
"Hey, bangunlah!"
Aku membuka mataku yang masih terasa perih. Lalu melihat orang yang menghabisiku tadi. Tubuhnya setinggi dengan Fin, dengan jubah putih yang menutupi wajahnya.
Aku ditempatkan diruangan yang gelap dan hanya ada sebuah lampu dikepalaku. Aku melihat semua anggota tubuhku dan menemukan kalau tangan kiriku sudah hilang ada. Aku menggerakkan syalku, tapi syalku tidak bisa digerakkan.
"APA MAUMU?!", tanyaku marah.
"Tidak ada, hanya mencoba mengetahui kekuatan asli dari manusia mutan", jawabnya.
"Kau juga punya kekuatankan?", "Artinya kita sama", "Mengapa kau malah menyerangku?", tanyaku.
Ia tertawa kecil.
"Tidak salah juga", "Aku diciptakan memiliki kekuatan psikis dan bukan elemen seperti kalian".
"Bagaimana kau mengetahui kami?"
"Mudah saja, aku adalah hasil kreasi yang lepas kendali",
"Sekarang kita sama bukan?"
"Tutup mulutmu dan langsung saja ke intinya!"
"Aku ingin kau", "Bergabung denganku".
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Begini saja", ia menarik sebuah gambar dari mejanya dengan telekinesis, lalu menunjukkan 2 buah gambar gadis hadapanku.
"Pilihlah salah satu!"
"Arina? Fin?"
"Benar", "Aku bisa saja berpindah ke sana dan menusuk mereka dari belakang"
"Jangan apa-apakan mereka", "Apa yang kau mau?", tanyaku semakin marah.
Ia memutus semua tali yang mengikat tubuhku, lalu membelakangiku.
"Untuk pertama-tama aku ingin kamu membunuh seisi kapal manusia yang sampai beberapa waktu silam".
"Mana mungkin", "Aku tidak mungkin mau membunuh manusia yang sama denganku".
"Kalau bergitu ucapkan selamat tinggal pada kedua orang ini".
"Cih, baiklah aku ikut",
"Dimana Fin sekarang?", bentakku.
"Oh kau akan tahu dengan yang satu itu".
"Apa yang kau lakukan dengannya?"
"Tidak ada".
"Siapa kau sebenarnya?"
"Mungkin kamu akan mengenalku", ia menarik jubah yang menutupi kepalanya dan menambakkan wajahnya kearahku.
"Afton?", "Bukankah kamu sudah mati?"
"Afton?", "Pasti kamu mengiraku sebagai teman lemahmu itu", "Aku adalah Erkan!",
"Kami berdua berasal dari gen yang sama, hanya di mutasikan dengan cara yang berbeda",
"Bisa dibilang aku adalah kembarannya dengan kekuatan psikis",
"Sebelum pergi aku perlu menghiasmu dulu".
"Mau dimanakan aku?!"
"Santai saja, aku hanya akan mengubahmu".
Tiba-tiba, aku langsung dijerat dengan tali dan diseret oleh dua robot besar. Mereka membawaku ke sebuah ruangan besar yang berisi banyak sekali tangan dan kaki robotnik.
Disana aku di beri pakaian dan tangan robot. Tangan robot ini mampu digerakkan seperti tangan biasaku. Hanya saja masih sulit mengontrolnya. Aku dituntun oleh mereka ke Erkan di ruangan yang lain.
"Selamat datang partner baruku", katanya senang.
"Jangan panggil aku partnermu!", tangkisku.
"Kamu masih belum sadar seberapa kejam manusia itu?"
"Kami tidak kejam".
"Jangan mengelak!",
"Boleh kutebak berapa banyak kebencianmu kepada temanmu?".
Aku tidak mau menjawabnya.
"Sepertinya kamu masih keras kepala", "Kemarilah! Ikuti aku!"
Erkan menuntunku olehnya ke ruang basement yang gelap. Tempat itu sangat jauh dari para pekerja dan terletak di tempat terdalam.
