
Aku terjebak tak tak mampu berbuat apapun. Namun, disaat itulah suatu energi panas muncul dalam diriku. Mata kiriku seketika bercahaya oranye jingga dan mata kananku berubah warna menjadi putih menyala. Aku mengalirkan angin keseluruh tubuhku, kemudian meperkuat tekanannya.
Jari tangan monster itu seketika tercabik dan melepaskanku. Aku saat itu tak sadarkan diri dan membiarkan tubuhku bergerak dnegan sendirinya.
Monster itu menebaskan pedangnya kearahku. Tanganku sontak membesar dan terbakar, kukuku juga memanjang seperti iblis. Dengan mudahnya pedang itu kutahan dengan tangan lalu meremasnya hingga pecah seperti kaca.
Aku kemudian melompat dan berlari ditangannya. Kuku panjangku lalu kutebas ke pangkal lengannya hingga putus. Menggunakan ledakan dari angin di tanganku yang satunya, aku meloncat dan mencakar tangan yang satunya.
Setelah menghabisi kedua tangannya, aku meledakkan angin bertekanan tinggi di belakangnya. Angin kuat itu mendorong tubuhnya sampai jatuh tengkurap. Aku mendarat dipunggungnya lalu menempelkan tangan kananku disana.
Pada telapak tanganku keluar cahaya oranye menyala yang semakin terang. Cahaya itu semakin terang hingga akhirnya meledak. Tubuh monster dan zirah logam itu hangus seketika. Ledakan itu melemparkan cairan logam panas, aku sendiri dan para mosnter didekat sana.
Aku dengan sigap kembali mendarat dengan mendorong angin dibawahku. Sebagian dari bajuku bolong-bolong terkena ledakan. Tangan kananku melepuh terkena efek ledakan, tapi tubuhku yang lainnya masih aman. Tanganku juga kembali ke bentuk semula.
Tak sengaja mataku melihat sebuah lampu berkedip yang sedikit tertempel logam cair. Aku pergi untuk mengecek benda itu dulu.
Saat kupegang benda itu, logam-logam cair yang berceceran di sekitarku terkumpu menutupi benda itu. Langsung saja kujatuhkan ketanah dan bersiap menginjaknya.
Logam cair yang telah terkumpul, berubah bentuk seperti ular hanya saja dengan ujung kepala yang lancip. Benda itu tiba-tibamelompat ke bagian tubuh depanku yang terbuka. Dengan cepat kugeser tubuhku tepat sebelum benda itu mengenai dadaku. Benda itu bergerak melewatiku dan pergi menjauh dengan cara melata selayaknya ular.
"OKTA! PORTAL SUDAH AKTIF!", teriak Yuki dari kejauhan.
Aku langsung tancap gas berlari menuju lingkaran cahaya yang telah menyala. Sami berhenti menyerang dan sontak masuk ke dalam lingkaran cahaya itu. Sementara Yuki menungguku berlari sambil menjaga para monster supaya tidak mendekati portal.
Ditengah jalan, punggungku dilompati puluhan monster disekitar sana. Aku melemparkan mereka dengan angin lalu melemparkan bola api kearah mereka. Namun, karena jumlah yang terlalu banyak, aku terus mendapat hantaman keras dari para monster itu.
Aku berfikir untuk menyerah sampai tiba-tiba muncul kilatan cahaya ungu tua melewatiku. Para monster itu tumbang dengan luka sayat ditubuh mereka.
"Kamu, pergilah dari sana!", "Jangan sentuh mereka!"
Mendengar perintah itu aku langsung saja melompat menjauh dari sana. Tak lama kemudian tubuh para monster itu tersetrum listrik ungu terang.
"Kamu masuklah ke portal!", "Aku akan menahan mereka!"
Seseorang tiba-tiba muncul di hapanku. Tubuhku tinggi gagah, rambutnya pendek, dan matanya tergores di sebelah kiri. Orang dan suaranya pernah kukenal sebelumnya.
"Suara itu?!", aku merasa mengenalinya.
"Petir ini?!"
"Ramko Si Kilat!!" "Tuan Ramko!!", teriakku dan Yuki.
"Pergilah sekarang!", perintahnya.
"Baiklah".
Aku berlari kearah Yuki yang sudah menjulurkan tangannya kepadaku. Setelah meraih tangannya, ia langsung menarikku masuk kedalam.
Sementara orang tadi dikepung ribuan cyborg bersenjata yang keluar dan turun dari lubang lorong tadi. Ia dengan cepat berpindah kearah portal sambil dikejar oleh rentetan plasma panas. Ia menyengat portal itu hingga terbakar lalu masuk keportal itu. Portal yang terbakar itu sontak meledak begitu para cyborg mendekatinya
Setelah memasuki portal itu aku terlempar kesuatu ruangan yang penuh dengan alat-alat komputer dan beberapa orang.
"Apa kamu, nggak apa-apa?", tanya Yuki yang berdiri tegak didepan kapalaku.
"Aman", "Kami ini, minimal kasih tangan gitu", aku berdiri sambil menggerutu kepadanya.
"Nggak, kamu menyebalkan", balasnya sambil membalikkan badannya.
"Terserah", "Ngomong-ngomong terima kasih untuk yang tadi", ucapku sambil mengampil posisi berdiri.
__ADS_1
Yuki berhenti berjalan dan melihatku dengan alis yang mengkerut.
"Kenapa?", "Apa aku salah?"
"Ah kamu itu, gitu aja terima kasih", "Sudahlah, aku mau pergi duluan!", balasnya sambil berjalan lebih cepat.
Yuki berjalan menjauh sambil diikuti oleh beberapa orang dan robot yang memeriksa lukanya.
