
"AFTON, JAWAB! JAWAB! SIAL!", panggil Ramko di depan teleponnya.
"Kalau saja tenagamu yang lebih besar delam memindahkan, seharusnya Afton tak akan mati sia-sia", Shina marah kepadaku.
"Apa maksudmu, HAH?!",
"Bukannya kamu yang menggila saat itu?"
"Shina, tenanglah", bentak Ramko.
Shina bertekuk lutut kehilangan harapan. Matanya sayu dan kosong, perlahan air matanya menetes ke lantai.
"Tapi, dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri",
"Dia tak bosan menolongku, bahkan disaat staminaku masih lemah",
"Kenapa? kenapa dia harus mendahuluiku?"
"Aku tahu, kita memang tidak sempat mengucapkan selamat tinggal",
"Tapi, bukan berarti perjuangan kita kandas disini".
Datanglah seorang pria berjas putih bersih datang kearah kami dengan kedua pengawalnya.
"Pesawat sudah sampai, kalian adalah pahlawan bagi kami",
"Terutama kau yang bernama Shina", ucapnya sambil melihat Shina dengan senyuman bahagia.
"Apa aku mengenalimu?", balas Shina.
"Yang jelas kamu akan tahu setelah keluar dari pesawat ini".
Dokter datang dan memeriksa luka kami. Tak ada dari mereka yang menanyakan Afton. Bahkan mereka tak menyadari rasa sedih yang kami alami saat ini. Pintu keluar terbuka, udara segar menyambut kami. Orang-orang bersorak ke arah kami.
"Mari kita keluar", ajak orang itu.
"Ayolah, Shin", ajak Ramko.
Shina keluar dari pesawat dengan tatapan kosong. Kami di bawa ke atas panggung untuk diwawancarai dengan orang tadi.
"Mari kita sambut pahlawan-pahlawan kita yang hilang beratus-ratus tahun dengan sorakan meriah".
"Dengan ini, kami akan memberikan kalian sebuah hadiah atas prestasi kalian".
"Yang pertama adalah Donny, dia adalah pejuang yang memiliki kemampuan membentuk senjata atau pelindung dengan syal di lehernya".
"Dia juga mampu terbang selayaknya pesawat".
"Sehingga, kuberi ia lencana berbentuk sayap burung".
Setelah menerima penghargaan itu, aku menunjukkannya pada penonton. Riuh orang-orang mengurangi kesedihanku. Meskipun trauma ini masih mustahil untuk menghilang.
"Selanjutnya, Ramko, memiliki kekuatan membentuk benda dari elemen petir dan berkecepatan setara dengan kilat".
"Dengan ini, aku berikan ia sebuah lencana berbentuk petir".
"Dari hasil rekaman lewat inframerah di lokasi pemyusupan".
"Terlihat sebuah api yang menyambar, menghancurkan, dan membentuk jalan pintas".
"Siapa lagi kalau bukan Shina si pemilik elemen api".
__ADS_1
"Dengan kemampuan menyerangnya yang masih bisa meningkat seperti iblis dan apinya yang masih bisa memanas lagi".
"Maka kuberi ia sebuah julukan 'Si Naga Iblis'".
"Berikan sorakan yang meriah pada Si Naga Iblis".
Shina tersenyum lebar. Aku dan Ramko tahu kalau dia sedang menunjukkan senyuman palsunya. Aku juga bertanya-tanya dimana Dokter Jassen. Tapi tak seorangpun melihatnya.
......*......
Ketika kami sampai di rumah, kami sudah ditunggu oleh 4 teman perempuan kami. Mereka terlihat bahagia dengan pencapaian kami. Sebelumnya, Ramko dan Shina kuberitahu untuk membelokkan pertanyaan yang terhubung tentang Afton.
Kami tidak mau membuat mereka putus asa. Sekaligus memberikan kami waktu untuk menemukan saat yang tepat untuk memberitahunya.
"Kalian selamat pulang", ucap Mabel dengan senyum manisnnya.
"Dimana Afton?", tanya Nadia tiba-tiba.
"Dia ... Dia sedang pergi dengan Dokter Jassen untuk-",
"Membeli makanan, soalnya dia bilang makanannya masih kurang", Ramko menyambung jawabanku sambil mencoba tertawa.
"Apa lukamu parah?", tanya Arina kepadaku.
"Nggak juga, cuma lecet dikit".