Remang-remang didalam basement itu tampak sebuah benda berbentuk lingkaran terjepit di antara dinding ruangan basement.
Erkan langsung berpindah ke depan pintu menguncinya dengan suatu alat khusus. Ia juga mengangkatku dengan telekinesisnya dan melayangkanku ke dalam mesin itu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Diamlah", balasnya sembari menutup pintu benda ini dan menekan-nekan layar monitor.
Benda ini kemudian menyala dan berguncang. Aku tidak mampu berpegangan dengan benar karena syalku masih beku dan aku belum biasa dengan tangan baru ini.
Tak lama kemudian, seisi ruangan berhenti berguncang. Lampu ruangan benda ini mati semua dan hanya menyisakan lampu merah yang berkelap-kelip.
Erkan langsung menendang pintu alat itu dan mengeluarkan tubuhnya. Pembeku syalku tiba-tiba mencair dan membuatku bisa bergerak sedikit normal.
Teleponku bergetar dan hidup mati. Aku membentur-benturkannya ke dinding. Namun, telepon itu tetap malfungsi. Aku keluar dari sana dan meninggalkan teleponku.
"Lihatlah disana!", tunjuk Erkan ke arah tabung-tabung logam raksasa yang tampak seperti sebuah koloni.
"Salju?", "Dimana ini?", tanyaku.
"Bumi, 2 jam sebelum invasi".
"Bumi?", "Tunggu dulu!", "Apa maksudnya alat ini adalah mesin waktu?"
"Ya, benar sekali", "Mesin waktu tidak bisa dipakai untuk mengubah nasib",
"Jadi, apapun usahamu untuk melindungi bumi",
"Hasilnya akan sama saja".
"Lalu?", "Kenapa kamu membawaku ke mari?"
"Itu dia",
__ADS_1
"Kau lihat saluran pipa yang menempel di dinding tempat koloni itu?"
"Ya".
"Masuklah ke dalam situ, aku akan mengikutimu".
Aku dan Erkan menyelinap melewati gerbang masuk koloni melalui pipa udara. Setelah cukup jauh, Erkan berhenti berjalan dan menyuruhku memegang kakinya.
Saat kupengang kakinya, kami sudah berada di pipa yang berbeda. Lebih luas dan dingin. Tampaknya Erkan meneleportasiku untuk lebih cepat sampai ke suatu tempat tujuan.
Ketika ruangan dibawah kami sepi, Erkan menjebol ventilasi pipa. Ia kemudian keluar dari tempat itu dan melumpuhkan seorang pekerja labolaturium.
Aku turun dari ventilasi itu lalu mendarat dengan cukup keras. Erkan tiba-tiba mengunci sebuah lemari dan melemparkanku sebuah pakaian putih dan sarung tangan yang cukul panjang.
"Menyamarlah, lalu pergilah ke ruang uji coba!",
"Aku akan kembali 2 jam lagi".
"Oi! Erk-", ia menghilang duluan.
Tanpa pikir panjang aku memakai semua baju dan semua perlengkapannya. Setelah selesai, aku keluar dari ruangan itu. Ruangan itu bertuliskan ruangan ganti.
Orang-orang disana bergerak cepat. Mereka berlari seperti kepanikan.
"Joey", "Akhirnya aku menemukanmu",
"Cepat!", "Kita harus memilah mana manusia mutan yang harus tinggal", seorang petugas yang berpakaian sama denganku langsung menarik tanganku sambil berlari.
Aku dibawa ke ruang pengamatan pengujian. Sementara ruang pengujian berada di bawahku. Disana banyak sekali orang-orang yang ikut mengamati. Di ruangan pengujian, aku melihat semua teman-temanku termasuk Afton dan Nadia.
Hanya saja, aku tidak tahu mana yang asli, sebab setiap temanku memiliki klona. Wajah dan perawakan mereka persis.
Mereka di pisahkan dan dibagi menjadi dua tim. Kedua tim itu kemudian di tarungkan dengan klonanya. Mereka bertarung mati-matian sampai memiliki banyak luka ditubuh mereka.
