
Beberapa hari lalu aku mendapatkan malam tersial bagiku. Tangan robotku hancur, tubuhku penuh luka dan harus dirawat selama dua hari di rumah sakit. Sementara Erkan cukup satu hari dengan luka ringan sehingga bisa kembali bertugas.
Tiba-tiba Erkan menelponku dan memintaku untuk segera ke kantornya. Aku saat itu sedang sibuk memperbaiki zirah robotku. Langsung kutinggalkan perkakasku dan menyuruh asistenku menggantikan.
"Halo Er.."
Aku melihat sesorang yang pernah kulihat sebelumnya. Ia berdiri santai bercagangan pada kursi Erkan. Sementara Erkan duduk sambil mengutak utik layar monitor di depannya.
"Oh hey Ken", "Ini Frank, jendral lain kota Rowl".
"Salam kenal", jawab Frank sambil menjukurkan tangannya kepadaku.
"Salam kenal juga", balasku sambil menjabat tangannya.
"Jadi, kenapa?", tanyaku.
"Begini, peniliti menemukan sebuah tambang tua yang berada sangat jauh ke dalam tanah",
"Tambang itu masih belum diketahui asal dan sejarahnya, tapi yang jelas",
"Disana terdapat radiasi nuklir",
"Jadi kita sebagai manusia harus menjaga jarak dengan radiasi itu jika tidak ingin kena masalah", jelas Erkan.
"Langsung ke intinya",
"Ken, kamu harus membuat baju tempur anti radiasi",
"Untukmu dan tentara mutan kita", sambung Frank.
"Tentara mutan?"
"Mereka merupakan tentara suku yahna yang di tingkatkan memiliki kekuatan mutan sepertimu dan Erkan".
"Sebelumnya kami menangkap kalian untuk dijadikan kawan", "Tapi kami hanya berhasil mengajakmu".
"Untunglah kami menemukan jasad mutan kayu",
"Sehingga kami bisa membuat tentara mutan elemen kayu".
"Lalu? Kenapa harus aku?"
"Pertama kamu terpisah dari rombonganmu juga kamu datang sendiri kemari",
"Kedua syalmu itu terlalu kuat, potensi proteksimu jauh lebih baik".
"Ketiga kamu terlihat yang paling memiliki dendam sehingga jelas mudah diajak kerja sama".
"Kenapa dengan syalku?"
"Setelah diteliti, ketika syalmu menyentuh darah manusia mutan",
"Syalmu akan mengambil sedikit sampel darah itu dan memberikan kekuatan elemen sementara".
Aku seketika teringat saat aku menggores mata Ramko dan mengikat Shina yang terluka ketika melawan naga logam. Kekuatan elem itu hanya bersifat sementara dan akan menghilang ketika aku memakainya terlalu sering. Itu masuk akal sekarang.
"Lalu kamu membawaku ke masa lalu? Untuk mempermudah mengajakku?"
"Ya begitulah", balas Erkan.
"Sebelumnya kami ingin membunuhmu dan menggabungkan selmu dengan tentara cyborg elemen",
"Tapi setelah mengetahui kamu sebenarnya tidak mempunyai elemen", jelas Erkan.
"Kami mengurungkan niat itu", sambung Frank.
"Lal-"
Tiba-tiba telepon Erkan berbunyi. Ia segera pergi keluar ruangan untuk menjawab panggilan itu. Tak lama kemudian, ia kembali dengan wajah pucat, tampak gelisah dan ketakutan.
"Er? Kamu kenapa?", tanyaku.
"Erkan?"
"Perang", "Kita akan perang".
"Perang?", "Apa maksudmu?", tanya Frank.
Entah mengapa kemudian tertawa sendiri. Kami berdua bergidik ngeri melihat sifatnya yang berlawanan itu.
"Begini saja"
"Ken", sambil menunjukku.
"Kita berdua sudah tamat"
......*......
"Tuan, ada surel dari presiden", panggil robot asisten Dokter Jassen.
Dokter Jassen langsung membuka teleponnya dan membaca surel itu. Setelah membacanya ia tersenyum, lalu berkata,
"Rex, masuk ke mobil!", "Kita pergi menjemput mereka sekarang".
__ADS_1
"Siap tuan".
"Tunggu, Rex", "Apa kamu mendengar suara angin?"
"Tidak Dok".
"Ahaha mungkin perasaanku saja", "Sudah, masuklah kemobil!"
Dokter Jassen dengan robot asistennya langsung meninggalkan rumah dengan mobilnya. Seperti biasa mereka berlatih di gedung pertahanan negara untuk melindungi planet Aquopora.
