The Last Era

The Last Era
Act 46 [Perselisihan]


__ADS_3

Ramko mendapat panggilan untuk menghadiri pertemuan dengan orang penting di negara federasi dimalam harinya. Beberapa diantaranya adalah para panglima, gubernur, dan presiden sendiri.


Mereka berkumpul untuk membahas masalah keselamatan orang-orang di Aqopora. Mengingat para manusia elemen jumlahnya bisa dihitung jari karena ditangkap habis habisan kemarin.


Permbicaraan mereka kerap kali berbenturan. Tidak hanya dengan Ramko, namun juga antar dengan gubernur dan para panglima. Ada seorang gubernur dari dengan ras yadewa. Ia menangani daerah bernama Verfil yang menganggap kalau kaum yadewa dan yahma saat ini digenoksida oleh musuh manusia.


Mereka menganggap manusia menganggap mereka seperti hewan dan pantas untuk diperalat. Juga para tentara elemen, semuanya adalah kaum yahma dan tidak ada manusia. Menyakinkan bahwa mereka memang diperlakukan demikian.


Tentu saja argumen itu ditepis oleh kaum manusia yang berkata, "Kita sekarang satu, musuh kita adalah satu, anda tidak boleh menganggap demikian, itu bisa merusak kesatuan kita", ucap gubernur daerah Twenyz.


Situasi kian memanas, keluar dari topik dan tidak terarah. Cacian dan makian berkerumun memenuhi suara ruangan. Ramko semakin tidak sabar, ia langsung berkata dengan tegas.


"Kalian memainkan rumah negara seperti bermain rumah-rumahan, dan itu tidaklah lucu!",


"Kalian pikir 20 tahun kita selama ini apa? Membangun rumah pasir di tepi pantai, lalu saat rumah pasir kita dihantam ombak, kita berkelahi satu sama lain menyalahkan siapa yang memberi ide posisi rumah pasir itu? Kenapa dekat dengan air begitu?"


Seisi ruangan seketika hening. Mereka membuang muka satu sama lain. Akhirnya presiden berkata dengan tegas,


"Tinggalkan aku Houbert, Vris, Twenyz, Ramko, Clay, dan Ben", "Sisanya keluar dari sini!"


Mereka yang tak disebutkan keluar satu persatu dari ruangan, lalu menunggu diaula tengah. Sementara mereka yang tetap didalam bersama pak presiden merasa canggung seketika.


"Houbert, Vris, berapa lama kalian menempuh akademik sampai menjadi jendral angkatan darat?"


"Se-sepuluh tahun pak", jawab Vris kaku.


"Sepuluh tahun? Oh waktu yang sangat cepat bagi kalian untuk menempuh pendidikan!",


"Asal kalian tahu, orang zaman dulu menjalani akademik selama lebih dari belasan tahun atau malah puluhan cuma untuk menjadi jendral seperti kalian!",


"Ingat latihan kalian dulu?", "Main-main, angkat plasma, tembak, main game, main main semua!!",


"Sekarang kalian diatas, kalian tidak perlu lagi ikut kokang senjata atau menebas musuh dengan belati kalian, melihat darah musuh atau mayat mereka secara langsung",


"Jadi, jika kalian merasa tidak pantas menjadi jendral diumur sekarang, maka copotlah lencana kalian lalu pergilah ke pangkuan ibu kalian!",


"Kalian pikir kalian memang pantas menjadi jendral? Tidak!!",


"Masih banyak orang lain yang jenius dan lebih berhak daripada kalian untuk datang disini!!",


"Yang bisa mengatur bidak-bidak mereka untuk menggempur musuh sampai tamat tanpa perlu menghabiskan bidak pion-pion kawan yang jauh lebih penting ketimbang yang lain!!", pak presiden marah-marah sambil menunjuk mereka.


"Pak.. maaf.. menghina jendral itu tidak pantas pak presiden", ucap gubernur Twenzy secara halus.


"Menghina, Huh?", "Mengungsikan rakyat saja tidak bisa cepat, dimana pelatihan evakuasi?"


"Lihat angka kematian kemarin?", "Seratus, seratus orang tewas karena kalian tidak siap!!", "Lalu kalian pikir ini game? Orang bisa kembali lagi hidup setelah kematian?!"


