
Sebuah robot datang melewatiku, karena terkejut aku merespon dengan melompat ke belakang. Hal itu membuat kepala Yuki terhentuk ke dinding, sekaligus membangunkannya.
Setelah terbangun, Yuki langsung marah dan melompat dari punggungku. Langsung saja ia melayangkan tangannya ke wajahku. Secepat kilat aku menangkap tangannya yang hampir saja menyentuh wajahku.
"Shht!"
Aku langsung membungkam mulutnya yang hendak bicara. Setelah robot itu pergi menjauh, baru kulepas tanganku dari wajahnya.
"Jangan pegang aku", "Dasar mesum", ucapnya sambil menarik tangan kanannya.
"Siapa yang kamu panggil mesum?!", "Kamu bahkan bukan tipeku".
"Kau juga bukan tipeku dasar mesum".
"Diamlah! Kita sedang dekat musuh!", marahku.
Yuki tiba-tiba terdiam dan syok mendengar suaraku. Mungkin nada yang kupakai terlalu tinggi.
"Eh.. tunggu", "Em.. maaf aku memarahimu", "Soalnya kita sekarang sedang darurat", hiburku sebisa yang kubisa.
Yuki mengerutkan alisnya lalu pergi menyelinap sendiri. Darahku naik seketika melihat tingkahnya, tapi kutahan karena sedang genting. Aku membuntutinya dengan sembunyi-sembunyi seperti caranya.
Yuki kemudian menemukan empat kotak kosong yang muat untuk kami masuki. Saat tidak ada yang melihat, dia masuk ke dalam lalu menutup kotak itu. Aku juga mengikuti apa yang dilakukannya karena tak punya pilihan lain.
Tak lama kemudian datanglah robot bercapit seperti kepiting yang mengangkat kami ke sebuah gerobak. Kotakku ditumpuk tepat diatas Yuki. Gerobak kami kemudian didorong dan dibawa menyusuri lorong yang kian gelap dan sepi. Ditengah-tengah perjalanan aku mendapat panggilan dari Sami.
"Okta, Okta", "Dimana kalian?", "Aku menemukan alat portalnya".
"Bagus, dimana letaknya?"
"Entahlah, bahasa disini aneh", "Yang jelas disini ada tiga portal", "Pastikan memilih yang kiri, sebab yang lain sedang diperbaiki".
"Oke, yang paling kiri", "Sebentar dulu, Sam", "Apa kamu tahu tentang kotak berwarna hijau?"
"Entahlah, aku rasa itu makanan monster"
"Tunggu! Apa?"
"Oi! Y986 cepat sini!"
"Aku hubungi nanti"
"Sam! Sa-"
Tiba-tiba aku merasakan guncangan dan terdengar benturan besi-besi yang terpukul. Kemudian kotakku terbuka dan menampakkan sosok Yuki dengan tangan beruang. Dengan mudahnya dia menarikku keluar dari kotak itu.
"Elemen apa kamu?"
"Entahlah, aku rasa ini sel", "Aku bisa merubah bagian tubuhku menjadi bagian tubuh hewan tertentu",
"Juga menumbuhkan atau menyembuhkan", jelasnya.
Yuki tak sengaja menyenggol sebuah kotak yang terbuka. Kotak itu berisi bangkai ayam yang sudah mati. Aku tak kuat dengan baunya, jadi kuhembuskan angin kebelakang lorong supaya tidak tercium baunya.
"Kamu pengguna angin ya?", tanya Yuki.
"Aku rasa begitu", jawabku sambil masih menutup hidungku.
"Artinya kamu anaknya Nona Linda?"
"Nggak, ibuku namanya Venti Kuryakin".
"Namamu benar Okta", "Tapi nama Kuryakin sepertinya tidak ada dalan data".
"Data apa?", "Sudahlah, ayo pergi!", perintahku sambil berlari kearah depan.
"Robot ini bagaimana?"
"Tinggalkan saja!"
Kami berdua langsung cabut meninggalkan robot dan gerobak yang rusak itu. Semakin dalam kami berjalan, semakin gelap dan kotor juga isinya. Dipertengahan jalan, dinding lorong itu berupa kaca tebal. Disana kami melihat monster-monster yang dikurung di dalam jeruji besi.
Para monster yang beringas itu dijaga oleh puluhan robot dan cyborg dengan senjata plasma riffle. Lebih mengejutkan kami, disisi lain terlihat sebuah lingkaran kuning besar dengan bagian tengahnya yang berwarna merah.
Sepertinya itu sebuah portal yang belum diaktifkan. Segera ku telepon Sami karena menemukan berita bagus.
"Sami, jawab"
"Ada apa?", jawabnya berbisik.