Dijalan Dokter Jassen melihat robot yang malfungsi dan membuat kepanikan dikota. Robot itu berbentuk koki, menyemburkan api dari tangannya dan berlari ke tengah-tengah jalan.
"Rex, buka jendelanya"
"Baik Tuan".
Robot asisten membukakan jendela Dokter Jassen. Dokter Jassen mengejek robot malfungsi itu hingga ia marah dan berlari ke arahnya. Ketika sudah dekat Dokter Jassen melemparkan api biru dan melelehkan robot itu dalam sekali serang.
Semua orang menyoraki bantuan dari Dokter Jassen. Semua mobil menepi untuk memberi jalan mereka.
"Rex, injak gasnya!"
"Kuat? Sedang? Perlahan?"
"Kuat".
"Sesuai permintaan, tuan".
Mobil langsung melompat dan terbang lepas dari pengait magnet jalan. Dalam sekejap, mereka sudah berada tepat diatas gedung itu. Untunglah mereka tidak menabrak mobil atau pesawat yang lalu lalang disana.
Setelah memarkirkan mobil mereka berdua langsung menuju ruang latihan. Dokter Jassen menunggu di luar sambil menonton mereka yang berlatih bertarung satu sama lain.
"Hari ini sepertinya pakai zirah dan senjata khusus tuan", kata robot asisten itu.
"Ya, aku rasa begitu", "Berapa menit lagi sampai selesai?"
"Sekitar tiga puluh menitan lagi tuan".
"Baiklah, kita tunggu saja".
Tiga puluh menit kemudian, bel selesai latihan pun berdering. Kami semua berjalan beriringan keluar dari lapangan itu menuju ruang perawatan.
"Ayo!", ajak Dokter Jassen sambil berdiri.
"Tunggu tuan!"
"Kenapa?"
"Ikuti saja!"
Aku dan Ramko didatangi oleh Dokter Jassen, ia meminta kami pergi ke ruangan lain untuk mendiskusikan strategi perang. Kami berdua sempat kaget dengan pernyataan yang tiba-tiba itu. Dokter Jassen tidak mempedulikannya dan terus melanjutkan pembicaraan strategi.
"Jadi begini", "Planet C40Res mempunyai teknologi yang jauh lebih maju dari kita",
"Ada baiknya untuk mengirimkan kami terakhiran", jelas Ramko.
"Aku setuju dengan Ramko", "Perusahaan senjata juga sudah menyiapkan robot besar dan armor lengkap bagi kami jika serangan pertama gagal", sambungku.
"Artinya kalian ingin menjadi pertahanan terakhir?"
"Kurang lebih".
"Hmm, begini saja", "Panggil Arina dan Mabel kemari".
"Baik Dok".
Arina dan Mabel kemudian datang diikuti oleh Linda dari belakang. Ramko berkata kalau Linda agak takut untuk bicara dengan orang baru ketika di ruang istirahat sendirian.
"Ada apa, Dok?"
"Kita akan bertempur dengan mahkluk planet C40Res".
"Planet yang ..."
"Benar Mabel, planet dimana kalian tertangkap dulu".
"Aku harap Donny baik-baik saja".
"Donny?", "Benar juga ya aku lupa dengan yang satu itu".
"Kenapa dengan dia?"
"Dia masih hidup".
"Syukurlah", pekik kami gembira.
"Tapi"
"Tapi apa dok?"
"..."
Dokter Jassen melihat kearah Arina yang membatu terlalu gembira. Dokter Jassen lalu mendekatinya dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
__ADS_1
Tiba-tiba ia berlinang air mata, alisnya mengerut dan tangannya langsung ditumbuhi es runcing. Ia langsung saja menebas Dokter Jassen secepat kilat. Tangan Dokter Jassen berapi dan langsung menahan es runcing itu tepat sebelum mengenai lehernya.
Dokter Jassen memegang es itu lalu mencampakkan Arina ke dinding. Kami semua terkejut melihat serangan mendadak itu. Mabel dan Linda langsung berlari membantu Arina untuk menegakkan badannya.
"A-Apa yang Dokter katakan kepadanya?", tanya Ramko.
Dokter Jassen kemudian menoleh kearah kami. Matanya tidak seperti biasanya, berbeda warna dengan satu oranye kemerahan dan yang satunya berwarna silver terang. Kami berdua mengalihkan pandangan karena terlalu takut melihat wajahnya.
"Sesuatu yang penting", balasnya.
"Tuan, denyut nadi anda terlalu tinggi", "Anda perlu menenangkan diri, Dokter", kata robot asisten Dokter Jassen.
