
"Siapa disana?"
"Kalian berdua segera keluar sebelum kami melepaskan tembakan!"
Empat robot penjaga menyadari keberadaan kami di semak-semak bersalju. Zirah mereka berwarna putih menyatu dengan salju. Dan berdiri mengarahkan senjata mereka kearah kami.
Kami keluar secara perlahan dari semak-semak sambil mengangkat tangan kami. Erkan menganggukan kepalanya, memberi kode kepadaku.
"Bawa kami ke kapten kalian!", pintaku.
"Ada perihal apa?",
Aku kemudian membuka topeng besiku sebentar.
"Tahan serangan kalian!", "Baiklah",
"Regu 2 berganti berjaga",
"Regu 5 ikut aku dan borgol tangan mereka!", kata salah seorang komando manusia.
Pintu pesawat terbuka lebar bersamaan dengan sinar putih yang menyorot kedua mata kami. Tiga orang tentara manusia dan beberapa robot menuntun kami menyusuri lorong.
Ketika sampai di ujung lorong, mereka membuka telepon hologram ke kapten kapal itu. Kaki kami ditekan dan dipaksa menekuk untuk berlutut ke hadapan horogram itu.
"Siapa kalian dan apa hajat kalian kemari?"
"Kamilah yang seharusnya menanyakan itu", jawab Erkan.
Kami kemudian membuka topeng besi kami lagi. Semua orang disana terkejut setelah melihat wajahku. Mereka langsung melepaskan borgol tanganku dan membiarkanku berdiri.
"Tunggu dulu!", "Bukankah kamu Donny?",
"Manusia mutan syal plasma?", tanya kapten itu.
"Ya, itulah aku", jawabku sambil menatap tajam.
"Kami datang kesini untuk mencarimu", "Kembalilah, kami memerlukanmu".
"Aku senang disini", "Tidak ada yang menyalahkanku apa lagi membenciku".
"Tapi, Donny", "Tuan Jassen membutuhkanmu", kapten kapal itu memohon kepadaku.
"Tidak, Aku tidak akan kembali", jawabku sambil menutup topengku lagi.
"Aku mengerti", "Aku akan melaporkan ini ke Aquopora".
Beberapa saat kemudian terdengar suara auman mengerikan disepanjang lorong disertai suara benturan dimana-mana.
"Suara apa itu", tanya kapten itu.
"Kapten kita harus ke-ARRGH"
"JERY!"
Gambar hologram itu berubah menjadi statik tapi masih mengeluarkan suara disana. Terdengar banyak sekali teriakan manusia dan ledakan senjata plasma disana.
"SEMUA UNIT BESIAGA!! KITA-AARGH.. KEVIN TOLONG AKU!!"
"NARA!! DIA MENYERET KAPTEN!!"
"SIAL, TEMBAK KEPALANYA!!"
"MEREKA TERLALU LINCAH".
"Halo! Halo kapten!", panggil tentara yang menahan kami.
"KEVIN AWAS DIBELAKANGMU!!"
"ARGGHH.."
"KEVINN"
__ADS_1
Telepon tertutup, lampu kapal mati semua dan menyisakan lampu darurat pesawat yang berkedip-kedip. Semua tentara menghidupkan senter mereka dan melepaskan borgol kami.
Tiba-tiba dari arah depan lorong, muncul lingkaran cahaya merah. Tak lama kemudian keluarlah monster-monster tinggi besar yang bertaring runcing. Bertubuh bungkuk, bercakar tajam, bermata merah menyala, dan berekor kadal.
Jeritan mereka membuat adrenalin kami terpacu. Setelah mengeluarkan beberapa monster, lingkaran cahaya itu menyusut dan lenyap. Para monster itu berlari dan merayap mengejar kami.
Para tentara menutup topeng zirah mereka dan menembaki para monster itu dengan senjata plasma mereka. Aku dan Erkan segera memunculkan pistol plasma dari atas lengan bawah zirah kami. Lalu menembakkannya ke arah mereka.
Kami berhasil mengurangi jumlah mereka. Tapi, setiap kali kami hampir selesai membunuh mereka semua. Lingkaran cahaya lain muncul di mana-mana dan mengeluarkan banyak sekali monster.