"Kami harus tidur sekarang, luka ini tidak bisa sembuh sendiri", putus Shina sambil pergi meninggalkan kami.
"Shina belakangan ini bersikap aneh ya?", kata Nadia.
"Dia benar, kami harus istirahat", putusku.
......\=......
Aku memasuki kamar Afton yang berserakan seperti biasanya. Kamar ini jauh lebih sepi dari sebelumnya. Biasanya aku dengannya sering bermain game miliknya. Atau melihatnya masih tidur di ranjangnya ketika siang hari.
'Mumpung lagi pada tidur, ayo kita game dikamarku'.
'Nggak deh, aku lebih suka baca tulisan dari pada nonton gambar'.
Tak sengaja ingatan itu kembali dan membayangi pikiranku. Aku menahan tangisku.
"Aku harus berbincang dengan Donny dan Ramko".
Aku keluar dari kamar Afton. Menutup pintu ingatan masa lalu dengannya dan pergi menemui Ramko di kamarnya.
Ketika didepan kamar Ramko, aku mencium bau terbakar dan suara benturan benda-benda keras.
"Ramko, kau baik-baik saja?", tantaku sambil menggedor pintunya.
Ramko keluar dengan tubuh penuh luka lecet dan isi kamar yang hancur berserakan.
"Dimana Donny?",
"Kita harus bicara dengannya".
Kami pun bertemu dengan Donny di kamarnya. Kami memanggilnya, Donny yang tertidur langsung bangun dan membukakan pintu.
"Jadi, apa?", tanya Donny sambil duduk di pinggir kasurnya.
"Kita harus melakukan sesuatu", kata Ramko.
__ADS_1
"Aku setuju, cepat atau lambat berita kematian Afton akan sampai ke telinga mereka".
"Tapi, kita masih belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu mereka", kata Ramko.
"Ayolah otak, carilah alasan".
"Yang bisa kita lakukan sampai hari ini hanyalah diam dan pergi ketika ditanyai".
"Sudah berkali-kali kau mengatakan hal yang sama, Don".
"Afton sudah tiada dan itulah kenyataannya", jawab Donny sambil menatapku tajam.
"Hey tutup mulutmu pengecut!", balasku sambil menarik kerah Donny.
Ramko menyengat kami berdua dengan listriknya tanpa berkata apapun. Dia terlihat miak dengan kami berdua. Sengatannya cukup kuat sehingga membuat tubuh kami kaku tak bisa bergerak.
"Apa maksud kalian tiada?".
Tanya Nadia dari luar kamar. 'Sial, dia mendengarkan', batinku. Ramko hanya menduk dan menepuk bahuku untuk menarik kembali listriknya.
"Ada apa ini?", tanya Mabel sembari membawa teh untuk kami, diikuti Linda dan Arina.
"Afton ... dia sudah pergi", jawabku menyesal.
"Apa maksud kalian?".
"Dia sudah tiada, jadi kalian keluarlah sekarang!", bentak Donny.
Air rucing mendekati mata Donny.
"Masalahnya adalah masalah kami juga", lawan Mabel sambil mengeluarkan air mata.
"Ramko katakan sesuatu", bentak Nadia sambil menangis.
Namun, Ramko hanya membungkam mulutnya sambil memalingkan wajahnya kesamping. Mereka perlahan mengeluarkan air mata.
"Maafkan kami", kataku sambil berjalan keluar kamar diikuti ketiga temanku.
"Nggak mungkin", "Mereka bercanda kan?"
Tak ada yang menjawab.
"Hei, Arina kau dekat dengan Donny kan?", "Beritahu sesuatu!", kata Nadia sambil mencengkram kedua lengan Arina.
Arina memeluknya sambil menangis keras. Diikuti Linda dan Mabel.
"Aku mendapat penghargaan, tapi, Apa untungnya", kataku sambil melelehkan hadiah baru itu.
Dokter Jassen tidak menghiraukan Afton tidak ada dirumah, ia seperti tidak menganggapnya sebagai seseorang yang penting. Ramko sempat terlibat cekcok dengannya, ungtunglah kami dengan sigap menahannya. Dokter Jassen saat itu terlihat tenang dan tidak mempedulikan perkataannya.
Apa Dokter masih punya hati?!!
Kau benar juga Ramko. Dia tak punya hati. Semoga saja besok bisa lebih baik.
.
.
.
Atau mungkin lebih dari buruk.
__ADS_1