The Last Era

The Last Era
Act 19 [Daun Berguguran]


__ADS_3

"Mereka illegal? Maksud tuan?", tanyaku kebingungan.


"Dr. Jassen, ayah kalian, hanya mendaftarkan nama kalian bertiga sebagai mutan elemen."


"Mudahnya, kalian sebagai pelindung planet ini ya, ditanggung negara", jawab hakim itu setengah menghina.


Shina menggertakkan giginya dan dengan lantangnya berkata, "Kami bertugas disini sampai kehilangan teman kami, tapi kalian tidak memberikan balasan atas teman kami"


"Lebih baik kamu sadar dengan siapa kamu bicara sekarang, anak egois", balas hakim itu santai.


"Lagi pula, data yang saya kumpulkan menunjukan tidak adanya serangan alien selama 10 tahun terakhir", "Dengan kata lain, manusia tidak diperlukan saat ini", sambung robot itu.


"Lalu serangan kami waktu itu?", tanya Shina mulai ketakutan.


"Serangan itu tidak berguna dan hanya membuang personil aquopora saja, sebab itu kami pikir adil untuk kalian kehilangan nyawa teman kalian juga".


"Mahkluk apa anda ini? Apakah anda semuanya alien?", tanya Shina dengan nada menggeram. Wajahnya mulai menunjukkan kemarahan dan dendam, tangannya mengeluarkan api dan menghancurkan borgolnya.


Dari belakang badannya dia mengeluarkan bola api kecil. Melihat hal itu, Donny langsung menahan menarik tangan Shina dengan syalnya sebelum ia sempat melemparnya. Melihat api di tangan Shina, robot dan para penjaga mengarakan senjatanya ke arah Shina.


"Aku sudah puas melihat dengan sidang ini, karena aku sudah puas, sebagai gantinya semua asuransi dan tanggungan lainnya akan ditarik dari kalian", "Kalian tidak akan kuberi hukuman, hanya saja masyarakat mungkin akan membenci kalian", jawab Hakim itu.


"Baiklah kami akan pergi dari sini sekarang juga, Donny, Ramko ayo enyah dari sini".


......\=......


Ketika terbangun, kedua tanganku terikat menganggantung. Ketiga temanku belum siuman dan terikat dengan cara yang sama. Jarak kami berjauhan serta ikatannya sangat kuat , sepertinya itu sebuah rantai bercahaya. Aku melihat kesekeliling, tidak ada penjaga. Artinya ini kesempatanku.


Aku lantas memanggil temanku, tapi suaraku tidak bisa keluar dan terdengar. Akarku juga tidak sampai untuk menyentuh ke mereka. Sebuah ide muncul di kepalaku.


Aku mengubah tanganku menjadi batang lunk. Lalu memutuskan tanganku supaya bisa lepas dari ikatan itu, lalu menumbuhkannya lagi. Sepertinya ini kekuatan rahasiaku, regenerasi tak terbatas.


Aku menarik-narik kaki Arina, tapi tak kunjung membuka mata. Hal yang sama kulakukan pada yang lainnya, hasilnyapun sama. Aku bahkan tak bisa mengeluarkan suara, seperti ada peredam ada penyerap suara yang kuat.


Aku menatap sekeliling dan menemukan sebuah ventilasi udara. Sebelum memasuki situ aku melempar sebuah biji kacang tak jauh dari situ.


Ventilasi itu kecil namun, cukup untuk tubuhku yang ramping. Suara angin menggema didalam ventilasi. Aku mampu merasakan udara yang semakin lama semakin dingin. Tubuhku mulai bergetar kedinginan, sehingga aku menumbuhkan bunga di bagian telapak tangan dan kaki untuk menjaga suhu.


Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari depan. Suara itu semakin mendekat kearahku, dan membuatku mengeluarkan pisau kayu untuk berjaga jaga. Terlihat sebuah tusukan melintang persis didepanku.


