
Donny menguburkan Arina di bawah pohon pinus rimbun. Lokasinya tak jauh dari taman bunga di belakang bangunan. Dia berharap jika selamat dari pertempuran, ia akan senantiasa berkunjung kesana dan merawat makamnya.
Setiap harinya Donny sibuk mencari keberadaan Kreza dan Arza dengan komputernya. Benda yang sudah ketinggalan zaman itu untungnya masih bisa beroperasi. Tak jarang juga terjadi korsleting yang memaksa Donny untuk membongkar mesin itu.
Donny juga melarang Okta dan Yuki untuk menelusuri lebih dalam ruangan misterius. Untuk suatu alasan, Donny tidak mau memberikan penjelasan lebih lanjut. Mengapa ia melarangnya?
Okta dan Yuki tentu saja mereka berburu dan meramu makanan seperti biasa. Sesekali Okta mencoba mencari ide senjata baru dan mengasah keterampilan bertarungnya dengan melawan hewan buas.
Yuki mampu melihat musuh menggunakan mata inframerah dan insting hewan yang tajam. Meski tidak dapat menyerang secara leluasa seperti dulu. Tapi dia masih mampu untuk bertarung tanpa memakai kekuatannya.
.......
.......
Sampai datang dimana hari. Ketika mereka berkumpul di ruang observaserium pada siang hari. Terdengar suara puluhan langkah kaki memasuki bangunan itu. Getarannya cukup kuat hingga terasa seperti sedang terkena gempa bumi.
Okta dan Yuki langsung saja keluar dan melihat kebawah. Terlihat puluhan batu humanoid masuk dan mengobrak abrik seisi bangunan.
"Musuh datang! Musuh datang!", teriak Okta.
Mahkluk mahkluk itu melemparkan puing-puing yang ada di lantai dasar kearah Okta dan Yuki. Yuki sontak melompat ke belakang sembari menarik kerah baju Okta.
Akar-akar tanaman memanjang menembus atap ruang observaserium. Akar-akar itu berubah menjadi kayu kuat berbentuk sebuah tangan. Kemudian atap ruangan itu ditarik keatas dan menampakkan sesosok raksasa kayu dengan mata kuning menyala.
Donny yang masih berada didalam menembakkan plasmanya ke wajah raksasa itu. Sayangnya serangan itu tidak mempan kepadanya. Ia justru semakin marah dengan menujamkan kepalannya kearah Donny.
Pukulan yang keras tadi seketika merobohkan lantai tiga. Sayap Yuki bermekaran lalu membawa Okta keluar sebelum mereka jatuh dan tertimpa bangunan. Donny langsung melompat dan berlari di tangan raksasa kayu. Ia terus menembakkan lava panasnya kearah wajah raksasa hingga wajahnya terbakar.
Namun, tiba-tiba langkah Donny terhenti ketika sebuah duri dari logam cair keluar dari tangan raksasa itu. Duri itu menusuk perut Donny hingga tembus kebelakang punggungnya. Kain merahnya melilit logam itu hingga bengkok. Sebelum Donny bergerak, raksasa itu menginjak Donny dengan tangan kirinya.
Lava merah mengalir dari sela-sela jari raksasa. Lava itu membakar tangan mahkluk itu hingga tangan kanannya putus.
Sang raksasa tak mau kalah, ia menyemburkan air dari mulutnya yang membuat Donny terlempat ke langit. Yuki yang masih terbang disekitar sana melihat kepulan asam yang terlempar dari raksasa itu.
"Okta, tangkap dia!!", perintah Yuki kepada Okta.
Okta segera melayangkan rantai apinya ke arah Donny. Tetapi rencananya gagal karena mereka ditembaki berbagai macam anak panah dari semua elemen dari bawah. Yuki segera bermanuver sambil memegang tangan kanan Okta sekuat tenaga.
Ribuan tentara elemen sudah diterjunkan. Namun, Arza dan Kreza urung juga menunjukkan batang hidungnya. Tubuh Donny setengahnya berubah menjadi batu obsidian. Perubahan itu membuatnya tidak bisa berbalik arah dan menghantam tanah sangat keras.
Yuki langsung berputar balik ke arah Donny. Mendapati hujan serangan yang semakin lebat dan kuat. Okta mempercepat laju terbang Yuki menggunakan dorongan angin di kakinya. Ia juga menyemburkan nafas api di sepanjang jalan yang ia lewati. Lebih parahnya lagi semburan api Okta rupanya tidak cukup untuk melelehkan mahkluk batu yang menyerangnya.
Konflik diperbesar ketika tembok es besar muncul didepan Yuki. Ia tak sempat berbelok dan menabrak tembok es itu hingga hancur. Mereka berdua terjatuh dari ketinggian dua puluh meter diatas tanah. Akibatnya Okta menerima patah tulang pada tangan kirinya setelah mencoba menahan laju jatuh dengan kekuatan angin yang keluar dari tangan kirinya.
Sementara Yuki menerima patah kaki dan tangan karena menerima sedikit bantuan tahanan angin Okta. Namun, itu tidak berpengaruh padanya karena segera meregenerasi dirinya. Di sekeliling mereka sudah berkumpul mahkluk-mahkluk Kreza yang bersiap dengan busur dan pedang dari segala elemen.
