The Last Era

The Last Era
Act 3 [Cyborg]


__ADS_3

Sampailah kami di pertigaan lorong. Dari arah kanan terlihat tanah yang meruncing mirip dengan esnya Arina disertai pecahan batu batu, di sebelah kiri suhunya terasa lebih hangat dan terdengar suara besi yang terbentur. Kami segera berlari ke arah kiri. Dari kejauhan terlihat api merah yang menyambar-nyambar, tanah keras yang meruncing ke atas dan kayu yang mengangkat robot-robot berukuran sedang ke atas. Terlihat pula dua orang laki laki dan seorang gadis yang sedang kesulitan disana. Tanpa pikir panjang, Arina menusuk robot-robot itu dengan esnya dan aku menembak sisanya dengan senjataku. 


"Wah, akhirnya kelar juga," jawab salah satu laki-laki itu. 


"Iya, terima kasih ya buat kalian berdua,"


"Perkenalkan namaku Afton, cowo yang di sana itu bernama Shina," sambil menunjuk laki-laki yang telentang di lantai itu. "Halo", jawabnya malas sambil mengangkat tangannya. "Yang cewe itu bernama Vanadia, panggil saja Nadia". Gadis berambut panjang itu kemudian menjawab, "Halo senang berkenalan dengan kalian "Jawabnya sambil menjabat tanganku. "Ah iya sama," jawabku sambil tertawa. 


"Ohya ngomong-ngomong namaku Arina, senang bertemu dengamu," jawab Arina dengan tanpa tersenyum sambil menjabat tangan Nadia secara paksa. Lalu Arina menatapnya dengan tajam sambil tersenyum mengerikan. 


Nadia bergidik ngeri, dan aku hanya memalingkan wajahku. Namun Afton matanya masih berbinar binar dengan teman barunya, sementara Shina tertidur pulas dinlantai sambil membuat lingkaran api di sekelilingnya. 


"Baiklah mari kita lanjutkan mencari jalan keluar dari sini", jawabku dengan senyum paksaan. "Ah iya aku," jawab Nadia dengan ketakutan yang ditutupi dengan senyuman. 


"Hei, Shina ayo bangun," panggil Afton sambil mengetuk kepalanya dengan tanahnya. 


Shina akhirnya diangkat oleh Afton dengan senang hati, walau sedikit panas. Aku berbincang-bincang dengan Nadia di depan sementara Arina berjalan paling belakang. 


"Tadi aku terbangun dan terkunci di suatu ruangan besar seperti gudang,"


"Begitukah? Aku justru terkunci di tempat penghancuran akhir, untung saja Shina datang menolongku"


"Waduh bahaya sekali ya, untung saja bisa selamat,"


"Iya," jawabnya sambil tertawa. Aku ikut tertawa termasuk juga Afton. Arina justru menatap kami geram.


"Kamu cemburu?" tanya Shina.


"Ah tidak, tidak sama sekali," jawabnya sambil memalingkan wajahnya. 


"Oo..ke", jawabnya kemudian tidur lagi. 'Sebenarnya berapa sih stamina orang ini?'

__ADS_1


"Rin, kenapa rambutmu berwarna putih?" tanya Afton. 


"Oya juga ya, dan kenapa rambutmu berwarna coklat tua?" tanyaku balik. 


"Entahlah" jawab Afton. Arina memilih untuk diam, dan aku tahu pasti jawabannya. 


"Lihatlah ada percabangan jalan didepan", kata Afton.


Saat hampir mendekati percabangan lorong, kami melihat kilatan cahaya datang ke arah kami. Cahaya itu adalah roket dari sebuah cyborg yang memiliki tubuh seukuran kamu. Kami segera mengambil posisi bertarung. Shina terbangun dari gendongan Afrton karena suara gemuruh tanah Afton dan dia juga bersiap bertarung. Cyborg itu memiliki kelincahan yang tinggi bahkan dia mampu mengindari tembakanku dan semburan api milik Shina.


Cyborg itu memiliki senjata pedang yang panas, roket peledak yang membuatnya terlihat seperti berteleportasi. Kami sangat kewalahan dengan kecepatan robot itu. Aku terus menembakkan senjataku, Arina terus mengeluarkan penghalang es runcing, Afton terus melemparkan batuan kerasnya, Shina yang terus menyemburkan apinya, dan Nadia yang berusaha mengikatnya dengan akar rambatnya. 


"Donny kau punya rencana?" tanya Arina,


"Ya, Afton buat tembok batu untuk memperkecil ruangnya untuk menghindar!"


"Oke", jawab Afton. Afton mengangkat tangannya dan membentuk batuan keras di belakang mereka. 


