The Last Era

The Last Era
Act 35 [Insiden Sebelum Perang]


__ADS_3

"Ken, kemarilah", pinta Erkan.


"Kenapa?", jawabku sambil berjalan kearahnya.


"Berikan kedua tentara ini senjata dan zirah terbaik yang kamu punya!"


Kedua tentara itu kemudian kupasangkan zirah robot dan kuberikan senjata legendarisku.


"Mau dikemanakan mereka?"


"Aquopora", jawabnya santai sambil mengambil sepucuk surah dari dalam jasnya.


"Jangan bilang kamu-"


"Jangan berfikir negatif", sambung Jendral Frank.


"Mereka akan dikirim ke Aquopora untuk memberikan surat permohonan maaf dan penghentian perang", "Padahal kita masih tidak tahu jelas, apa penyebab mereka memaksa perang".


"Kalian berdua siap?!", tanya Erkan tegas.


"Siap jendral!"


"Bagus! Ini suratnya", "Pastikan berikan kepada presiden disana".


"Siap Jendral!"


"Jangan gunakan elemen kalian sampai mendapat perintah dari kami", "Kami akan mengamati kalian dari sini", jelas Erkan sambil berjalan meninggalkan kami.


Ketika mendengar perkataan elemen. Aku merasakan perasaan yang tidak nyaman, dengan cepat kurobek syalku lalu kuselipkan ke salah satu sendi zirah tentara itu.


"Kalian adalah harapan kami untuk mencegah bencana ini",


"Sekarang, segera menuju ke pesawat!", bentak Frank dengan tegas.


"Siap Jendral".


Kedua tentara itu bergegas naik ke pesawat sambil diarahkan oleh petugas yang lainnya. Pesawat mereka kemudian di lontarkan keluar angkasa dengan diiringi hormat dan nyanyian kebangsaan dari seluruh penduduk kota Rowl.


......\=......


Di tengah-tengah Kota Rowl dan Inaba muncul sebuah hologram besar seperti layar. Semua orang diwajibkan berhenti bekerja kecuali tenaga kesehatan untuk menonton berita langsung di layar itu.


Layar hologram itu terbagi dua, dengan masing-masing layarnya menayangkan video langsung yang tertempel di helm zirah T1 dan T2. Erkan dan Frank menonton didalam markas sambil memberi arahan kepada mereka dibantu oleh jendral-jendral lainnya.


Berbeda denganku dan para pegawai pabrik lainnya yang menonton didalam pabrik dengan layar monitor yang berbeda.


Setelah cukup lama mengudara di angkasa. Kedua pesawat tentara itu akhirnya berhasil menembus atmosfer Aquopora.


"Lapor, T1 dan T2 sudah berhasil memasuki Orbit".


"Laporan diterima, jangan serang siapapun sampai menunggu perintah kami", balas Frank lewat sambungan telepon di zirah mereka.


"Arahan diterima".


Saat mereka sudah mampu melihat daratan, pesawat mereka justru mendapat kejutan tak terduga. Ribuan peluru logam dan plasma termasuk rudal anti pesawat ditembakkan kearah mereka.


"Sial, T2 BERMANUVER SEKARANG!!", teriak T1 lewat telepon zirah.


"Mereka terlalu banyak", "T1, T2, KELUAR DARI SANA SEKARANG!!"


Tanpa pikir panjang, T1 dan T2 melompat keluar dari pesawat tepat sebelum pesawat mereka meledak. Mereka berdua kemudian membentangkan sayap kayu dan melayang menuju kota.


"Kami berdua aman".


"Bagus, gunakan perisai kristal untuk menangkis peluru dan rudal yang datang".


"Baik".


"T1, T2, berhati-hati dengan gedung pencakar langit".


"Diterima".


Orang-orang di kota seketika panik melihat mereka berdua yang melayang-layang diantara gedung-gedung. Mereka semua langsung berhamburan menuju tempat mengungsi, beberapa dari mereka segera memanggil polisi dan badan pertahanan negara.


"T2, apa kita ini menakutkan?", guyon T1.


"T1 tetaplah fokus menuju markas pertahanan mereka!", "Ini bukan waktunya untuk bercanda".


"Maaf jendral".


