The Last Era

The Last Era
Act 26 [Perpecahan]


__ADS_3

Ketika Shina dan Ramko siuman, mereka sama sekali tidak mengingat kejadian di goa itu. Mereka hanya mengingat kejadian di markas musuh atau bangunan yang kami temukan.


Aku tak sengaja menemukan kendaraan lain yang tersangkut di salju. Kami memperbaikinya dan pergi mengikuti peta itu. Bertemulah kami dengan yang lainnya di hutan hangat. Mereka teramat bahagia melihat kami bertiga.


Sampai-sampai Mabel tak sengaja menyiramkan air yang mengangkut ikat didalamnya ke wajah Ramko. Saat itu juga kami bertanya dimana Nadia.


Mereka menceritakan semuanya ke kami. Kami memahami dan melepaskannya kecuali Shina yang paranoid lagi. Lagi, Ramko menyengatnya supaya ia pingsan lagi dan menghilangkan paranoidnya.


Melihat Shina yang di sengat hingga pingsan, Linda marah besar dan melemparnya ke langit. Untunglah ia tersangkut di dahan pohon.


Aku bertanya kepada Mabel dan Linda keberadaan Arina. Mereka bilang ia masih di hutan dan belum pulang. Kami kemudian menceritakan sebuah penginapan yang pernah kami tinggali.


Mereka mau untuk tinggal di penginapan itu untuk sementara waktu. Mereka ingin kami membiarkan Arina bermain-main dulu. Namun, sampai siang kami menunggunya dan tapi tak kunjung tampak batang hidungnya.


Kami kemudian mencarinya ke hutan. Tapi tak ada satupun dari kami yang berhasil menemukannya. Melihat hari yang mulai gelap, aku menyuruh yang lainnya untuk pergi terlebih dahulu.


Malamnya aku berkeliling didalam hutan, hingga menemukan jamur yang bercahaya. Tak lama kemudian, sebuah akar menarikku ke atas dahan lalu menggantungkanku disana.


Dengan cepat kutebas akar itu sebelum berhasil mengikat syalku. Ketika sudah berhasil turun, aku melihat keatas apa yang mengikatku tadi.


Disanalah aku menemukan Arina dengan posisi yang sama denganku. Tubuhnya terikat terbalik dan kedua tangannya ditutupi es bening dan bergerigi.


Aku lantas menebas ikatannya dan menangkapnya dengan tanganku sendiri. Aku langsung membawanya dengan berjalan kaki supaya tidak menimbulkan suara.


Aku pergi dengan berpedoman peta yang dilukis Shina di sebuah batang kayu. Petanya agak berantakan, tapi masih bisa dipakai.


Tak lama kemudian, Arina siuman ketika kami sudah berada di tengah-tengah perjalanan. Karena tenagaku mulai habis dan punggungku mulai pegal. Aku membawanya terbang sekalian menghabiskan tenagaku.


Shina menunggu kami di pintu masuk kota untuk memberikan tangan robot sebagai penyamaran. Lalu membawa kami dengan mobil baru ke penginapan.


Saat sampai kamar, aku menidurkan Arina diatas kasur lalu menunggunya di luar kamar. Linda dan Mabel merasa lega karena tidak lagi kehilangan rekan.


"Bagaimana kamu menemukannya, Don?", tanya Linda.


"Aku ditarik akar jalar keatas pohon lalu menemukannya juga diatas pohon".


"Monster apa itu?", tanya Linda lagi.


"Entahlah, mungkin penghuni asli hutan itu".


"Apakah dia besar, berkayu dan memakan orang?"


"Mana kutahu!", "Kok kamu sama dengan Shina sekarang?"


"Itu-"


"Don! Lihat ini, aku menemukan kota mati itu", teriak Ramko sambil melemparkan peta hologram kearahku.


Aku melihat peta itu dan yang kulihat hanyalah padang berwarna oranye.


"Ram, ini kan gurun".


"Benar, kita cari tahu siapa tahu ada sesuatu disana".


"Nggak, aku nggak mau kehilangan teman lagi".


"Kita semua akan mati", jawab Shina santai sambil meminum sebuah teh.


Aku seketika emosi, melangkah kearahnya dan langsung menarik kerah bajunya.


"Apa maksudmu? HAH?!"


"Kasar juga kamu, Shin", Ramko sambil mengerukan alis.


"Aku bicara kebenaran", "Bukankah setiap kali saat kita pergi dan terpisah selalu ada korban jiwa?", jawabnya sambil melihatku santai.


"Apa yang salah denganmu?", "Apa ini semua karena trauma kematian Afton?", bentakku kearahnya.