"Kami menemukan portalnya", "Tempatnya ada disangkar para monster".
"Aku meng-"
__ADS_1
SLING TRANG
Suara dua buah logam terdengar dari panggilan Sami. Aku langsung menarik tangan Yuki, menyuruhnya untum berhenti.
"Sam!", "Dimana kamu!?"
"Larii-"
"Sam! Oi!"
Telepon ditutup dengan puluhan suara tembakan plasma.
"Kita harus kembali!", pinta Yuki secara paksa.
"Tidak, kita sudah setengah jalan".
"Aku tidak bisa meninggalkan Sami sendirian disana".
"Jangan belagak bodoh", "Kamu bisa mati disana"
"Dia seperti saudaraku", "Jika bukan karenamu kami tidak akan pernah dalam bahaya".
Tiba-tiba aku merasakan benda bergerak dengan kecepatan tinggi kearah kami. Angin itu terasa menembus angin disekitarku.
"Lupak- MENGHIDAR!!", teriakku sambil mendorong Yuki ke dinding lorong lalu memepetkan tubuhku ke sisi lawannnya.
Selisih satu detik, sebuah gerobak besi terbang melewati kami. Sebuah robot yang telah rusak kemudian juga menyusul terbang melewati kami.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Aku aman", "Hanya rambutku terpotong sedikit", jawabnya gemetaran.
"Aku merasakan ada yang bergerak di dekat sini".
"Apa kamu melihatnya?"
"Tidak", "Apa dia akan muncul lagi?"
"Hmm, tidak", "Aku tidak merasakan perubahan suhu".
"Gerobak itu, bukannya gerobak yang tadi?"
"Eh, benar juga ya".
Kami tak mau berlama-lama disana dan segera pergi melanjutkan menyusuri lorong. Selama perjalanan aku merasakan adanya suhu yang naik karena pembelahan angin.
"Mengerti".
"Kiri!"
Tak lama kemudian sebuah tongkat besi tiba-tiba datang dan menancap tepat disebelah kanan kami.
"Kanan!"
Sama seperti sebelumnya. Selanjutnya dan selanjutnya terus begitu. Karena terlalu sibuk belari dan memberi perintah aku tak sengaja tersandung dan terjatuh. Dengan sigap Yuki merubah tangan kirinya menjadi ular yang melilit tanganku. Yuki tetap terus berlari sambil menyeretku sepanjang jalan.
"ARGHH ULARR!!", aku teriak ketakutan sambil memukul-mukul ular itu.
"Aw aw sakit tahu", "Cepat beri tahu kemana sekarang!!"
"Kiri!",
"Tahan, kanan!",
"Kiri lagi!",
"..."
"Kemana sekarang?!", tanya Yuki.
"Suhunya berubah!", "Tak ada yang datang lagi!"
KRANG KRANG
Tiba-tiba bagian depan dan bagian belakang lorong yang dekat dengan kami terpotong oleh sebuah benda putih. Tak lama kemudian kaki kami tak lagi menyentuh lantai dan melayang ditengah-tengah ruang.
BRUMM
Tubuh lorong itu jatuh lebih cepat. Hentakannya ke tanah membuat suara gemuruh yang menggema diudara.
"AAHHH!!"
Aku tidak mungkin menahan jatuhku dengan kecepatan yang setinggi itu. Tangan manusia pasti akan patah tak peduli seberapa kuat tangannya. Namun, keberuntungan berpihak pada kami.
__ADS_1
Sebuah tali basah mengikat tangan kananku yang secara otomatis menarik kami berdua. Tali itu perlahan ditarik keatas dan menampakkan sosok Sami yang kerepotan menahan beban kami. Dia berdiri diujung lorong yang putus tadi.
"Kalian terluka?!", tanyanya.
"Sami?!", pekik kami berdua.
Tiba-tiba dinding besi di belakang Sami meleleh dan berubah bentuk menjadi manusia.
"Sami di belakangmu!", teriakku.
Sami yang belum sempat melihat, ditendang kejurang yang otomatis menjatuhkan kami semua. Dari punggung Yuki muncul bulu-bulu putih yang berkembang menjadi sebuah sayap. Yuki kemudian terbang dan menangkap Sami dengan tangan kirinya.
"ULARR ULARRR!!", teriak Sami yang ketakutan.
"HUH!! Kalian berdua ini sama saja!", "Jangan setrum ular itu Sami, itu tanganku".
Mata Yuki menyala hijau kekuningan. Nafasnya mulai tersengal-sengal dan kepakan sayapnya mulai melemah.
Mahkluk yang menendang Sami tadi melompat kearah kami. Kedua tangannya mengeluarkan cakar panjang seperti harimau.
