
Apa yang mereka lihat bukanlah sebuah mimpi. Sosok yang sama telah kembali dengan aura yang berbeda.
"Aku mau kalian ikut denganku, kita bersama akan membuat dunia yang baru", "Dunia yang berisi mahkluk bersih tanpa kejahatan dimanapun", Donny menjelaskan keinginannya.
"Caramu salah Donny! Tidak seharusnya kamu meregut nyawa yang lain hanya untuk sebuah cita-cita!", tepis Mabel.
"Ramko, Arina, Mabel, apakah kalian merasa diperalat oleh pemimpin Aquopora?",
"Biar kutanya, misi yang kalian tuntaskan dibanding dengan harga nyawa teman kalian, mana yang lebih mahal?",
"Pernahkah mereka memberikan lencana khusus kepada Linda dan Erkan?" jelas Donny.
Mereka tak sanggup berkata-kata. Dalam lubuk hati, mereka membenarkan pernyataan Donny. Sekali lagi Donny mengajak mereka, ia menjulurkan tangannya untuk mengajak mereka bergabung.
Perbincangan itu terdengar langsung ke pesawat induk aquopora. Beberapa dari mereka merasa bersalah, namun beberapa lagi menyuruh Ramko dan yang lainnya untuk segera menghabisi Donny dan menuntaskan misi terakhir.
Ramko tak menghiraukannya, ia menutup telepon dizirahnya lalu berjalan mendekati Donny. Arina dan Mabel meminta Ramko untuk berhenti karena bisa jadi itu merupakan tipu muslihat.
Ramko tak menghirauka mereka, ia terus berjalan sampai akhirnya menjabat tangan Donny. Kemudian Ramko secara tiba-tiba menarik tangan Donny kearahnya lalu menusuk perut Donny dengan pedang petirnya.
Tusukan itu tidak memberi efek kepada tubuh Donny, namun reaksi listrik yang bertemu panas berlebih. Memberikan ledakan yang membuat mereka berdua terpental kearah berlawanan.
Ledakan itu juga menghancurkan sebagian tubuh Donny. Secara perlahan pecahan tubuhnya bergabung kembali dan membentuk tubuhnya yang utuh. Kemudian Donny menumbuhkan dua tangan lava dari atas lengannya, lalu melemparkannya kearah mereka. Serangan itu dilakukan berulang dan sangat cepat.
Dengan sigap Ramko terbangun dan menghindar. Sementara Arina dan Mabel membentuk dinding es dan air. Panasnya lava tidak dapat ditanggung oleh dinding es Arina. Ketika Mabel menyadari milih Arina mulai meleleh ia langung menarik Arina kebelakang dinding air miliknya dengan tali air.
Ketika serangannya terhenti Donny menghilang kemudian muncul dicelakang Mabel untuk menebasnya dengan pedang lava. Untunglah serangan itu ditanglis oleh Ramko yang siap dengan pedangnya.
Ramko membuang serangan Donny dan menendang Donny menjauh dari Arina dan Mabel. Dari belakang Donny muncul monster es yang memeluknya. Monster itu kemudian mengeras dan mengurung Donny didalam es padat.
"Terima ini!", Ramko menyambarkan petir raksasa dari langit.
Sambaran yang maha dahsyat itu menghancurkan bongkahan es besar itu sampai menjadi kepingan seperti kaca.
__ADS_1
"Apa ini berakhir?", tanya Arina.
"Belum", jawab Mabel.
Benar saja, tiba-tiba Donny melompat menerjang Arina dengan tangan kanan lavanya. Tangan itu langsung ditangkis dengan pedang milik Ramko. Ramko mengangkat kembali kakinya, namun Donny mengingat kejadian itu.
Dengan mudah ia menahan kaki Ramko dengan tangan kirinya. Selanjutnya Donny meremas pedang milik Ramko hingga hancur seperti kaca dan mencakar wajah Ramko dengan tangannya itu.
Ramko sontak mengangktifkan helm zirahnya lalu melompat menjauh sambil menarik tangan Arina dan Mabel. Cakaran panas itu hanya mengenai begian wajah helm milik Ramko. Ia merasa merasa kepanasan hingga langsung saja mencabut helm itu dari wajahnya.
"Ramko, kamu baik baik saja?", tanya Mabel.
"Aku oke, aku oke", jawabnya sambil menerpa wajahnya.
Tak terima Ramko disakiti, Mabel membalas seranganya dengan menyemburkan air dari telapak tangannya. Semburan itu dibalas oleh Donny dengan cara yang sama. Mereka berdua tampak tak ingin mengalah dan terus menerus memperkuat semburan mereka.
Tak lama kemudian Arina dan Ramko merasakan adanya hujan kerikil kecil dari aduan dua kekuatan itu. Arina langsung menyadari sesuatu,
"Mabel! Kelemahan Donny adalah air!!", "Kamulah satu satunya yang bisa mengalahkannya!", ucap Arina.
Penjelasan Arina itu membuat Mabel terpikirkan suatu ide. Ia menggunakan tangan yang satunya untuk melemparkan sebuah bola air kelangit. Tak lama kemudian awan mendung muncul dan menghasilkan hujan ditengah-tengah gurun.
Tetesan hujan itu membuat Donny terpaksa mengurangi penggunaan kekuatan lava tubuhnya. Jika tidak dia akan berubah menjadi batu. Disaat Donny melemah, Mabel mengurangi semburan airnya. Dilanjutkan oleh Ramko yang menendangnya jauh hingga membentur dinding markas.
Bala bantuan datang dari belakang mereka yang bersamaan dengan monster dan tentara milik musuh. Peperangan pun tak tergindarkan lagi. Tampak dari segi jumlah pasukan musuh jauh lebih kuat, semenatara dari segi kekauatn pasukan Aquopora lebih kuat. Sebab dibantu oleh tentara elemen dan manusia elemen inti.