Semua tentara robot dan manusia di dekat kami tewas tercabik-cabik. Menyisakan aku dan Erkan yang menggunakan kekuatan untuk melindungi diri. Untunglah zirah ini sangat keras, sehingga gigi dan cakar para monster itu tidak mampu merontokkannya.
Hanya saja, ketahanan zirah ini mulai berkurang ketika terlalu banyak mendapat hantaman.
"Erkan, pakai saja ide yang ada dikepalamu", pintaku sambil bergulat dengan salah satu monster.
"Aku akan kumpulkan mereka dan melempar mereka ke bawah lantai", "Selanjutnya tusuk mereka dengan syalmu".
Erkan mengangkat mereka keatas langit-langit lorong dan membantingnya ke lantai dengan sangat keras. Aku meloncat kelangit dan segera mengeluarkan syalku dengan cara membolongi sela-sela zirahku.
Aku kemudian memecah syalku sekaligus mengeraskan mereka kemode menusuk. Puluhan monster itu mati seketika setelah mendapat tusukan dariku.
Namun, tusukan dan hempasan dari Erkan membuat lantai kami reot dan ambruk. Kami semua akhirnya terjatuh ke lantai dasar kapal raksasa itu yang gelap gulita.
Sementara bolongan lantai bekas ambrukan itu tertutup atap lorong yang runtuh. Untunglah topeng besi kami secara otomatis menghidupkan pengelihatan malam.
Kami berdua membangunkan tubuh yang baru saja membentur lantai keras kapal. Dilihat dari lama jatuhnya, nampaknya kami terjatuh sebanyak tiga lantai.
"Kamu oke?", tanya Erkan"
"Ya, aku ok-"
SKRIEEECCHHH
Kami segera mengambil posisi menyerang lagi setelah mendengar pekikan iblis itu. Jantung kami berdua berdetak hebat ketika kami melihat jumlah mereka yang sangat banyak.
Mereka berdiri mengelilingi kami. Mereka berada dilangit-langit, berdiri, maupun merayap di lantai.
SKRIEEECHHH SCAAARKHH
Kami berdua bertarung dengan sangat brutal. Mereka sangat banyak, hingga tak terhingga jumlahnya. Aku juga menggunakan senjata plasmaku untuk meledakkan mereka.
Ketika jumlah mereka tinggal separuhnya. Lingkaran cahaya itu muncul lagi dan mengeluarkan lebih banyak monster lagi. Monster itu semakin liar menyerang kami berdua.
"Erkan ... Pakai teleportasimu!"
"Armor logam ini akan menusukku jika aku memakai teleportasi!"
"Dasar payah!"
Mataku tak sengaja melihat pintu keluar yang berada di ujung ruangan.
"ERKAN IKUTI!! CEPAT!!",
Aku segera berlari menuju pintu itu sambil menahan monster yang menyerangku dari arah samping. Erkan mengikutiku sambil melindungiku dari serbuan belakang dengan telekinesisnya.
Setelah keluar dari ruangan itu. Erkan menarik atap di dekat pintu itu kebawah. Runtuhan atap itu menutup pintu dan membatasi kami dengan para monster itu.
Aku mengikat Erkan dan membawanya ke melewati ruangan-ruangan yang ada disana sambil menyerang monster yang mencoba melompiati kami.
Ketika sampai di luar, sebuah lingkaran cahaya besar muncul dihadapan kami dan mengeluarkan dua monster yang berbeda.
Tubuhnya kira-kira setinggi lima meter dengan empat tangan yang besar tanpa kuku. Kakinya berbentuk laba-laba dengan dua pasang mata merah menyala.
Tak lama setelah lingkaran besar itu tertutup. Munculah belasan lingkaran cahaya yang kecil yang memunculkan monster kadal tadi dan ular berbentuk naga kecil.
"Jangan lagi", keluh Erkan.
"Syal biru sisik naga, aktif!"
Syalku berubah bentuk seperti sisik naga berwarna biru mencahaya. Aku langsung membuat senjata plasma dan menembakkan plasmaku membolongi salah satu perut monster laba-laba itu.
