The Last Era

The Last Era
Act 63 [Kegigihan Yuki]


__ADS_3

Disaat yang sama Okta kabur setelah ledakan besar itu. Dari ketinggian ia melihat sebuah kebakaran hutan yang luas. Diantara api itu, terlihat Yuki yang berjalan keluar dari hutan sendirian. Okta seketika turun untuk mendatangi Yuki.


"Yuki!!", Okta memanggil Yuki sembari turun dari langit.


Yuki seketika menoleh kelangit lalu membalas panggilan Okta dengan gembira.


"Okta!", "Apa yang terjadi denganmu?!"


Yuki langsung saja meraih tangan Okta yang sedikit hangus. Ia kemudian memancarkan energi kehidupan seluruh tubuh Okta. Tubuhnya kembali bertenaga dan sembuh seperti seperti awal. Okta yang terkejut langsung saja merespon Yuki dengan terima kasih.


"Wow, terima kasih, Ki!!"


"Kumohon jangan terluka lagi..", Yuki menatap Okta sambil menangis.


Seketika itu juga hati Okta tertusuk panah terhadap Yuki. Melihat Yuki yang ternyata sangat peduli terhadapnya, membuat Okta tertegun karena selama ini tak ada yang mempedulikannya kecuali ibunya sendiri.


Sayangnya pertemuan mereka tak berlangsung lama ketika sebuah petir besar tiba-tiba menyambar Yuki hingga ia tumbang ke tanah dan tak sadarkan diri. Dengan sigap tubuh Yuki direbut oleh Okta sebelum jatuh ke tanah.


Okta mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipi Yuki. Ia juga mengecek denyut nadi Yuki yang ternyata mulai melemah. Syukurlah ia langsung memulihkan seluruh jaringannya begitu tersambar petir tadi. Jika tidak, Yuki pasti tidak akan selamat.


Tiba-tiba ia merasakan kedatangan orang asing diatas kepalanya. Ditambah tanah disekitarnya termasuk yang diinjaknya mengapung seperti sebuah gelembung. Okta segera menggendong Yuki dipunggungnya lalu menciptakan perisai angin bertekanan tinggi untuk berjaga-jaga.


Benar saja, sebuah petir besar tiba-tiba menyambarnya. Ledakannya menggelegar ke seluruh langit hingga membuat hewan-hewan berlarian menjauh. Beruntung baginya, kecepatan dan kepadatan perisai angin berhasil memantulkan petir dahsyat milik Kreza.


Okta melepas perisainya. Ia menatap tajam kearah Kreza. Sambaran petir tadi membuatnya berapi api. Rantai api berwarna oranye keluar dari lengan bajunya. Rantai itu melilit seluruh tubuh Kreza yang kemudian dikombinasikan oleh semburan api dari mulut Okta.


Tak disangka Kreza muncul didepannya dan langsung menusuknya dengan tangan kayu. Okta bergerak cepat menahan tangan itu dengan kedua tangannya. Ia kemudian bergeser dan mengeluarkan pedang apinya. Kreza ikut mengeluarkan pedang kristalnya.


Tanpa pikir panjang mereka pun langsung berduel satu sama lain. Kreza tampak lebih unggul karena kecepatan petirnya. Okta yang tahu jika kecepatannya tak sebanding dengan Kreza segera melompat turun dari tanah.


Mau lari kemanapun Okta akan tetap terkejar oleh Kreza. Keringat mulai bercucuran dari kening Okta. Hingga di saat saat terakhir Kreza melapisi tangannya dengan bebatuan dan langsung mencekik leher Okta. Dengan tubuhnya yang besar, Kreza dengan mudah mengangkat Okta.


Okta terus meronta-ronta sambil memukul-mukulkan pedangnya ketangan Kreza. Kreza semakin menguatkan cengkramannya. Okta yang kesakitan dan kehabisan nafas tanpa sengaja menjatuhkan pedangnya.


Didalam hatinya ia berfikir jika dia akan segera mati. Sehingga dia hanya bisa pasrah menatap langit dengan hampa. Ketika ia melirik kearah kanan, tanpa sengaja matanya melihat Yuki. Ia berlari kearah Okta dengan alis yang menujam ke bawah. Tangan kanannya berubah menjadi ular yang terus memanjang kearahnya sementara tangan kirinya menggenggam sebuah cula badak.


Kreza menolehkan kepalanya. Ia kemudian mengangkat tangan yang selanjutnya memicu pertumbuhan duri tajam dari tanah. Duri itu tumbuh sangat cepat dan langsung menembus perut Yuki yang tak sempat mengelak. Demikian Yuki terjatuh ia segera bangkit dari tanah.


