The Last Era

The Last Era
Act 44 [Menemukan Ingatan Tua]


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Paman Erkan menghilang untuk beberapa hari. Lalu kembali lagi secara tiba-tiba di kamarnya. Beberapa hari itu juga, aku mulai memahami mereka satu persatu sebagai saudara.


Sifatku secara perlahan berubah oleh lingkungan. Aku yang dulunya kurang empati dan emosian. Sekarang jadi lebih kalem dan pengertian ke saudara.


Aku terus berlatih bersama yang lainnya untuk meningkatkan kemampuanku. Baru dua hari, tapi ini sudah cukup bagiku yang pernah membunuh tiga monster besar.


Karena aku sudah bergabung dengan yang lain, maka aku diminta untuk mengganti model potongan rambut. Untuk masalah keamanan katanya, aku tidak mengerti. Sekolahku juga dirumah, namaku dari sekolah juga sudah dicabut karena menganggapku sudah mati terkena bencana bulan lalu.


Hari ini aku mengunjungi sebuah rumah yang dulunya bekas ayah dan ibuku. Rumahnya kini kotor dan tidak terawat, tapi masih berdiri kokoh alias rumah paku. Rumah tua ini berdiri berdampingan dengan dua lahan kosong dikanan dan kirinya.


Katanya sih ada gosip kalau rumah ini dihantui. Sebab itu para tetangga membangun rumah disamping lahan kosongnya atau membangun diseberangnya. Maksudku, kenapa ditahun ini mereka masih percaya dengan begituan.


Aku secara diam-diam pergi meninggalkan apartemen dengan ijin mau membeli cemilan. Sampai disana aku berulang kali diingatkan orang disana untuk jangan memasuki rumah itu.


"Dulu ada pencuri yang mencoba mencuri disana", "Tapi sampai sekarang, raga dan jejaknya menghilang begitu saja", jelas seorang robot pembantu yang mencegatku.


"Ohh", jawabku santai.


Sampai di depan rumah itu, aku mulai merasakan perasaan yang pernah kurasakan sebelumnya. Tapi siapa dan dimana, masih menjadi pertanyaan selama didalam.


Didepan pagar rumah itu terdapat papan tulisan dilarang masuk. Entah siapa yang memasangnya, tapi yang jelas umur papan tulisan ini lebih muda.


"Siapapun yang memasang ini, pasti orang jahat", gumamku.


Udara yang dingin dan lembab. Rumput-rumput dan tanaman liar dihalaman yang sangat lebat. Juga tembok yang retak dan kayu kayu yang sudah berwarna kehitaman membuat bulu kudukku merinding.


Aku sempat berfikir untuk berputar saja dan pulang. Tapi aku ingin memecahkan misteri yang menghantuiku selama ini.


Pelan pelan kuputar ganggang pintu dari kayu itu. Lalu membukanya secara cepat. Pemandangan didalam benar-benar mengerikan. Sangat gelap dan dingin, furnitur yang disana juga berantakan.


"Ayolah, berani, berani", "Aku ini laki-laki".


Aku menghidupkan senter yang ada di teleponku. Tempat itu seketika menjadi terang benderang dan mengurangi rasa takutku. Aku perlahan masuk kedalam sambil mengawasi sekitar.


Didalam aku menemukan dua buah kamar. Kubuka salah satu kamar itu secara paksa dengan cara menendangnya. Di dalam kamar itu, banyak mainan anak kecil yang bergeletak dimana-mana. Hanya ada itu, tidak ada kasur ataupun almari didalamnya.


"Kamar ini pasti, kamarku dulu".


Aku beralih ke kamar di sebelahnya. Kamar yang ini lebih luas dan lebih bisa disebut kamar karena ada kasur dan almari. Kaki kasur didalam sudah patah dan jendelanya juga pecah.


Didindingnya ada beberapa album foto yang mulai berjamur. Pada salah satu album, terdapat foto pria tinggi dan gagah dan wanita cantik yang menggendong seorang anak kecil.


"Aku masih tidak menyangka ayah pergi senekat itu? Meninggalkan putranya sendirian setelah kehilangan istrinya", "Benar-benar kejam", gumamku sambil mengelus album foto itu.


Tanpa sengaja tanganku tergelincir dan menjatuhkan album itu ke lantai. Aku langsung mengambilnya dan mengembalikannya ke posisinya. Saat hendak mengembalikannya, aku menemukan sebuah tombol di belakang album itu.


Tanpa pikir panjang aku menekan tombol itu. Tak lama kemudian terdengar bunyi-bunyi mekanik dari dalam almari. Aku menaruh album tadi dan memberanikan diri membuka lemari itu.


Didalam lemari itu tersusun tangga-tangga yang menuju ke bawah tanah. Aku mulai takut untum masuk kedalamnya karena gelap dan takut tidak bisa naik lagi. Namun, untuk menjawab misteri dikepalaku, aku terpaksa memasuki ruangan itu.


