The Last Era

The Last Era
Act 30 [Fin Wyan]


__ADS_3

Hasil perbincangan dengan para pegawaiku dan paman. Kami semua akhirnya sepakat untuk membuatkan senjata militer.


"Baiklah, tak ada yang perlu ditanyakan lagi", "Semuanya pulang, hati hati di jalan", perintahku.


"Siap tuan".


Para pegawai pulang dan menyisakan kami bertiga.


"Fin, ayo pulang".


"Nggak, mau tinggal disini".


"Kenapa?", tanya Paman Wyan keheranan.


"Tempat disini bersih dan rapi", "Mana nyaman pula".


"Sekolahmu bagaimana?", "Libur dulu sehari, izin saja sakit", jawabnya marah.


"Ya sudahlah",


"Ken?"


"Iya pak?"


"Jagain Fin ya?".


"Hmm okelah", "Saya bisa tidur di garasi ngomong-ngomong", jawabku dengan berat hati.


"Sudah ya, saya pamit dulu".


"Bukan itu paman", " Tapi, bagaimana cara paman pulang?", "Paman bukannya tidak bisa menyetir".


"Jangan hina paman", "Badan boleh tua tapi kepala masih tajam", jawabnya sambil menunjuk-nunjuk kepalanya.


Paman Wyan langsung pergi ke mobilnya.


"Pintunya dimana ya?", "Oh ini dia", "Oke tekan tombolnya".


Kami berdua melihat Paman Wyan dengan muka datar tidak yakin. Kami tahu kalau Paman Wyan tidak akan bisa membawa mobilnya sendiri.


"Paman, itu tombol bagasi", ucapku datar.


"Oh iya, kalau begitu yang ini", balasnya sambil menekan sembarang tombol.


Alarm mobil berbunyi dan tidak bisa dimatikan. Paman Wyan terlihat panik dan memukul-mukul mobilnya. Fin yang mulai kesal, langsung mendorong Paman Wyan masuk ke mobil.


Aku ragu dan takut kejadian apa-apa dengan Fin dan Paman Wyan, akhirnya ikut bersama mereka.


Aku mengunci pintu toko dan segera masuk ke mobil. Fin langsung tancap gas dan masuk ke jalan raya.


"Maaf ya, Fin", "Paman sudah tua".


Fin tetap mengunci mulutnya dan terus menyetir.


"Ee..Tidak apa apa tuan", "Mungkin bisa dicoba lagi disiang hari", balasku.


Mobil ini jauh lebih besar dari pada mobil di Lubina. Mungkin karena ras yahna memang besar-besar dan tinggi-tinggi. Berbeda dengan manusia dan ras yadewa.


"Pak, yang benar itu ras yahma atau yahna?"


"Sama saja", "Yang membuat beda cuma orang Lubina atau orang Rowl dan Inaba yang menyebutnya".


"Oo", aku bertanya mencoba memperbaiki suasana.


Sesampainya di rumah atau toko Paman Wyan. Aku membantunya keluar dari mobil sambil membawakan barang-barangnya. Sementara Fin memarkirkan mobilnya dan menunggu diluar.


Aku tak menghiarukannya dan tetap melakukan tugasku. Setelah selesai mengantar Paman Wyan, aku menuju terminal dengan Fin untuk kembali ke tokoku di kota Rowl.


Fin tampak merasa lega dan senang mengikutiku. Mungkin karena disini ia sering disuruh bersih-bersih toko, sama sepertiku dulu. Sementara, di tokoku bersih karena ada pegawai yang membersihkannya.


Kembali ke tokoku, aku langsung saja menuju ruang kantor. Aku juga menyuruh Fin untuk tidur di kamarku.


Aku membuka ponselku, melihat-lihat ada pesan atau tidak. Kepalaku mulai berat dan tak sengaja tertidur.


Namun, aku terbangun beberapa menit setelahnya ketika tangan robotku rusak karena konsleting dan tua. Aku segera melepasnya dan melihat loncatan kilat biru yang semakin kabur.


Aku mencoba mengaktifkannya lagi. Tapi kilat itu hanya tajam sebentar dan menghilang dari tanganku. Kucoba memanggil petir itu lagi, tapi tak bisa.


"Artinya elemen itu hanya tersimpan sementara",


"Bagaimana dengan api?"


Tanganku bisa mengeluarkan api dan masih tajam. Mungkin karena aku yang jarang menggunakannya atau elemen petir yang tidak cocok dengan tubuhku, aku tidak tahu.


