
Tak sengaja aku terlelap hingga langit menjadi gelap. Aku terbangun dengan tubuh yang sakit-sakitan.
Udaranya dingin menusuk tulang, kebetulan saat itu sedang hujan salju. Aku melompat dan menuju ke tempat temanku, mereka masih belum siuman.
Karena salju turun semakin lebat. Aku memutuskan untuk beristirahat di goa sambil menunggu Ramko dan Shina siuman.
Aku juga mengecek tubuh mereka, apakah luka mereka parah atau tidak. Setelah mengetahuinya aku mengikatkan syalku ke tubuh mereka yang terluka secara manual.
Lalu memanaskan syalku supaya aliran darah mereka tidak berhenti. Lebih dari satu jam aku berada di posisi yang sama. Aku mulai heran, kenapa tenagaku tak kunjung habis.
Aku mengadahkan tanganku, lalu mencoba memunculkan api seperti Shina. Tak lama kemudian munculah api berwarna oranye dari telapak tanganku.
Kucoba juga dengan memunculkan listrik, juga bisa. Saat kucoba dengan menggerakkan air, tidak terjadi apapun. Disaat itu aku heran kenapa aku cuma bisa menggunakan dua elemen saja.
Tak sengaja mataku melihat mobil kami yang sudah tak berbentuk. Kebetulan juga, saat itu aku tengah lapar. Aku langsung menghampiri mobil itu, lalu mencari bekal kami di bangku belakang.
Ketemulah bekal kami yang masih utuh. Memang, terakhir kuingat kotak pelindungnya cukup besar dan kokoh. Langsung kubawa kembali kotak itu.
Setelah makan, aku mencoba mengecek keatas goa. Tapi aku tak bisa melihat apapun, karena malam dan hanya ada hamparan salju. Karena tidak menemukan apapun, aku kembali lagi dan memutuskan tidur sampai besok pagi.
......*......
......\=......
"Bagaimana, Bel?", "Apa kau menemukannya?"
"Entahlah, feeling airku tak merasakan keberadaan manusia sepanjang aliran sungai".
Sudah lebih dari seminggu kami belum menemukan teman kami. Untunglah kami berada di hutan dan dekat dengan sungai. Sehingga kebutuhan pangan kami terpenuhi.
Kami juga sudah lama tidak memotong rambut. Terutama Arina, terlihat jelas perbedaannya. Sementara Linda mengikuti ikatanku, yaitu ponytail ke belakang.
Kami semua juga sudah tahu apa yang terjadi dengan Nadia. Saat kami keluar dari markas, kami menemukan banyak sekali pecahan kayu dan pecahan logam yang berserakan.
Melihat puing-puing itu, kami memutuskan kalau Nadia sudah pergi. Dan pedihnya bertahan cukup lama saat itu. Tapi, kami sudah melepaskannya meskipun sangat berat.
Kami saat itu melarikan dengan mencuri kendaraan milik cyborg itu. Setelah sehari di perjalanan menemukan hutan hangat.
Kami menyebutnya hutan hangat selain dari suhunya. Pohon-pohon di hutan itu berdaun kuning kemerahan, persis seperti musim gugur di bumi.
Tapi, mesin kendaraan itu tak bertahan lama karena ia meluluhkan mesinnya setelah kami sampai. Bodi kendaraan itu kami tumpuk dan dipakai untuk tempat berlindung.
"Bel, ngapain nglamun aja?".
"Nggak, nggak apa-apa",
"Rin, Lin, apa kalian tidak bosan makan ikan terus?", tanyaku sambil menyalakan api dengan kayu.
"Bosanlah, jelas!", jawab Linda.
"Ayo cari, Rusa", "Sekali-kali masuk hutanlah", ajakku dengan semangat.
"Nggak nggak mau", Linda sambil membentangkan tangannya ke depan.
"Katanya bosan, Lin".
"Bener, kenapa malah sampai paranoid gitu", dukung Arina.
"Kau tahu kan, didalam itu ada apa?", "Bisa-bisa disana ada buaya, hiu atau malah singa".