"Gitu aja marah", "Dasar aneh", gumamku.
Tiba-tiba pundakku dipegang oleh suatu tangan misterius. Aku terkejut sampai menghindar kesamping. Orang itu adalah orang yang tadi membantu kami.
"Nggak perlu takut", "Ini hanya aku", ucapnya sambil tersenyum.
"Ooo yang tadi", jawabku biasa saja.
"Baru juga setengah tahun menghilang, nggak pernah ketemu lagi udah sombong aja".
"Setahun?", "La-lalu, Bagaimana dengan ibuku?"
"Ibumu?", "Nona Kuryakin?"
"YA!"
"Saya meminta maaf menyampaikan ini", "Tapi dia sedang dirawat di rumah sakit karena tubuhnya yang terus melemah", seseorang yang ada disana datang menyampaikan hal itu.
"Aku harus per-Akh!", tanganku yang melepuh tak sengaja menyentuh bajuku.
Orang-orang disana langsung memanggil petugas medis dan membawaku ke ruangan penyembuhan. Aku menolaknya berulang-ulang karena aku ingin langsung pergi kerumah sakit.
Aku keluar ruangan sambil diikuti oleh semua orang yang ada disana kecuali pria tadi. Saat di lorong, aku berpapasan dengan seorang wanita berambut putih panjang. Aku hampir mengiranya sudah tua, tapi saat kulihat lagi postur tubuhnya masih tegak dan wajahnya masih muda.
Wanita itu berjalan memasuki ruangan tadi untuk bertemu dengan pria tadi. Pria yang tadi berdiri menghadap pintu keluar sambil melipat tangannya. Wanita itu berjalan masuk melihat alat penghidup portal yang hancur tanpa mengidahkan orang didekatnya.
"Siapa? Anak tadi?", "Hanya tangannya terkena luka bakar".
"Bagaimana dengan Sami dan Yuki?"
"Mereka selamat", "Bahkan tak ada luka sedikitpun".
"Syukurlah", jawabnya sambil masih mengecek portal itu.
"Apa kamu tertarik dengannya?", tanyanya lagi.
"Ya, meskipun sedikit kasar, tapi sifatnya yang patuh pada orang tua mengingatkanku pada Linda".
"Begitu..", "Kalau begitu aku pergi dulu", balas wanita itu sembari berjalan keluar.
"Disini cukup hangat", "Apa kamu tidak kepanasan memakai itu, Rin?", tanya pria tadi sambil menunjuk syal yang terlilit di leher wanita itu.
"Aku ini es, aku tidak akan bisa kepanasan", jawabnya.
"Ah maaf, aku lupa", "Kalau begitu pergilah duluan", "Aku akan menyusul".
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Target melarikan diri, Tuan", "Apa perlu kita kejar?!", tanya seorang cyborg kepada orang tinggi besar dan gelap.
"Tidak perlu", jawabnya dengan suara mengerikan, sangat berat dan bergetar.
"Portal sudah rusak", "Kita masih bisa memperbaikinya, Tuan", "Tenang saja".
Saat mereka berdua sedang berbincang satu sama lain, datanglah dua orang lainnya kearah mereka berdua. Wajah satunya tertutup oleh jubah panjang berwarna merah tua, sementara yang satunya berwarna hijau tua.
Mereka berdua berhenti berjalan dan berdiri menghadap orang yang besar tadi. Tak lupa mereka membungkukkan badan kepadanya.
"Tugas sudah kami selesaikan, Tuan", ucap orang berjubah hijau.
"Bagus", "Sekarang, mereka pasti akan kembali kemari", gumamnya.
"Angkat badan kalian!",
"Aku minta kembalilah kesana lagi setelah mereka kemari",
"Lalu bawa ketiga anak itu kehadapanku!"
"Apakah saya boleh pergi sekarang?"
"Tidak! Tunggu perintahku!", "Kalau kita terburu-buru mereka bisa menghabisi kita dalam sekejap",
"Sekarang bubar!", perintahnya kepada kami semua.
"Kamu, suruh teman-temanmu untuk memperbaiki portal ini", perintahnya kepada cyborg itu.
"Ba-baik Tuan".
Mereka berjalan keluar dari ruangan itu secara bersamaan. Saat pintu tertutup, dengan cepat tangan orang berjubah hijau langsung melompat ke leher cyborg itu. Ia marah besar dan menjejelkannya ke dinding besi dengan sangat keras.
"Kalian membiarkannya lolos?!", bentaknya sambil menatap tajam.
"Ma-maaf tuan", "Tapi kami sudah berusaha menahan mereka", "Ba-bahkan kami sudah sempat menyuruh Metaloid untuk menahan mereka, Tuan", jawabnya dengan penuh ketakutan.
"Hmmph, dasar tidak berguna", orang itu melepaskan cengkramannya.
"Ayo pergi Creatura!", perintahnya kepada orang berjubah hijau itu sambil berjalan.
Orang berjubah hijaupun melepas tatapannya dari cyborg itu, lalu pergi kearah orang berjubah merah yang semakin menjauh. Sementara cyborg itu langsung pergi kearah berlawanan dari mereka dengan tergesa-gesa.
"Apa dia sudah jauh?", tanya orang berjubah merah.
"Ya".
"Kau masih menargetkan gadis itu?"
"Memang dia targetku selama ini", "Awas saja kalau sampai ketemu!", keluhnya marah.
"An, Apa kamu mengincar anak itu?", tanyanya balik.
"Tidak", "Ada seseorang yang ingin ku temui",
__ADS_1
"Lebih tepatnya"
"Aku hanya ingin kekuatan asliku dikembalikan"