Karena sedang malas mencari tahu, aku memutuskan untuk membiarkannya saja. Aku membuka-buka laci mencari rangka luar tangan robot untuk kupasangkan ke tanganku.


Tangan robot ini berfungsi sebagai penyamaran. Dari pada memutus tanganku dan menggantinya dengan tangan robot. Lebih baik aku menutupi tanganku dengan rangka luarnya saja.


......\=......


"Ken", "KEN!"


"Apa?"


"Ini ada sup, buat sarapan", "Dimakan ya".


"I..ya", jawabku malas.


Jam menunjukkan pukul 6, cahaya bintang masih belum datang. Juga masih 1 jam lagi toko baru buka.


Kulihat Fin sibuk menyapu lantai dan membersihkan laci dengan kemocengnya.

__ADS_1


"Kukira kamu tidak suka bersih-bersih?", tanyaku.


"Sudah kebiasaan", "Kayaknya aku nggak pernah bilang gitu".


"Ooo, maaf",


"Bagaimana sekolahmu nanti?", tanyaku.


"Aku sudah kirim surat ijin ke sekolah".


"Ooo".


Aku memakan sup yang dibuatkan Fin. Rasa supnya luar biasa enak, bahkan jauh lebih enak dari pada direstoran.


"Rasanya mantap, Fin", aku mengacungkan ibu jariku.


"Terima kasih", "Aku nggak tahu kalau Ken suka sup".


BLIP BLIP


Teleponku berbunyi ditengah-tengah makan. Tiba-tiba sebuah baut melayang dan menghantam kepalaku.


"Jangan teleponan sambil makan! Itu tidak sopan!", bentaknya serius.


"Ah maaf", jawabku sambil mengusap-usap kepalaku.


Ia melanjutkan membersihkan seisi toko. Aku mempercepat makanku supaya bisa segera membuka ponselku.


Satu jam kemudian aku membuka toko. Tapi aku heran, kenapa tidak ada pegawai yang datang. Aku membuka teleponku dan bertanya pada salah satu pegawaiku.


'Bukannya tokonya ditutup dulu pak? Katanya mau membuat senjata militer'


'Oh iya aku lupa, maaf ya'


'Ngomong-ngomong tadi saya lewat depan rumah bapak. Istri bapak rajin ya, bagun pagi-pagi buat nyapu halaman'


'Istri?', 'Bukan, itu Fin Wyan, keponakan Tuan Wyan'.


'Sejak kapan kalian menikah?'


'Sudah kubilang itu bukan istriku. Aku ini masih lajang'


Aku langsung menutup teleponku dan mengabaikan pesan baru darinya. Kulihat Fin asyik bermain dengan teleponnya.


Fin, Dia lebih tinggi dan berbeda ras dariku. Memang pintar masak dan bersih-bersih, tapi dia masih kusebut bocah ketimbang anak remaja. Aku tidak tahu kalau ras yahma dan yadewa di bolehkan menikah.


Aku mengecek teleponku lagi dan mendapat pesan dari partner jenderal kemarin.


'Tuan Ken, anda sudah ditunggu di pabrik senjata. Istri bapak sekalian dibawa juga tidak apa-apa'


"SUDAH KUBILANG AKU INI MASIH LAJANG!!", teriakku kesal.


"Ken, kamu kenapa teriak-teriak?!", tanya Fin terkejut.


......\=......


Didalam kereta Fin bertanya banyak hal kepadaku. Aku menahan malu dan menjawabnya dengan pelan.


"Ken, kenapa namamu Wyan?", "Apa kita saudara?"


"Kebetulan saja nama kita sama".


"Kebetulannya keren sekali ya?" "Bisa seperti ... ya?"


Kereta cepatlah sampai, keluarkan aku dari penderitaan ini. Fin tidak berhenti berbicara dan terus bertanya kepadaku.


Sesampainya pintu gerbang di pabrik senjata kami langsung di sambut orang itu. Ia memakai jas rapi dan didampingi oleh robot berukuran besar dengan mata merah menyala.


"Ikutlah denganku tuan".


Pabrik penuh dengan orang-orang yang bekerja. Mereka semua rata rata bertelinga kucing, rubah atau panda.


Kuku mereka ada yang panjang juga ada yang pendek. Tubuh mereka juga bermacam-macam, ada yang berbulu ada juga yang serupa dengan manusia.


Yang jelas mereka semua tinggi-tinggi, bahkan lebih daripada Fin dan enggan melihatku lama-lama. Mungkin karena ras atau spesies yang berbeda.


