The Last Era

The Last Era
Act 22 [Masa Lalu]


__ADS_3

Walaupun sudah larut tapi kota ini tak kunjung sepi. Kota ini lebih mirip game dunia pararel, namun dengan kendaraan yang lebih modern walaupun beberapa masih menggunakan roda.


"Don, apa ada penginapan?"


"Harusnya ada", "Aku juga belum masuk sedalam ini sih".


"Coba di sana", tunjuk Ramko kearah bangunan bertingkat yang terlihat seperti penginapan.


Tanpa pikir panjang kami langsung menuju tempat itu. Sebab, udara diluar sangat dingin dan juga kami sangat letih. Ketika memasuki toko itu kami langsung bertemu dengan pelayan robot yang menunggu dibelakang meja pemesanan.


Ruang tamu toko itu sangat kecil dan sempit. Belum lagi minim cahaya dan tak ada pemanas ruangan yang membuat kami ragu terhadap toko ini. Ramko kemudian mencoba bertanya kepada robot itu.


"Permisi, apa ini penginapan?", tanya Ramko.


"Tentu, kalian orang baru ya?", "Kalau begitu selamat datang di Kota Lubina", balasnya dengan ramah


"Terima kasih, ngomong-ngomong berapa harga semalam disini?"


"Tidak mahal kok, hanya lima belas koin nikel untuk kamar biasa permalamnya", balas pelayan itu.


"Gimana, Don? Shin?"


"Deal", balas kami berbisik.


"Kami deal".


Ramko lalu mengeluarkan koin logam dan memberikannya kepada pelayan itu.


"Kamar nomor lima lantai dua", balasnya sambil memberikan kunci kamar kami.


"Ok terima kasih", balas Ramko.


Sesampainya di kamar yang diminta. Kami semua sangat kecewa karena di kamar ini tidak ada kasur dan hanya ada empat buah kantung tidur.


"Pantes murah, ternyata gini to", gumam Ramko.


"Terima sajalah", balas Shina.


"Ngomong-ngomong dari mana kamu dapat koin koin itu?"


"Robot-robot itulah, apalagi?", balas Shina.


"Apa mereka baik-baik saja ya?", gunam Ramko.


"Aman, mereka semua itu kuat, jangan khawatir", hiburku.


"Ayo langsung tidur, ini sudah larut!", perintah Shina yang sudah memakai kantung tidurnya.


"Baik boss", jawab kami berdua.


......*......


Besoknya aku pergi membeli tas punggung untuk kami bertiga dan langsung pergi ke tempat Ramko.


Saat itu Ramko kembali ke mobil untuk mengumpulkan barang-barang yang tersisa dan membawanya kembali ke penginapan.


Shina mencoba melacak sinyal mereka lagi. Namun, sinyal mereka sudah hilang begitu saja. Dia putus asa dan membanting gelang teleponnya ke lantai.


"Shin, kami balik", "Kenapa teleponnya?", tanya Ramko


"Hilang, hilang begitu saja, sinyalnya hilang", "Percuma relakanlah mereka".


"Pasti ada caranya", "Memang, ketidakpastian terkadang lebih sakit dibanding penipuan", sambungku.


"Kita perlu informasi lebih dalam, pastinya saja ada tempat lain di planet ini", aku memberi semangat.


Beberapa hari setelah kami semua mencari informasi di Kota Lubina. Aku mencoba kembali lagi ke toko baju yang pertama kali aku temui.


"Selamat datang, oh kamu orang baru yang lalu itu ya?", sapanya dengan senyum lebar.


"Apa kamu tertarik dengan syal baru ini, ini jauh lebih bagus dan bermotif dari pada punyamu itu", tawarnya.

__ADS_1


"Ah tidak perlu, saya suka yang ini".


"Harganya murah kok cuma 30 koin logam".


"Tak perlu, tak apa, saya mau melihat lihat dulu".


Setelah beberapa hari menetap disini. Kami tahu bahwa uang disini adalah koin besi, nikel, dan emas. Karena di tempat bersalju ini logam cukup sulit untuk di cari.


Kami mendapat koin-koin ini dengan mencetak besi dari mobil kami. Shina yang bisa membuat sebuah kuku panjang dan panas, dengan mudah memotong logam silinder.


"Nak, kalung apa yang kau pakai itu", "Seperti punya perempuan", tanyanya saat ia melihat kalung yang di berikan Arina.


"Kalung biasa, buatan ibu".


Aku kembali ke meja kasir dengan menenteng tiga buah penutup kepala musip dingin.


"Harganya 14 koin nikel atau 20 koin emas", katanya sambil menyodorkan tangannya yang besar dan berbulu seperti beruang.


"Ini dia", balasku sambil memberikan segenggam koin nikel kepadanya.


"Satu lagi, apakah ada kota lain selain kota Lubina ini?", tanyaku.


"Ada tiga kota lagi yang aku tahu, salah satunya tak jauh dari sini", "Tapi, kota itu sudah mati".


"Dua kota lainnya berada di tempat yang berbeda dan jauh sekali".


"Saya juga tahu hanya dari berita orang-orang", "Kota pertama bernama Kota Inaba", "Kota ini merupakan kota untuk ras seperti setengah manusia".


"Mungkin kamu bertanya mengapa ras kita cukup terbelakang", "Sebelumnya ras kita memiliki pendahulu yaitu hasil persilangan dari ras Manusia dan Yahna", jelasnya.


"Ras Yahna?", tanyaku.