Aliran air tiba-tiba muncul dan menyayat Yuki dengan sangat cepat. Yuki menumbuhkan sayap untuk menutupi dirinya. Kreza yang tahu rencana itu dengan mengirimkan air yang lebih besar dan tajam ke punggung belakang Yuki. Yuki berteriak kesakitan.


Meski begitu ia masih terus saja bangkit meskipun berulang kali menjadi samsak Kreza. Setelah Yuki cukup dekat dengan Kreza tubuhnya sudah sempoyongan. Serangannya juga asal dan dengan mudah dijatuhkan Kreza dengan satu kali tendangan. Tak lupa Kreza menumbuhkan duri tanah untuk menamatkan Yuki.


Tiba-tiba dari diri Okta terdengar orang yang memanggil namanya berulang kali. Suara seorang wanita yang tidak asing baginya. Suara itu memintanya untuk bangun dan bangkit.


Disaat itu juga Okta kembali membuka matanya yang membuat Kreza terkejut hingga memalingkan kepalanya. Okta mencengkram tangan Kreza dengan tangannya yang terbakar, lalu mengibaskan tangannya. Kibasan itu membuat angin dahsyat dan panas yang mampu membuat Kreza melepaskan cengkramannya.


Kibasan itu tanpa sengaja ikut menerbangkan Yuki yang sudah lemas. Okta mengirimkan rantainya untuk menarik Yuki ke pangukuannya. Pasca cekikan tadi, Okta masih kesulitan bernafas dan kepalanya terasa sakit.

__ADS_1


Ketika Kreza kembali dengan petirnya menjalar diudara. Okta segera meledakkan tangan Kreza yang sebelumnya sudah ia tanam bom. Ledakkan tersebut hanya menghalangi pandangan Kreza. Selanjutnya ia mengumpulkan jutaan cakram air diudara lalu menerbangkannya kearah Okta.


Naluri bertarungnya segera memunculkan pelindung rantai api berlapis yang muncul dari tanah dan pelindung angin topan. Karena terlalu fokus dengan serangan didepannya, ia tidak melihat kalau cakram itu bisa berbalik arah dan menyerang Okta dari berbagai arah.


Okta yang masih mencoba mengembalikan tempo nafasnya tidak bisa menghindari serangan sebanyak itu. Akhirnya yang bisa dia lakukan adalah meringkuk serta memeluk badan Yuki sambil menyembunyikan kepalanya dibalik dadanya.


Okta hanya mampu duduk dan bertahan. Ia merapatkan mulutnya, menahas rasa sakit terus berdatangan dari goresan cakram-cakram itu. Serangan tersebut juga melukai Yuki termasuk memotong rambutnya meskipun lukanya tidak separah Okta.


Disaat itu Yuki masih sadar dan hanya mampu menatap iba kepada Okta. Yuki menggunakan tenaganya habis habisan. Sekalinya ia terluka parah dan memulihkan diri, sel-sel ditubuhnya akan langsung mati karena kekurangan nutrisi.


Serangan itu tiba-tiba berhenti. Kreza disaat itu juga didatangi oleh Arza dengan pesawatnya. Arza mengatakan untuk segera membunuh Okta dan mengambil kekuatan angin dan api sekaligus darinya.


"Kau benar, tapi setelah kupikir-pikir, kekuatan angin sangat lemah, lebih baik kubunuh saja dia",


"Bersama gadis itu...", ucap Kreza.


Tanah tajam tiba-tiba muncul dari belakang Yuki. Menusuk dada Okta dan Yuki bersama-sama kemudian kembali lagi ke tanah.


"Ayo pergi", ucap Kreza sambil menaiki pesawat dan terbang menjauh.


Kini, tersisalah mereka berdua di atas tanah lapang yang sebelumnya adalah hutan belantara. Hutan yang sangat luas itu habis tersapu akibat terpaan angin Okta.


Meskipun matanya masih terbuka, Okta terduduk kaku sambil memeluk Yuki yang juga sekarat. Okta menarik bibirnya, melempar senyum kepada Yuki.


"Okta...", ucap Yuki lirih.


Yuki mencoba membangunkan Okta dengan memukul-mukul tubuhnya. Ia masih tak percaya jika Okta benar-benar sudah mati. Pukulan Yuki yang terlalu keras membuat tubuh Okta terlepas kebelakang dan menimpa Yuki. Darah Okta menetesi wajah Yuki, membuatnya menangis semakin menjadi-jadi.


Disaat itu pula Yuki melihat sebuah kotak kecil yang biasanya berisi data terlempar keluar dari saku celana Okta. Dengan susah payah Yuki mengambilnya sambil menahan rasa sakit akibat tusukan tadi.


Ketika menghidupkannya telihat sebuah peta hologram yang sepertinya dibuat oleh Okta. Peta itu menunjuk pada gudang rahasia milik Shina yang tak sengaja ia temukan.


