
Dari belakang mahkluk itu tiba-tiba muncul ledakan besar yang akhirnya mampu melukai dan membakar punggungnya. Mahkluk itu terkejut sekaligus melihat sebuah serbuk hitam. Sontak ia menyadari sesuatu dari serbuk itu. Didalam tas Okta terdapat sebuah sebuah bubuk mesiu dan terkumpul dalam satu tempat. Lalu bola api yang dilempar Okta hanya memicu ledakan mesiu itu dan bukan dipakai untuk menyerang.
Okta mengambil tongkatnya terjatuh pasca pukulan tadi dengan rantai apinya. Okta menunjukkan kemampuan lainnya, yaitu merubah tongkat itu menjadi panah api. Selanjutnya menembakkannya kearah mahkluk itu berulang kali.
Mahkluk itu meregenerasi luka-lukanya, ia kemudian mengeluarkan kuku-kuku tajam dari jari jemari tangannya seperti harimau. Dengan mudahnya ia menggaruk dan mematahkan hujan anak panah itu dengan mudah.
Mahkluk itu membalas serangan Okta dengan melemparkan bulu-bulu tajam dari sayam yang tumbuh dipunggungnya. Kekuatan yang sama, dimiliki oleh creatura. Okta segera menghindar dan terbang memutari mahkluk itu sambil sesekali menembakkan anak panahnya.
Bulu-bulu yang tak mengenai Okta berputar kembali mengejar Okta. Okta yang terkejut berniat menjauh, namun tiba-tiba dari bawah tanah muncul ular besar yang melilit badan Okta.
"Rasakan ini!", bentak mahkluk itu sambil menembakkan ribuan bulu-bulu tajam.
Untunglab Okta sempat menarik tangan kanannya. Ia merubah tongkat ditangannya menjadi perisai api untuk melindungi bulu-bulu didepannya. Beberapa bulu itu berhasil menembus perisai Okta dan menggores bagian wajah serta kakinya.
Okta yang kesal menggerakkan angin disekelilingnya lalu menciptakan angin topan yang menggulung monster itu di dalamnya. Mahkluk itu tak gentar, bahkan semakin memperkuat lilitan ular itu.
Okta melemas dan tidak berbuat apapun. Perisainya melemah, bersamaan dengan angin topan yang dibuatnya. Membuat lebih banyak bulu terbang melukai tubuhnya. Mahkluk itu tampak senang dan berhenti menerbangkan bulu-bulunya tanpa sedikitpun curiga terhadap Okta.
Melihat Okta lemas, mahkluk itu mulai mencengkram tubuhnya semakin kuat. Membuat Okta mengerang kesakitan. Tetapi, saat Mahkluk itu menarik tangannya. Ia merasakan adanya tali yang menjerat tubuhnya. Tanpa sengaja, penglihatannya yang tajam melihat tangan Okta yang menggenggam sesuatu di tangan kirinya.
"Hey! Apa yang kamu pegang itu?!", bentak mahkluk itu kepada Okta.
Ia kemudian mencabik-cabik tali itu. Di saat itu juga kesalahan yang fatal ia lakukan. Okta segera menyambarkan api ke tali itu dan membuat setiap potongannya berubah menjadi ledakan yang kuat. Ledakan itu membakar tubuh mahkluk itu dan melepaskan Okta dan cengkraman ular itu.
"Tadi itu hampir saja", ucap Okta dengan nafas tersengal-sengal.
"Padahal tali ini sudah kucabik kecil-kecil dan terlihat sedikit mesiu didalamnya, tapi kenapa?", pekik mahkluk itu sebelum suaranya tertutup suara ledakan.
"Aku sengaja terbang memutar bukan untuk mencari titik lemahmu, tapi melilitkan tali yang sudah kutaburi mesiu",
"Didalam tali itu sudah kumasukkan pemantik api, jika aku meledakkan tali itu, otomatis mesiu itu juga akan ikut meledak",
"Tali yang melingkarimu akan memberikan luka bakar dari segala arah",
"Rasakan itu!!", jelasnya meski kurang terdengar oleh mahkluk itu.
Ledakan itu membakar tubuh mahkluk itu dari segala sisi. Okta yang masih memulihkan diri tiba-tiba dilempar sebuah batu besar. Ia segera melompat melewati atas batu sambil memegangi wajah kirinya yang sobek terkena bulu tajam.
Mahkluk tadi yang sudah memulihkan tubuhnya. Didatangi oleh Kreza dengan bola-bola air yang terbang mengelilinginya.
"Bagaimana kamu bisa kalah melawan anak kecil seperti dia", ucap Kreza.
"Kakak... Dia... dia berbeda, aku terlalu meremehkan kepintarannya", ucap mahkluk itu.
"Kau memang tak bisa diharapkan!!", bentak Kreza.
