The Last Era

The Last Era
Act 47 [Kesempatan Kedua]


__ADS_3

Sebulan sejak ia dirawat, Tu San meninggal. Membuat Okta sangat terpukul dengan itu. Setelah pemakaman selesai, Okta masih berada disana. Berdiri mengamati papan namanya, hingga hujan turun semakin deras.


Pikiran dan hatinya terasa hampa. Udara dingin menerpanya begitu kuat, namun itu tak mengubah posisinya sedikutpun. Satu jam lebih, hingga lamunannya akhirnya bisa lepas begitu ada seseorang menyodorkan sebuah payung dari belakang.


"Kak Okta, ni payung", ucap Sami.


"Oh Sami, makasih".


"Yaa".


"Okta, kamu masih disini?", "Ini mau malam lo", ucap Mabel.


"Iya, bentar lagi saya pulang kok",


"Ngomong-ngomong kenapa kamu ke sini Sam?", tanyanya balik.


"Sami penasaran, siapa itu Tuan Jassen", jawab Mabel.


"Siapa itu bi?"


"Kamu nggak kenal?", "Dia ilmuwan yang menciptakan manusia mutan elemen", "Bisa dibilang dia itu ayah kami atau kakekmu secara tak langsung".


"Kakek?", "Paman Ramko dan Paman Erkan tidak pernah menceritakan itu".


"Hubungan kami tidak begitu akrab", "Terutama yang laki-laki, mereka sering memberontak kepadanya".


"Kalau kalian saudara kandung, kenapa kalian boleh menikah?", tanya Okta heran.


"Um, itu karena kami sebenarnya tak punya hubungan darah", "Diri kami yang asli, sel induk kami yang asli, tidak pernah diketahui", jelas Mabel.


"Ooo".


"Kak Okta, kamu tinggal dimana?", tanya Sami.


"Di rumah sementara, seperti biasa".


"Masih disana?", tanya Mabel terkejut.


"Iya, kenapa?"


"Ya ampun.. sekarang kamu ikut bibi, kemasi barangmu, kamu tinggal dirumah bibi saja sama Sami".


"Kenapa?"


"Bibi yakin kamu belum terbiasa hidup sendirian", "Apa lagi saat sedang depresi begini, bisa bisa makanmu nggak keurus", "Sudah ayo ikut bibi, nanti tambah kedinginan kamu", ucapnya cepat namun halus.


"Ayo dong kak, ayo", paksa Sami.


"Hmm, iya deh".


Baru beberapa langkah kami berjalan. Okta merasa seperti ada yang mengawasiku entah dari mana. Ia sontak mengaktifkan sensor suhuku. Namun, Okta tidak mendeteksi siapapun disekitar.


"Kenapa Ok, kok berhenti?", tanya Mabel.


"Nggak ada kok, cuma kesandung", balas Okta berbohong.


Lepas dari pintu kuburan, mereka pergi kerumah sementara Okta untuk mengambil beberapa barang. Setelah itu mereka langsung saja pergi ke rumah Sami. Sampai disana, Okta baru menyadari ada yang janggal.


"Sam, mana ayahmu?"


"Kerja, entah masih belum pulang sampai sekarang", balas Sami dengan raut muka muram.


"Bentar lagi pasti balik itu".


Mabel tak mau mendengarkan percakapan mereka berdua. Ia membuka bagasi mobil, lalu membantu memindahkan barang-barang milik Okta. Tentu saja mereka berdua merasa tidak enak dan akhirnya ikut membantu.


Setelah mengangkati barang Okta ditunjukkan kamar miliknya. Posisinya berdampingan dengan Sami. Hal itu membuat Sami kerap datang ke kamar Okta untuk sekedar bermain game atau mengobrol.


Sampai suatu hari ia tiba-tiba merasa lega. Seperti orang yang mengawasinya sudah tidak ada lagi. Ia juga tiba-tiba berpikiran untuk mengunjungi makam Tu San. Tanpa pikir panjang ia langsung pergi kesana dengan meminjam motor bibinya.


Disana ia melihat beberapa orang mengerumuni makam milik Tu San. Okta mendesak orang-orang disekitarnya supaya ia dapat melihatnya. Betapa terkejutnya Okta setelah mengetahui tanah makam sahabatnya berlubang. Seperti tidak ada apapun disana. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apa yang terjadi disini.


......*......


