
Permukaan tanah tiba-tiba terbuka. Menciptakan jurang dalam yang membuka jalan bagi lava untuk naik ke permukaan. Lava panas itu berbentuk seperti ombak yang menerjang Okta dan Yuki. Mereka berdua segera naik keatas ketika melihat lautan panas bergerak cepat kearah mereka.
Di atas ombak besar, terdapat ombak-ombak kecil yang bisa berubah menjadi tangan lava. Tangan itu sesekali muncul guna menangkap mahkluk boneka elemen Kreza yang mencoba terbang. Ombak itu menelan semua pasukan bonega yang sudah dibuat Kreza dengan mudah. Tak peduli seberapa besar mahkluk itu akan segera meleleh oleh panasnya api lava.
Ketika ombak itu hendak menerjang Kreza dan Arza. Dengan mudahnya Kreza memberhentikan laju ombak itu. Selanjutnya lautan lava itu ia hancurkan menjadi gelembung-gelembung kecil yang menyebar ke segala arah.
Tak lama kemudian dua bua bulu yang terbakar di pangkalnya tiba-tiba menancap di tanah dekat kaki Arza dan Kreza. Mereka berdua segera memakai pelindung masing-masing sebelum ledakan terjadi. Kesempatan debu yang masih beterbangan segera di pakai oleh Okta. Ia mencapit kaki Arza dengan rantainya lalu menariknya ke langit.
Arza segera dikepung oleh Okta dan Yuki dari depan dan belakang. Kreza memberikan zirah kristal es yang sangat padat dan kuat. Sebenarnya ia ingin menolong Arza. Namun ia melihat sebuah pesawat terbang keluar angkasa dari kejauhan. Donny adalah orang yang diketahui menaiki pesawat terbang itu.
"Mencoba kabur ya?"
Kreza langsung melompat secepat kelinci. Sebelum sampai ke sana ia menciptakan tangan air dari tanah untuk meremukkan pesawat terbang. Donny memotong tangan air dengan lavanya. Ia memakai kecepatan cahaya di sana. Tanpa mengidahkan peringatan di layar pesawatnya ia langsung saja menekan tombol itu. Sebelum pesawat itu terbang menjauh ia merubah tubuhnya menjadi debu. Menyelinap masuk ke dalam pesawat melalui celah ventilasi yang akan ditutup.
Okta dan Yuki berhasil membuat Arza kewalahan. Meskipun memiliki daya tahan yang tinggi namun pergerakannya lambat. Belum lagi gaya bertarung Yuki yang memanfaatkan kelenturan tulangnya. Yuki bisa membengkokkan tulangnya untuk menciptakan serangan tak terduga.
Sementara Okta menebaskan pedangnya secara brutal. Jika pedangnya patah, maka pecahan pedang itu akan langsung digerakkan oleh angin untuk menancap pada zirah Arza. Pecahan-pecahan itu kemudian meledak, merusak zirah Arza dan memberikan debu yang menghalangi pandangannya.
Arza melepas semua zirah ditubuhnya kemudian membelah menjadi 4 bagian. Semua bagian itu memiliki kekuatan dan bentuk sang serupa. Okta mengikat semua kloningan Arza, lalu membantingnya ke tanah. Keempatnya seketika itu juga pulih dengan sempurna.
Hanya dengan bantuan gaya tegang otot. Rantai api buatan Okta seketika hancur berkeping-keping. Dua dari mereka berubah menjadi harimau dengan taring besar kebawah. Sementara sisanya menjerat tubuh Okta lalu melemparnya ke langit.
"Okta!!"
Yuki sontak mengepakkan sayapnya mengejar Okta. Namun kakinya di lilit oleh ular dari tangan Arza. Kedua harimau Arza tiba-tiba saja melompat dan mengoyak sayap Yuki. Di lepaskanlah sayap itu dari punggungnya dan ia pun terjerepak ke tanah.
Mata kiri Yuki tertutup darah dari kepalanya. Mulutnya membatukkan darah, pertanda ia sudah mencapai batasannya. Di situasi yang terdesak itu Okta tiba-tiba keluar dari bawah tanah. Mulutnya menghembuskan api berwarna hijau yang sangat panas ke sekelilingnya.