Yuki segera memanjangkan kukunya menjadi kuku macan dan berdiri membelakangi Okta. Okta tak mau tinggal diam, lalu mengangkat kakinya sambil menahan rasa sakit dari tangan kirinya.
"Mereka terlalu banyak", kata Yuki.
Okta mencoba menerbangkan mereka dengan kekuatan angin. Ia juga menambahkan semburan dan lemparan bola api. Menggunakan kukunya Yuki mencakar habis mahkluk batu yang ada sekitarnya. Tetapi usaha mereka sia-sia karena mereka hanyalah boneka yang bisa tumbuh lagi ketika di hancurkan.
"Mereka abadi!?", pekik Okta.
"Kita harus membunuh penggunanya untuk menghabisi mereka!!", kata Yuki sambil bertarung.
Okta maju menyerang dengan kedua tangannya yang dilapisi kekuatan api dan angin. Wajahnya bercucuran air mata karena menahan rasa sakit tangan kirinya yang semakin parah. Belum lagi pra monster itu terus kembali utuh yang membuat Okta semakin marah. Ia meluapkan rasa frustasinya dengan berteriak,
"Dimana kau Kreza!! Maju sini!! PENGECUT!!"
__ADS_1
Sementara itu, Donny tak sadarkan diri akibat trauma hebat di kepala. Jika saja ia sempat mengaktifkan kekuatan lavanya ia pasti akan selamat. Namun, tak ada jalan lagi baginya. Arza dan Kreza sudah berdiri di atas kepalanya.
Terutama Kreza, ia sangat dendam karena merasa di khianati oleh seseorang yang sudah ia bantu. Ia menghunuskan pedang api dari telapak tangannya dan siap menebas Donny. Tanah dibelakang Donny perlahan terbang seperti debu membentuk cekungan seperti sumur besar.
Dengan hati yang penuh rasa dendam dan kebencian. Ia menebas Donny menjadi dua bagian di bagian pinggannya lalu menendang tubuhnya ke dalam lubang. Tanah-tanah yang beterbangan kembali memadat menutup lubang sumur seperti semula. Dengan begitu, selesailah kisah hidup Donny.
.......
.......
.......
Tetapi ...
Ia tidak benar-benar mati...
......\=......
.......
.......
.......
"Don.."
"Donny.."
"Donny! Bangun!"
Suara lembut seorang gadis memasuki telingaku. Sambil membuka mata yang masih buram aku melihat awan putih berbentuk wajah menutupi sinar matahari. Kuusap mataku dengan kepalan tangan kananku.
"Rin.."
Begitu mengenali wajahnya aku segera bangkit dan memeluk tubuhnya yang terasa rapuh. Aku mengelus-elus rambutnya sambil menangis diatas pundaknya.
"Maafkan aku Arina... Maafkan aku...",
"Kumohon jangan pergi lagi...",
"Aku akan menjagamu mulai sekarang, dan tak akan pernah berpaling darimu lagi, sampai kapanpun!!"
Arina tersenyum. Ia juga memelukku erat sambil terus mencoba menenangkanku. Setelah aku berhenti menangis, ia bertanya kepadaku.
"Apa yang kamu lakukan disini?", tanya Arina.
"Kenapa?", tanyaku.
"Apa kamu tidak lihat kita ada dimana?"
Aku menarik daguku dari bahunya lalu melihat ke sekeliling. Hanya ada rumput sepetak yang kuinjak, sementara sisanya hanya berupa cahaya putih yang tidak berujung.
"Tempat apa ini? Kenapa kamu disini?", tanyaku sambil menatap tajam Arina.
"Justru itu yang mau aku tanyakan", "Kamu ini nggak pernah berubah ya...", jawab Arina sambil menempelkan telapak tangan di dahinya.
"Apa kamu lupa Okta dan Yuki?"
Aku terkejut mendengar jawaban itu. Aku menoleh kesana kemari mencari mereka berdua.
__ADS_1
"Oh ya!",
"Dimana? Dimana mereka?!"
Arina menggelengkan kepalanya. Ia menyatukan kedua telapak tanganku di depan wajahku. Aku sontak terdiam dan terpaku menatap Arina yang memegang tanganku dengan kedua tangannya.
"Aku ingin kamu kembali! Lalu menolong mereka!!"
"Ta-tapi bagaimana denganmu?"
"Aku sebenarnya tidak disini, aku disini untuk mencegahmu melewati tempat ini".
"Aku mengerti..."
"Sekarang, aku mau kamu menutup matamu lalu aku hitung mundur dari lima",
"Setelah kamu membuka matamu",
"Segera selamatkan Yuki dan Okta, lawanlah semua musuhmu dengan penuh semangat!",
"Ingat Donny... kamu tidak sendirian..", pinta Arina degan suara lembut.
"Akan kulakukan", ucapku sambil menutup mataku.
"Aku mulai ya..."
...5...
.......
...4...
.......
.......
...3...
.......
.......
.......
...2...
.......
.......
.......
.......
...1...
"Terima kasih Arina"
.......
__ADS_1
"Waktunya bermain!"