Sehari sebelumnya, Ramko berhasil mendarat di planet musuh seorang diri. Perbedaan waktunya cukup jauh, sehingga ia tak mau berlama-lama disana.


Ia membawa ransel kecil yang mampu menampung banyak barang sekaligus. Didalamnya diisi makanan dan senjata berupa ganggang untuk rangka pedang atau tombaknya. Tak lupa ia membawa pistol plasma kecil.


Kebetulan saat itu malam hari. Dengan cepat ia berlari melewati gurun pasir. Lalu mengendap-endap memasuki markas musuh lewat ventilasi udara.


Sialnya setelah hampir setengah jalan di ventilasi udara. Dari tepi-tepi ventilasi itu keluar semburan api yang memenuhi seluruh ventilasi. Memaksa Ramko untuk turun kebawah tepat sebelum api itu menyentuk kakinya.


Begitu mendarat, ia langsung mengambil pistolnya dan menembak siapapun yang melihatnya. Secara kebetulan ia mendarat di ruangan penjaga yang penuh dengan layar berisi kamera keamanan


Disana Ramko menemukan Arina yang dikurung di sebuah tabung kaca. Sayangnya ia tidak menemukan Yuki dan Erkan diamanapun. Ia segera mengambil kameranya kemudian memotretnya untuk menghapal ruangannya.


Setelah dari sana ia berlari keluar menuju posisi Arina ditahan. Baru saja keluar dan memasuki lorong ia dikepung oleh puluhan musuh yang menghalangi jalannya. Ia diminta untuk menyerah sebelum ditembak, tapi Ramko menolak sambil melemparkan pistolnya ke arah musuh.


Cyborg yang terkena lemparan itu marah, ia sontak menyuruh kawananya untuk menyerang Ramko. Ramko mengmpulkan tenaganya ke tangan. Ia dengan cepat menjulurkan tangannya kedepan seperti mendorong sesuatu dengan sekuat tenaga.


Seketika muncul gaya listrik kuat yang membuat semua benda didepannya termasuk robot dan senjata plasma rusak tersetrum.


Robot-robot kehilangan tenaganya, para cyborg kehilangan fungsi lengan biomiknya, dan senjata plasma yang dipegang mereka meledak secara bersamaan. Untunglah Ramko sempat menjaga jarak sebelum ledakan itu terjadi.


Diketahui Ramko memang mempunyai teknik baru yang ia pelajari sangat lama. Yaitu gelombang emp, yang mampu merusak seluruh alat elektronik didalam radiusnya. Meskipun kuat, teknik itu memakan banyak tenaganya.


Semua lampu didepannya padam. Ramko mengambil rangka senjata yang ia ubah menjadi pedang listrik biru. Pedang itu bercahaya dikegelapan sebagai penerangan sekaligus untuk menyerang musuh yang masih tersisa. Ia berjalan perlahan sambil tetap mempertahankan posisi berjaga.


Setelah berjalan 20 meter, ia mulai melihat bala bantuan datang. Pada jarak, itu efek gelompak emp milik Ramko sudah mencapai batasnya.


Ribuan tembakan menluncur kepadanya. Ia berlari maju secara zig zag sambil menusuk dan menebas musuh dengan teknik berpedangnya. Ia juga dihadapkan dengan dua robot besar berbentuk banteng yang menyerangnya secara lurus.


Kedua banteng besi ini berulang kali hampir melukainya. Ramko melempar tasnya karena dianggap menganggu, ia lalu mengambil rangka senjatanya yang satunya sesaat sebelum salah satu banteng menyambar tas miliknya.


Ramko berlari menjauh untuk memancingnya berkumpul menjadi satu. Setelah jaraknya cukup jauh, Ramko mengeluarkan emp untuk yang kedua kalinya. Kedua banteng itu mati tersengat listrik bersamaan dengan lampu-lampu disekitar.


Baru juga Ramko membalikkan badan, salah satu banteng itu bangun dan menyeruduk Ramko sangat kuat. Untunglah Ramko tidak terkena tusukan tanduk banteng itu.


"Salah satu banteng itu tidak bisa aktif lagi, namun yang satu ini sepertinya tidak mempan", gumamnya.


Ramko mengambil kembali kedua pedangnya dengan kedua tangannya sambil melompat menghindari serudukan. Ia menebaskan kedua peda punggung banteng itu secara bersamaan. Namun, bilah pedang itu seketika pecah seperti kaca.