"Hus, mana ada hiu dan buaya didarat", kata Arina.
"Buaya darat!!".
__ADS_1
"Buaya darat lagi, mana ada yang begituan", sambungnya.
"Nggak⁹ pokoknya nggak mau", ia menunduk membelakangi kami, sambil mengacak-acak rambutnya.
"Rin, gimana ni?", bisikku
"Kita tinggal saja sambil nakut-nakutin dia", "Nanti juga ikut sendiri".
"Hehe, benar juga kamu", jawab Linda sambil tersenyum sinis.
"Kalau kamu tidak ikut, kamu tunggu disini ya".
"Ada sungai disana", "Hati-hati ular bisa meremukkan tulang dengan lilitannya".
"Kami tidak akan lama kok, kami pergi dulu ya".
Akhirnya Linda ikut dengan kami masuk kehutan. Ia mengikuti sambil memegang rambut Arina dan bersembunyi di belakangnya.
Setelah beberapa lama didalan hutan, kami memutuskan untuk kembali dam makan ikan saja. Sebab, kami tak menemukan rusa ataupun kambing dimanapun.
Hari mulai gelap dan kami masih berputar-putar di tempat yang sama. Hingga malam harinya kami masih tersesat didalam.
"Oke bagus", ucapku santai.
"Oke bagus darimana?! Gimana caranya kita keluar sekarang?", pekiknya sambil menangis di punggung Arina.
Arina tak sengaja melihat sekumpulan jamur berwarna kuning bercahaya. Mereka tersusun berbanjar seperti menunjukkan sebuah jalan.
Mereka seperti menuntun kami hingga menemukan sebuah air terjun dengan air yang berwarna kuning menyala. Tumbuhan di sekitarnya juga sama menerangi kegelapan malam.
Kami terkagum dengan tenpat ini, terutama warna airnya. Seperti cahaya neon di malam gelap gulita. Belum lagi, beberapa kunang kunang terbang berputar putar diatas kepala kami.
"Indah sekali".
"Airnya terang sekali, kenapa bisa begitu?", aku mulai heran.
Arina berjalan perlahan mendekati sungai itu, lalu menerpa airnya. Air itu bersih, namun bercahaya meskipun sudah menmpel di tangannya.
Arina mencoba membekukan sedikit air sunagi itu, lalu mengambilnya. Esnya sendiri bahkan juga bercahaya seperti lentera. Kami bermain main sebentar disana hingga larut malam.
"Ayo pulan-"
"AYO!!", Linda menyela
"Tunggu!", "Ambil ini!", aku memberikan es bercahaya yang lain kepada mereka sebagai pengganti lentera.
Meskipun kurang terang, kami enggan menunggu hingga pagi dan memilih pulang dengan alat seadanya.
Paginya Linda melihat suatu mahkluk duduk tertidur didepan mobil. Mahkluk itu putih besar dan berbulu seperti beruang. Wajahnya terlihat lucu, tetapi ia mempunyai rahang bawah yang lebih kedepan dan taring bawahnya yang meruncing ke atas.
Tak lama kemudian, Arina juga bangun dan menemukan Linda yang tergeletak tak sadarkan diri. Arina lalu menyapa mahkluk itu dan mencair menjadi air.
Ia lalu menggeret Linda yang lemas itu kedalam mobil lalu membaringkannya di kasur. Sementara itu, Aku sudah bangun dari awal untuk membakar ikan.
"Pagi, Bel".
"Pagi".
"Linda kenapa?"
"Entahlah, ekspresinya kaya ketakutan", "Mana tidur diluar lagi".
__ADS_1
"Tidur sambil jalan paling".
"Salah kita juga menyeretnya ke hutan", jawabku tak mau disalahkan.
"Jamur apa ini, Bel?"
"Jamur yang kemarin itu".
"Kamu nyari ini kedalam hutan?"
"Deket kok, cuma berapa meter dari sini", ucapku sambil menunjuk kedalam hutan.
Arina kemudian masuk kedalam hutan untuk melihat air terjun itu lagi.