Aku mencoba menahan rasa benci dan marahku. Tiba-tiba seseorang datang dan langsung membisikkan ke telinga ketua yang memakai jas hitam rapi. Ketua itu langsung menundukkan kepalanya.
"Semuanya dengar sini!"
"Saya sangat menyesal mengatakan ini", "Tapi ada sesuatu yang harus aku katakan pada kalian",
"Kalian tahu Donny?"
"Iya pak", "Dia dikonfirmasi tidak bisa memiliki elemen",
"Meskipun tubuhnya positif membentuk elemen atau kekuatan psikis",'
"Sampai saat ini, tanda-tanda itu masih belum muncul",
"Dan kita akan, sudah kehabisan waktu",
"Kalian memilih menyimpannya atau memusnahkannya?"
"Tidak", aku tak sengaja berbicara.
"Ada apa Joey?"
"Bukankah itu terlalu kejam?", "Apalagi ia masih remaja".
Semua orang melihatku dengan tatapan aneh..
"Joey, kita sudah membuat perjanjian bukan?",
"Jika kita harus mendinginkan hati jika sampai disini".
"Lagipula ini hukum alam Joey", "Siapa yang kuat akan berkuasa".
"Setelah pengujian ini", "Bawa mereka yang bertahan ke peti waktu",
"Jangan lupa untuk menghapus ingatan mereka", sambung ketua itu.
Tiba-tiba suara alaram berbunyi dengan keras.
BAHAYA SERANGAN
SEMUA ORANG SEGERA MENGUNGSI
SEMUA PETUGAS KEAMANAN SEGERA BERSIAP MENGHADAPI SERANGAN
"Ini perintah langsung dariku!!"
"Regu A bawa mereka yang masih tegak ke penghapus ingatan!",
"Regu B segera siapkan peti waktunya!",
"Regu C panggil bantuan untuk melindungi peti-peti ini!"
"Siap pak", jawab semua orang.
Kami semua langsung berhamburan mengerjakan tugas kami masing-masing. Ketika mereka sedang sibuk sendiri-sendiri, aku menggunakan kesempatan itu untuk memisahkan diri.
Teman-temanku yang selamat setelah diadu, dibawa ke dalam alat penghapus pikiran dan dimasukkan ke peti. Sementara yang terkapar dibiarkan begitu saja.
"Hey, yang ini mau kau apakan?", tanyaku pada seorang pekerja terakhir yang pergi meninggalkan ruangan pengujian.
"Biarkan saja", "Mereka sudah gagal".
Perkataan itu membuatku semakin marah. Tiba-tiba orang itu terhempas ke dinding dan tertusuk batuan lancip. Ketika aku mengecek ke belakang, tampak Erkan muda yang sekarat mengarahkan sebuah pecahan logam ke arah wajahku.
"Tunggu dulu Erkan", "Aku datang untuk menyelamatkanmu".
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja".
"Wajahmu seperti Andrew", "Baiklah aku percaya".
Ia kemudian melemparkan senjatanya dan menarik semua tubuh teman-temanku ke arahnya. Aku langsung memecah syalku dan melayangkan setiap pecahan itu ke setiap tubuh temanku.
Mereka dan Erkan kemudian kuikat lalu kubawa terbang. Atap-atap ruangan runtuh satu persatu, dan pipa-pipa mengeluarkan uap.
Tiba-tiba, puluhan cyborg dan robot bermacam-macam ukuran menembakiku dari bawah. Aku langsung membawa mereka semua bersembunyi dibelakang dinding.
"Andrew! Kau bukan Andrew", "Yang jelas kamu harus, menyelamatkan Andrew".
"Mengapa?", jawabku sambil sesekali menembaki mereka dengan kanon plasmaku.
"Karena dia satu-satunya teman kami yang setia", "Dia telah dianggap gagal dan akan dibuang".
"Sial", "Dimana lokasinya?"
