The Last Era

The Last Era
Act 65 [Bertukar Pikiran]


__ADS_3

Lima hari setelah kejadian itu mereka mulai memahami satu sama lain. Jasad Arina Donny bekukan dan ditutup dengan ikatan syal miliknya sendiri. Donny sering sekali menatapi Arina dengan pandangan hampa. Kakinya terikat dengan tali karena Okta masih belum mempercayai Donny sepenuhnya.


Untuk tempat berlindung mereka menggunakan basement lab milik Shina yang sudah dibenahi. Di bagian atas tidak ada pohon sama sekali sejauh mata memandang. Makanya mereka dengan mudah bisa menyusun pesawat dimanapun.


Okta dan Yuki memperbaiki kapal angkasanya yang hancur akibat pertarungannya dengan Arza. Sesekali ia bertanya beberapa komponen dengan kasar. Meski dia bisa disebut paman baginya, kejahatannya tidak akan pernah Okta lupakan.


Siang itu, dengan berbekal kekuatan api dan palu yang ada di puing-puing rumahnya. Okta berhasil memperbaiki seluruh badan pesawatnya. Untuk bagian mesin dan sistem ia masih terus mengutak utik komponen lamanya. Karena sesungguhnya ia tidak pernah membongkar pesawat apapun. Donny sudah tahu Okta tidak akan paham tentang sistem. Tapi Okta terus menolak Donny dan menyuruhnya untuk duduk saja.


Kali ini ia memotong tali yang mengikatnya dengan syalnya lalu berjalan menaiki tangga. Ia melihat Okta yang sudah frustasi dan mulai memasang kabel asal-asalan. Karena dia paham mekanik dan merasa kesal dengan Okta. Donny pun berjalan mendekati Okta yang ada di dalam pesawat. Begitu sampai disana Okta langsung saja memarahi Donny.


"Apa yang kamu lakukan disini!?",


"Kembalilah ke basement!!", bentaknya dengan kasar.


"Kalau kamu memasang kabel merah itu ke benda ini, kamu hanya perlu waktu satu menit untuk hancur berkeping keping", ucap Donny sambil menunjuk kearah kabel dan benda yang ada di tangan Okta.


"Gah!!", Okta langsung mencabut kabel hijau tadi.


"Hmmh... Apa yakin nggak perlu bantuan?", tanya Donny sekali lagi.


"Tidak! Tinggalkan aku sendiri!!"


"Tenang saja, aku ada di sisimu".


"Ah, diamlah, aku sedang sibuk!", bentak Okta sambil terus mengetuk-ngetuk benda ditangannya.


Mendengar suara bising dari pesawat. Yuki segera menyusul kedalam pesawat.


"Ada apa ini?"


"Diamlah, aku sedang sibuk!", jawab Okta tanpa melihat kearah lawan bicaranya.


Yuki terkejut dibentak oleh Okta. Hal ini membuat Donny mulai menatap Okta sinis.


"Eh.. Ah... Apa kamu perlu minum?", Yuki mencoba menghibur Okta.


"Tidak, tidak, pergilah kalian berdua!!"


"I-iya", Yuki merapatkan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya.


Donny mencekik leher Okta dengan syalnya. Donny menatarnya kedinding pesawat karena muak denagn tingkahnya. Yuki sontak memanjangkan kukunya untuk menyerang Donny.


"Kamu boleh memarahiku kapanpun kamu mau!",


"Dia satu-satunya wanita yang kita miliki",


"Dia berkorban demi menghidupkanmu dengan memotong nyawanya sendiri!!",


"Kalau kamu sekali lagi menyakiti hatinya


"Aku tidak segan-segan untuk menusukmu!!",


"Kau mengerti!!"


Yuki seketika membatu mendengar kalimat yang diucapkan Donny. Jeratan dileher Okta terlepas dan membuatnya bisa kembali bernafas lega. Yuki memendekkan kukunya dan segera mendekati Okta. Donny meninggalkan Okta dan langsung memperbaiki sistem pesawat itu.


"Sekarang! Kembalilah!",


"Biarkan aku memperbaiki benda ini", ucapnya tegas.


Yuki menganggukan kepalanya dan membantu Okta untuk berdiri. Okta masih memegang lehernya karena masih kesusahan bernafas.


"Maaf, Ki"


"Tidak apa.."