"Kenapa Dokter menyuruhku melakukan itu?", tanya Arina.
"Karena kamulah yang paling dekat kepadanya".
"Melakukan apa?", tanya Ramko.
"Tunggu jangan bilang kalau kita harus-"
"Ya, ini perintah dariku!"
"Kami tidak bisa melakukannya", jawabku.
"Kenapa?"
"Donny adalah teman kami, dia adalah keluarga bagi kami",
"Dan kau ingin seorang gadis yang paling mencintainya untuk melakukannya?", "Manusia macam apa kau?", bentakku karena tak mampu mengontrol diri lagi.
"Akulah yang menciptakan kalian", "Kalian adalah manusia yang terpilih dan terkuat yang pernah ada",
"Kalau kalian tidak mau mengikuti perintahku", "Maka sebagai raja aku bisa menghabisi bidak bidakku sendiri", jelasnya sambil berjalan mendekatiku.
"Jangan sampai terjadi kejadian yang sama", "Donny bukanlah teman kalian lagi", "Dia jauh lebih gelap dan tak peduli membunuh kawan atau lawan".
Dokter Jassen melihat wajahku yang ketakutan, lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Lebih baik, cegah dia sebelum terlambat",
"Umurku sudah berakhir", "Jadi semuanya terserah kalian sekarang".
Pintu ruangan tertutup dan membuat kami sedikit tenang. Aku dan Ramko jatuh terduduk kebelakang akibat terlalu takut. Arina menutup matanya dengan kedua tangannya dan menangis keras. Ia langsung memeluk Mabel semenatara Linda panik dan mencoba menenangkannya.
Tiba-tiba dari luar terdengar jeritan dan suara panik orang-orang meminta tolong. Suara itu semakin membuat susana buruk semakin terpuruk.
Robot asisten Dokter Jassen langsung membuka pintu. Ia tak memberikan respon, hanya berdiri diam tak berkutik sedikitpun. Dari luar terdengar suara sirine ambulan juga tampak orang-orang mondar mandir didepan pintu sambil membawa alat medis.
"Kenapa?"
"Dokter, dia"
"Kenapa dengannya?"
"Dia sudah tiada".
"Apa maksudnya ini", "Hey jawab aku!", kata Ramko sambil mencekiknya lalu menyengatnya dengan tegangan tinggi.
"Ramko lepaskan dia!",
"RAMKO!!", bentak Mabel.
Ramko melepaskan robot yang sudah berasap itu dan pergi keluar ruangan. Sedikitpun ia tak menoleh ketika kami memanggilnya.
"Kamu tak apa?", tanya Linda sambil mendekati robot itu.
"Den-ngarkan i-ni", "Ini ad-dalah pe-san terak-khir dari beli-au".
"Ak-ku, tam-pak ceria ha-ri ini?", "Ya, se-akan aku ta-hu kej-jadian sel-anjutnya", "Shi-na, kam-mu adalah pe-mim-pinnya", "Sem-mua ada pa-damu",
"Ari-na, ini bu-kan salah-mu", "Ini pe-rintah dari-ku", "Aku-lah ya-ng sal-lah se-lama ini",
"Ka-lian se-mua se-kara-ng sud-dah be-bas", "Nik-mati hi-dup ka-lian ana-k ana-kku", "A-ku ak-kan me-nga-mati da-ri atas ber-sama yang la-in".
Mabel dan Linda langsung berlari keluar ruangan, meninggalkanku dan Arina yang terbujur kaku bersama robot itu. Kami berdua sama-sama merasa bersalah karena pernah melawan Dokter Jassen.
Sekarang tak ada lagi kesempatan untuk berkata maaf.
.......
.......
.......
Besoknya seluruh penduduk Aquopora berkabung karena kehilangan ilmuwan terkenal sekaligus terbaik yang pernah ada. Seluruh siaran TV menyiarkan pemakamannya dan juga,
"Besok, kita akan segera mengakhiri bencana ini", "Kami butuh doa dari kalian semua".
"Doa untuk manusia mutan kita, supaya bisa memenangkan pertempuran dan membawa kedamaian bagi kita",
"Era kita sebagai manusia belum berakhir disini", "Jadi bantulah kami untuk memanjatkan doa supaya kita bisa menang besok".
Kami memang di ciptakan untuk ini semua. Jika kami terlalu lembek, kami akan mati ditangan musuh. Pidato ini memberikan semangat bagi kami, bahwa era manusia masih dan belum tamat sampai disini.
__ADS_1