Ruangan itu kecil dan sempit. Disana hanya ada meja dengan lampu yang masih menyala. Diatasnya berserakan penyimpan tulisan dan kertas yang setengah hangus.


Penyimpan tulisan ini merupakan penyimpan tulisan yang bisa bernarasi. Ditahun itu model yang bisa bernarasi seperti ini adalah yang paling mahal. Tapi sekarang model ini sudah terlalu tua.


Belum lagi beratnya yang lumayan dan panjangnya yang kurang lebih satu jengkal. Membuatnya kalah dengan model terbaru yang memiliki semua fitur diatas namun ukurannya hanya sebesar chip.


Aku membuka laci meja itu dan menemukan sebuah foto lagi. Foto anak-anak dengan pria paruh baya dibelakangnya yang mengenakan baju profesor. Anehnya semua wajah disana penuh dengan coretan kecuali satu anak laki-laki yang memakai syal merah.


Aku membolak balikkan kertas itu mencari siapa yang memotret itu. Karena tak kunjung menemukan jawaban, aku membuang foto itu begitu saja dan melanjutkan pencarianku disana.

__ADS_1


Aku mencoba menghidupkan salah satu penyimpan tulisan yang baru terbakar sedikit. Penyimpan tulisan itu masih bisa menyala sempurna, memunculkan gambar dan tulisan hologram planet, kapal perang, dan beberapa tulisan lainnya.


"Apa maksudnya ini?"


"Tunggu, jangan-jangan ayahku pergi kesini?", "Dan bukannya mati?"


Di samping gambar planet ada beberapa deret angka yang sepertinya menunjukkan sebuah koordinat. Deretan angka itu ditulis dengan font tulisan yang tidak kumengerti. Aku memotretnya dengan ponselku untuk mencari artinya di perpustakaan.


Aku mematikan penyimpan tulisan tadi dan mencoba menghidupkan yang lainnya. Banyak dari mereka yang hangus, tapi diantaranya ada satu yang membuatku terkejut. Berisi pesan terakhir, yang ditulis dengan nama Shina. Aku menyalakannya dan mendengarkan isinya.


"Halo, emm disini Shina yang bicara. Maaf aku tidak bisa bicara banyak. Uhh ini menyebalkan, tapi uhh a-aku akan pergi melarikan diri ke sebuah tempat yang aman. Aku bukannya takut, tapi para atasanku mengetahuiku sebagai pemberontak. Jadi pesan ini kubuat untuk memberitahu kalian terutama kamu.. anakku. Aku tahu kamu sedang mendengarkan ini, tapi uhh.. kamu pasti sedang marah sekarang. Ya.. Intinya... Donny benar. Kita memang diperalat. Dan... aku harus pergi-"


TRASS


Benda itu langsung meletup setelah menyelesaikan narasinya. Letupannya kemudian menghasilkan asap kecil yang baunya sangat menyengat, sama dengan bau baterai terbakar. Tetap saja hal itu masih mengejutkanku.


Aku mencoba menyalakan yang lain dengan hati-hati. Beberapa dari mereka tidak memuat informasi penting karena hanya menceritakan kehidupannya. Meski begitu aku tetap bisa senang karena bisa mendengarkan suara orang tuaku. Salah satunya membuatku berlinang air mata yaitu milik ibuku,


"Baiklah, umm... hey! Saya tidak tahu mau bicara apa. Tapi saya merekam suara ini untuk Okta. Ehem, umurmu sekarang berapa nak? 20? 25? Entahlah, kamu anak yang penasaran dan pintar sama dengan ayahmu. Ibu tidak tahu umur ibu sampai berapa tahun, karena elemen angin tidak bisa beregenerasi, elemen terlemah maksudnya. Meski begitu, ibu sudah pernah tertusuk di dada dan masih bisa hidup. Ehem, Intinya ya nak, jangan jadi anak nakal ya! Kamu selalu usil kalau sama sami. Sekarang kamu masih kecil, masih lucu, 10 tahun lagi entah jadi bagaimana kamu, asal kamu mengingat ibu, kamu akan merasakan kalau ibu selalu ada disisimu. Itu saja oke, okey.., Ayah!bagaimana cara mematikan ini?


Yang ini lo bu-"


PIP PIP PIP


Aku mengusap air mataku. Mendengarkan suaranya yang lembut dan halus membuat semangatku kembali lagi seketika.


Kebetulan saat itu senja telah tiba, saatnya bagiku untuk pulang kerumah. Aku segera mengambil album dan rekaman suara tadi.


Selama perjalanan aku merasa seperti ada yang mengikutiku. Suhu yang kurasakan sangat panas, dengan jarak 20 sampai 30 meter.


Sesampainya di apartemen, aku masuk secara sembunyi-sembunyi membawa barang-bara tadi. Untunglah saat itu semuanya sedang berada dikamarnya masing-masing.


"Sekarang aman", gumamku sambil menghela nafas lega.


"Sekarang waktunya tidur".


Aku melompat kekasur dan langsung saja tertidur.


...\=...