"Sebenarnya kalian mau kemana?", tanya Donny.


"Ada sebuah planet biru yang namanya Bumi",


"Siapa tahu ada sesuatu disana", jawab Yuki.


"Bumi...?"


Donny berhenti bekerja dan menoleh penuh kearah mereka berdua.


"Dari mana kalian tahu?", tanya Donny.


"Aku menemukannya di catatan basement ayah", jawab Okta.

__ADS_1


"Apakah catatan itu masih utuh?"


"Aku rasa begitu.."


"Tunjukkan aku catatannya!", pinta Donny.


.......


.......


Okta membuka lemari besi yang sudah hancur. Lalu menunjukkan beberapa catatan tentang posisi dan kondisi geologis Bumi.


"Planet ini, tampaknya tidak asing..",


"Benar! Aku ingat tempat ini!", pekik Donny.


"Dimana itu?", tanya Yuki.


"Tempat kami dulu bersama, aku masih ingat bentuknya".


"Apa itu tempat persembunyian yang bagus?", tanya Okta.


"Bersembunyi?",


"Kita akan mengumpulkan kekuatan kita disana, lalu mengalahkan Kreza dan Arza", jawab Donny optimis.


"Mustahil, dia punya kekuatan untuk mengendalikan semuanya dan membentuk segalanya", tangkis Yuki


"Yap.. Bagaimana cara kita membunuhnya?", sambung Okta.


"Ikuti saja rencanaku, intinya kita perbaiki dulu pesawat ini".


......*......


Akhirnya setelah beberapa hari. Pesawat itu sukses diperbaiki. Okta sedikit demi sedikit mulai mempercayai Donny. Tapi tetap saja, dia masih terus memanggilnya dengan nama atau kamu. Meski terdengar tidak sopan, wajar saja dia punya dendam karena semua yang Donny lakukan.


Donny terus menggunakan kekuatannya untuk membuat peti kayu untuk Arina yang terus dia jaga dan rutin dibekukan. Mendengar kata bumi, Donny berniat untuk mengubur jasad kekasihnya itu di sana.


"Apa kamu tidak punya kekuatan seperti Kreza?", tanya Okta sambil duduk melihat Donny menyempurnakan pesawatnya.


"Tidak, syalku ini hanya bisa membangkitkan kekuatan yang sudah dia punya",


"Jadi.. Dari mana kekuatan kayu, mahkluk hidup, dan esmu berasal?"


"Dari dia juga".


"Bukannya tad-"


"Darah Kreza membangkitkan semua kekuatan yang tersimpan di syal ini",


"Tapi tidak bisa menciptakan kekuatan baru yang dipakai Kreza".


Donny kemudian berjalan menuju sumber tenaga listrik untuk pesawat itu. Sebelumnya Okta kebingungan untuk mencari sumber energi listrik yang besar untuk menghidupkan pesawat. Donny selalu berkata tenang saja. Okta tidak pernah tenang dibuatnya.


"Seperti INI!!", Donny menyetrum reaktor pesawat itu dengan listrik yang sangat besar dan kuat.


Okta menghidupkan kekuatan apinya karena takut terjadi apapun pada pesawatnya. Okta terkejut karena Ramko belum pernah menciptakan listrik seterang dan sebesar itu. Pesawat itu kemudian menyala dengan menghabiskan semua tenaga Donny. Ia berlutut sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


"Sekarang... Aku sudah kehilangan kekuatan petirku", ujar Donny kepada Okta.


"Luar biasa", balas Okta sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa anda baik-baik saja?", Yuki tiba-tiba muncul dari belakang Okta.


"Gah!!", pekik Okta terkejut.


"Tenang saja, aku hanya kecapekan",


"Asal kamu tahu, aku sudah lima puluh tahunan".


"Tua sekali!!", pekik Okta.


"Hus, kamu kasar banget!!", Yuki mengetuk kepala Okta.


"Tubuh kami memang menua lebih lambat, apa kalian tidak melihat diri kalian masing-masing?"


Okta dan Yuki berpandangan satu sama lain. Mereka memperhatikan satu sama lain dan bergumam dipikiran mereka sendiri-sendiri, "Benar juga ya". Tiba-tiba Okta memalingkan wajahnya kearah Donny yang membuat Yuki kebingungan.


"Kenapa?", tanya Yuki.

