The Last Era

The Last Era
Act 48 [Hantu Hidup]


__ADS_3

Suatu hari Okta bertanya kepada Mabel yang sedang bersantai diruang tamu sambil membaca buku. Ia bertanya tentang misteri Yuki dan Erkan yang masih beredar dikepalanya sejak pertama kali dia bertemu mereka.


"Bi, Yuki dulu pernah berkata kalau dia bukan anak kandung bibi Arina, lalu maksudnya bagaimana?", "Dan Paman Erkan terlihat seumuran denganku dari pada Paman Ramko, kenapa?"


Mabel meletakkan bukunya lalu mulai bercerita kepada Okta. Kebetulan saat itu Sami sedang tidur siang. Jadi mereka bisa berbicara dengan leluasa.


"Yuki itu sebenarnya manusia elemen ciptaan musuh", "Dia sebenarnya diciptakan dari gen seorang musuh bernama creatura dan manusia",


"Diantara kami tidak ada yang mempunyai elemen mahkluk itu hewani, mahkluk hidup lain yaitu tumbuhan bernama Vanadia", "Tapi dia meninggal saat menyelamatkan kami".


"Mmm... lalu?"


"Yuki mengalami banyak sekali siksaan supaya dia bisa berkembang menjadi monster yang kuat",


"Hingga suatu hari saat Yuki cukup berumur untuk memahami sesuatu, dia mulai mempelajari cara memakai portal supaya bisa keluar dari sana",


"Entah bagaimana kelajutannya, tapi yang jelas saat itu dia ditemukan tak sadakan diri ditengah jalan raya, kebetulan Ramko ada disana",


"Ramko langsung memindahkannya kebahu jalan tepat sebelum dia tertabrak".


"Lalu? Bagaimana dia bisa bersama Bibi Arina?"


"Ramko melihat luka ditubuhnya yang sembuh dengan cepat, juga pakaiannya yang terlihat asing dan kumal membuatnya bertanya-tanya dari mana asalnya",


"Dari pada membuang-buang waktu disana, dia langsung membawanya kerumah sakit",


"Setelah diberi pengobatan dan penghilangan trauma beberapa hari, Yuki dititipkan kepada Arina".


"Kenapa tidak bibi saja yang merawatnya?", tanya Okta kepada Mabel.


"Arina sepertinya senang dengan Yuki, selama ini dia bersikap kasar dan pendiam kesemua orang, saat Yuki datang dia menjadi lebih lembut dari sebelumnya".


"Bibi Arina kayaknya kurang cocok, lebih mirip diktaktor ketimbang seorang ibu", ucap Okta.


"Ada benarnya, Yuki sering sekali dimarahi cuma karena kesalahan kecil, tapi dia sebenarnya tetap sayang dengan Yuki",


"Ada sebabnya Arina bersikap begitu, tapi itu hanya kisah tua, nggak perlu diungkit-ungkit lagi", Mabel menepis argumen Okta.


"Kalauku ingat-ingat, Yuki memang sering melamun", gumam Okta.


"Apa dia cantik?"


"Sedik-Eh tidak!", "Sifatnya kasar dan suka ngejek gitu bukan tipeku!!", balas Okta dengan nada tinggi.


"Tunggu saja nanti pas dewasa, hihihi", Mabel menggoda Okta.


"Ugh... lagipula percintaan itu sama saja dengan berdiri di atas tali ditengah jurang".


"Yasudahlah", "Ada pertanyaan lagi?", tanya Mabel sambil mengambil lagi bukunya.


"Apa kamu mengenal orang tuaku bi?", tanya Okta balik.


"Ya, sangat".


"Kalau begitu apa bibi tahu dimana ayahku?"


"Emm... sepertinya dia sudah meninggal Okta", "Jejak pesawatnya menghilang diantara kegelapan ruang angkasa",


"Lalu para reporter memberitakannya kepada dunia sebagai kecelakaan tunggal",


"Aku sebenarnya tidak tahu kejadian persisnya".


"Aku yakin dia masih hidup, media tidak bisa dipercaya!",


"Sudahlah, lagipula itu sudah lama, lagipula tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya".


"Begitu rupanya", jawabku kecewa.


Disaat situasi, sedang tenang tiba-tiba alaram kota berbunyi. Memanggil semuanya untuk berkumpul kepusat kota.