Sami terkejut, ia tak sengaja menyambarkan petir dari tangannya kearah mahkluk itu. Mahkluk itu seketika kejang dan kaku. Aku tak mau tinggal diam dengan melemparkan angin bertekanan tinggi kearahnya. Hal itu membuat tubuh mahkluk itu terkoyak seperti air yang ditebas.
"Berhasil!", pekik kamu berdua.
Mahkluk itu terjatuh kebawah seperti tetesan air hujan berwarna putih. Warna putih tubuh yang muncul dari bekas potongannya membuatku tahu kalau dia terbuat dari logam cair. Ia perlahan menyatu kembali dan berubah menjadi sesosok manusia.
Yuki perlahan menurunkan kami tak jauh dari mhkluk itu. Ular yang mengikat kami berubah kembali menjadi tangannya. Sayap Yuki perlahan memendek dan bulu-bulunya bertebangan dihembus angin.
Dari belakang kami, datang puluhan cyborg yanh siap menembakkan senjata kearah kami. Yuki kulihat tak akan mampu lagi untuk bertarung. Tak ada cara lain, selain bertarung dengan Sami berdua.
"Sam! apa kamu punya senjata?"
"Eh oh, ini!", balasnya sambil melemparkan pistol plasma kearahku.
"Sip", "Aku akan menahan si logam cair ini".
Aku menembakkan plasma membolongi mahkluk itu untuk memperlambatnya. Sementara Sami mengeluarkan pedang petirnya dan mulai menyerang para cyborg itu. Matanya berubah ungu menyala, lalu tubuhnya dipenuhi loncatan listrik kebiruan.
Saat ditembak plasma, ia mampu menghindar secepat kilat. Lalu menyetrum senjata itu hingga meledak seperti bom. Pedangnya adalah upaya terakhir jika cyborg itu bertarung dengan jarak dekat.
Pemandangan yang indah, tapi aku harus menahan mahkluk ini. Tak sengaja kulihat Yuki yang perlahan berdiri dan hendak membantu Sami. Didekat kami juga muncul
"Yuki, kamu masih bisa berjalan?"
"Masih".
"Cari cara untuk menghidupkan portal itu!"
"Baik!"
Yuki segera menyembuhkan dirinya dan berlari mendekati portal yang belum diaktifkan. Disana ia terlihat panik dan bingung harus menakan tombol yang mana. Tak sengaja ia menekan sebuah tombol kuning yang membuka semua pintu jeruji para monster.
"Oh tidak", "Yang mana ya, yang mana ya", gumamnya panik.
"Sial, aku kehabisan peluru!", teriakku.
"Ini!", balas Sami sembari melempar senjata milik cyborg.
Aku mendapat sebuah riffle yang cukup berat dan besar. Langsungku kunci senjata itu dan menembakkannya ke mahkluk itu. Kerusakan yang ditumbulkan lebih besar dari sebelumnya.
"Keren".
"Okta, menyingkir", Sami tiba-tiba melompat dan menjatuhkan tubuhku kebelakang.
Selang beberapa detik, cakar sesosok mahkluk besar menggeruk angin tepat diatasku. Monster itu sangat besar, tangan kanannya membawa pedang besi nan panjang. Anehnya, mahkluk logam tadi menyerangnya dan membunuhnya seketika.
Pasir yang mengandung besi di tanah yang kami injak, tiba-tiba tertarik kearah tubuh monster itu. Tubuh monster itu kemudian diselimuti cairan putih yang mengeras menjadi sebuah zirah lengkap dengan senjatanya.
"Aku punya perasaan buruk", "Pergilah ke Yuki!", "Lindungi dia!"
"Bagaimana denganmu?"
"Hidupkan portalnya dan aku akan menyusul".
Sami menganggukkan kepala dan berpindah ke Yuki. Yuki saat itu sedang sibuk membereskan para monster yang menyerangnya hingga melupakan portalnya. Sami datang dan langsung menebas beberapa monster dengan pedangnya.
"Hidupkan portalnya! Akan kulindungi kamu dari belakang".
"Baiklah".
Sementara aku, tengah sibuk melawan monster besar dan ganas ini. Zirahnya sangat keras, hingga mampu memantulkan plasma tembakanku.
Aku terus menyerang mencari celah di tubuhnya. Aku sudah berulang kali menusuk lehernya. Namun, monster itu bahkan tak merasakan rasa sakit.
__ADS_1
Hingga saat kulengah, tangan kirinya dengan cepat menangkapku dan mencengkramku dengan keras. Nafasku terasa sesak karena cengkraman tangannya yang semakin kuat.
"Okta!!", teriak teman-temanku.