Twenzy, Clay, dan Ben, menjadi lemas. Mereka tahu akan segera dipecat bersama kedua jendral tadi. Melihat yang lain pucat pasi, Ramko mencoba untuk mengubah situasi.


"Um, pak", "Maaf menyela", "Tapi saya butuh bantuan untuk pergi menyelamatkan teman-teman sa-"


"Tidak, kita sudah kehabisan tentara", "Kalau kita pergi kesarang musuh dengan tentara yang nanggung, kita hanya akan menghabis-habiskan personil", putus presiden dengan kasar.


"Tapi pak, Aquopora membutuhkan mereka", "Jika tidak ada mereka, maka kita akan binasa", jelas Ramko.


"Tidak Ramko, kalian sudah gagal", "Kesalahan manusia adalah menciptakan alat yang memperlambat era terakhir manusia",


"Pernahkah kamu berfikir berapa jumlah temanmu yang tewas?", "Lalu sekarang musuh menemukan cara baru untuk melawan kita, membuat senjata makan tuan dengan sains kita".


Pak presiden membalikkan kursinya sambil menarik nafas panjang. Mendengar semua penjelasan itu membuat Ramko murka. Tubuhnya dikelilingi loncatan listrik kebiruan, membuat para jendral dan gubernur menjauh darinya.


"Kalau begitu, saya akan pergi sendiri".


"Ramko, tahan dulu emosimu", "Kalau kamu melakukan itu, maka pertahanan kita melemah",


"Lalu musuh akan terpancing kemari untuk menyerang", Clay mencoba menahannya.


Ramko berjalan perlahan mendekati Clay sambil menunjukkan genggaman tangan kanannya yang penuh dengan listrik biru. Ramko mendekati wajahnya sambil menatap tajam matanya. Telinganya yang seperti kucing perlahan menurun karena ketakutan melihat Ramko.


"Kamu dengar? Aku hanyalah alat", "Aku diciptakan hanya untuk memperlambat kiamat", "Juga kalian Yadewa, sudah membunuh teman-temanku",


"Tidak ada yang salah disini, hanya takdir kita untuk habis bersama sudah kekal",


"Jika kamu mencoba menahanku lagi untuk teman-temanku, aku tidak segan-segan menghabisi kalian disini",


"Mengerti?!", Ramko mengakhiri narasinya dengan bentakan.


"I-iya, tuan".


"Aku enyah dari sini", "Selamat malam".

__ADS_1


Ramko keluar dengan tangan kanan yang masih penuh dengan listrik biru. Orang-orang diluar yang menunggu menjauh darinya karena takut tersengat olehnya. Setelah pintu tertutup Clay protes kepada presiden,


"Pak, dia sudah keterlaluan", "Kita harus melakukan sesuatu padanya".


"Tidak Clay, kita tidak ada pilihan", "Lebih baik mati di rumah sendiri dari pada di garis depan".


"Houbert, Vris, siagakan pasukan tempur elite dan senjata nuklir, siapkan juga pesawat evakuasi!"


"Siap pak", jawab mereka berdua.


"Kalian boleh keluar sekarang".


"Kami permisi pak".


Mereka keluar secara bersamaan. Menceritakan semuanya kepada orang diluar. Juga segera melakukan apa yang diperintah oleh presiden.


Ramko keluar dari istana sambil berlari untuk menjauhi para wartawan yang siap menanyainya. Ia langsung cabut pulang kerumah sementaranya dengan perasaan marah.


Kebetulan saat itu sudah larut malam. Ia pelan-pelan membuka kamar Sami dan Mabel. Mereka tertidur pulas, sepertinya mereka kelelahan setelah memindahkan barang-barang kerumah yang baru.


Ramko perlahan menutup kembali kamar mereka. Ia segera mencari senjatanya yang masih berada didalam box. Karena robot asisten mereka sudah hancur karena insiden itu, ia terpaksa mencarinya sendiri.


Tak sengaja ia menemukan sebuah tongkat besi yang menjadi senjata andalannya dulu. Tongkat itu biasa dia ubah menjadi trisula petir untuk bertarung.


Ia kemudian mengambil ransel, mengambil beberapa makanan dan pisau dapur. Tak lupa ia mengganti bajunya ke baju bertarung yang tahan api dan tusukan ringan. Ia mengambil teleponnya lalu menulis pesan untuk Mabel dan Sami. Setelah itu ia pergi ke garasi untuk mengambil motornya secara diam-diam. Namun, tiba-tiba,


"Ramko, mau kemana?", tanya Mabel yang berdiri di belakangnya sambil melipat tangan.