"Di tempat penghancuran dibelakang".
Mereka menggunakan zirah dan tameng sehingga mampu menahan plasmaku. Mereka juga terus berdatangan dan membuatku kewalahan.
"Mereka semakin dekat".
"Akan kuhempaskan mereka".
Hempasan Erkan tidak begitu kuat karena kehabisan tenaga. Mereka juga mulai menembaki dinding sedikit demi sedikit. Aku terpaksa untuk menggunakan kekuatan kristal untuk mempertahankan posisi kami.
__ADS_1
Ketika kami semakin terdesak. Tiba-tiba sebuah monster tanah bersenjata trisula petir mendobrak masuk pertahanan musuh. Trisula itu kemudian meledak dan membuat semua lampu mati total.
KERUSAKAN FATAL TELAH TERDETEKSI
MEMBUKA SELURUH KATUP DAN ATAP SECARA OTOMATIS
Monster batu itu kemudian hancur karena ledakan itu. Tak lama kemudian, sebuah garis api berbentuk sabit berwarna kekuningan menyambar menebas rombongan itu.
Aku mengecek semua temanku yang terikat. Namun, mereka sudah menghilang dan bisa menyerang musuh. Aku bisa melihatnya ketika sedikit cahaya bulan mulai menerangi.
"Kalian tidak apa-apa?", tanya Arina kepadaku.
Iris matanya bercahaya putih dan menatapku dengan muka datarnya. Dari belakangnya tampak Mabel bermata biru yang berjalan kearahku.
"Kalian berdua cepatlah pergi ke peti waktu!",
"Kami akan menahannya disini", perintah Mabel.
"Juga, tolong lindungi klon kami yang lain", "Jangan biarkan mereka menjadi seperti kami", jelas Linda.
"Kalian bedua cepat pergilah!", bentak Afton.
"Bagaimana dengan kalian?", tanya Erkan.
"Waktu kami sudah habis", "Kami memang ditakdirkan untuk mati", jelas Afton sembari menumbuhkan zirah dan pedang kristalnya.
"Pergilah sekarang juga!", teriak Arina.
Arina langsung memunculkan monster salju dan mendorong kami sisi lain ruangan. Ia juga memyekat ruangan dengan es-es runcingnya.
"Tunggu! Arina!"
"Andrew dengar!", "Manusia ditakdirkan untuk tersiksa oleh rasnya sendiri", jelas Erkan sambil menekanku ke bawah dengan gravitasi.
"Biarkan mereka bebas dari penjara ini".
Aku mengusap air mataku dan membawa Erkan terbang mencari aku yang lama atau Andrew. Sesekali selama perjalanan kami menyerang musuh yang mencoba menghalangi.
Sampailah kami di tempat pemusnahan. Disana tampak aku yang tidak sadarkan diri tengah di alirkan oleh sebuah treamil menuju kobaran lava.
Aku memecahkan kaca ruangan dan melompat masuk ke tempat panas itu. Kuledakkan roket dikakiku dan mwndaratlah aku di atas treadmil, tepat di samping Andrew atau tubuhku.
Ketika kupegang tangannya.
'Shin, tunggu kalian ada dua?''Menyiksa kami terus menerus tidaklah berguna' 'Sudah aku tidak tahan lagi dengan ini' 'Aku tidak punya elemen' 'Kenapa aku harus hidup seperti ini..'
Semua ingatannya langsung mengalir kekepalaku. Aku memegang keras kepalaku yang berdenging keras, mendengar bisikan masa lalu yang mengerikan itu. Erkan terus memanggilku dari luar sambil menyerang musuh.
Empat orang cyborg melompat kedepanku dan menebaskan pedangnya kearahku secara bersamaan. Seketika pikiranku kosong, dan syalku melayang menusuk mereka semua.
Andrew terjatuh kedalam lava, dengan cepat aku tarik dia keatas. Tubuh cyborg itu masuk kelava dan meledak. Membuat lava meletup dan menyiprat ke tanganku.