Banteng itu menyadari serangan Ramko. Benda itu menenda dada Ramko dengan kakinya hingga membentur ke dinding lorong. Mulut Ramko mulai mengeluarkan darah akibat tendangan didadanya tadi. Tapi ia tetap memaksakan tubuhnya untuk bangun.


Ramko menghilangkan kedua pedang yang ada ditangannya. Lalu memunculkan dua trisula panjang berwarna ungu yang penuh loncatan listrik.


Ramko berulang kali melayangkan tusukan dan tebasan dengan dua trisula ditangannya. Setruman listrik yang tersalur ke tubuh banteng itu, hanya membuatnya kaku untuk sejenak. Sementara tubuhnya hanya mendapat luka gores.


Ketika dia lengah, banteng yang satunya lagi tiba-tiba muncul dan menyeruduknya dari belakang. Dengan cepat ia berpindah dan berlari menjauh. Namun banteng itu mampu menyamainya karena kecepatan lari Ramko hanya secepat lari manusia biasa.


Dari kejauhan ia melihat sekat lorong yang hendak menutup. Ramko melempar salah satu strisulanya ke atas pintu untuk membuatnya tersangkut. Setelah lolos ia menempelkan tangannya di pintu itu, kemudian mengeluarkan listrik bertegangan tinggi yang membuat pintunya seketika konslet dan jatuh dengan keras.


Salah satu banteng yang hampir lolos tertimpa pintu baja itu. Ia seketika mati, tubuhnya gepeng dan hancur. Sementara yang satunya menyeruduk pintu itu berulang kali. Ramko memanfaatkan kesempatan itu untuk lari sejauh-jauhnya.


Masalah baru muncul ketika Ramko menemukan perempatan jalan. Pintu di segala arah tertutup rapat. Menyisakan ruang sempit berbentuk tanda tambah jika dilihat dari atas.


Dari atap terdengar suara gemuruh hantaman atanra besi dengan besi. Ramko mengaktifkan zirah petirnya. Kekuatan lamanya yang jarang dipakai jika keadaan tidak genting. Sebab, kekuatan itu akan benar-benar menguras tenaga tiap menitnya.

__ADS_1


Ventilasi keempat-empat ruangan terbuka. Dari atas turun 4 robot berbentuk samurai dengan zirah hitam legam dan pedang mereka yang panjang. Ramko terkepung dari keempat sisi. Ia tak ada pilihan lain selain melawan. Robot dibelakang Ramko sebagai yang terdekat menyerang duluan.


KRANG


Pedangnya ia tebas melintang kebawah dengan sangat keras. Untunglah gerakannya lambat, sehingga Ramko menghindar dengan cara melompat keatas kepala robot itu. Ketika mengudara ia menancapkan trisulanya ke tengkuk robot itu.


Robot itu tersetrum dengan sangat hebat. Meskipun kuat dan mematikan, robot itu membalikkan badannya lalu mencengkram leher Ramko. Ia mengangkat Ramko dan melemparkannya ke langit sampai membentur atap. Robot itu melempar Ramko dengan tubuh masih depenuhi listrik kebiruan.


Setelah Ramko jatuh kelantai. Robot itu mengangkat kakinya, ia hendak menginjak kepala Ramko. Tak lengah ia berguling tepat sebelum kaki baja itu mendarat di kepalanya.


Ramko mengangkat badannya lalu meninju wajah robot itu. Tentu saja hal itu hanya menyakiti tangannya. Dengan mudah robot itu mengembalikan posisi wajahnya lalu mengambil tangan kanan Ramko dan membantingnya ke lantai.


Robot yang lain mengeluarkan senjata plasmanya. Mereka mulai mengisi plasma dengan tenaga penuh. Ramko lamgsung bangkit dan mengeluarkan gelombang emp lagi.


Gelombang emp itu hanya membuat robot-robot tersengat sebentar. Sesaat kemudian mereka kembali hidup dan kembali mengisi peluru mereka.


Ramko menyambarkan listrik pada pintu kanan. Ia mencoba membuatnya konslet dengan membuatnya naik kembali. Ternyata benar, pintu itu perlahan naik. Saat pintu terbuka sepertiga Ramko langsung saja berdiri dan berguling keluar. Tak lupa ia menarik lagi listriknya untuk menjatuhnya lagi.


Tepat setelah Ramko berhasil keluar, terdengar suara dentuman yang sangat keras dari belakangnya. Suara itu mengguncang seisi lorong. Efekya membuat sekat-sekat lorong menutup satu persatu.