"Eh, uh.. ayah cuma mau jalan-jalan bentar".


"Tidak, tidak, aku melihatmu mengambil senjata lamamu dan bepakaian tempur seperti itu".


"Tidak, hanya latihan", "Kamu tahukan?", Ramko turun dari motor.


Mabel berjalan mendekati Ramko dengan raut wajah muram. Ia mengelus wajah kanan Ramko yang masih terdapat luka gores. Mata kanan Ramko masih buta, untuk suatu alasan dia enggan dipasangi mata palsu.


"Saya tahu kamu mau kemana", ucap Mabel lemah lembut.


Emosi Ramko seketika teredam. Nafasnya juga perlahan berubah normal.


"Aku harus melakukan ini, kita tak ada pilihan lain", balasnya halus.


Ramko memegang wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Dengar aku sayang, aku melakukan ini karena keinginanku, bukan karena mereka lagi", "Ingat kata tuan Jassen dulu? Kita pasti bertemu lagi, dan kita pasti bertemu lagi meski terpisah dibeda planet",


"Aku janji, aku pasti kembali".


Ramko, tak sengaja sadar dengan wajah Mabel yang perlahan terbang seperti debu. Ramko sontak teringat pesan kalau elemen yang bisa memulihkan diri tidak bisa mati dengan tusukan. Namun, jika ia kehilangan harapan hidup, maka tubuhnya akan mati secara perlahan.


Teringat itu Ramko langsung memeluk tubuh istrinya sambil membelai rambutnya yang panjang. Ia berulang kali berkata, "Aku pasti kembali, aku janji!"


Meliihat suaminya yang mulai tertekan ia akhirnya melepaskannya dengan berkata, "Kalau begitu, jaga dirimu".


"Ia aku janji akan kembali, pasti, cukup kali ini saja aku kehilangan kalian, selanjutnya aku janji itu tidak akan terjadi lagi".


Mendengar itu, tubuh Mabel kembali lagi utuh. Ramko menarik wajahnya, ia mencium kening istrinya kemudian berkata, "Ayah pergi dulu, jaga Sami baik-baik".


Mabel menanggapinya dengan anggukan kepala. Ramko lalu pergi menaiki motornya pergi meninggalkan keluarganya dengan berat hati.


Setelah pergi dari rumah ia langsung saja ke hangar militer untuk meminjam pesawat tempur. Ia juga meminta, untuk segera dipasangi mata palsu yang bisa dipakai untuk melihat.


Setelah mendapat mata palsu ia pergi menaiki pesawatnya ke pelontar ruang angkasa. Sebelum pergi ia merasa punya perasaan buruk untuk meninggalkan Aquopora. Ia juga membuka galeri diteleponnya, dimana disana ada dia, Sami, dan Mabel. Namun, ia segera membulatkan tekadnya untuk pergi.


"Baiklah kita mulai peluncurannya",


"Adakah pesan untuk Aquopora pahlawan?", tanya menara kontrol.


"Tidak.."


"Baiklah, pelontar diaktifkan".


Mesin roket menggelegar, mendorong pesawat dengan kecepatan tinggi keluar orbit. Ketika dayanya habis, Ramko langsung memakai kecepatan cahaya. Ia pergi ke planet musuh, dengan persediaan seadanya, sendirian meninggalkan keluarganya.


Empat hari kemudian, Okta pergi untuk menjenguk Tu San dirumah sakit dengan motor. Okta juga membawa seikat bunag berwarna merah untuk Tu San. Saat perjalanan, ia melewati tempat yang baru dibangun pasca insiden lalu. Ketika melewati daerah itu, matanya tak sengaja menangkap suatu kilauan di tanah.


Saat mendekatinya, ia menemukan sebuah kalung berwarna bening seperti permata yang talinya putus. Gantungan inti kalung itu berbentuk kristal es dengan huruf A dan D depannya. Kalung itu juga dingin seperti es batu. Anehnya, kalung itu tidak mencair meski dipegang dengan tangan.


"Hey nak, mau apa kamu disini?! Ini tempat kerja bukan taman bermain!", tegur pekerja disana.


"Maaf pak, saya segera pergi!", balasnya.

