The Last Era

The Last Era
Act 11 [Aquopora]


__ADS_3

Robot itu tak ada puas-puasnya menyerangku. Ribuan tusukkan kulancarkan secepat kilat, namun dia selalu berhasil menghindar atau beregenerasi kembali tubuhnya. Robot-robot yang membantuku telah musnah semua. Tak ada lagi yang datang membantuku.


"Mari kita mulai gamenya."


Syal milikku berubah warna menjadi kuning terang dari tadinay merah. Dengan begini waktu pengisian tembakanku lebih cepat dengan suhu dan kekuatan tembakan yang lebih kuat. Tapi dalam mode ini aku hanya bisa bertahan paling lama 15 menit.


Robot itu berubah bentuk menjadi harimau bercakar panjang dan bergerak dua kali lebih lincah dari sebelumnya. Aku terbang kesana kemari menghindari serangan robot itu. Semua tembakanku meleset, dan justru membolongi atap markas kami.


Waktuku tinggal 90 detik lagi. Tenagaku benar-benar sekarat. Robot itu kemudian melancarkan cakarnya, di saat aku sudah mulai kehilangan harapan. Tiba-tiba sebuah es menghalangi cakar robot itu.


"Donny ikuti aku!",panggil Arina.


"Tapi kita tidak bisa membiarkan robot ini."


Belum sempat berfikir lagi, robot itu melompat dan akan menyakar Arina dari belakang. Dengan respon cepat, aku menahan cakarannya dengan tanganku. Alhasil tanganku tergores cukup dalam dengan irisan melintang dengan goresan tipis di bagian pipiku.


"DONNY."


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas atap. Pesawat itu menjemput kami dan siap untuk terbang.


"Arina, kau naiklah duluan."


Aku menahan robot itu dengan terus menusuknya. Telingaku mulai berdenging dan kepalaku mulai pusing. Mengetahui hal itu Linda menggunakan anginnya untuk mendorong mundur robot itu. Sementara aku di tarik menggunakan akar Nadia ke dalam pesawat.


Pintu pesawat kemudian tertutup dan pesawat terbang dengan kecepatan cahaya. Ramko kemudian siuman setelah pesawat itu bergetar. Ia tak mengingat peristiwa yang barusan terjadi.


"Apa dia baik-baik saja?",tanya Arina cemas.


"Tenanglah dia hanya tak sadarkan diri", jawab Nadia.


"Dok, sebenarnya robot apa itu?", tanya Arina.


"Robot berbahan logam cair, model Devil 10 atau D-10 dengan tingkat berbahaya garis kuning", "Berhati-hatilah karena dia bisa mengeraskan atau mencairkan tubuhnya", "Dia juga bisa mengikuti bentuk tubuh orang dan benda."


"Untunglah dia tertinggal disana."


"Aku tak berfikir begitu."


Tiba-tiba pesawat kami ditusuk besi panjang. Udara di dalam pesawat tersedot keluar angkasa. Akibat kerusakan itu, pesawat terhenti menjadi kecepatan normal. Logam cair masuk melalui lubang itu dan membentuk tubuhnya.


"Buka pintu samping dan buang dia keluar", perintah Dokter Jassen.


"Bagaimana caranya jika kita saja tidak bisa menyentuhnya?", tanya Ramko.


Linda mendorong robot itu dengan anginnya. Tapi anginnya tidak begitu kuat di ruangan tetutup. Juga hal itu sangat berisiko kalau sampai tubuh pesawat yang pecah karena perbedaan tekanan yang terlalu tinggi.


"Akan kucoba ini."


Mabel kemudian menenggelamkan robot itu kedalam lingkaran air. Kemudian Arina membekukan air tersebut.


"Afton buka pintunya!", perintah Shina.


Ketika pintunya terbuka benda-benda didalam mulai tertarik keluar. Linda kemudian mengurangi tekanan angin keluar dengan angin dorongan kedalam.


Dengan begitu angin yang terdorong ke dalam akan bersifat seperti sumbat botol. Ramko dan Nadia kemudian melempar lingkaran air beku itu keluar angkasa, kemudian menutup pintu pesawat. Selanjutnya Nadia menyumbat lubang pesawat dengan pecahan kayu jati.

__ADS_1


"Berpegangan, kita akan menggunakan kecepatan cahaya."


...*...


Sekali lagi aku terbangun ditempat yang berbeda dengan tangan yang diperban. Tapi kali ini aku berada dirumah sakit. Bentuknya sangat berbeda dengan tahun 2000-an. Semuanya robot yang bekerja dari mengganti perban, mengganti selang impus dan membantuku berjalan.