DING


"Nanti dulu", sambil membungkam telingaku dengan bantal.


DING DING DING DING


"Kenapa sih dia!", aku geram dan berniat mendorongnya ke dinding dengan dorongan angin.


Bel itu terus ditekan, hingga aku membuka pintu itu secara tiba-tiba.


"Kamu datang kerumah yang salah bodoh!"


"Tunggu tunggu tunggu, ini aku, Tu San, tenang, tenang!!", pekiknya takut.


Tu San mencoba menenangkanku yang siap dengan angin bertekanan tinggi di tangan kananku.


"Tu San?", "Ooo sahabatku", aku merangkulnya erat.


"Bagaimana kamu tahu aku dan tempat ini?"

__ADS_1


"Kebetulan waktu itu kamu pulang lewat jalan yang berbeda", "Kamu juga mengganti potongan rambutmu", "Hampir saja aku tidak mengenalimu hahaha".


"Tidak aman berbicara disini, mau masuk?", tanyaku sambil menunjuk kedalam.


"Karena hari ini aku longgar, jadi... baiklah".


Aku membawa Tu San ke ruang tamu. Lalu mempersilahkannya duduk dikursi. Aku meminta robot asisten untuk membuatkan minuman kepada kami berdua.


"Tu San, tolong jangan beri tahu yang lain tentang identitasku".


"Kalau kamu manusia mutan elemen?"


"Eh, dari mana kamu tahu itu?"


Tu San menurunkan resleting jaketmya untuk menunjukkan sebuah lencana di dadanya.


"Kamu pelindung manusia elemen?", "S-sejak kapan?"


"Sudah lama sih", "Bahkan sebelum insiden di sekolah itu".


"Jadi itu sebabnya kamu sering bolos sekolah?"


"Hehe".


Disaat sedang asik berbicara, tiba-tiba Paman Erkan muncul dibelakang Tu San sambil berkata halo. Kami berdua terkejut hebat, jantung kami serasa mau copot.


"Kamu temannya Okta ya?", tanya pria itu.


"Eh uh, iya tuan, saya teman dekatnya sejak sekolah menengah", jawabnya langsung segap berdiri dan membungkukan badannya kearah Paman Erkan.


Aku terheran-heran. Kenapa orang seperti dia harus di perlakukan seperti raja. Apa karena dia orang penting, lalu kenapa aku tidak dibegitukan.


"Senang bertemu denganmu Tu San".


"Kalian... Saling kenal?", tanyaku.


"Yap, dia peringkat teratas di akademi", jawab Paman Erkan santai.


"Ehehehe, aku nggak mau cerita itu sebenarnya", sambungnya sambil mengarukkan kepalanya.


Tiba-tiba teleponku berdering. Ada pesan untuk mengambil sebuah barang di lantai bawah. Aku tidak mau menyuruh robot asisten karena isinya sangat rahasia, yaitu sebuah album baru.


"Aku permisi sebentar".


Suasana menjadi hening seketika setelah aku pergi. Keduanya tampak canggung untuk berbicara satu sama lain.


Namun, tiba-tiba Paman Erkan merasakan keberadaan orang ketiga dari arah jendela. Ia menyuruh Tu San untuk bersiap-siap menyerang. Tu San sontak mengeluarkan pistol plasma, lalu mengarahkannya ke jendela.


Tak berselang lama, sebuah tangan raksasa bersisik masuk menembus kaca mencengkram Paman Erkan. Tu San menembakkan plasmanya ketangan itu hingga robek yang mau melepaskan Paman Erkan. Setelah lepas dari cengkraman, ia mengeluarkan pedangnya lalu berpindah menotong tangan itu.


Tangan itu kembali lagi keluar, lalu munculah tubuh aslinya yang hanya seukuran manusia. Dengan baju tempur dan topeng tempur yang menutupi wajahnya. Sebelum mahkluk itu menyerang lagi, Tu San terlebih dahulu menembakinya dengan plasma sebanyak-banyaknya. Sementara Paman Erkan mencekik lehernya dengan telekinesis.


"Tu San, simpan pelurumu", "Panggil bala bantuan, CEPAT!!"


Tu San berhenti menembak dan menelepon pusat untuk mengirimkan bantuan. Tak berselang lama, muncul pesawat yang bersiap menembakkan pelurunya di belakang mahkluk itu.


Suara sirine dan gemuruh roket pesawat itu membuat orang-orang diapartemen berlarian kelantai bawah. Aku mendengar suara itu langsung bersiap berlari naik melawan arus orang-orang yang panik.


Tanganku tergelincir karena desakan yang terus-terus. Membuat album yang kupegang hancur dinjak oleh orang-orang. Aku geram dan melompat ke jendela. Dengan cepat aku membuat tolakan dengan angin untuk melompat kelantai atas.

__ADS_1


Untunglah dilantai atas semuanya sudah sepi. Pecahan kaca yang menempel di tubuhku tidaklah banyak. Sehingga aku bisa langsung berlari mengejar mereka.


__ADS_2