The Last Era

The Last Era
Act 12 [Lingkungan Baru]


__ADS_3

Walau hanya menemani Dokter Jassen, tapi hal ini rasanya sangat menyiksa. Mulai dari menyiapkan, memeriksa, dan mengecek dokumen. Meskipun aku berelemen petir tapi setidaknya jangan lakukan aku seperti mesin. Tapi ya apa boleh buat, ini juga perintah ikuti saja.


Aku menunggu diluar ruangan dengan berpakaian kemeja hitam lengkap dengan sepatu dan celana hitam. Untung saja setelah ini aku dibayar. 'Terus berjuang' pikirku. Sudah 2 jam aku duduk di kursi ini, memandangi lorong yang luas dan robot yang lalu lalang.


Sementara itu Dokter Jassen sedang melakukan rapat bersama presiden dan menteri-menterinya.


"Jadi bagaimana keadaan bumi saat ini?", "Sudah 400 tahun sejak sinyal terakhir dijawab oleh bumi", tanya presiden.


"Tunggu, anda belum tahu bila bumi sudah luluh lantak sejak tahun itu?"


Presiden dan menteri menterinya terkejut mendengar kabar itu. Ironisnya beberapa dari menteri bahkan tidak mengenal planet asal muasal mereka itu.


"Luluh lantak, mengapa?"


"Alien menginvasi tempat itu 400 tahun yang lalu."


"Lalu bagaimana anda bisa tahu bila serangan itu diakibatkan ole..."


Aku hanya mendengar pembicaraan mereka sampai disitu karena suara mesin penyedot debu dari salah satu robot pembersih. Ketika robot itu sudah menjauh, seketika itu pula pintu ruangan rapat terbuka.


"Sudah selesai, Dok?", tanyaku.


"Sudah, ngomong ngomong tadi Linda dan Shina sudah beli sate", "Jadi kita langsung pulang saja."


"Baik, Dok."


Jamku menunjukkan pukul 25.30 malam. Bila di bumi ini sudah pukul 23.30 malam. Hal ini diakibatkan rotasi di Aquopora yang lebih lambat dari bumi. Bila di bumi sehari ada 24 jam, sementara di Aquopora sehari ada 26 jam.


Tubuh dan mataku terasa berat saat memasuki mobil. Tapi aku memaksa membuka mata dan tetap terjaga. Ponsel tahun ini bukanlah ponsel seperti dulu yang menggunakan kaca. Saat ini ponsel merupakan sebuah jam yang mampu membentuk menampilkan gambar secara 3D dengan hologram berwarna.


Sesampainya dirumah, ruang tamu sudah sepi dan lampu-lampu dimatikan. Setelah berganti baju aku membuka kulkas untuk mencari sate yang di beli Shina. Sate ayam? Bukan aku pesan sate cumi? Entahlah yang penting makanan. Setelah makan aku langsung tidur, meski butuh waktu karena hafalan dokumen tadi masih tengiang-ngiang di pikiranku.


Paginya aku bertanya kepada Afton keadaan Arina. Dia bilang kalau sudah mulai sembuh. Aku juga bertanya kepada Linda keadaan Donny. Dia bilang kalau Donny hari ini bisa pulang.


"Ramko, kamu bisa memakai motorkan?", tanya Nadia.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Dokter Jassen memintamu menjemput Donny di rumah sakit."


"Ya oke."


Aku berjalan menuju motor, menghidupkannya dengan sidik jari dan pergi menjemput Donny.


......\=......


"Semoga harimu menyenangkan Tuan Donny", ucap robot yang mengantarku ke lokasi penjemputan. Didepan terlihat Ramko yang sudah menungguku dengan menunggangi benda aneh.


"Ok, Terima kasih", "Eh Ramko benda apa yang kau naiki itu?"


"Ini motor, dasar primitif", "Setelah kau naik benda ini, ucapkan halo pada masa depan."


Aku terheran-heran dengan bentuk kota dan kendaraan di Aquopora. Juga aku terkejut dengan mansion yang dikatakan Ramko adalah rumahku.


"Aku pulang", kata Ramko.

__ADS_1


"Selamat pulang, Ram, Don."


Aku melihat Arina yang lemah berjalan kearahku. Tiba-tiba dia menamparku dengan tangan kirinya.


"Kamu bodoh."


Arina lalu memelukku dengan berlinang air mata. Tubuhnya sangat lemah dan dia tidak mau melihatku dan terus menutupi mukanya.


"Maafkan aku ya."


"Nggak", balasnya tanpa berubah posisi.


"Aku bukannya ingin menyela tapi tanganku masih sakit."


"Aku senang kamu baik-baik..."


Tubuhnya seketika terasa berat dan lambgung tak sadarkan diri. Dengan sigap aku menangkapnya dengan syal sebelum terjatuh lalu membawanya ke kamar. Setelah keluar dari kamar Shina, Linda, Mabel, Nadia, dan Ramko terlihat geram menatapku.


"Kenapa?"


"Sudah kubilangkan, Donny itu tidak peka", kata Linda.