......\=......
Disiang hari semuanya tampak normal. Airnya tidak bercahaya dan sama seperti air biasa. Jamur dan bunga di sekelilingnya tampak berwarna-warni.
Aku iseng mengambil beberapa bunga, lalu menyelipkannya di rambutku. Mulai hari itu, aku diam-diam sering bermain kesana. Terkadang ketika aku disuruh mencari kayu bakar. Aku menyempatkan mampir kesana.
Hari-demi hari, aku mulai jenuh menjalani hari. Aku mulai takut dengan keadaan teman-temanku yang lain. Jangan-jangan mereka mencari kami di markas bersalju itu.
Karena gusar mencari jawaban, aku melihat permukaan air yang mengalir. Tidak ada yang kulihat selain bayanganku yang kabur, tatapanku kosong, dan muali tenang dengan sendirinya.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang janggal. Seperti ada yang mengikuti dan mengawasi dari belakang. Saat kulihat, disana ada semak-semak yang bergerak-gerak.
Aku langsung membentuk pisau di tanganku dan melemparkannya kesana. Terlihat pisau esku tercacah ketika membentur semak-semak itu.
Aku mulai takut, dan segera berlari pulang. Namun, sebuah akar menjerat kakiku dan menarikku lebih dalam ke hutan. Akar itu lalu menggantungku terbalik ke dahan pohon.
Aku berulang kali mengeluarkan es, tapi karena tanganku terikat kuat. Aku jadi tak mampu menggenggam senjata. Aku berteriak meminta tolong, dengan cepat akar itu langsung menyumpal mulutku.
Aku bisa saja membuat monster es. Tapi, aku harus menyentuh tanah untuk membuatnya. Belum lagi jika aku memunculkan jarum es dan salah mengakurasikan. Itu bisa saja salah menusukku.
Mau tidak mau aku pasrah tidak bisa apa-apa hingga sore. Mabel dan Linda pasti mencariku. Benar saja, tak lama kemudian aku melihat mereka mondar mandir di bawahku. Aku mencoba berteriak, tapi tak terdengar oleh mereka.
Mereka akhirnya kembali keluar dari hutan dan meninggalkanku. Aku menangis tak bisa apa-apa. Badanku juga lemas dan tak mampu untuk membuat senjata lagi.
'Don, kamu dimana?', panggilku berulah dalam hati.
Malamnya sayu-sayu aku mendengar dengingan jet kecil. Tak lama kemudian sebuah cahaya menebas tali yang mengikatku lalu menangkapku dari bawah.
Perlahan aku membuka mata untuk melihat wajahnya. Terlalu gelap bagiku untuk melihat sehingga aku menutupnya lagi.
Besok paginya aku terbangun saat digendong belakang punggung seorang pemuda. Rambutnya acak-acakan dan pakaiannya terobek-robek. Tubuhnya banyak luka dan mengenakan syal di lehernya.
Aku menyadari kalau aku sekarang berada ditengah hamparan salju. Pemuda itu terus berjalan kaki melewati salju itu. Salah satu syalnya di kalungkan keleherku. Saat itulah aku lantas mengenalinya.
"Donny", bisikku ketelinganya.
Tapi ia tak mendengar.
"Donny", panggilku lebih keras.
"Oh, kamu sudah bangun ternyata",
"Maaf aku tidak mendengarmu",
"Telinga kiriku sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi".
Aku tak percaya karena bisa bertemu dengannya lagi. Aku langsung memeluknya erat sambil menahan haru.
Tak lama kemudian, ia membelah syal yang dilehernya lalu mengikatku dengannya lebih kuat. Syalnya melebar dan membentuk roket dikakinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, roketnya menyala dan kami terbang diatas salju yang luas. Ketika berada diatas langit. Ia memperlebar syalnya, lalu muncullah kilatan petir dari tubuhnya.
Ia meledakkan roket syalnya, lalu kami terbang dengan cepat. Suhu beku salju membuat tubuhku bergetar kedinginan. Tapi aku merasa hangat karena bisa bersama dengannya.