Tiba-tiba dari arah bawah, meluncur sebuah tali air yang menjerat kaki T1. T1 kemudian ditarik kebawah dibantu dengan tekanan angin kebawah.


"T1 jatuh! Ulangi T1 jatuh!"


"T2, tinggalkan aku!", "Fokuslah pada surat itu!"


"Tap-"


T2 juga ditarik dan di banting kebawah dengan keras. Semua orang di Rowl dan Inaba takut sekaligus cemas dengan keadaan mereka berdua.


"Shina ada dua robot asing disini", "Cepatlah kemari!"


Suara itu, aku sudah hafal, jelas sekali itu adalah Mabel. Sepertinya dia ingin memanggil bala bantuan yang lainnya.


"T1, T2 kalian aman?", tanya Frank.


"Kami baik-baik saja", jawab T1.


"Ada dua orang mutan disini, bisa dilihat pada layar".


"Mutan angin dan air", "Ajak mereka bicara dan jangan serang mereka", balas Erkan.


"Diterima".


"Apa maumu kemari?!", tanya Linda.


"Kami hanya ingin mengirimkan surat ini kepada pemimpin kalian", jawab T2.


"Baiklah, ikuti kami", balas Linda.


Kedua tentara itu berjalan mengikuti Linda dan Mabel dengan kaki yang masih terikat oleh tali air milik Mabel. Tiba-tiba Mabel mendapat panggilan lewat telepon jamnya dari Shina.


"Berhenti sebentar", perintah Mabel ketus.


"T2, teknologi mereka, bukannya itu jauh lebih tinggi dari kita?"


"E..entahlah".


"Bicara apa kalian?!", "Fokuslah pada surat itu!", bentak Frank.


Mabel kemudian menutup teleponnya dan menambah ikatan tali airnya pada seluruh tubuh para prajurit itu. Ia langsung berlari dan membisikkan sesuatu ke telinga Linda.


"Jendral, perlukah aku menyerang mereka?"


"Tidak, bersiap sajalah menahan serangan mereka".


"Diterima jendral.


Linda dan Mabel kemudian menoleh kearah mereka. Mabel langsung mengeluarkan pedang airnya, sementara Linda memberi tekanan udara kebawah untuk menjatuhkan T1 dan T2.


"Ke-napa kalian menye-rang kami?"


"Maaf, tapi ini perintah", jawab Linda dengan kecewa.


"Gawat, T1, T2, segera pakai elemen kalian!"


Tekanan angin dimatikan, Mabel langsung berlari dan menebas T2 pedangnya. T2 langsung menangkis serangan itu dengan kayu keras yang tumbuh di lengannya.


Ia kemudian mengikat Mabel dengan akar tumbuhan dan melemparkannya. Linda tak mau tinggal diam, ia mengambil pistol dan menembakkan peluru angin kearah T1.


T1 menaikkan tangannya dan memunculkan dinding kristal hijau dari tanah untuk menahan peluru itu. T1 mengikat T2 dengan akar tumbuhan, dan menariknya ke arahnya.


Mabel meredam benturannya ke dinding gedung dengan gelembung air besar. Saat ia mendarat gelembung itu pecah dan membentuk gurita raksasa. Linda langsung melompat kearah Mabel lalu mengeluarkan angin topan yang mendorong T1 dan *2.


"*1, *2, ikat diri kalian ketanah dengan akar dan kristal!"


"Apakah kita boleh menyerangnya sekarang?", "Kita mulai terpojok", tanya T1


"Belum, bertahanlah sedikit lagi".


Angin topan menghilang seketika, gurita raksasa itu langsung menghantamkan tentakel-tentakelnya secara membabi buta kearah mereka. T1 dan T2 menahannya dengan pelindung kristal hijau.


Gurita itu mencengkram T1 dan T2, lalu mengangkat mereka keatas.


"T1 dan T2, keluarkan prajurit giga"


"Baiklah, prajurit giga dikeluarkan!"


Dari tanah muncul sebuah tangan monster berwarna hijau sedikit transparan. T1 dan T2 terlepas dari cengkraman gurita itu dan memasuki tubuh sebuah monster kristal. Monster itu sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti prajurit samurai sambil memegang kapak kayu raksasa.