__ADS_1


Okta memakai kalung itu dilehernya lalu kembali lagi kemotor untuk melanjutkan perjalanan kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, ia segera pergi kekamar Tu San.


Disana ia dicegat untuk langsung bertemu dengannya karena keadannya semakin kritis. Akhirnya Okta terpaksa menunggu diluar sampai para tenaga medis selesai dengan wajah cemas.


"Bagaimana keadaanya dok?", tanya Okta setelah dokter keluar dari sana.


"Maaf untuk itu, tapi efek radiasi kristal itu tidak hisa disembuhkan",


"Umurnya hanya akan kurang dari 1 bulan, kami sudah memberikan berbagai mancam obat dan perawatan",


"Tapi itu tak bekerja untuknya, saya harap anda paham", jelas dokter itu kepada Okta.


"Apa aku boleh bertemu dengannya?", tanya Okta yang semakin putus asa.


"Boleh saja, akan saya minta tenaga medis untuk keluar dahulu", "Ngomong-ngomong itu bunga yang bagus".


"Terima kasih".


Dokter itu meminta para perawat dan tenaga medis lain untuk keluar. Baru kemudian Okta bisa masuk. Didalam, ia melihat sahabantnya yang duduk termenung menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


"Hey, Tu San", "Bagaimana keadaanmu?"


"..."


"Aku membawakan sesuatu untukmu", ucap Okta sambil menyodorkan seikat buka merah kepadanya.


Saat Tu San melihat bunga itu, Okta terkejut karena melihat wajah kiri Tu San yang mulai membiru. Okta berpura-pura tidak melihat hal itu, meski ia melihatnya secara jelas.


"Ok..ta.. apa kamu tahu impianku dulu?", tanya Tu San.


"Menjadi pengawal manusia elemen?"


"Ya.. aku bertengkar dengan orang tuaku dulu, mereka menolakku untuk menjadi pengawal",


"Untuk suatu alasan juga, sebenarnya aku tidak diizinkan berteman denganmu dari dulu" , jelasnya.


"Kenapa begitu?", tanya Okta balik.


"Orang tuaku... dulunya... tinggal di kota bernama Rowl",


"Kota itu hancur ketika terjadi penyerangan monster", "Mereka masih percaya, kalau monster itu dibuat oleh manusia di Aquopora sampai sekarang",


"Karena kamu manusia dan aku yadewa".


"Tidak, orang tuamu salah, kamu tidak membuat itu, buktinya kami sendiri diserang oleh mereka".


"Benar".


Mereka berdua bercerita kenangan disekolah cukup lama. Sampai tak terasa kalau waktu kunjugan dikamar itu sudah habis.


"Waktuku sudah habis, aku akan kembali lagi besok, cepat sembuh ya", ucap Okta.


"Tunggu Okta! Aku mau nanya sedikit, mungkin kamu penah tahu", "Apa kamu pernah merasa tubuhmu dikendalikan?"


"Tidak, kenapa bertanya begitu?"


"Aku akhir-akhir ini mendengar suara-suara orang biacar dalam pikiranku dan tiba-tiba mengingat seseorang entah dimana itu".


"Aku rasa kamu kurang istirahat", "Tidurlah, dan cepatlah sembuh", Okta mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum lebar.


"Tunggu Okta, apa yang kamu pakai dilehermu itu?", tanya Tu San lagi.


"Kalung, punya perempuan aku rasa, tadi aku menemukannya di jalan".


Tiba-tiba Tu San mendapat ingatan sesuatu.


"Ken?", ucapnya tiba-tiba.


"Ken? Siapa itu?", tanya Okta balik.


"Entahlah, ketika melihatmu, aku teringat seseorang dengan syal merah, lalu kalung itu, aku pernah melihatnya".


"Mulai ngacau deh kamu", "Aku pamit dulu",


"Banyak minum air dan tidur, biar fokus, Oke?", hibur Okta sambil berjalan keluar.


"Hmm ya oke".


Sambil berjalan dilorong, Okta bergumam-gumam menanyai dirinya siapa itu Ken. Lalu kata-kata syal, mengingatkan Okta pada syal yang dipakai oleh Bibi Arina. Ia memutar otaknya cukup lama hingga sering hampir menabrak benda didepannya karena kurang fokus.


"Dahlah, malas aku berfikir", Okta putus asa.

__ADS_1


__ADS_2