"Model alaram itu? Jangan-jangan",


"Okta segera bawa barang sebanyak yang mau bisa!", perintah Mabel.

__ADS_1


"Apa? Kenapa bi?"


"Ini dia... Planet ini sudah tidak aman", "Perkiraannya ternyata jauh lebih cepat dari yang kami duga".


"Apa maksudnya? Kita harus mengungsi?", tanya Okta.


"Bukan aku, tapi kalian berdua!"


"Ada apa ini, aku tidak paham sama sekali", Okta semakin panik.


"Pergilah bersama Sami kepusat kota, lalu naiklah ke pesawat pengungsian!", perintah Mabel sambil mengumpulkan barang-barang milik Okta dan Sami.


"Lalu? Bagaimana dengan bibi?"


Mabel terdiam sejenak, dia memenatap Okta dengan tatapan kecewa lalu memalingkan wajahnya lagi. Okta berhenti bernicara dan membantu Mabel menyiapkan barang-barang.


"Apa ini dia... era terakhir...?", batin Okta.


......\=......


Di planet musuh, Ramko dan Tu San sedang mengendap-endap mendekati target mereka masing-masing. Mereka berdua bergerak perlahan menunggu arahan ditelepatikan oleh hantu Erkan.


Saat ini Ramko berada diluar, tempat itu penuh pekerja yang mondar-mandir memindahkan barang. Disana ia melihat robot-robot kecil yang terbang membawa kotak penuh amunisi. Dicarilah asal sumber kotak itu olehnya. Setelah ketemu, Ramko membuang dan menyembunyikan amunisi didalamnya lalu masuk kedalam.


Kotak itu kemudian dibawa terbang pindah menuju ruangan yang lain. Beberapa menit kemudian, dirinya merasakan kotaknya terhantuk kelantai. Kotak yang berisi Ramko itu sudah ditaruh di gudang amunisi.


Ramko terus menunggu hingga tak ada suara-suara obrolan atau mekanik robot. Setelah diberi tahu Erkan situasi sepi dan aman, Ramko perlahan membakar tepi kotak hingga meleleh lalu menendang tutupnya sampai jebol. Ramko keluar dari kotak itu sambil meluruskan punggung dan lengannya.


"Aw, badan ini benar-benar sudah tua dan kaku ya Erkan", ucapnya sambil membunyikan tulang-tulangnya.


"Lupakan, itu cuma karena kamu yang jarang latihan".


SKRACHH


"Suara apa itu?", tanya Ramko.


"Suara itu bukan berasal dari sini, ini dari Tu San", "Aku harus pergi, kamu cari sendiri jalanmu".


"Tungg- Argh sialan!"


Tembakan plasma mereka lama kelamaan membuat meja tempat Tu San berlindung remuk. Tu San terpaksa melompat kebelakang sambil melemparkan meja tadi.


"Dia melemah, habisi dia sekarang!", teriak musuh.


Disaat musuh menembakkan peluru mereka secara bersamaan. Tu San teringat kejadian saat dilorong tadi. Ia mempraktekkan teknik Erkan yang dipakai untuk menghabisi musuh lebih dari satu.


Tu San menutup matanya, ia mengangkat tangannya keatas dengan cepat. Gerakan itu membuat semua benda baik itu cyborg, robot, peranti medis, bahkan plasma terhantuk ke atap dengan sangat keras. Tu San kembali menjatuhkan tangannya kebawah, seketika semua benda terbanting kebawah.


Tu San mengulangi teknik itu sebanyak tiga kali, lalu melemparkan mereka kearah depan. Gaya dorong yang kuat saat melempar mereka, mengakibatkan pintu dan dinding didepannya bengkok kearah lorong.


Sementara semua musuh jatuh tak berdaya. Tu San perlahan keluar ruangan itu sambil melihat area sekitar yang barusan dia hancurkan.


"Wow, kekuatan ini benar-benar luar biasa", pekiknya gembira.


SKRACHH


Saat Tu San sedang melihat kearah kanan lorong. Tiba-tiba sebuah cyborg menusuk dadanya dengan puing besi reruntuhan.


Tu San tak berteriak, ia tidak merasakan rasa sakit karena hanya otaknya yang masih dialiri energi. Ia menatap tajam cyborg itu sampai dia ketakutan dan melarikan diri.