"Mahkluk paling kejam didunia", ejek Shina.


"Perlu kuajari dari nol sepertinya anak ini", kata Mabel.


"Dasar mahkluk zaman batu", kata Ramko sambil menepuk jidatnya.


"Lupakan saja, mungkin dia sedang kelelahan pulang dari rumah sakit", Nadia berusaha mengalihkan perhatian.


"Lupakan saja, ngomong-ngomong apa kalian ingat umur kalian masing masing?", tanya Afton dari belakang.


"16? Atau mungkin 17?", tanya Nadia balik.


"Tapi bukankah kita sudah tidur 400 tahun?", jawabku.


"Jangan disamakan waktu dalam kapsul waktu sama diluarnya", jelas Shina.


"Memang kenapa?", tanya Mabel.


"Katanya kalau kita sudah 17 tahun disuruh jadi pelindung planet", jelas Afton.


"Maksudnya?"


"Nanti kalian tahu sendiri."


Aku tak paham apa yang Afton katakan, yang jelas tanganku harus cepat sembuh.


Dokter Jassen belum juga keluar dari kamarnya. Tapi kami berfikir kalau dokter mungkin masih tertidur. Jadi kami membiarkannya saja. Mabel dan Linda pergi membeli makanan. Sementara Shina, Afton, dan Ramko bermain game. Game zaman ini seperti VR, hanya saja bermainnya lewat dunia mimpi. Sementara aku pergi ke ranjangku untuk tidur.


......\=......


"Bel kenapa kita berjalan kaki, bukannya kita punya papan melayang?"


"Biar sehat aja"

__ADS_1


"Apa kamu nggak malu diliatin sama orang-orang disekitar?"


"Kalau kamu malu, kamu nggak akan bisa sukses", balasnya sambil tertawa.


Aku tidak habis pikir bagaimana Mabel bisa setenang itu. Orang-orang di sekitar bertanya-tanya dengan berbisik-bisik satu sama lain. Sewaktu dengan Shina aku berjalan di malam hari, sehingga orang-orang yang keluar tidaklah banyak. Tapi sekarang kita berjalan di pusat perbelanjaan pagi hari lagi.


Aku berjalan dengan keadaan grogi dan malu, sementara Mabel berbanding terbalik denganku. Tiba-tiba tubuhku tersenggol robot yang dikejar oleh para mekanik karena malfungsi. Untunglah aku dengan cepat kembali menjaga keseimbangan.


"Menyingkirlah nak, kamu nggak mungkin bisa menangkapnya", ujar mekanik itu.


Setelah dikatain begitu, tangabku rasanya gatal untuk menghancurkan robot itu.


"Lin, jangan lakukan!"


"Tentu saja kulakukan."


Aku menggunakan angin untuk mempercepat lariku. Mekanik itu terkejut sampai terjatuh dari papan melayang.


Setelah cukup dekat aku menekan robot itu kelantai dengan angin. Aku melemparnya kelangit dan menciptakan bola angin yang mengelilingi robot itu. Angin itu mencabik-cabik robot itu lalu meledakkannya di langit. Setelah menghancurkan robot itu aku merasa puas.


Orang-orang bertepuk tangan sambil bersprak gembira kearahku. Aku merasa sengan bisa membantu orang-orang dizaman ini. Polisi datang untuk menahan mekanik itu karena telah menganggu kenyamanan pengunjung.


"Lin, kamu nggak apa-apa?"


"Aman saja kok", jawabku sambil mengacungkan jempolku.


Mata Mabel tak sengaja melirik ke arah sebuah toko yang telah usang. Dia menarikku dari kerumunan orang dan mengajakku kesana. Toko itu terlihat seperti toko tahun 2000-an dan berada ujung pertokoan yang akan tutup. Didalamnya terlihat seorang kakek yang sepertinya seumuran dengan Dokter Jassen sedang menyapu lantai.


"Gerai Tachibana?"


"Nama yang lawas".


"Coba masuk dan tanyakan dengan kakek itu", ajak Mabel.


"Ok."


"Permisi, kalau boleh tahu ini toko apa ya?"


"Pulanglah, toko ini mau tutup",jawabnya tanpa melihat kami.


"Oya kek, arloji ini harganya berapa ya?", tanyaku.


"Apa sudah dimulai?"


"Apanya yang dimulai, kek?", tanyaku balik.


"Kalau begitu pulanglah dan jaga teman-teman kalian."


"Tapi kek ..."


"Kamu boleh mengambil arloji itu, tapi selanjutnya pergi dari sini."


Kakek itu kemudian menyiramkan minyak tanah ke seluruh isi toko kecuali tubuh kami. Dari tangannya keluarlah api berwarna biru keputihan yang kemudian membakar seisi toko. Caranya mengeluarkan api seketika mengingatkanku pada Shina.


"Kakek kenapa? Ayo kita keluar."

__ADS_1


Ia tak menjawab, dan hanya berdiri sambil tercagang dengan sapunya.


__ADS_2