"Itu terlalu besar", kata Linda.


"Shina cepatlah kemari, ada raksasa kristal, dan tenagaku tidak sampai untuk membentuk yang sebesar ini!", "50 meter, tidak 80 meter", ucap Mabel panik.


"Tenanglah, robot besar mega Aquopora sedang datang kearahmu",


"Mereka akan bertarung, menjauhlah dari sana!"


"Baiklah".

__ADS_1


Raksasa kristal itu perlahan melangkah menuju kepusat militer. Tiba-tiba tanah berguncang dan dari arah depan datang rudal-rudal besar yang menghantam tubuh raksasa itu. T1 dan T2 berjuang sekuat tenaga supaya raksasa itu tidak terjatuh dan terus berjalan.


"PERISAI KRISTAL!", teriak T1.


"Teruslah bergerak maju kedepan", "Perkuat lengan kiri yang memegang perisai!", jelas Frank.


Rudal seketika berhenti tertembak, sebagai gantinya dari tanah muncul sebuah tangan robot yang memegang kaki raksasa kristal. Ia menggunakan kaki itu sebagai alat bantu menarik tubuhnya keatas. Perlahan-lahan muncul sebuah muncul robot putih berukuran sama.


Tangan kiri robot itu berubah bentuk menjadi gergaji mesin, lalu menghujamkannya ke kepala raksasa kristal. Dengan cepat, raksasa kristal mengangkat perisai untuk melindungi kepalanya.


Syukurlah logam baja itu lebih lunak dari pada kristal, sehingga gergaji mesin itu tidak mampu membelah perisainya. Raksasa kristal mengelak dan menjatuhkan kapaknya.


Ia memegang lengan hasta robot dengan tangan kanannya lalu mencengkram lengan bagian hasta robot itu hingga terputus. Raksasa kristal mengambil lagi kapak kayunya. Kapak itu ia tebaskan ke arah kaki kanan robot itu hingga putus dan jatuh berlutut.


"Bagus, sepertinya dia sudah tidak mampu bergerak", ucap T1.


"T2 DIBELAKANG!!"


Dari arah belakang muncul sebuah robot besar berukuran sama yang berlari kearahnya. Robot itu mencengkram leher raksasa kristal dan menjejelkannya ketanah sambil berlari menuju hutan.


"Cepat!", gumam *1.


"*1, *2, tendang robot itu sebelum kalian menyentuh lautan!", perintah jendral lainnya.


Raksasa itu menendang robot itu, sehingga ia terpental cukup jauh. Untunglah mereka masih bisa masuh bisa berhenti datas pasir pantai. Raksasa itu kembali berdiri dan meregenerasi diri.


"T1, T2, kalian selamat", tanya Frank.


"Ya, tapi aku mulai kehabisan tenaga", jawab T1.


"Frank, lihat itu!", kata jendral yang lainnya.


"Gawat!",


"T1, T2, MENJAUH DARI LAUTAN!!", bentak Frank.


Dari bawah laut, melompat sebuah robot berukuran sama dengan mata yang kuning menyala dan mulut buaya. Robot itu memegang kedua tangan raksasa kristal, lalu menggigit tangan kiri raksasa kristal hingga hancur.


"Tidak mungkin", gumamku.


"Kristal itu jauh lebih kuat dibandingkan logam", ucap Erkan.


"T1, T2, LIHAT KEDEPAN!!"


Robot yang ditendang tadi berlari dengan bentuk fisik yang sudah berubah. Matanya berapi biru menyala dan memunculkan gergaji mesin yang terbakar. Raksasa kristal meninju robot manusia setengah buaya yang ada di belakangnya dan membentuk perisai baru.


"Shina", gumamku lagi.


Perisai kristal itu berlapis-lapis dan sangat tebal. Tiba-tiba dari langit muncul petir ungu besar yang menyambar tepat didepan T1 dan T2. Pandangan mereka berdua menghilang untuk beberapa saat. Layar hologram hanya menampilkan layar putih dan suara dengingan.


Robot itu menebaskan gergajinya dari pundak kanan raksasa kristal menuju pinggang kirinya. T2 kembali duluan pengelihatannya, ia dengan sigap melihat ke atas sambil menggerakkan perisai itu kearah sana.