"Aku bisa bilang kalau ini semua salahmu, Don"


"Kamu bilang kamu tak memiliki elemen", "Tapi kamu bisa menyatarai kami",


"Belum lagi kemampuanmu dalam bertarung tinggi dan syalmu itu terlalu kuat",

__ADS_1


"Syalmu bisa mengangkat, menusuk, melebar dan menjadi tembakan", "Kenapa tidak kau pakai untuk membawa Afton saat itu?".


"Bukan begitu maksudku", "Tapi aku tak akan bisa mempuanyai elemen", aku mulai merasa bersalah.


"Shina! Tutup mulutmu!", bentak Ramko.


Belum pernah kami melihat Ramko semarah ini. Tubuhnya mulai di penuhi kilatan cahaya.


"Kalian semua, hentikan!", teriak Linda sambil menangis.


"Tak apa, Lin!", "Aku bicara kebenaran dengan tenang",


"Tidak marah terlebih dulu seperti si lemah itu itu", Shina dengan tatapan tajam.


Perkataan itu menusuk hatiku. Aku perlahan melepaskan kerah Shina. Sambil dipenuhi rasa bersalah sekaligus kemarahan. Aku pergi dan tak menggubris panggilan mereka.


"Jaga mulutmu Shina", "Dialah telahembantu kita saat kita berdua sekarat".


"Oh ya?", "Apakah itu salahku?", "Salahkanlah pak tua yang memilihku sebagai pahlawan"


Ramko semakin geram dengan Shina.


"Sepertinya kau memang ingin merasakan ledakan trisulaku", ucapnya sambil mengeluarkan senjatanya.


"Akan aku buat kau merasakan pedihnya kehilangan sahabat lewat rantai panasku", Shina juga mengeluarkan senjatanya.


"KALIAN BERHENTILAH!!", teriak Linda sambil membuat angin puyuh didalam ruangan.


"RAMKO SABARLAH!!", Mabel mulai mengeluarkan perisai airnya.


Tetangga di bawah kami marah-marah dengan kami. Angin puyuh Linda membuat seisi ruangan berantakan dan tak sengaja membuat jendela ruangan terbuka.


Ramko langsung menarik Shina keluar jendela dan menendangnya ke langit. Shina juga langsung mengikat badan Ramko dan membawanya kelangit bersamanya.


Mereka terbang terlalu tinggi hingga Linda dan Mabel tidak bisa menjangkau mereka. Pertarungann mereka hanya bisa terlihat seperti kilatan petir dan sambaran api putih yang berbentuk seperti bulan sabit.


Sesekali terjadi sambaran petir akibat Ramko yang melesat dan menyerang Shina dengan trisulanya. Shina membuat zirah api yang membuatnya kebal dari seranhan Ramko.


Ramko melakukan serangan yang begitu cepat hingga Shina tak mampu menyerang dan hanya mampu menangkisnya.


"Tak ada", jawab Mabel.


"Kalau begitu jangan membuat gaduh lagi",


"Beberapa tetangga sudah tidur".


"Baik saja tutup", Mabel menutup jendela sambil melihat kelangit lewat kaca.


"Apakah mobil kalian aman?", "Sepertinya sebentar lagi akan terjadi badai salju".


"Aman".


"Baiklah, maaf menganggu".


Setelah pelayan itu menutup pintu. Mabel dan Linda lansung melihat ke langit lagi. Ramko dan Shina mulai terlihat semakin mendekati tanah.


Tiba-tiba terbentuk sambaran petir berbentuk lurus menyamping dan menghantam salju. Mereka menjauh dari kota sehingga Lind adan Mabel tak mampu memantaunya lagi.


Saat itu, Ramko melesat dan mendorong Shina sampai menghantam Salju yang keras. Baju zirah Shina pecah dan Ramko mulai melambat karena kelelahan.


Melihat Shina yang terjatuh ke tanah, Ramko langsung mendekatkan ujung trisulanya ke leher Shina.


Shina yang melihat Ramko mulai melambat, juga menghunuskan pedangnya ke leher Ramko. Aku yang melihat kilatan cahaya itu langsung menghampiri mereka.


Dengan cepat aku memakai elemen petir untuk melesat dan menangkis senjata mereka dengan syalku yang terbakar. Laluku lempar mereka ke tumpukan salju yang sama supaya aku bisa bicara dengan mereka.


Shina tiba-tiba mengangkat kakinya dan menendang dadaku. Tapi aku menangkisnya dengan syalku yang terlapisi kristal. Ramko dan Shina yang masih terbaring di salju terkejut melihat kristal yang melapisi syalku.