Kami kemudian dipertemukan dengan bos dari kantor ini. Ia tak begitu semangat ketika melihat tubuhku yang murip dengan manusia.


Ia lalu membawa kami ke gudang senjata sambil menunjukkan beberapa senjata. Fin tampak sangat senang melihat puluhan riffle dan pistol plasma yang berjejer di pajangan. Sampai-sampai ia menggeretku untuk mendekati senjata itu.


"Hahaha, sepertinya istrimu senang dengan senjata-senjata disini ya?", tanya bos itu.


"Itu bukan istriku", "Dia keponakan Tuan Wyan, pemilik utama toko kami", jawabku kesal.


"Oh maaf pak".


Tak sengaja mataku melihat sebuah senjata riffle plasma yang menarik bagiku. Aku langsung saja mengambilnya dan melihatnya dari dekat.


"Boleh aku coba ini?"


"Tentu saja".


Aku melihat onderdil milik senjata lain dan kucoba kupasangkan ke riffle plasma tadi. Ternyata cocok dan langsung menyatu.


Aku memasukkan peluru dan menguncinya. Onderdil pecahan yang kuambil tadi pecah menjadi empat, lalu melayang di tiap pojok senjata membentuk silang. Dari ganggang senjata itu keluar sebuah borgol yang langsung mengunci kedua tanganku.


"Tuan Ken", "Senjata gabungan itu tampak rapuh dan punya potensi meledak", kata partner jenderal itu.


"Sayangnya senjata ini sudah mengunci di tanganku", "Jadi aku harus menembakkannya untuk melepaskan ini", jawabku santai.


"Baiklah", "Dimana targetku?"

__ADS_1


"Uh.. baik pak, lewat sini", kata bos itu.


Bos itu membawa kami ke lapangan uji coba senjata. Lapangan itu berisikan batuan cadas dan pasir sehingga tidak bisa terlahap api. Tampak beberapa pegawai disana melakukan ujicoba pada senjata atau zirah yang lain.


"Ken?", tanya Fin ragu.


"Tenang saja, Fin", "Aku yakin ini berhasil".


Aku menyuruh yang lain menjauh dariku. Targetku berupa sebuah robot berukuran sedang. Para pegawai di lapangan itu berhenti bekerja dan menontonku.


Aku menarik setengah pelatuknya, seketika plasma itu menyala dan mengumpulkan plasma di depannya. Setelah plasma biru itu menumpuk, aku langsung saja menarik penuh pelatuknya.


Seketika sebuah garis cahaya berwarna biru menyala, terbang dan menuju target. Target langsung meledak dan hancur berkeping-keping. Ledakkannya mampu membuat tiang-tiang lampu bergetar dan menghasilkan dentuman yang sangat keras.


Orang-orang disana terkejut tak terkecuali Fin. Semua orang takjub dengan senjata itu. Tapi aku merasa kosong karena seperti memainkan sebuah pistol bongkar pasang.


"Keren Pak Ken!", teriak Rezzi, partner jenderal itu.


"Hahaha, rasanya seperti menumpuk batu-batu untuk membuat karya seni", jawabku sambil tertawa.


Aku melihat Fin yang tampak ingin sekali memakainya.


"Fin! Mau coba?".


"Apa aku boleh mencobanya, Ken?", ucapnya semangat.


"Silahkan", jawabku sambil berjalan kebelakang kembali sekaligus memberikan riffle itu.


Fin segera berlari ke arahku dan mengambil senjata itu dari tanganku. Aku mengisikannya tabung plasma baru dan menjauhinya. Fin langsung mengarahkannya ke target dan menarik pelatuknya.


Namun senjata itu tidak mau aktif. Fin keheranan dan menarik pelatuknya berulang-ulang. Tiba-tiba tangan Fin terkunci sangat kuat, lalu dari riffle itu keluar sebuah kabut berwarna kebiruan.


"Pak Ken, ada yang bahaya", "Jauhkan dia sekarang juga!", "Senjata itu sudah mulai tidak stabil", perintah partner jendral itu.


"Tabung plasma yang di pakainya sepertinya bocor", jawab bos pabrik itu.


"Rez, cepat panggilkan bantuan!"


"Baiklah".


"Gawat", aku langsung berlari kearah Fin.


"Tuan Ken jangan mendekat, menjauh dari situ!"


Pegawai lain di sekitaran situ juga ikut masuk ke kabut, mencoba menolongnya. Fin mencoba segala cara untuk melepaskan riffle itu. Namun, pengunci pegangan senjata itu tidak akan mau lepas jika peluru belum ditembakkan.