Perisai itu sedikit demi sedikit hancur hingga akhirnya pecah berkeping-keping. Namun, tubuh raksasa itu ternyata lebih keras dari pada sebelumnya.


"Bagaimana bisa perisai sekeras itu hancur sementara tubuhnya tidak?"


"Tak perlu heran T2, aku menahan partikel kristal itu supaya tidak terpisah", jawab Erkan


"Jangan arahkan pandanganmu dari situ!", "Aku masih bisa menggunakan telekinesis selagi masih bisa melihat!", sambung Erkan.


"Dimengerti".


Robot itu menarik kembali gergaji mesinnya. Selantunya ia menebas tubuh raksasa kristal secara horizontal. Raksasa kristal menahan gergaji itu dengan tangannya sambil terus diregenerasi oleh T1.


"Aku tidak bisa menggunakan telekinesis kepada benda ganda", kata Erkan kelelahan.


"T1, T2, DIBELAKANG KALIAN!!", teriak Frank.


Robot buaya itu memunculkan plasma besarnya dan menembakkannya langsung kearah T1 dan T2 yang ada di dada raksasa kristal.


Erkan melihat sebuah tempat kosong di kamera T2. Ia langsung menggunakan teleportasinya dan memindahkan raksasa kristal itu kelahan kosong itu tepat sebelum tubuh raksasa itu hancur.


"Tenagaku sudah habis karena mengirimkan teleportasi keorang lain",


"T1, T2, berlarilah menuju markas mereka sekarang!!", perintah Erkan.


"Terima kasih master", ucap T1 dan T2.


Raksasa kristal langsung berlari kembali menuju kota. Namun naas, robot raksasa lain memegang kakinya dari bawah tanah dan membuatnya terjatuh. Robot raksasa yang lain melompat kepunggungnya dan membaut raksasa kristal itu hancur berkeping-keping.


Kamera T1 dan T2 berubah menjadi hitam, membuat semua penduduk kota cemas.


"T1! T2! Jawab!", bentak Frank.


"Disini T2, aku selamat karena terpental oleh benturan itu".


"Bagus, bagaimana dengan T1?"


"T1... dia... tidak selamat", jawab T2 pelan.


"Aku mengerti, kau wajib menyerang sekarang T2", "Apa kamu masih membawa suratnya?", tanya Erkan kembali.


"Masih".


Dari belakang muncul sebuah robot berukuran manusia yang melompat dan menghantam wajah T2. Tangan kanan muncul sebilah pedang merah sementara tangan kirinya memegang rantai api. Untunglah T2 cepat bertindak dengan cepat membentuk pedang dan perisai kristal.


Mereka bertarung dengan gerakan yang sangat cepat dan lincah. Aku bahkan tidak mampu melihat apa yang terjadi disana.


Robot itu melempar rantainya ke T2, membuatnya terikat dengan rantai panas itu. Robot itu menaikkan suhu rantainya hingga berwarna putih terang. T2 mengambil senjatanya dengan bantuan tali tanaman, lalu menembakkannya ke arah robot itu.


Plasma panas itu mengenai bagian pinggir kepala robot. Kepalanya pecah dan menampakkan wajah yang kukenal, Shina. Ia semakin marah dan menusukkan pedangnya ke dada T2. Untunglah armor yang keras membuat pedang itu patah.


Tiba-tiba robot lain memegang tangan T2 dan mengambil senjatanya. Ia langsung membuangnya lalu menyengat T2 dengan listrik tegangan tinggi. Zirah itu overvoltage dan melemparkan T2 keluar dari zirahnya. T2 tersungkur ke tanah, kedua tangannya di ikat ke tanah dengan tali air yang dibekukan.


"Apa maumu kemari?", tanya Shina.


"Aku datang hanya untuk memberikan surat kepada pemimpinmu", jawab T2 kelelahan.


"Maaf, tapi kami diperintahkan untuk menghancurkan semua benda, baik hidup maupun tak hidup yang datang ke Aqopora", jawab Ramko sambil membuka helm mekaniknya.