__ADS_1
Sementara Erkan menggunakan telekinesisnya terlampau kuat hingga mampu menerbangkan pohon-pohon dan tanah di hadapannya. Tubuh monster yang dilakuinya langsung tercabik-cabik seketika.
Tiba-tiba seekor monster kadal mengangkatku dan melemparku kemulut monster laba-laba besar itu. Aku langsung meledakkan roketku membalikkan arah.
Namun, gigi monster itu berhasil menggigit tangan kiriku hingga putus. Monster itu memegang kakiku lalu melemparkanku ke tanah dengan sangat keras.
"KEN!!"
Zirahku hancur dan kehilangan kesadaran saat itu juga. Erkan tersenyum lebar dan matanya menatap tajam kearah monster-monster itu.
Erkan meloncat dan berlari menggapaiku. Ia menebas semua musuh yang mendekatinya dengan brutal. Setelah mendapatkan kakiku, ia melemparku ke langit dengan telekinesis peringannya.
Kornea matanya tiba-tiba berubah warna menjadi oranye menyala. Seketika ia berteleportasi kembali di samping pesawat itu. Ia langsung menyentuh pesawat raksasa itu dan meneleport seluruh bagian kapal keatas langit.
Ketika berada di atas langit, ia melemparkan pesawat raksasa itu ketanah sekuat-kuatnya. Ia tidak peduli lagi ada orang atau apapun didalam kapal itu.
Kapal itu meledak dahsyat hingga puing-puingnya terlempar keluar atmosfer. Ledakan itu juga mendorong Erkan lebih tinggi lagi ke langit.
Bekas tabrakannya membentuk kawah yang sangat besar hingga tampak dari luar angkasa. Erkan mendarat ke tanah bak meteor turun dari langit.
Zirahnya hancur lebur akibat menahan panas ledakan dan serangan para monster itu. Ia mengayunkan tangannya dan mencampakkan semua logam dari tubuhnya.
Para monster yang tersisa ketakutan dengan Erkan dan berlalu mundur kembali masuk ke dalam lingkaran-lingkaran cahaya yang akan menutup. Namun, Erkan tidak semudah itu melepaskan musuh yang melukai temannya.
Ia menarik semua monster itu ke arahnya kemudian membanting mereka kepuing-puing pesawat yang tajam itu
Sementara itu, kesadaranku pulih ketika aku masih diatas langit. Aku segera membentuk roketku dan memperlambat lajuku.
"Hampir saja"
Aku tak sengaja tercampak jauh hingga ke kota Inaba. Sistem pertahanan udara kota tak sengaja mendeteksiku sebagai pesawat musuh dan langsung meluncurkan rudal-rudal mereka.
Untunglah Erkan datang dan sempat meneleportasiku kembali ke tanah. Rudal-rudal itu bertabrakan satu sama lain dan meledak diudara.
"Tadi itu hampir saja", "Untunglah kamu datang", kataku.
"Ya"
"Matamu sudah menyala, kita harus pulang sekarang!"
"Ya, katakan pada walikota jika misi kita gagal karena mendapat serangan dari mahkluk X".
"X?"
"Mahkluk-mahkluk itu berasal dari planet yang mengerikan", "Jika mereka bisa tahu planet ini",
"Mereka pasti sedang dikendalikan",
"Aku kira dulu mereka hanya mitos masa kecilku", jelas Erkan sambil membantuku berjalan.
"Siapa dia?"
"Entahlah, tapi aku punya firasat buruk tentangnya".
"Siapapun itu, kita akan melawannya".
"Benar".
.......
.......
.......
"Tuan presiden", "Sinyal SOS adalah sinyal terakhir yang kita dapat dari armada di C40Res".
"Begitu ya", "Kirim deklarasi perang ke planet itu".
"Tapi pak", "Kita belum tahu pasti apakah robot yang menyerang kita berasal dari sana atau tidak".
"Langsung saja kirim!"
__ADS_1
"Kita kesana bukan untuk membalas dendam atau mengambil manusia mutan lemah itu".
"Tapi .... Tambang uranium manusia bumi".