Lagi-lagi Ramko terkunci diantara sekat-sekat. Tapi bagian ini cenderung masih lebar dari pada yang tadi. Ramko menyambar pintu sekat didepannya dengan listriknya lagi. Semenatara robot-robot tadi mengisi plasmanya dengan kekuatan yang sama dengan tadi.


Ketika Ramko hendak melompat melewati lintu sekat. Masuk terlebih dahulu medeledakkan pintu dibekangnya. Membuatnya terpental kedepan hingga membentur pintu yang dia angkat tadi. Pintu yang ia bentur sontak tertutup kembali karena hilangnya reaksi listrik dari Ramko.


Ramko merasakan ada bagian dari sendi kakinya yang tergeser. Ia menahan rasa sakitnya sambil mencoba berdiri dengan satu kaki. Robot-robot baja tadi masuk dengan langkah berat mereka.


Salah satu dari mereka mencekik leher Ramko dan mengangkatnya ke langit. Namun, disaat itu juga Ramko mendengar suara-suara besi dibengkokkan dari arah depannya.


Tiga robot yang lain berbalik badan dengan posisi siaga. Tiba-tiba dari balik asap abu abu tebal. Muncul sebuah benda hitam yang terbang menghantam robot di posisi paling kiri.


Dua robot di tengah belakang dan kanan menembak kearah kabut secara terus menerus hingga senjata mereka memanas. Dari dalam kabut muncul siluet bayangan berbentuk seperti mansia, tapi dengan telinga kucing dan mata kuning menyala. Disekelilingnya terdapat 5 cahaya merah yang melayang disekelilingnya. Warna cahaya itu, sama dengan warna plasma ditembakkan kedua robot tadi.


KRAK KRAK KRANG


Tubut robot diposisi paling kanan mengecil seperti diremas dengan tangan raksasa. Tubuhnya patah patah dan hancur seperti puing-puing bangunan gempa. Ramko memperhatikan benda yang dilempar bayangan itu dengan saksama.


"Robot banteng tadi?"


Robot diposisi tengah berlari menembus asap tebal itu sambil mengayunkan pedangnya.


PEW


Cahaya merah disekitar bayangan tadi terbang menembus kepala robot itu secara bersamaan. Bayangan itu mengangkat robot itu dengan tangannya lalu melemparkannya kearah robot yang mencekik Ramko.


Benturan itu melepaskan Ramko dari cekikan robot tadi. Bayangan itu semakin mendekat. Tubuhnya mulai terlihat. Seseorang dari ras yadewa dengan telinga kucing dan tubuh yang sedikit membiru.


"Bangun! Kita harus pergi!", perintahnya tegas.


"Siapa kau!", tanya Ramko sambil berdiri.


Orang itu melihat kearah pintu sambil mengarahkan tangannya ke sana. Tangannya perlahan bergerak mengepal, persis seperti yang dilakukan Erkan. Disaat yang sama pintu yang membatasi mereka remuk seperti hguungan kertas.


"Tebak sendiri, lalu pegang ini!", orang itu melemparkan tas milik Ramko yang muncul entah dari mana.


"Kekuatan ini.. Erkan?"


"Bisa ya, bisa tidak", "Karena tubuh asliku sudah mati, sama seperti tubuh anak ini",


"Dia adalah orang yang paling bisa kupercaya, sahabatnya Okta".


"Lalu.. dari mana kamu tahu posisiku".


"Saat tubuhku mati, kekuatan psikismu masih aktif untuk beberapa hari", "Kekuatan ini membuatku hampir seperti hantu, melayang layang",


"Tapi tubuh anak ini sudah berubah menjadi mutan dengan kekuatan pisikis, ia membuatku tertarik keanak ini dan membuatnya hidup untuk yang kedua kalinya".


"Kami adalah mayat hidup",


"Aku rasa waktuku sudah habis, aku harus keluar dulu dari sini".


Tubuh orang itu seketika ambruk seperti orang pingsan. Ramko sontak berlari menangkap tubuhnya yang hampir menyentuh tanah. Tubuhnya terasa dingin dan baunya juga sedikit busuk. Dia benar-benar seorang mayat hidup. Orang itu membuka mata perlahan-lahan, warna matanya kemerahan tidak seperri sebelumnya yang kuning menyala.


"Dimana ini?", tanyanya.


"Uhh...", Ramko bingung untuk menjelaskan.