Melihat jumlah tentara musuh yang kian bertambah. Mabel mengarahkan hujannya kearah bala bantuan musuh yang sedang dalam perjalanan menuju medan pertempuran.
"Arina, ubah rintik hujan itu menjadi es tajam!"
"Baiklah!"
Arina membuat panah es, kemudian menembakkannya kelangit berhujan. Sesaat kemudian hujan itu berubah menjadi es-es runcing yang menusuk musuh satu persatu.
__ADS_1
Beberapa pasukan mengarahkan zirah energi mereka kelangit untuk memayungi mereka. Disaat mereka terfokus kelangit Ramko meloncat dan menebas mereka yabg tersisa dengan trisula petirnya. Tusukan es-es itu tidak mampu mengenai Ramko karena insting dan tubuhnya bergerak secepat kilat.
Dari kejauhan tampang robot raksasa musuh mulai terbang maju untuk ikut bertarung. Mereka juga meluncurkan rudal-rudal besar yang mengarah ke pusat peperangan. Tiba-tiba robot-robot raksasa Aquopora mendarat dan menghadang rudal itu dengan tameng energi mereka.
Ketika jarak robot-robot milik musuh dan Aquopora sudah berdekatan. Para raksasa logam itu ikut beradu tinju satu sama lain bak perang biasanya. Pesawat tempur juga tak luput menyerang satu sama lain, ikut menghiasi langit yang mendung pertempuran.
Pertempuran mulai menunjukkan hasil, pasukan Aquopora berhasil memukul mundur pasukan musuh dengan mudah. Ketika harapan mulai muncul, tiba-tiba tanah yang dipijak Mabel meleleh. Lelehan itu membentuk sebuah rantai yang mengikat kaki Mabel.
Tiba-tiba ia tertarik ke bawah tanah melalui lubang lelehan tanah itu. Ramko yang melihat kejadian itu menarik tangan Mabel, namun ia juga ikut terhisap kedalam tanah. Hal itu membuat hujan terhenti dan memaksa Arina membangunkan lagi monster esnya untuk memporak-porandakan pasukan musuh.
Sambil mengontrol monster itu, ia terus berteriak memanggil Mabel dan Ramko. Tiba-tiba ia merasakan kedatangan sosok baru yang memiliki kekuatan sangat besar. Tak lama kemudian Arina menyadari pasir bergerak membentuk sesuatu.
Pasir itu bergerak semakin cepat dan mengumpul di suatu tempat. Selanjutnya pasir itu bergerak dan menerjang seperti ombak, menggulung tentara Aquopora didalamnya seperti air laut. Arina menaiki monsternya dan melompat keatas ombak pasir itu.
Dari atas ia melihat ombak pasir itu menggulung semua yang berada dijalurnya, tak peudli siapapun. Ketika berada dilangit keluarlah tinju raksasa yang terbuat dari kayu lunak. Tinju itu muncul dari tengah-tengah lautan pasir dan melesat cepat kearah Arina.
Arina sontak meloncat dengan bertumpu pada monsternya untuk menghindari tinju raksasa itu. Kemudian ia membentuk monster es lagi untuk menjadi penumpangnya berdiri.
Ombak pasir itu seketika berhenti, bersamaan dengan ditariknya tinju kayu itu yang kembali kedalam pasir. Selanjutnya pasir di kanan dan kiri Arina berubah bentuk menjadi telapak tangan raksasa. Telapak tangan pasir itu menghapit, lalu menjebak Arina didalamnya.
Arina membekukan tangan pasir itu lalu menghancurkannya dengan tinju miliknya. Belum sempat menarik nafas, Arina langsung diterjang angin kuat yang menciptakan badai pasir. Saat Arina tidak dapat melihat rantai pasir mengikat kaki dan tangannya sehingga ia tak dapat bergerak.
Arina yang mengetahui itu, langsung membekukan pasir itu lalu menarik seluruh tangan dan kakinya satu persatu. Tiba-tiba dari langit terdengar suara ringkikan logam yang terdengar semakin dekat. Arina langsung membentuk empat monster es sekaligus yang bersiap menangkap benda diatasnya.
Tak lama kemudian badai berhenti. Dilangit tampak puing-puing robot dan pesawat berjatuhan kearah Arina. Keempat monster golem yang sudah siap itu membantu Arina dalam menghindari puing puing yang berjatuhan itu.
Satu persatu dari mereka mati tertimpa reruntuhan. Pada akhirnya hanya menyisakan satu monster es saja. Karena hanya tertinggal satu, Arina menaiki monster itu dan bergerak menjauh.
Namun sayangnya, didepan Arina muncul robot raksasa rusak yang bergerak jatuh untuk menimpanya. Arina terpaksa berbalik arah tapi didepannya muncul robot raksasa lain yang juga jatuh menimpa Arina dari sisi yang berlawanan.
"Sial! Apa yang harus kulakukan!"
Arina melihat golem esnya dan terpikirkan sebuah ide. Ia meninju golem es itu sambil mengerahkan sebagian tenaganya kesana. Monster es itu kemudian memanjang dan berubah menjadi naga es. Naga itu terbang dan terbang menembus tubuh kedua robot itu berulang kali hingga mereka hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Karena tak adanya perlindungan Arina terpaksa berlari zig zag menghindari puing-puing yang berjatuhan. Ia kelelahan namun terpaksa berjuang sendirian melawan musuh yang belum duketahui bentuknya.
Dalam hatinya ia putus asa, namun ia terus berjuang karena tetap yakin akan menemukan jalan keluarnya.