Aku segera merobek dinding ventilasi dan keluar dari ruang sempit itu. Ketika mendarat aku tidak melihat seorangpun didepanku. Ruangan itu sangat terang, penuh tabung gas, luas, dan terdapat bebespa tombol.


Tiba-tiba sebuah benda muncul dari bawah menusuk perutku dari belakang dan mengangkatku keatas. Tusukan ini, es? Bukan ini kristal, mungkinkah?


Aku melihat kearah belakang dan menemukan sosok yang menusukku. Tubuhnya setengah robot dan di tutupi berlian hijau. Kekuatannya seperti Afton, tapi yang kutahu Afton mengendalikan tanah.


Ditengah situasi itu, kalung berlianku memantulkan cahaya dan membuatku teringat sesuatu.


"Sial kau, beraninya meregut nyawa temanku dan mengambil kekuatannya"


"Wow, bahkan di saat kamu mulai kehabisan darah",


"Kamu masih bisa berfikir sedalam itu",


"Tak heran kalau bos menyuruh kami membunuhmu duluan".


"Kami?"


"Perhatikan baik-baik".


Dua cyborg lain, berkemampuan sama muncul dari belakangnya. Salah seorang dari mereka menarik paksa kalung pemberian Afton daril leherku.


"Kembalikan!"


"Kamu tak pantas memakai benda ini", jawab temannya.

__ADS_1


"Kayu dan kristal itu berbeda, jadi benda ini kami saja yang pakai".


"Baiklah kalau begitu mau kalian", jawabku dengan nada halus.


Aku mengubah pisau di tanganku menjadi palu dan mengantamkannya ke bagian bawah kristal. Mereka menyambutku yang mendarat dengan lemparan kepingan berlian tajam.


Pecahan itu menusuk dan menggores beberapa bagian tubuhku. Dari tanganku muncul sebuah beberapa biji kacang dan menghamburkannya kelangit. Seketika tubuhku yang lama berubah menjadi boneka kayu dan tubuhku yang baru muncul dari langit.


Dengan cepat aku menghantamkan palu katu itu ke kepala salah satu dari mereka, dan membuat seorang dari mereka terpental cukup jauh.


"Kena kau!"


Menanggapi serangan itu dua dari mereka memunculkan pedang kristal dan menebas tangan dan kakiku.


"Mudah sekali ternyata".


"Tentu saja bagiku", jawabku sambil mengubah tubuhku menjadi sebilah bambu, dan menusukkannya ke dada cyborg itu.


"A-apa?!"


Tubuhku yang baru muncul dari belakangnya dan mengikat temannya yang lain dengan akar tua kuat. Dia menghancurkannya dengan tangannya yang di lapisi berlian bergerigi.


Pecahan kayu itu mengenai suatu tabung dan mulai membuat ruangan menjadi berkabut. Temannya yang terpental memanah dadaku dengan berliannya.


Lagi, tubuhku berubah menjadi kayu dan kabut memenuhi seluruh ruangan. Jarak panjang sangat kecil. Aku melakukan serangan yang sama dengan yang awal, namun mereka berhasil mengatasinya dengan zirah berlian penuh.


"Berhenti bermain-main!".


"Tidak, sampai kalian kuantar ke neraka".


"Aku bilang, BERHENTI BERMAIN!!" bentaknyanya sambil melemparkan pecahan berlian ke segala arah.


Pecahan itu membentur motor ventilasi dan membuatnya bergerak. Udara di sana mulai berputar dan membuat jarak pandang membesar. Ditengah tengah kabut itu aku harus bertarung dua lawan satu dengan zirah kayu dan senjata reaper.


Mukaku datar dengan mata tanpa kilauan sedikitpun. Belum lagi seranganku lebih agresif dari sebelumnya. Aku berhasil mengalahkan satu, dan membuat cyborg terakhir sekarat.


"Kali ini kau tamat", jawanbnya dengan suara yang mengerikan.