Mahkluk berbadan besar itu menundukkan kepalanya kepada sesuatu yang lebih kecil darinya.
"Bola-bola air itu", "Sialan apa yang kau lakukan pada bibiku, HAH!!?", bentak Okta marah.
__ADS_1
Kreza mengeluarkan tongkat batu dari permukaan tamah dengan mata pisau petir berwarna keunguan. Tiba-tiba kilatan petir menyambar didepan mata Okta. Disaat itu juga Okta sontak menghindar dan menangkis serangan Kreza dengan tongkat besi baru saja ia ambil. Serangan yang tidak siap itu membuat tongkat besi itu patah menjadi dua.
Ketika Okta mendaratkan kakinya ketanah tiba-tiba ia disambar sebuah listrik yang muncul dari tanah. Serangan listrik yang cukup kuat itu membuat Okta jatuh tak berdaya.
"Aku sudah menaburi tanah ini dengan serbuk besi, sehingga menjadi konduktor bagi listrik dikakiku untuk mengalir dan ini berkat anginmu sendiri",
"Lihat Arza! Dia tak sepintar yang kamu bayangkan!", ejeknya kepada mahkluk itu.
Okta yang terbaring lemas diatas tanah menatap langit. Dari ketinggian tiba-tiba muncul sambaran api dan kepulan asap yang yang bergerak sedikit acak.
"Kebetulan sekali bukan? Dua pertarungan dalam satu tempat?",
"Saksikanlah ... pertarungan saudara sendiri!!", tutur Kreza diselingi gelakan tawa jahat sambil menatap kearah langit.
Okta duduk, ia lalu melihat kearah Kreza dan mahkluk tadi yang kembali mengalihkan pandangannya kepada Okta. Kreza tampak percaya diri sambil berjalan kearah Okta yang tampak lemas. Ia merubah bola-bola air disekitarnya menjadi sebuah pisau air dan mengambil salah satunya.
Okta tiba-tiba memunculkan rantai api yang menyelimuti tubuhnya. Tiba buah rantai muncul dari tanah di antara mahkluk tadi dan Kreza. Keempat rantai itu menghempas-hempas tanah dengan keras. Hempasan tanah itu menciptakan suara yang menganggu fokus pendengaran mereka berdua.
Okta menjerat kedua kaki dan tangan mereka dengan rantai api yang besar dan kuat. Selanjutnya Okta keluar dari pelindung rantai api dan menembakkan rantai api dari tangan kanannya. Rantai api itu menancap pada tanah yang cukup jauh dari sana. Dengan sekuat tenaga ia menarik tubuhnya dibantu tolakan angin yang keluar dari tangan kirinya.
"Namamu Kreza bukan?", ucap Okta tiba-tiba.
Kreza mengerutkan alisnya kemudian berkata,
"Kau menghentakkan tanah untuk menganggu fokus pendengaran kami? Aku sudah tahu itu, aku tak sebodoh Arza", tutur Kreza dengan sombongnya.
"Jadi Kreza, kata-katamu selanjutnya adalah, trik bodohmu tidak akan mempan kepadaku, begitu!!", pekik Okta sambil tersenyum.
"Trik bodohmu tidak akan mempan kepada- A-APA?!!", Kreza terkejut karena Okta menebak kata-katanya
"Lihatlah kelangit!!", ucap Okta sambil menunjuk kearah langit.
Diatas sana tampak Shina dan Lava yang masih bertarung diatas langit. Duel mereka sangat agresif dan berpindah-pindah tempat dengan sangat cepat.
"Kedua kekuatan api bertarung? Memangnya kenapa?", ujar Kreza kasar.
"Perhatikan lagi!!", balasnya santai.
Tiba-tiba rantai api menghentak semakin keras. Dari atas langit, mahkluk yang dipanggil Arza tadi melihat sebuah bulu tajam dan berapi terbang kearahnya. Ia mencoba menghindar, namun ditahan oleh rantai api milik Okta. Akhirnya bulu yang terbang itu dan menancap sangat dalam ke pundaknya.
Bulu yang jatuh tadi diikuti oleh bulu-bulu lain yang serupa. Membuat mahkluk itu terpaksa menutupi tubuhnya dengan cangkang kerang yang tumbuh dari atas pundaknya.
"Kau mengeraskan hentakan rantai sehingga kami tidak bisa mendengar suara bulu yang memecah angin dilangit!!?"
"Sangat benar!!", "Dan yang lebih epik lagi, bulu-bulu ini adalah milik saudaramu sendiri!!"
"Gawat, berapa banyak bulu yang kamu lepaskan, Arza!!", bentaknya kearah mahkluk tadi.
"Sialan, aku terlalu banyak mengeluarkannya!!", "Aku tak menduga dia akan memakai trik gila ini!!"