Aku meledakkan roketku dan membawa Andrew pergi dari treadmil itu. Aku berpindah ke tempat Erkan yang kewalahan dan menyerahkan tubuh Andrew kepadanya
Aku berjalan dengan pikiran kosong kearah musuh. Syalku berubah menjadi sisik naga dan menusuk mereka dibagian kepala. Aku juga menembak mereka dengan kanonku sampai hancur tak bersisa.
Aku kemudian membawa mereka terbang menuju penyimpanan peti waktu. Aku menemukan dua peti yang masih utuh. Aku meletakkan Andrew di mesin penghapus pikiran.
Namun, ditengah pengerjaan mesin itu tiba-tiba mati dan mengeluarkan asap hitam.
"Sekarang bagaimana?", tanyaku.
"Sepertinya ingatan Andrew sudah terhapus sedikit", "Langsung masukkan saja kami ke peti waktu".
"Bagaimana dengan ingatanmu", tanyaku lagi.
"Tak apa, aku akan menyimpan rasa sakit ini selamanya".
"Baiklah", tanyaku sambil memasukkannya ke pati waktu.
"Aku bersumpah akan kembali dan mengajak Andrew untuk membalas perbuatan manusia", jawabnya selama peti itu menutup.
"Semoga kita bisa bertemu lagi".
Aku memasukkan tubuh mudaku ke peti terakhir dan menuliskan nama Donny di peti waktu itu. Aku juga merobek syalku dan mendekatkannya ke tubuh mudaku.
Seketika robekan itu memanjang dan membentuk syal yang baru. Bentuknya persis dengan milikku dan kuletakkan syal itu di sampingnya.
"Terima kasih atas ingatannya, Donny", ucapku sambil menutup peti itu.
Tiba-tiba dinding ruangan runtuh dan sebuah robot raksasa mengambil kedua peti itu. Aku membentuk kanon api, tidak ada yang terjadi. Membuat dinding kristal, tidak ada yang terjadi.
Dari punggung robot itu muncul tembakan besar yang terisi dan mengarah kearahku. Aku langsung terbang menghindari ledakan besar itu.
Dari atas aku mencari celah untuk masuk kedalam robot itu. Tapi robot itu sangat rapat dan keras. Dari atas aku juga melihat seluruh gedung dan koloni porak-poranda.
Tiba-tiba semua robot kecil memasuki robot yang lebih besar. Lalu robor yang besar itu terbang ke langit.
Remang-remang dari kejauhan tampak dua buah pesawat terbang kearahku sambil menjatuhkan dua buah bom besar. Aku langsung meledakkan roketku dan terbang menjauh untuk menghindari ledakannya.
Waktuku tidak cukup, ledakan itu sangat dahsyat sampai membuatku terlontar ke langit. Tiba-tiba sebuah tangan memegangku dan memindahkanku ke mesin waktu.
Kami kembali ke tempat dan waktu awal. Tampak Erkan juga merasa lega sama sepertiku.
"Tadi itu hampir saja", "Bukankah begitu Andrew?"
"Ya, nama itu tidak buruk juga".
"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?"
"Ya, sesuatu yang kamu mau karena bisa mengubahku",
"Terima kasih membuatku mengingatnya lagi", ucapku sambil tertawa.
"Tak apa-apa, anggap saja ini merupakan balasan dari masa lalu".
"Lalu, apa tujuanmu?"
"Bergabunglah denganku", "Dengan ini, kita akan menjadi kuat dan tak terkalahkan", ia menjulurkan tangannya.
"Dengan senang hati", jawabku sambil menjabat tangannya.
"Baguss".
.......
.......
.......
"Master, keenam peti waktu sudah berhasil diambil"
"Tanda-tanda terakhir kehidupan manusia di bumi?"
"0"
"Baiklah, sekarang tarik mundur semua tentara", "Serangan kita sudah berhasil", "Sekarang kita bisa kembali hidup dengan tenang lagi", "Kita segera kembali ke C40Res".
"Baik Master".
__ADS_1