Rumah sakit ini memiliki tv yang sulit dimengerti. Gambarnya berbentuk 3D dengan hologram berwarna. Di sebelah kananku terdapat kaca yang menampilkan pemandangan langit sore, dengan matahari oranye terang. Sepertinya itu bukanlah matahari, ukurannya lebih kecil dari matahari.


Serta sepertinya ini bukanlah bumi. Mungkinkah ini planet Aquopora? Mungkin saja. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk.


"Masuk!"


"Akhirnya kamu bangun juga", kata Shina.


"Cuma berdua? Dimana yang lainnya?"


"Dokter Jassen sedang berbicara dengan kepala negara ditemani Ramko", kata Linda.


"Sementara Mabel dan Nadia nemani Arina yang sakit di rumah."


"Memangnya Arina kenapa?"


"Dia demam karena terlalu memikirkanmu, dia ngira kalau kamu sudah mau mati."


"Ya ampun, aku cuma luka di tangan dan muka."


"Dengan koma 16 hari", kata Shina sambil memalingkan wajah.


"16 hari?"


"Oke Lin", "Oh ya dimana Afton?"


"Dia juga menunggu di rumah sama Mabel dan yang lainnya, dia bilang 'TV ini keren, dia bisa menyatakan benda' sama 'lagi pula rumahku surgaku' begitulah."


"Lagipula besok aku sudah boleh pulang."


"Ok besok kami jemput jam 4 pagi."


"Baiklah, setelah ini kalian mau kemana?"


"Aku harus beli makan dulu untuk nanti dirumah", jawab Shina mantap.


"Kalian berdua berhati-hatilah!"


"Kami pergi dulu, dadah."


...\=...


Setelah menjenguk Donny, Aku dan Linda pergi untuk mencari jajanan. Kota di Aquopora sangat besar dan megah, berbeda sekali dengan di bumi tahun 2000-an. Kendaraan sudah melayang diatas jalurnya, dan semua orang berjalan dengan berdiri diatas papan beroda. Orang-orang terlihat heran dengan kami yang berjalan menggunakan kaki.


Pasar disini juga menjual makanan yang tak lagi memiliki kebudayaan yang khas, dengan kata lain hampir mirip satu sama lainnya. Makanan pokok disini adalah roti, mungkin karena nasi lebih sulit untuk ditanam.


"Pak, beli sate 19 bungkus", pesan Linda ke salah satu pedagang di situ.


"Ok dik", balasnya.

__ADS_1


Aku seketika memiliki perasaan buruk, mungkin karena Linda dipanggil dik. Sehingga aku pun mengalihkan perhatiannya.


"Lin, kamu pesan segitu bukannya kebanyakan?"


"Ya untuk malam ini sama besok, delapan-delapan."


"Yang dua?"


"Buat aku", jawabnya sambil tertawa kecil.


"Asal kamu habiskan."


"Jangan menghinaku, walaupun badanku cuma segini tapi porsi makanku besar."


"Hmm baiklah", jawabku sambil memalingkan wajah. Pedagang itu tertawa melihat tingkah kami berdua.


"Ternyata kalian saudara yang akrab ya?", puji penjual itu.


"Kami bukan saudara ya pak", jawab kami bersamaan.


"Loh bukan, berarti kalian pacaran ya?"


"Bukan begitu kami cuma disuruh beli makanan aja", balas Linda tergesa-gesa. Sementara aku hanya diam saja dengan posisi yang sama.


Sesampainya di rumah, kami disambut Mabel yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Bel, Arina gimana?", tanyaku.


"Sudah mulai membaik."


"Syukurlah."


"Donny kabarnya bagaimana?"


"Besok sudah boleh pulang katanya."


"Syukurlah."


Afton masih berada di depan TV dengan tubuh yang basah kuyup.


"Afton kok kamu basah?", tanyaku.


"Tanyakan itu sama Mabel!", jawabnya santai.


"Kenapa b.."


"Aku sudah muak menyiramnya dengan air", Mabel menyela perkataanku.


"Ramko dan Dokter Jassen belum pulang?"


"Mereka bilang, pulangnya lusa."


"Ok, kalian makanlah dulu aku mau istirahat sebentar", kataku sambil pergi menuju kamar.


Sementara itu Linda dari tadi hanya tertunduk membisu. Mungkin karena malu atau trauma dengan kejadian tadi aku juga tidak mengerti.

__ADS_1


...\=...


__ADS_2