"Aku baru ingat, aku harus membantumu tuan!", dia langsung berdiri tegak.


"Tidak, aku bisa sendi- akh", Ramko berteriak kesakitan karena langsung mencoba berdiri tegak.


"Apa sendimu baik-baik saja tuan?", "Coba aku sembuhkan", tanya orang itu dengan santun sambil menekuk lututnya.


Orang itu menempelkan tangannya kelutut kanan Ramko. Tangannya seketika bercahaya dan kaki Ramko tak terasa sakit lagi.


"Wow, terima kasih", ucap Ramko sambil menggerakan kakinya.


"Sama sama", "Apa matamu baik baik saja? Terlihat tidak terbuka dari tadi?"


"Ya, mata sebelahku memang buta".


Orang itu menempelkan tangannya ke mata Ramko yang terdapat luka gores. Dengan teknik yang sama, Ramko kemudian mampu melihat secara utuh setelah sekian lama. Sebelumnya ia menolak diberi mata palsu karena menganggap insiden dulu itu merupakan kesalahannya.


Tapi karena situasi sedang genting. Ramko terpaksa menyembuhkan matanya supaya bisa bergerak lebih cepat dan lincah.


"Terima kasih lagi, aku bahkan tak perlu meminum obat penahan rasa sakit", ucap Ramko sambil berdiri.


"Tenang saja tuan", balasnya.


"Baiklah ayo pergi", Ramko mengambil tasnya lalu cabut bersama orang itu.


Lagi mereka dihadang pintu baja yang tertutup. Orang itu mengayunkan tangannya ke atas. Seketi pintu itu terbuka seperti dengan normal tanpa ada penyokan seperti yang Erkan lakukan.


Ia terus melakukan teknik itu sampai sepuluh kali. Dimana setelah pintu ke sepuluh mereka bertemu ruangan lebar yang berisi pesawat tempur. Tempat itu sangat sepi.


Ramko keheranan, kenapa orang ini tidak kehabisan tenaga. Padahal tadi Erkan pasti menggunakan banyak tenaga untuk sampai disini.


"Kenapa melamun tuan?"


"Ah tidak", "Disini sepertinya hangar, coba cek apakah ada senjata tersisa!", Ramko mengalihkan pembicaraan.


"Laksanakan tuan!"


Orang itu langsung pergi membuka box atau peti disana dengan telekinesisnya tanpa menghancurkannya. Remang-remang Ramko mendengar suara Erkan masuk melalui pikirannya.


"Ramko!"


"Erkan?", jawabnya lewat hati.


"Aku menemukan posisi Yuki dan Arina", "Bagaimanapun, carilah Yuki dulu, dia ada diruang penjara, sepertinya tadi dia dijadikan alat percobaan".


"Hah?!", pekiknya.


"Ada apa tuan?", tanya orang tadi yang mendengar suara Ramko.


"Tidak.. tidak apa apa, lanjutkan saja!"


"Cepat beri tahu aku keadaannya!"

__ADS_1


"*Dia sekarang sedang tak sadarkan diri dan mungkin dia tidak bisa bertahan lebih lama", "Aku menyarankan kalian untuk berpencar".


"Hem, baiklah, beri tahu aku posisinya cepat!"


"Yuki di penjara dibawah tanah sementara Arina ada di penjara tengah markas".


"Baiklah, beri tahu saja arah beloknya*".


"Nak, apa kamu menemuman sesuatu?!"


"Tidak, kurasa mereka mengambil senjatanya".


"Begini, kita harus berpencar".


"Benar, aku sudah diberi tahu tuan".


"Kalian, saling berkomunikasi?"


"Ya!"


"Baiklah, aku akan pergi kepusat, sementara kamu kebawah tanah, mengerti?"


"Paham"


"Apa kamu akan baik-baik saja?"


"Tubuh ini sudah mati, aku disini tidak merasakan apapun dari tubuh ini", "Merupakan kehormatan bagiku mendapat kesempatan kedua, memiliki kekuatan ini, dan bertemu denganmu".


"Aku mengerti... ngomong-ngomong siapa namamu?"


"Tu San, saya temannya Okta sejujurnya", ""Aku juga merasa menyesal karena tidak bisa bertemu lagi".


"Oh.. Begitu ya...", Ramko turut sedih karena teringat dengan teman-teman yang mendahuluinya.


"Ayo kita pergi tuan! Tak ada waktu lagi!"