Ketiga Arza menembus lidah api Okta yang masih membara. Serangan dari ketiga sisi itu tidak menghambat pergerakannya sama sekali. Ia justru mengeluarkan kusarigamanya lalu menari-narikan tubuhnya seperti petarung handal.
"Ini saja kemampuanmu? Bukanlah tandingan bagiku Okta Kuryakin!!"
__ADS_1
Okta berhasil menebas leher Arza berbentuk harimau hingga putus. Klona Arza yang kedua merubah bentuknya seperti beruang berkepala ular. Sementara yang ketiga mempertahankan bentuk harimaunya yang ditambah dengan racun pada taringnya. Untuk kali ini Okta kewalahan untuk melawan wujud monster mereka.
Hingga pada akhirnya ia terpaksa meningkatkan kekuatan apinya. Di mode ini apinya berwarna biru keputihan. Saking panasnya api ini, tanah yang ada disekitar Okta berubah menjadi air mendidih.
Arza beruang menembakkan racun dari giginya seperti ular cobra. Racun itu dapat membutakan siapapun yang terkena airnya bahkan bisa berakibat kematian. Namun, Okta yang masih berkutik dengan Arza harimau tak mau ambil pusing.
Ia menaikkan suhu api disekitar bajunya yang langsung merubah racun itu menjadi ular sebelum mengenainya. Arza beruang terkejut melihat itu. Ditambah lagi ketika Okta membalikkan badan kearahnya. Terlihat Arza harimau yang sudah mati terbakar dengan tubuh yang hangus dibelakang Okta.
Okta menanamkan bom pada tubuh itu. Selanjutnya ia melemparkan tubuh itu dengan batuan kekuatan angin. Mereka berdua bertabrakan sangat kuat dan terlempar sangat jauh diatas tanah. Tak lama kemudian terjadi ledakan yang sangat besar dari kejauhan.
Setelah menyelesaikan mereka bertiga. Okta baru menyadari jika Yuki sudah tidak ada. Matanya dipasang baik-baik, titik demi titik ia teliti dengan sangat hati hati. Begitu melihat kearah gunung, barulah tampak kepakan sayap burung yang terbang menjauh. Okta membentuk sayap api di punggungnya. Sayap itu sekaligus membuka kekuatan terkuatnya di warna putih.
Apinya saat ini mampu mendidihkan batuan dalam jarak lima meter. Cahayanya juga sangat sangat terang. Jubah putih menyelimuti tubuhnya hingga ke bawah kakinya. Dengan kepakan sayapnya langit berubah menjadi putih terang. Dari kejauhan ia tampak seperti sebuah malaikat. Namun, dari jarak dekat ia tampak seperti malaikat pencabut nyawa.
Ketika Arza mendekati puncak dan hendak melepaskan Yuki dari cengkramannya. Okta tiba-tiba menyambar Arza dengan senjata berbentuk melengkungnya atau kusarigama. Sambaran itu memutus kedua tangan Arza dan membakar tubuh bagian atasnya.
Arza menumbuhkan tulang rusuknya keluar. Menembus dada Yuki yang sedang sekarat. Lalu Arza menjatuhkannya tepat diatas gunung berapi berpijar. Tubuh Yuki sempat hancur karena menabrak bebatuan. Untunglah Yuki masih punya sisa tenaga untuk menumbuhkan kembali sel-selnya yang hilang.
Arza menembakkan bulu-bulu tajam kearah Okta yang terbang diatasnya. Okta berputar lalu mengejarnya dari belakang. Mereka berdua saling kejar-mengejar satu seperti pesawat tempur perang dunia kedua. Keduanya bermanuver dengan lihai menghadang satu sama lain menembus awan dan terbang rendah maupun tinggi. Okta menggunakan api suhu rendah di kakinya yang berwarna oranye lalu terbang membentuk sebuah pola.