"Tidak, anda yang akan begitu, hihihi".


Kabut menghilang, jarak pandang kembali normal. Aku menduplikasi tubuhku menjadi 14 dengan berbagain senjata dan bentuk.


Cyborg itu kebingungan dan menyerang secara brutal. Salah duplikatku mengikatnya dengan akar kayu tebal dari bawah tanah.


"Kenapa kau bisa menjadi banyak?", "Mungkinkah-"


"Benar sekali tuan jenius, kacang-kacang inilah penyebabnya", "Mereka bisa tumbuh dengan cepat menjadi individu baru atau membuatku berpindah tubuh".


"Bos tidak pernah memberitahuku soal ini".


"Hehe, bosmu mungkin tidak lebih pintar darimu", aku mendekati telinganya dan berbisik, "Dimana kau letakkan temanku".


"Dia ada di luar dan di sembunyikan dibawah pohon", jawabnya ketakutan.


"Terima kasih, oya dan aku ambil kalung ini bersamaku".


"Saudaraku, tuntaskan kerja kalian".


Setelah mengambil kalungku, aku pergi meninggalku duplikasiku dan berjalan keluar ruangan sembari memegang senjata reaperku yang mulai koyak. Ketika berjalan menyusuri lorong, aku di todong banyak sekali robot dan cyborg.


"Mereka ada lagi?",


"Baiklah akan kuhabiskan sisa tenaga ini",


"Apapun asalkan aku bisa bertemu dengan Afton".

__ADS_1


.


.


.


Jumlah mereka terlalu banyak. Mereka membuatku sekarat dan tidak mampu lagi beregenerasi. Aku mengeluarkan kayu yang sangat tebal dari tanah dan menutupi seluruh celah di lorong.


Aku berjalan dengan dibantu sebuah tongkat menuju cahaya berudara dingin. Tampak jauh sebuah pohon di hamparan salju yang luas. Angin semakin kuat dan terciptalah badai salju.


Tubuhku tertutupi selimut salju tebal.


Tubuhku mulai bergetar kedinginan.


Tangan kiriku memegang kalung berlian itu dengan kuat.


"Aku harus mengembalikan ini kepadanya".


Badanku semakin berat hingga aku terjatuh karena kakiku tak mampu lagi berdiri dengan luka yang banyak itu. Tangan kiriku masih memegang kalung itu, sementara tangan kananku menarik badanku.


Aku duduk bersandar pohon itu. Lalu meletakkan kalungku tepat di samping kananku. Pohon ini semakin membesar dan tumbuh sangat cepat. Tubuhku mulai berubah menjadi kayu dan menyatu dengan pohon itu.


"Teringat seseorang yang selalu ceria"


"Senyum dan candaannya membuatku tertawa"


"Tapi dia sudah pergi mendahuluiku"


"Kalau memang ini akhirku"


"Aku ingin hidup bersamanya di tempat yang berbeda"


"Berdua, selamany-"


"Nadia, kenapa kau disini?", "Lihat ada sisa salju di pundakmu".


"Pohonnya? Dimana saljunya? Bukankah-"


"Shht, diamlah kau terlihat ketakutan", jawabnya sambil memelukku erat".


"Hwah, ada sesuatu yang menusukku".


"A-Apa!? Apa itu?!", dia terkejut hinggu mundur kebelakang.


Dia melihat benda di tangan kiriku lalu tersenyum lebar.


"Tak kusangka kau masih menyimpannya".


"Ah bukan, ini cuma, nggak sengaja ada di saku, bukan, waktu it-", aku mulai salting.


Dia menggelengkan kepala, lalu mengambil kalungku dan mengikatkannya di leherku.


"Baiklah aku ulangi lagi".


..."Selamat datang Nadia"...


..."Ya, aku pulang Afton"....


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...*Mereka yang hidup pasti akan kembali ke asalnya*...


__ADS_2