"Suratnya ada di dalam zirahku",


"Kalian boleh membunuhku, tapi berikan surat ini kepada pemimpin kalian", balas T2 sambil memberikan sepucuk surat kepada Shina.


"Aku mengerti", Shina memunculkan pedang apinya.


"Maafkan aku".


"T2! T2! Jawab! Jawab!", panggil Erkan.


T2 tidak menjawab lagi. Seluruh penduduk Inaba dan Rowl berduka sekaligus resah. Tak lama kemudian, ambulan dan para polisi datang. Mereka membawa jasad T2 dan zirahnya.


Shina dan Ramko melapor kepada kaptennya lewat telepon di helm zirah mereka. Mereka merasa gusar setelah menghabisi musuh yang memiliki tekad dan patriotisme yang tinggi.


"Kapten kami akan kembali", "Ini hanya kesalahpaham-"


"Tidak ada yang salah paham, Shina"


"Dia membawa sebuah surat untuk anda, dia juga tidak menyerang".


"Apapun itu, kita harus mengantisipasi ancaman yang datang dari luar", "Lenyapkan benda asing apapun itu meski hanya selembar kertas".


"Kapten, anda sudah diluar kontrol", "Anda kira membunuhnya akan menyelesaikan masalah yang datang di masa depan?", Ramko mulai marah-marah.


"Dengar sini, kamu adalah kreasi kami", "Jadi kamu harus pada kami atau.. teman-temanmu yang menjadi taruhannya".


"KAP-"


Shina memegang pundak Ramko sambil menggelengkan kepalanya. Dalam telepon itu hanya Shina dan Ramko yang tersambung sehingga yang lainnya hanya bisa melihat dari jauh.


Aku baru ingat, aku sempat menyelipkan robekan syalku ke T2 itu. Aku memperlebarnya dan membentuk seperti tubuh manusia yang memenuhi seluruh zirah.


Zirah itu aktif kembali dan memberikan harapan baru kepada penduduk C40Res. Mereka bertanya-tanya, bagiamana zirah itu bisa aktif kembali setelah konslet terkena tegangan tinggi.


'Selagi aku masih bisa melihatnya, maka aku masih bisa menggunakannya. Tenagaku juga banyak terkuras, hingga kornea mataku mengeluarkan cahaya merah', gumamku dalam hati.


Zirah itu menyerang semua orang didalam mobil ambulan dan melompat menembus atap. Para polisi menembakinya, namun tak ada satupun plasma yang berhasil menembusnya.


Dari punggung zirah itu keluar kain-kain syal berwarna merah tua. Syal itu menusuk semua orang dan robot disana. Arina meloncat, lalu menebas bagian leher zirah itu dengan pedangnya.


Zirah itu terpecah menjadi bagian-bagian tertentu. Setelah terpecah, setiap bagiannya dihubungkan kembali oleh kain-kain ketika mendarat ke tanah.


"Dia.. Beregenerasi?"


"Kain-kain merah panjang berbentuk tentakel itu", "Jangan bilang.."


"Donny!!", jawab Arina.


'Syalku, ambil surat yang dipegang Ramko, berikan kepadaku', kataku dalam hati.


Zirah itu langsung berlari dan mencengkram tubuh Ramko dengan syalnya. Ramko diangkat dan dibanting ke tanah berulang kali. Surat yang dipegang Ramko akhirnya terjatuh dan ditangkap oleh zirah itu.


Setelah mendapatkannya, zirah itu berjalan dengan sikap kosong menuju kota. Ia bahkan tak mempedulikan hujan peluru yang menghantam tubuhnya.


"Er, apakah zirah memang dipasangkan kecerdasan robot?", tanya jendral lain.


"Entahlah, tapi yang jelas ia mempunyai tekad yang kuat", jawabnya tanpa melihat lawan bicara.


"Ramko, kamu tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Aku oke, zirah ini sangat kokoh",


"Shina, Arina, dia mengambil suratnya".


"Mungkin dia ingin memberikan surat itu kepada kapten".


Tiba-tiba mereka bertiga mendapat panggilan dari kapten.


"Apa yang kalian lakukan?!"


"Dia hanya ingin memberikan surat itu", jawab Ramko.


"Kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya disana", "Warga sipil bisa dalam bahaya!"