__ADS_1
Jutaan bulu tajam dan panas terjun bebas kearah kedua mahkluk itu. Seketika langit berubah menjadi merah dan terang. Kreza segera menciptakan batu besar, kokoh, dan tebal diatasnya. Batu itu kemudian ditompang oleh empat tangan air.
"Sayang sekali ini hanyalah bulu, batuku dan kecepatan regenerasi Arza mampu menanganinya!", ucapnya Kreza sombong.
"Oh ya? Kalau begitu bagaimana jika kecepatannya kutambah?!"
Okta menerjutkan angin yang sangat sangat kuat kebawah tanah, yang membuat bulu-bulu itu semakin panas dan terjun lima kali lebih cepat dari sebelumnya. Saking cepatnya cangkang kerang Arza dan batu besar dan keras Kreza mampu porak-poranda.
"RASAKAN INII!!!"
Okta meningkatkan kecepatannya lagi menjadi dua putuh kali lipat. Saking cepatnya angin itu, hingga membulu-bulu itu berubah menjadi peluru api. Sebab gesekan antara bulu dan angin, menciptakan suhu yang sangat panas. Secara otomatis bulu api itu naik suhunya beberapa derajat akibat gesekan itu.
Melihat batunya yang mulai hancur dihantam peluru bulu. Membuatnya menciptakan batu yang lebih kokoh dan sangat kuat. Okta tersenyum, ia sudah menebak Kreza akan melakukan itu. Untuk sejenak Kreza cukup senang karena batu ini tak mampu ditembua oleh bulu-bulu itu, namun siapa sangka. Batu yang kokoh ini sangat berat, belum lagi Okta juga menambahkan kekuatan anginnya tadi. Tangan air Kreza mulai remuk karena ditusuk-tusuk angin bertekanan tinggi dan menopang batu yang sangat besar.
"Sialan, aku benar-benar meremehkannya!!", gumam Kreza yang tampak menderita.
Kreza melihat Arza, betapa terkejutnya dia ketika melihat Arza yang sudah terduduk kaku ditanah sambil berlindung dibawah cangkang kerang yang sudah porak poranda. Arza membiarkan bulu-bulu itu terbang merobek tubuhnya. Ia hanya mampu terus meregenerasi tubuhnya secepat mungkin. Jika tidak dia akan binasa ditusuk peluru-peluru bulu ini.
"ARGGH, Aku harus kabur dari sini!!"
"Mau coba kabur dengan menggali tanah, HAH?!!", "Lihat tanah dibawahmu itu!!", suara Okta terdengar samar karena terpaan angin kuat.
Dibawah kaki Kreza tampak bulu-bulu yang masih terbakar menancap di tanah.
"Karena aku mengangkat batu ini, aerodinamika dari angin ini mengumpulkan bulu-bulu kebawah kakiku?", pekik Kreza.
"Benar sekali!!", "Dan semua bulu-bulu ini sudah kuisi dengan pemantik api yang lebih kuat!!", ucap Okta bersemangat.
"Arza! Aku yakin kamu yang punya pendengaran tajam juga akan mendengar suaraku!!", tambahnya.
Beberapa bulu Arza yang mengenai Okta membawa tetesan darah milik Okta. Okta sebelumnya mengumpulkan bulu-bulu yang terjatuh atau lepas kendali dari Arza ke langit sambil menyatukan mereka menjadi satu.
Penyatuan itu sekaligus membuat bulu-bulu yang lain ikut terinfeksi oleh bulu yang sudah diberi pemantik api oleh Okta. Kreza tidak menebak bisa benda besar itu karena warnanya yang putih dan letaknya yang tinggi dilangit. membuatnya tampak seperti awan.
Okta menghentakkan tangannya ke tanah, ia kemudian terbang dengan angin dengan sangat cepat. Saking cepatnya sampai-sampai tercipta sebuah ledakan suara kuat yang disebut sonicboom.
Kreza yang marah besar, mencoba melarikan diri dengan cara meremukkan menggali tanah. Disaat itu juga Okta menjatuhkan semua bulu secara bersamaan, sehingga menciptakan bulu panas dan cepat yang sejajar membentuk sebuah tembok putih. Bulu-bulu dekat dengan Kreza menancap ditangannya sehingga membuatnya tidak bisa memnggerakkan tangannya. Dan...
BLEGARRR
Ledakan yang luar biasa besar tercipta dari setiap bulu yang meledak secara bersamaan. Kilatan petir muncul dari langit dan kepulan asap berbentuk jamur hitam tubuh dengan cepat disana.
"Aku memang lemah, tapi bukan berarti aku ini bodoh!!", gumam Okta.
.
.
"Argh, benar juga aku harus mencari ayahku!"
__ADS_1