Secercah harapan muncul di benak Yuki. Nalurinya seperti memberitahu bahwa ada sesuatu yang bisa dipakai disana untuk memulihkan Okta. Yuki tanpa sengaja memencet sebuah tombol gps, menampilkan titik merah yang ternyata tidak jauh dari tempat itu.


Yuki memulihkan dirinya. Untuk mengganti nutrisinya ia mendapat sebuah ide gila. Ia menggigit pergelangan tangan Okta lalu meminum darahnya seperti vampir. Meski tidak seratus persen ternyata cara itu berhasil.


Setelah memulihkan diri. Ia menyeret badan Okta karena tak sanggup mengangkatnya. Sambil menggantungkan tangan kiri Okta ke pundaknya, ia berjalan setiti ke tempat itu.


Setelah lama berjalan, Yuki meletakkan Okta pelan-pelan. Ia lalu mengubah tangannya seperri kaki anjing dan mengobrak-abrik lokasi yang ditunjuk peta tadi.


KLANG


Tangan Yuki membentuk sebuah pondasi baja yang terkubur dibawah tanah. Yuki segera memperluas pencarian itu hingga menemukan sebuah pintu besi di bawah tanah. Ia mengubah kedua tangannya kembali seperti semula kemudian melapisi punggung tangannya dengan tulang yang sangat keras. Ia memukul-mukulkan pintu itu hingga jebol dan terlihat tangga menuju ke bawah.


Yuki segera membawa Okta turun memasuki lorong itu hingga bertemu dengan pintu di ujung lorong. Ketika memasuki ruangan itu, ia terkejut karena melihat begitu banyaknya obat-obatan kimia disana.


Yuki segera menyandarkan tubuh Okta ke dinding dan mengobrak abrik tempat itu dengan cepat. Hingga ia menemukan suatu cairan merah yang bertuliskan 'Nutrisi Langsung, dalam tahap percobaan' didalam sebuah suntikan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Yuki menyuntikkannya ke lengan kirinya lalu berlari kembali untuk menyembuhkan tubuh Okta sebelum sel ditubuhnya mati total. Sebelumnya ia berniat menyuntikkannya secara langsung ketubuh Okta. Tapi ia tidak yakin obat itu akan aman sehingga ia menerima konsekuensinya.


Luka-luka ditubuh Okta pulih kembali dan terlihat seperti sedia kala. Tak lama kemudian, Okta membuka matanya lalu memegang kepalanya yang pening dengan tangannya. Yuki sontak memeluknya dan menangis bahagia. Okta tak berkata sedikit pun, ia hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepala Yuki.


"Kamu yang sudah menyelamatkanku?", tanya Okta dengan sopan.


Yuki mengangguk


"Terima kasih ya..."


Yuki memeluknya semakin erat dan berhenti menangis.


Tiba-tiba Yuki batuk keras san menarik bajunya untuk menutupinya. Okta seketika kebingungan sekaligus ketakutan. Dari baju Yuki telihat noda darah yang keluar dari batuknya tadi.


Ternyata efek dari cairan tadi membuat Yuki batuk darah secara permanen dan melemahkan tubuhnya. Okta yang panik merobeh bagian dada bajunya yang sudah bolong untuk dijadikan lap darah yang menempel di bibir Yuki.


"Kamu baik-baik saja?!", tanya Okta.


"Maafkan aku, a-aku akan merepotkan kamu lagi", ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.


Okta menarik pipi Yuki dengan kedua tangannya. Mengarahkan langsung ke wajahnya sambil berkata,


"Lihat mataku", "Aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu bagaimanapun kondisinya",


"Karena... Kamulah satu satunya orang yang ku cintai...",


"Camkan itu".


Yuki tidak mampu berkata-kata dan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum bahagia sekaligus tersipu malu.


"Waktu kita tidak banyak, ayo kita cari yang lainnya!"


Okta yang sudah pulih, berdiri lalu menggendong Yuki di depannya. Selanjutnya Okta berlari keluar dari tempat itu.


"Apa kamu pernah terbang sebelumnya?", tanya Okta sambil perlahan naik ke angkasa dengan anginnya.


Yuki tampak ketakutan dan menyembunyikan wajahnya ke Okta.


"Tenanglah, ini aman".


Yuki memberanikan diri melihat karah depannya. Ia terkesima dengan pemandangan pegunungan yang sengaja Okta hadapkan kesana. Okta bertanya sekali lagi sebelum meluncur.


"Apa kamu siap?"


"Huh... Aku siap...", jawab Yuki.


"Waktunya meluncur".

__ADS_1


Mereka berdua terbang kearah yang berlawanan dari pegunungan itu. Menuju tempat yang lainnya.


__ADS_2