"Baik kapten".


"Kita memang harus menghancurkannya", ucap Shina.


"Kalau makan petir dahsyat ini", Ramko menyambarkan petir kepada zirah itu.


Petir itu membuat langit menjadi terang, tetapi kedahsyatannya tidak berpengaruh terhadap zirah itu lagi. Benda itu masih terus berjalan kearah kota seolah tak terjadi apapun.


Zirah itu menebaskan tangannya kebelakang. Dari tangannya keluar listrik merah yang menyambar Ramko.


"RAMKO!!", pekik Shina dan Arina.


"Dia memantulkan petir itu?", gumam Arina.


"Arina lindungi Ramko", "Biar aku yang mengurusnya".


Arina langsung pergi kearah Ramko sambil memunculkan tembok es dsri tanah. Setelah melihat situasi aman, Shina menumbuhkan cakar apinya dan langsung meloncat mencakar punggung zirah itu.


Dari sela-sela zirah itu, tiba-tiba keluar empat tentakel syal merah. Ujung tentakel syal itu meruncing dan bergerak menusuk Shina. Shina tak bisa berbuat apa-apa karena reaksinya yang terlambat.


Di hadapan Shina muncul seorang gadis dengan tangan kanan memegang angin puyuh kecil. Gadis itu menamparkan tangannya ke wajah Shina untuk membuatnya terlempar jauh.


SCRATCH!!


"Li.. LINDA!!"


Syal merah itu menembus perut Linda. Zirah itu melihat kebelakang dan melemparkan Linda yang sekarat. Shina langsung berubah menjadi iblis cakar merah dengan topeng iblis yang terbakar. Ia meloncat dengan kecepatan tinggi untuk menangkapnya.


Mabel yang menyaksikan itu, kehilangan kontrol diri. Ia memunculkan hujan dan berpindah tepat di bekalang zirah itu. Lengan bagian bawahnya berubah menjadi air biru berbentuk tangan.


Ia mengepalkan tangannya, lalu menghantamkannya ke zirah itu. Zirah itu terbang sangat cepat sampai membentur gedung-gedung. Zirah itu akhirnya terlepas satu-persatu, menunjukkan syal merah yang membentuk mumi dengan mata merah menyala.


Tanpa belas kasihan, Mabel muncul melalui rintikkan air hujan yang membentuk tubuhnya lalu memegang tangannya. Mabel membanting-bantingnya ketanah hingga semua bagian zirah itu berceceran di tanah.


Zirah itu terus melawan dengan menusuk-nusuk Mabel. Akan tetapi, syal itu menembusnya tanpa memberikan efek apapun selayaknya sebuah air.


Mabel menjatuhkan zirah itu ke tanah. Matanya berubah menjadi biru tua dengan sorotan mata tajam. Tangannya berubah menjadi pedang tajam, lalu ia tebas syal itu hingga lerpenggal kepalanya.


Sambungan video terputus, menampilkan gambar hitam dan suara yang masih terdengar jelas. Aku masih bisa mengendalikannya, meskipun aku tidak bisa melihat musuhku aku masih bisa menyerang sembarang.


Mumi syal itu berubah menjadi kain panjang. Benda itu keluar dari zirah itu dan membentuk dirinya di belakang Mabel. Mabel yang masih emosi terus menebasnya hingga matanya kehilangan cahayanya.


Tangan Mabel perlahan berubah menjadi kulit manusia normal, menandakan ia tidak lagi beruba benda cair. Mumi syal itu menusuknya, dengan cepat Mabel berguling kebelakang sehingga hanya menggores kakinya.


Saat mahkluk itu berjalan mendekati Mabel. Kakinya langsung diikat oleh rantai api yang muncul dari tanah. Rantai itu memanjang dan mengikat seluruh tubuh mumi itu. Rantai api itu juga melelehkan surat yang dibawanya.


"Mabel, menjauh dari sini!"


Shina tiba-tiba muncul di belakang mumi. Tangan kanannya terbakar api berwarna keputihan. Ia menghantamkan ke dada mumi itu. Belum sampai mengenai tubuhnya, mumi itu melebur dirinya menjadi syal merah yang menyebar lalu mengikat tangan Shina.