__ADS_1


"Ti-tidak, tidak apa-apa, lu-lupakan saja", jawab Okta gagap.


"Besok kita segera berangkat kesana",


"Bawa semua makanan dan perlengkapan ke pasawat", Donny menambahkan.


......*......


Malam itu juga mereka memasukkan semua barang kedalam pesawat. Termasuk beberapa catatan milik Shina yang tertinggal di puing-puing rumah.


Setelah semuanya sudah siap. Pagi harinya, ketika cahaya biru menerangi tanah lapang itu. Mereka sudah siap untuk berpindah ke Bumi. Didalam pesawat Donny terus memastikan peti Arina sudah dibawa. Setiap kali dia bertanya hal itu, hatinya terasa tergores. Tapi dia harus terus melihat kedepan dan melindungi saudaranya.


Dengan persiapan yang matang, pesawat pun terbang kelangit dengan sempurna. Tombol kecepatan cahaya pun dihidupkan dan pesawat terbang melintasi antar galaksi dengan cepat. Setelah merasa aman, Okta yang duduk di samping Donny di ruang kemudi bertanya satu hal.


"Siapa itu Kreza?"


"Dia.. Entitas aneh yang sangat aneh",


"Selnya semi manusia letal".


"Maksudnya?", Okta menaikkan alisnya mata kirinya.


"Selnya seperti pernah mati, makanya warna kulitnya keputihan",


"Tapi setelah dia beregenerasi, selnya itu tidak beregenerasi sepenuhnya",


"Tingginya juga bukan tinggi manusia, sekitar 3 meter".


"Semacam zombie?", Okta memastikan.


"Bisa jadi".


"Lalu, aku ingat dia punya pengikut monster-monster merah yang bengis itu",


"Kamu tahu itu?", Okta bertanya lagi.


"Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkan monster itu",


"Yang satu itu jelas seperti zombie",


"Kawan ataupun lawan akan dibunuhnya".


Mereka terdiam beberapa saat. Hingga Donny memakai autopilot dan pergi kebelakang. Didepan pintu ruang kendali,


"Hei", panggil Okta sambil melemparkan kalung beku dari sakunya.


Donny segera menangkapnya dan teringat kalung yang diberikan Arina ditaman dulu. Bernda itu masih berwarna putih dan berbentuk seperti bunga es. Beberapa ujungnya mulai menumpul karena mencair tanpa kekuatan Arina. Donny seketika terkejut, matanya terbuka lebar dan terpaku memandang benda itu.


"Ini.."


"Itu punya bibi Arina",


"Aku mencurinya saat evakuasi dulu kalau tidak salah",


"Bibi lupa dengan yang itu, makanya aku bawa daripada hancur seperti Aquopora", jawabnya sambil tersenyum lega.


Donny segera melepas syalnya dan memakai benda itu di lehernya.


"Kaya anak perempuan", ejek Okta.


"Ya... Seperti anak perempuan, haha", Donny tertawa bahagia hingga meneteskan air mata.


"Berterima kasihlah kepada-"


Donny langsung saja pergi meninggalkan ruang kemudi sambil bersorak kegirangan. "Rin, akhirnya aku menemukannya", pekik Donny sepanjang jalan.


"Ayo makan du-"


Donny terus berjalan melewati meja makan. Ia terus berjalan hingga menuruni tangga kabin barang. Yuki terdiam menatap Donny yang berjalan melewatinya. Okta kemudian berjalan ke samping kiri Yuki sambil melipat tangannya.


"Dia kenapa?", tanya Yuki.


"Entahlah", jawabnya sambil menggelengkan kepala.


Melihat Okta yang sedang kesal dan menatap tangga terlalu lama memberikan ide kepada Yuki. Secara diam-diam dia mengambil roti dari meja makan. Lalu bergerak menyumpal mulut Okta dengan roti besar itu. Karena sering latihan sebelumnya. Okta dengan cepat mampu menahan tangan Yuki.


Karena cengkraman tangan Okta. Yuki jadi terpaku menatap mata Okta. Dan dia malu sendiri karena ulahnya. Wajahnya memerah lalu menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya. Roti yang dipegangnya langsung ditangkap oleh Okta. Dengan perasaan puas Okta memakan roti itu didepan Yuki yang tersipu malu.


'Hehe, aku menang kali ini', ucap Okta dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2