Kabut plasma itu memenuhi lapangan dan memperpendek jarak pandang. Para pegawai yang mencoba mendekatinya menarik mundur langkah mereka.


Karena aku takut di marahi Tuan Wyan jika terjadi sesuatu dengan Fin. Aku terus berlari mendalami kabut biru itu.


Didalam kabut biru tersebut, semua orang menghilang dari jarak pandang. Aku memakai kesempatan itu dengan menjulurkan syal yang ada di perutku dan membentuk roket plasma di kakiku.


Aku langsung meledakkan roket itu dan langsung berpindah tepat di sampingnya. Syal merahku bercabang dari dalam bajuku dan keluar melalui lengan bajuku.


Aku yang melihat Fin yang ketakutan dan kebingungan, segera menerbangkan syalku kearahnya. Aku mengikatnya dan melemparnya ke langit setinggi tingginya.


Ujung syal itu berubah menjadi runcing dan aku tebaskan ke alat tambahan pengunci tangan Fin.


Aku membelah syalku lagi dan melebarkan ke sekujur tubuhku.


Sayangnya, tanpa sengaja tabung plasma riffle itu ikut tergores. Belum sampai sempurna penutupannya, tabung senjata itu sudah meledak.


Instingku langsung saja menangnangkisnya dengan tangan kiriku yang tertutupi logam. Penutup logam tanganku meleleh dan bajuku koyak terbakar. Ledakkan itu juga mementalkanku jauh hingga ke luar dari kabut.


Aku melihat Fin terjun bebas ketanah dan meledakkan roketku. Aku langsung menangkapnya dengan tangan kedua tanganku.


Aku membungkusnya dengan syalku sekaligus merobek syal yang masih berhungan denganku. Syalku itu menahan benturan, sehingga hanya memberikan sedikit luka pada Fin.


Sementara aku terlalu cepat melesat ke tanah sehingga aku tak sempat mengerem. Aku mengorbankan tangan kiriku dengan menghantamkannya ke tanah untuk menghindari tubuhku berbenturan langsung dengan tanah.


Sayangnya aku lupa jika syalku belum sempat membungkus tangan kiriku. Sehingga tanganku langsung membentur kerak cadas itu hingga menghasilkan kawah yang cukup besar.


Aku melepaskan ikatan kain merah yang membungkus Fin. Menampakkan kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri. Aku memaksa mengangkat badanku yang penuh luka benturan dan bakar.


Aku menggunakan syalku untuk mengangkat Fin ke atas langit. Menyadari penyamaranku dan Fin yang terikat seperti menjadi sanderaku, puluhan penjaga penuh senjata dan zirah tebal datang mengepung kami.


"Tunggu!", "Kalian boleh membunuhku", "Tapi, bawa dia pergi".


"Master apa kami boleh membunuhnya sekarang?", telepon salah satu penjaga lewat helmnya.


"Jangan", "Tahan dulu!", terdengar sebuah suara entah dari mana.


Tiba-tiba Fin terlepas dari syalku dan terbang ke bagian belakang penjaga. Aku tak mampu menahan emosi akhirnya melepaskannya saja.


Syalku langsung berubah warna menjadi biru menyala dan membentuk kanon di tanganku. Tubuhku terbakar biru terang yang memicu para penjaga untuk menembakiku.


"Hentikan serangan kalian!!"


Aku yang menghindari tembakkan itu seketika terhempas ke tanah. Badanku terasa berat dan tidak bisa di angkat. Para penjaga itu berhenti menyerang dan menjauhiku.


Seketika gravitasi menjadi ringan yang membuatku langsung melayang ke atas. Lalu sebuah kilatan merah muncul didepanku. Seseorang berjubah putih langsung menendang perutku.


Ia memegang tanganku dan langsung membantingku ke tanah berulang kali. Ia mencampakkanku kelangit dan menendang dadaku sangat kuat hingga membuatku membentur dinding pembatas lapangan.


Aku membuat roket dan meloncat ke langit dengan tenaga yang tersisa. Seketika ia langsung saja berpindah menghadangku di langit.


Aku menusukkan syalku kearahnya. Tapi ia perpindahke atas badanku dan menjejakkan tangannya ke punggungku. Sekali lagi aku membentur tanah.


"Bangun!", perintahnya kasar.


Aku tak mampu lagi mengangkat badanku yang penuh dengan darah dan luka.

__ADS_1


"Mutan elemen ternyata sangat lemah", "Kalian cepat bawa dia ke perawatan!", "Kita perlu mendengar lebih panjang ceritanya".


__ADS_2