"Don, apa maksudnya ini?", tanya Ramko seakan tak percaya.


"Kristal?"


"Kamu tidak mempunyai elemen yang berarti-".

__ADS_1


"BUKAN, BUKAN BEGITU".


Shina langsung saja meloncat dan menikamku ke tanah.


"Pertama kau mendapatkan kekuatan kami", "Kedua kau memiliki elemen tanah dan kristal punya Afton",


"Jadi selama ini, kamu memang ingin merebut semua kekuatan kami?", tanya Shina sambil menangis.


"Artinya kamu memanaskan situasi dan pergi begitu saja untuk membuat kami berdua bertarung?",


"Begitukah maksudmu, Donny?", tanya Ramko yang berjalan mendekati kami.


"Ini salah paham!", "Aku tak tahu kalau aku punya kekuatan ini".


"Kami sudah melihat buktinya", "Dan aku kecewa tiga tahun bersama seorang penipu".


"Don, kamu sudah mengecewai kami, TERUTAMA ARINA!!"


"Pantas saja kami selalu dapat masalah, ternyata kaulah penyebabnya".


"Bukan seperti itu kalian salah paham!"


"Aku tak mau kehilangan Linda",


"Jadi bersiaplah untuk mati", Shina mulai membakar tangannya.


Tangan Shina mencekikku mulai memanas. Aku langsung menendang Shina dan tak sengaja mengayunkan syalku hingga menggores mata kanan Ramko. Ramko saat itu mencoba melindungi Shina yang akan tertusuk oleh syalku.


"Maaf", "Aku tak bermaksud seperti itu".


Shina melihatku dengan muka datar. Tubuhnya terbakar api biru, kukunya memanjang dan terbentuklah zirah api yang baru.


"Maaf sudah mempercayaimu".


Shina mengeluarkan sebuah tongkat dengan dua mata pisau diujungnya yang berbentuk seperti sabit. Dia memutar tongkat itu dengan cepat lalu meloncat kearahku.


Ia lalu menghujamkan senjata sabit kearah kepalaku dan kutangkis dengan lengan yang sudah di tutupi dengan kristal merah. Shina yang memukulku terlalu keras, membuat tongkatnya terbelah menjadi dua.


Dengan cepat aku memakai kesempatan itu untuk terbang dan menghindar. Tapi Shina mengikat lenganku dengan rantai panasnya kemudian membantingku ke tanah.


Kemudian aku membentuk kanon, dan kutembakkan plasma kearahnya secara membabi buta. Ia menarikku dengan rantainya yang masih terikat kearahnya lalu mencakar kristal di tangaku.


Kristal di tanganku seketika hancur sekaligus juga rantainya. Dari tongkatnya tiap bekas patahan itu, muncullah rantai berapi yang menjalar ketangannya.


Langsunglah ia tarik dan dicampakkannya masing-masing belahan seperti senjata kusarigama. Ia terus memutar kedua senjata yang terbakar itu karahku.


Aku mencoba menembaknya dengan kanonku. Tapi Shina langsung mengelak dengan cepat. Ia kemudian memegang kedua senjata itu dan menghujamkannya kearahku secara bersamaan.


Aku langsung menangkisnya dengan syal terbakar dan meloncat ke langit dengan ledakan plasma punyaku. Tiba-tiba sebuah anak panah mengarah kearahku.


Aku menangkisnya, namun saat aku menyentuhnya sebuah petir menyambarku. Listrik dari petir itu membuatku kaku untuk beberapa saat.


Shina mengambil kesempatan dan langsung melompat menusukkan kedua kusarigamanya kearah. Sebelum ia mencapaiku, aku menembak salju untuk mengkaburkan pandangan mereka.


Aku meledakkan roketku dan memakai stituasi itu untuk melarikan diri. Setelah jarak pandang kembali normal, Shina langsung menghampiri Ramko yang masih kesakitan.


Shina lalu membawanya kembali ke penginapan.


"Maaf, Ram", "Seharusnya aku tak pernah mengatakan itu".


"Tak apa", "Asalkan kita bisa bersama selamanya".


"Aku kurang yakin", "Tapi, kalau saja Donny itu bukan penyamar",


"Kita dalam masalah besar".


"Kau lihat apa yang terjadi pada Afton?",


"Bukankah mengherankan kalau dia tidak bersedih kehilangan rekannya?"


"Benar juga",


"Kita harus memberi tahu yang lain!", sambung Ramko.

__ADS_1


"Aku setuju".


__ADS_2