"Baiklah nak".


"Senang bisa bertemu denganmu!"


"Aku juga senang bisa mengenalmu!"


Ramko dan orang itu pergi berlari berlawanan arah.


"Ramko, ada seseorang mendekati Arina! Berhenti dulu!"


"Kenapa?"


"Aku merasakan aura yang kukenal", "Tapi ini sudah sepenuhnya gelap".


"Aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan".


"Berhenti didepan pintu menuju lorong dan tunggu aba abaku untuk melanjutkan"


"Baiklah".


Ramko berhenti tepat didepan pintu keluar hangar. Ia lalu sembunyi disamping pintu itu sambil menunggu aba-aba dari Erkan.


.............


.......


.......


"Baiklah aku tanya sekali lagi, dimana kalian mengunci putriku?", tanya Arina kepada dua penjaga cyborg didepannya.


"Diamlah putri salju, dia bukanlah putrimu".


"Ya, coba mengulkaskan kami, kami akan setrum lagi".


"Hahahaha"


Arina geram dengan kelakuan penjaga didepannya. Namun, dia juga tidak bisa mengeluarkan apapun. Jika dia sampai membuat suhu dingin dengan kekuatannya, dia akan disetrum sampai dia mematikan kekuatannya.


"Ugh menyebalkan".


Tiba-tiba pintu masuk terbuka. Dari sana tampak seseorang dengan zirah merah yang hancur sebagian masuk menuju ruangan.


"Hey nona, sebenarnya wajahmu itu boleh juga".


"Tapi sifatmu kasar, jadi mana ada yang mau, hahaha".


"Hey dengar sin-"


"Kalian enyahlah dari sini!", "Ada penyusup dipintu masuk, aku akan menggantikan tugas kalian disini", perintah orang itu dengan suara lantang dan kasar.


"Tu-tuan Lav, maafkan kami, kami tidak melihatmu, ka-kami segera pergi".


"Oy, apa kalian menggoda tahanan?!", tanya orang itu ketika mereka berjalan berpapasan.


"Tid-"


SKRATCH


Orang itu merubah tangannya menjadi pisau tajam. Ia langsung menusuk cyborg yang tadi menggoda Arina.


"Mencoba berbohong kepadaku, maka inilah akibatnya".


Orang itu memberikan jasad cyborg tadi ke temannya. Ia menyuruhnya pergi keluar dan membiarkannya lari ketakutan.


Setelah pintu tertutup, orang itu berjalan mengitari tabung Arina. Arina mengikuti arah jalannya dengan wajah ketakutan. Peristiwa barusan membuatnya terkunci dan tak mampu berkata-kata.


Orang tadi duduk membelakangi Arina. Dia mencopot helmnya yang hancur sebagian lalu menaruhnya dimeja. Arina melihat bagian belakang kepalanya yang botak dan hangus. Ia juga mengamati zirahnya yang hancur sebagian.


"Kamu punya kekuatan lava bukan? Seharusnya kamu meregenerasikan wajahmu seperti air", kata Arina


"Apakah kamu bisa diam saja!"


"Tidak, karena kalian merebut putriku dan temanku, dimana dia!"


"Dia bukan punyamu", jawab orang itu sambil melirik Arina.


Orang itu berdiri menyentuh kaca dengan tangannya. Tubuh Arina menjadi dingin lagi dan ketakutan. Dia merasa seharusnya dia tidak mengajaknya bicara.


"Benda dilehermu itu, pasti ada sesuatu".


Tiba-tiba alaram berbunyi. Orang itu langsung pergi memakai kembali helmnya yang rusak. Zirah itu melepisi oleh lava berwarna kekuningan. Setelah itu, lava tadi mengeras dan berubah menjadi zirah baru yang utuh.


Orang tadi melirik sebentar kearah Arina, kemudian menutup pintu lagi. Arina seketika merasa lega. Tanpa sengaja matanya melihat syalnya yang berubah warna kemerahan. Warna itu perlahan berubah kembali menjadi putih seperti sebelumnya. Seketika ia mendapat sesuatu muncul dipikirannya yang membuat ketidakpastian dalam kepalanya.


"Mungkinkah elemen lava itu..."


"Tahap selanjutnya dari Shina..? Tidak, dia sudah mati... itu tidak mungkin"


Arina memegang syal dilehernya.


"Syal.... tunggu dulu! Mungkinkah..."

__ADS_1


__ADS_2