"Baik,"


Arina berulang kali mengeluarkan es runcingnya dan menuntun cyborg itu untuk menuju bagian pojok tembok. Saat cyborg itu terkunci, Arina membekukan kakinya yang membuatnya tidak bisa bergerak. 


"Ini saatnya," 


Syalku berubah warna menjadi oranye, dan bersiap menembak. Robot itu akan menebas es dikakinya dengan pedangnya, namun pedangnya ditahan dengan rantai api Shina dan akar Nadia. 


"DON, SEKARANG!"


"Terbakarlah di neraka", 


Sebuah laser oranye terang keluar dari tembakan syalku, membuat dinding lorong bolong dan juga seisi lorong berguncang hebat. Lampu merah berkelap kelip, suara peringatan sayu-sayu terdengar dari kejauhan. 

__ADS_1


"Berhasil kah?" tanya Nadia. Namun dugaan kami salah, cyborg itu menghilang. Tiba-tiba tubuh kami terangkat dan tehisap keluar angkasa. Dengan sigap Afton, Arina dan Nadia menutupi tembok itu dengan kemampuan mereka masing masing. Arina bertanya, "Sepertinya kita berada di luar angkasa, dimana kita harus berhati-hati dengan sesuatu yang bisa merusak dinding lorong" 


"Seperti tembakkanmu Donny"


"Baiklah akan ku gunakan tusukan saja", 


"Ngomong ngomong dimana mahkluk itu?" tanya Afton. Keadaan seketika menjadi sunyi seketika. Tapi kami tetap dalam posisi menyerang. 


"Mataku yang rusak ataukah memang percabangan lorong itu terlihat kusam?" tanya Arina sambil menatap tajam ke arah percabangan lorong itu. "Bukan, aku juga iya", balasku. 


"Arina, tolong tarik lagi es runcingmu, disini dingin", perintah Afton. "Suhu ini bukan dari esku, tapi ini dari angin"


"Angin? Didalam lorong? Mana mungkin itu terjadi."


"Mungkin saja," jawab Shina dengan serius. Shina lalu mengeluarkan rantai apinya dan langsung mengikatkannya ke sisa akar yang di buat Nadia tadi. Seketika rantai itu mengikat dan menghentikan suatu benda yang bergerak dengan sangat cepat. 


"Cyborg itu, bagaimana mungkin?" tanyaku keheranan. 


"Ya ampun kau ini," jawab Shina sambil menepuk dahinya dengan tangan yang satunya. 


"Donny kau melihat percabangan lorong itu buram bukan?" "Matamu baik baik saja, itu hanya efek dari kecepatan cyborg ini, dia bergerak dengan sangat cepat melingkari kita sehingga kita tidak bisa melihatnya" "Dan angin yang kau rasakan Afton? Itu adalah angin dari hasil gerakan cyborg ini" "Kenapa dia berputar mengelilingi kita?" tanya Nadia. "Ternyata kalian juga? Ya ampun" "Dia bergerak cepat untuk mencari titik lemah kita, itu sudah jelas"


"Saat suatu mahkluk terlibat pertarungan dengan sesuatu yang memiliki kekuatan lebih hebat darinya, ia akan mencari titik lemah musuhnya untuk mengalahkannya, karena benda ini adalah cyborg maka ia termasuk makluk hidup."


"Tapi darimana kau tahu dia bergerak melingkari kita?" tanya Arina. Sambil menyeringai Shina berkata, "Sebelumnya, aku melempar sebuah api dibelakangku" 


"Api itu kupertahankan agar tidak mudah padam untuk mengetahui arah datangnya angin" 


"Jelas saja kalau angin itu bukan berasal dari percangan lorong, karena lidah api itu mengarah ke kita berlima bertemu" 


"Juga saat angin terpecah menjadi dua dan berasal dari percangan lorong, seharusnya kekuatannya tak akan mampu membuat lidah api tertekuk setajam ini"

__ADS_1


"Bagiku menghancurkannya cukup mudah". Shina mengeluarkan rantai api lagi dan mengikat cyborg itu sangat kuat. Cyborg itu mengerang kesakitan, namun Shina justru membakar rantai apinya semakin panas. Cyborg itu kemudian meleleh dan hancur berkeping-keping. Sementara aku dan Afton menghalangi pandangan Arina dan Nadia dengan syalku dan batuannya, sekaligus melindungi kami dari pecahan cyborg itu. Setelah menhancurkan cyborg itu dan melenyapkan rantai apinya, Shina langsung jatuh tertidur. Afton kemudian menggendongnya dan kamipun melanjutkan perjalanan. 


__ADS_2