"Ya, ras yahna adalah ras asli planet ini",


"Mereka tinggal di empat kota tadi dan mereka sangat membenci manusia apa lagi setengah manusia seperti kita",


"Ada apa dengan manusia?".


"Ibumu belum menceritakan ya", "Baiklah biar aku ceritakan".


"Semua berjalan normal hingga seorang penduduk Lubina tak sengaja menemukan sesosok mahkluk aneh yang mereka sebut diri mereka adalah manusia".


"Mahkluk itu sepertinya mengalami kerusakan pada alat penerbangannya".


"Pendahulu kita tak mengerti bahasanya", "Jadi pendahulu hanya membaca dari gerakan tangannya".


"Sepertinya ia meminta kami untuk mengantarnya pulang", sambungku.


"Benar, jadi para pendahulu kita mengantarnya pulang mengikuti arah mana yang dia arahkan".


"Ketika sampai di sana, pendahulu kita tercengang dengan adanya planet lain", "Tapi planet mereka tertutupi benda putih yang membuat suhu planet itu dinginnya bukan main", "Planet itu juga cuma mempunyai satu negara besar".


"Setelah beberapa tahun mereka saling tukar bahasa sampai akhirnya terciptalah bahasa universal yang kita pakai sekarang ini",


"Ras yahna dengan ras manusia memiliki beberapa kesamaan, dan untuk mempererat persaudaraan", "Ras yahna dan manusia kemudian disilangkan dan lahirlah ras kita, yadewa ",


"Tapi, manusia itu tamak".


"Kenapa?", tanyaku.


"Setelah beberapa puluh tahun, beberapa dari mereka mulai tidak mau bekerja sama dengan kami dan memilih berpindah ke planet lain",


"Mengapa?"


"Mereka masih menganggap ras kita dan yahna adalah sebutan hewan", balasnya.


"Disitulah awal perpecahan mulai terjadi".


"Kayaknya itu bukan tamak".


"Bukan yang itu, dengarkan dulu",

__ADS_1


"Manusia bumi sedikit demi sedikit muali mengambil sumber daya kami secara illegal".


"Ras yahna bahkan ras yadewa memberikan teguran keras berulang kali kepada manusia asli",


"Bukanlah permohonan maaf yang kita dapat, melainkan usiran termasuk ras yadewa sendiri".


"Kejam sekali mereka", jawabku sambil menggebrak meja kasir.


"Ya, sebab kekasaran mereka itu, kami terpaksa menyerang dan mencuri delapan manusia berkekuatan sihir yang masih setengah jadi".


"Mereka kalah telak dengan kami, karena kami diam-diam juga menciptakan beberapa senjata rahasia yang jauh lebih kuat".


"Planet mereka luluh lantak dan bumi menjadi planet mati",


"Tapi belum lama ini kami dapat kabar kalau manusia-manusia bersihir itu sudah hilang dari gudang kami".


Jantungku berdebar kuat karena yang dia maksud adalah kami. Aku takut kalau sampai ketahuan identitasnya.


"Padahal kami bisa menggunakan ke tujuh dari mereka sebagai alat pertahanan baru", lanjutnya dengan nada menggertak.


Badanku mulai gemetaran mendengar nada bicara itu. Aku pasti terbunuh kalau sampai ketahuan.


"Kamu kenapa membungkuk gitu?"


"Bukan apa-apa, saya cuma berfikir dimana yang satu lagi".


"Yang satu lagi tidak diketahui elemennya, jadi kami berniat membuangnya".


Mendengar itu, aku yang sebelumnya takut. Seketika berubah menjadi marah.


"Oooh, begitu, oke oke oke", jawabku sambil menahan emosi karena aku dianggap sebagai sampah.


"Bisa aku lanjutkan?"


"Silahkan pak".


"Beberapa ras asli manusia yang tinggal di kota Inaba saat itu juga diusir dan harus pindah ke kota Lubina",


"Saat ras yadewa sampai ke planet ini, mereka hanya di terima orang orang Lubina",


"Orang orang lubina ras yahma asli, tidak terima dan membuat kota lain bernama Rowl",


"Mereka membuat kota baru karena tidak diterima di kota Inaba".


"Ngomong ngomong dimana kota kota itu?", aku bertanya langsung ke intinya.


Pemilik toko itu kemudian pergi mencari barang di belakang rumah. Ia kembali dan memberikanku sebuah peta hologram dan menunjukkan empat buah kota yang telah bernama.


"Terima kasih".


"Tak apa, sebagai gantinya",


"Mungkin kamu bisa ke kota maqili kalau kamu mau", "Aku bersedia memberikanmu banyak uang jika berhasil membawakanku beberapa barang-barang mahal di sana", tawarnya sambil menunjuk kota mati bertulisan Maqili.


"Aku lupa menjelaskanmu, kalau kota itu dulunya kota manusia asli yang di binasakan oleh kami belum lama ini",


"Kenapa? Saat itu kami marah karena manusia merusak cabang pangkalan militer kami",


"Kejadiannya belum lama ini sih".


"Apa yang terjadi disana?".


"Orang-orang disana memberikan kabar kalau ada empat manusia bersihir dan mereka berhasil membunuh salah satunya".


"Kalau begitu boleh saya ambil benda ini?", aku ingin segera pulang.


"Silahkan bawa saja! Aku punya banyak dibelakang", "Datang lagi ya, nak".


Aku keluar dari toko itu dengan perasaan kacau. Aku tak tahu mana yang benar mana yang salah. Manusia? Ras Yahma?


.

__ADS_1


.


Entahlah


__ADS_2