil membawa sebuah batangan logam ke dalam toko itu. Lalu keluar dengan beberapa baju baru.
Shina mendapat ide, ia langsung mengumpulkan rangka robot tadi yang tak terpakai. Lalu aku diminta membentuk senjata canon yang tak terisi plasma dan digunakannya sebagai cetakan.
Shina kemudian melelehkan rangka logam tadi kedalam cetakan. Tak berselang lama, logam panas itu mendingin dan menjadi besi yang utuh.
Aku memanjangkan syalku hingga terlihat seperti jubah yang menutupi kepala sampai kakiku. Aku berjalan perlahan untuk penyamaran sambil menenteng logam besar dan cukup berat di tanganku.
Sesampainya di toko, aku berniat bertanya kepada penjual toko itu dengan bahasa tangan. Penjual toko itu tinggi berbadan besar dambil menghisap rokok di mulutnya.
"Permisi pak, saya mau menukarkan logam ini dengan beberapa pakaian", tawarku sambil tangan yang menggunakan bahasa tangan.
"Hahaha, bahasa konyol apa itu, baiklah saya lihat dulu logam ini", jawabnya dengan bahasaku.
Aku terkejut karena dia bisa mengerti bahasaku. Padahal aku tak sengaja menguncapkannya.
"Logam besar yang bagus, cantik sekali", "Dapat dari mana?"
"Aku menemukan di sebuah goa yang sudah runtuh".
"Goa apa itu? Aku baru tahu kalau ada goa dekat sini", tanyanya dengan logat kasar.
"Tertutup salju dan sekarang sudah runtuh", "Langsung ke intinya! Berapa harganya?"
"Kamu bisa ambil delapan baju", "Terima saja, aku jarang memberi hati kepada pendatang baru".
"Baiklah kalau begitu".
Aku agak sebal karena hanya di beri delapan baju, tapi boleh saja lagipula ini lebih dari cukup. Aku segera mengambil beberapa pakaian dan cabut dari situ.
__ADS_1
Setelah kembali aku memberikan pakaian itu kepada Shina dan Ramko. Lalu kami bertigapun memasuki kota bersama.