Tu San menarik besi panjang dari dadanya lalu berteleportasi tepat dibelakang cyborg tadi. Dengan genggaman yang kuat di besi itu, ia memukulkan benda keras itu tepat di kepalanya. Cyborg itu seketika tumbang ketanah dengan helm zirah yang hancur di tepi kanannya.


Sesaat kemudian Erkan berpindah kembali ke Tu San.


"Tu San, ada apa?"


"Tidak ada", jawabnya.


Erkan melihat baju dan tubuh Tu San yang terluka parah serta lubang didadanya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Tidak pak, selama otakku dialiri energi, aku masih bisa bergerak".

__ADS_1


"Hati-hati, jika kepalamu tertusuk, kamu tidak harus meninggalkan dunia".


"Tunggu dulu, lalu anda?"


"Tubuhku sudah rusak, tapi kepalaku masih utuh, aku sempat menyembunyikan tubuhku disuatu tempat sebelumnya",


"Jika mereka menemukan dan membunuhku, maka tamatlah aku, mengerti?"


"Aku mengerti pak", jawab Tu San.


Tu San lanjut berlari sambil terus diarahkan oleh Erkan. Pada belokan keempat mereka berdua merasakan adanya perubahan suhu yang drastis, dari panas ke dingin.


"Apa itu tadi?", Erkan bertanya setelah Tu san berhenti untuk mengamati sepanjang lorong.


"Entahlah, kemana sekarang?"


"Hmm, ikuti saja jalur ini", jawab Erkan ragu-ragu.


Sampai mereka tiba disuatu tempat yang luas. Terdapat empat tabung plasma besar berwarna biru yang membentuk sebuah tiang. Tepat didepannya terdapat satu lagi tabung berisikan Yuki dengan kondisi sekarat.


"Itu dia!", pekik Tu San sambil berlari kearahnya.


"Tunggu! Tu San! Ini bukan-"


Pintu ruangan itu tertutup rapat. Saat Tu San menyentuh tabung Yuki ia menembusnya seperti angin.


"Hologram?", kata Tu San terkejut.


"Sialan, ini jebakan!", "Tu San aku akan memakai tubuhmu!"


Erkan merasuki tubuh Tu San sementara Tu San mengamati daerah sekitar. Hologram itu menghilang, disaat yang sama dari bawah keluar seorang jasad manusia yang tubuhnya benar-benar penuh luka parah.


"Pak... bukankah itu..."


"Tidak mungkin, bagaimana bisa ada disini?"


Kemudian, atap ruangan terbuka. Dari atas turun naga besar dengan matan kuning menyala dan mulut menyemburkan api. Ditangannya ia membawa seorang gadis yang sudah tak berdaya dengan sayap putih pupus dan tubuh yang penuh luka.


"Itu Yuki yang asli!", pekik Tu San.


"Cih!"


"Aku tahu kalian berdua sekarang berada ditubuh yang sama", ucap mahkluk itu dengan suara sangar.


"Apa maumu Creatura?!", bentak Erkan.


"Creatura? Bukankah dia sudah mati?"


"Diamlah Tu San!"


"Aku ingin kamu menyerahkan tubuh anak itu", "Dia adalah pecahan dari kekuatan psikismu!", perintahnya.


"Kenapa aku harus?"


"Kenapa? Tentu saja karena Tuan Kreza menginginkan kekuatanmu", balas mahkluk itu.


"Siapa Kreza?", balas Erkan.


"Lakukan saja perintahku atau gadis dan tubuhmu ini akan hancur bersama!"


"Kau mau kekuatanku? Ambil saja tubuhku dan berikan gadis itu lalu lupakan tubuh anak ini!", kata Erkan dengan lantang.


"Tidak bisa! Tubuh kalian mesti digabungkan untuk mendapatkan kekuatan psikis!", bentak mahkluk itu.


"Tak ada cara lain, Tu San, aku punya rencana, tolong dengarkan baik-baik", ucap Erkan ke Tu San yang ketakutan.


Erkan menjelaskan lewat telepatinya kepada Tu San.


"Kamu paham?", tanya Erkan lewat pikiran.


.


"Saya mengerti tuan".

__ADS_1


.


"Baiklah..."


__ADS_2