Syal itu perlahan melilit seluruh tubuh Shina dan mengapit lehernya sedikit demi sedikit. Shina memanaskan tubuhnya hingga berwarna putih menyilaukan. Namun, api sepanas itu tidak memberikan efek apapun terhadap kain merah itu.


Tubuhku berlahan melemah dan hampir mencapai batasnya. Tubuhku hampir saja terjatuh jika tidak di bantu teman-temanku disana.


"Kamu nggak apa apa, Ken?"


"Iya, tapi aku masih kuat untuk bergerak".


Dari mata syalku, aku merasakan berlari kearahku. Hawa hangat disuhu dingin, tidak salah lagi, Arina.


"A.. rina"


"Ja.. ngan kemari", "Kamu tid.. ak mungkin bisa me.. lawannya", perintah Shina yang mulai kesulitan bernafas.


"Be.. benda ini", "Tidak bisa dihan.. curkan"


"Mun.. mundurlah!!"


Arina tak menggubrisnya, ia justu berjalan perlahan mendekati Shina meski sudah dilarang olehnya. Saat itu juga perlahan aku merasakan kembali kenyamanan yang sudah lama kandas.


Syal itu kutatir dari tubuh Shina dan membentuk mumi lagi. Mumi itu perlahan berjalan mendekati Arina yang tampak sedikit ketakutan.


Kepalaku mulai berdenging dan tubuhku mulai merasa tidak enak. Orang-orang di pabrik panik dan segera memanggil medis.


Bersamaan dengan itu, mumi syal itu sedikit demi sedikit berubah menjadi abu. Langkah kaki Arina berhenti, ia mulai berlinang air mata. Mumi itu hendak memegang tengkuknya. Sayangnya, saat baru menyentuh rambut putihnya. Benda itu hancur menjadi butiran debu yang dibawa angin.


Arina terduduk dalam kesedihan. Ia merasakan sesuatu yang paling ia takutkan. Ia tak sanggup menahannya dan mualai meneteskan air mata.


.......


.......


.......


Suara angin?


Aku mulai mendengarnya


Mungkin ini saatnya untuk mengatakannya


Mungkin kalian tidak bisa mendengarnya


Tapi..


Teman-temanku, mungkin aku memang terlalu egois


Aku mengorbankan kalian demi nyawaku sendiri


Aku terlalu bodoh hingga membawa kalian dalam setiap pertarungan


Hingga membawa kalian dalam perang


.......


Selanjutnya...


.......


Aku ingin kalian hidup dengan tenang


.......


.............


.......


"Ah.. Oh.. Cuma mimpi"


"Rumah sakit?"


"Ken!", pekik Fin gembira.


"Apa yang terjadi?"


"Kamu terjatuh karena kelelahan", jawab Tuan Wyan.


"Untunglah aku tidak kenapa-napa, ahahaha".


"Baru bangun langsung ketawa", ejek Fin.


Sementara itu, di Aquopora


"Bagaimana keadaannya, Dok", tanya Shina ketika seorang robot dokter keluar dari ruangan.


"Dia akan pulih dalam waktu tiga minggu", jawab robot dokter yang merawat Linda.


"Syukurlah", balas Shina sambil memeluk robot itu.


"Tuan, tuan, tolong lepaskan dokter tuan", pinta robot perawat.


"Oh maaf, aku terlalu senang", jawabnya balik sambil mengusap air matanya.


"Dia perlu beristirahat sejenak, tolong jangan dibangunkan".


"Iya Dok, terima kasih banyak".


Setelah dokter dan para perawatnya menjauh. Shina mengendap-ngendap mendekati ruangan itu.


"Shina kamu mau kemana?", tanya Ramko yang tiba-tiba muncul mengejutkan Shina.


"Ah, kamu itu", "Selalu saja",


"Ngomong-ngomong bagaimana dengan dada dan perutmu?"


"Sembuh", "Cuma sedikit luka bakar", jawabnya sambil tertawa.

__ADS_1


"Jangan buka kamar itu", "Biarkan dia tidur sampai pulih seluruhnya", "Dia juga tidak boleh ikut perang", kata Ramko.


"Iya deh iya".


__ADS_2