Punggung tangannya mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya Yuki mencakar tanah untuk mengambil batu-batu besar yang kemudian ia lemparkan sekuat tenaga. Batu-batu itu terbang melintas tepat didepan Arza yang membuatnya terkejut. Batu-batu itu melesat secepat artileri. Yuki terus melemparinya dengan batu ditangannya. Tembakan itu mengganggu konsentrasi Arza yang membuatnya marah.
"KAU LAGII?!"
Arza berputar dan terbang menukik sambil mengeluarkan cakar harimau di kukunya. Wajahnya sangat mengerikan, serasa tangan Yuki membeku tidak bergerak. Yuki berlari ke samping, tapi Arza langsung menangkapnya. Kukunya siap merelief leher Yuki yang sudah ia pegang dengan tangan kirinya.
Okta tiba-tiba menerjang Arza lalu memutus tangan Arza yang mencekik Yuki. Dengan bantuan anginnya ia melempar Arza ke dinding kawah hingga runtuh. Yuki mematahkan batu kawah yang besar dan kuat.
"Okta!!", pekik Yuki sambil melemparkan batu itu melewati Okta.
Okta segera menghindar sembari menanamkan peledak ke batu itu dengan sentuhan tangannya. Batu itu menembus perut Arza dan menancap pada dinding kawah. Okta mencengkram kedua lengan Arza dan mulai membakar tubuhnya. Arza mengerang kesakitan seraya berkata,
__ADS_1
"KREZA!! MAAFKAN AKU!!",
"TERIMA KASIH ATAS SEMUANYA!!"
Okta dan Yuki terkejut mendengar itu. Okta memberi kode kepada Yuki untuk menutup matanya. Selanjutnya Okta memalingkan wajahnya dan berkata,
"Maaf... tapi ini demi keluargaku",
"Rasa sakitnya akan menghilang setelah ini".
Wajah Arza yang sebelumnya tampak ketakutan kini berubah menjadi bahagia. Setelah mendengar apa yang dilakukan Okta. Ia merasa dihormati dan sosok Okta. Hingga akhirnya Arza hangus menjadi abu dengan bibir tersenyum.
"Okta.. Kau akan mencapai mimpimu..."
Suara Arza terdengar untuk yang terakhir kali. Untuk menghormati Arza, Okta meninju tanah didepannya yang kemudian hancur menjadi mengubur abu itu. Tangannya memberikan hormat kepada Arza. Sebagai musuhnya, Okta tetap menghormati Arza sebab loyalitasnya kepada Kreza.
Dengan berakhirnya Arza, maka selesailah sudah pertarungan mereka bertiga. Kini Okta bisa berubah menjadi manusia kembali. Langkah kakinya kini terasa ringan untuk berjalan kearah Yuki.
Dengan mata berkaca-kaca Yuki berlari memeluk Okta dengan erat. Okta menarik baju bagian bawahnya kemudian ia usap kain itu ke dahi dan mulut Yuki yang berdarah. Sambil tersenyum ia berkata,
"Sekarang kamu sudah aman",
"Tak perlu lagi ada ketakutan di hatimu".
"Heeh apa ini? Kamu mau nggombalin aku ya?", Yuki meledek Okta dengan wajah merah.
"Faktanya kalau kamu orang pertama yang menerima gombalanku", balas Okta.
Yuki seketika terdiam dan tersipu mau. Hal itu membuat Okta tertawa terbahak-bahak. Kebetulan disaat itu sang mentari hendak kembali ke kasurnya. Okta segera mengajak Yuki untuk keluar dari kawah yang panas itu.
Tiba-tiba Yuki mengeluarkan sayapnya dan langsung terbang ke langit.
__ADS_1
"Kejar aku kalau bisa!", ejek Yuki lalu melesat pergi.
Okta tersenyum melihatnya. Ia kemudian menumbuhkan juga sayap apinya yang berwarna putih kemudian terbang mengejar Yuki. Mereka berdua bermain-main di dalam dan diluar awan sebelum akhirnya pulang ke kembali ke bangunan tadi. Syukurlah bangunan itu masih bisa dipakai meski 60%-nya sudah hancur.