The Last Era

The Last Era
Act 38 [Mengungkap Misteri]


__ADS_3

Beberapa hari selanjutnya, aku merasa kalau kutukanku sering lepas kendali. Mulai dari memecahkan gelas dan piring hingga merobek-robek buku disekitarku. Aku juga sering berdebat hebat dengan ibuku sejak saat itu.


Meskipun begitu aku tidak mau merusak reputasiku sebagai anak berandalan sekolah. Aku juga selalu memasukkan tanganku ke saku celana untuk mencegah kutukanku memecahkan barang lagi.


Aku membuka berita terbaru lewat jam pintarku yang baru. Berita pertama yang dibacakan berupa berita peringatan 12 tahun insiden mengerikan di Aquopora. Aku terungat peristiwa yang pernah diceritakan ibu tentang para monster dari lingkaran cahaya. Tapi aku tahu itu hanya ilusi orang orang tua, supaya lebih waspada terhadap penjahat.


Setelah membangkitkan tenaga dan niat bangun, aku pergi kesekolah ditemani Howie dan Boch yang merupakan bawahanku yang menaiki skuter. Kami bertiga datang seperti biasa ke sekolah. Disana aku melihat orang-orang menghindariku, entah karena takut atau memang tidak suka.


Lagipula aku tidak mempedulikannya.


"Ok! Mau kuliah kamu?", tanya teman sekelasku Hepy.


"Tentu saja!", "Masuk ke kuliah seperti itu mudah saja bagiku", jawabku sombong.


Tiba-tiba jamku berdering menerima pesan.


"Bertemu denganku di belakang sekolah setelah pelajaran selesai. Kalau kamu memang laki-laki", aku mendikte pesan itu.


"Ternyata bawahannya masih belum sadar juga ya",


"Oke, oke, aku kabulkan".


Seperti janji, kami bertemu dibelakang sekolah seusai sekolah. Aku ditemani ketua dan bawahanku sementara lawanku datang bersama gerombolannya yang sangat banyak. Kami berdua menyuruh yang lainnya untuk menjauh untuk membuat arena bertarung. Ia melepas jaketnya dan mengambil sebuah pedang rakitan berenergi listrik.


"Main kotor".


"Karena kutukanmu itu kuat, itu adalah senjatamu", "Kaulah yang main kotor selama ini".


"Baiklah semua sudah siap",


"Mulai!"

__ADS_1


Pertarungan dimulai, gerakan gesitku mampu menghindari semua serangannya. Akan tetapi kutukanku tidak menunjukkan kekuatannya. Aku terus mencoba mengeluarkannya, namun tak terjadi apapun.


Disaat aku lengah, ia langsung melancarkan pukulannya kewajahku. Aku terpental dan nyaris kehilangan kesadaran.


"Sakit?"


Aku memaksa tubuhku untuk bangkit dengan wajah membiru. Tiba-tiba di tengah kami, muncul lingkaran cahaya kuning. Kami sontak menjauh dari arena karena terkejut.


Dari dalamnya keluar monster besar berzirah dengan pedang laser ditangannya. Ia mengenakan helm berduri yang menutupi sebagian wajahnya. Dari dalam lingkaran itu keluar beberapa monster bercakar tajam dengan mata merah menyala dan bergerak lincah.


Monster besar itu menatapku dengan sangar dan langsung menebasku. Aku menghindar ke kiri dengan bantuan kutukanku. Sementara itu, monster lainnya bergerak menyerang teman-temanku yang mencoba kabur.


Mereka mencakar dan menusuk mereka satu persatu dengan brutal. Emosiku naik seketika. Aku yang sebelumnya berniat kabur berbalik arah menyerang mereka satu persatu. Tanganku terasa aneh, setiap pukulan yang kulancarkan terasa ringan dan musuhku dengan mudah terpental ke langit atau membentur dinding sangat keras.


Aku memfokuskan kutukanku, terasa sebuah angin bergerak memutar ditanganku. Aku tak melihat apapun, tapi yang jelas tubuhku terasa ringan untuk berlari dan meloncat. Dengan mudah aku menghindari semua serangan dan meninju wajahnya terus menerus.


Ia tak bisa diterbangkan, mungkin karena tubuhnya yang besar. Monster itu marah, ia membelah diri menjadi empat bagian. Keempat mahkluk itu sama persis. Mereka berempat langsung saja menyerangku dengan membabi buta. Setelah banyak menghindar, aku seketika menyadari sesuatu.


"Jangan-jangan aku adalah.."


"Manusia elemen angin?"


Karena sibuk berfikir aku menjadi lengah dan terseruduk salah satu dari mereka. Mereka berempat berjalan perlahan kearahku sambil bersiap menebasku.


"Baiklah, aku mengerti angin"


Aku langsung bangkit dan menyatukan kekuatanku ke tangan kananku. Aliran angin terasa berkumpul disana, suhunya mulai naik secara perlahan. Disaat mereka berkumpul, saat itu juga aku menyadari ada perbedaan dari mereka berempat.


Salah satu dari mereka memiliki luka yang sangat banyak, sementara yang lainnya terlihat sehat.


"Aku tahu pasti kamu yang asli!", aku melompat memasukkan tanganku ke mulutnya.

__ADS_1


"Makan ini!!"


Karena tekanan yang terlalu tinggi, kepala mosnter itu meledak dan terobek-robek. Aku langsung berpindah ke belakang punggungnya dan mencoba dari belakang.


Anginku kali ini terasa lebih panas dari sebelumnya padahal tekanannya belum tinggi. Saat kuperhatikan lagi, angin itu berwarna sedikit orangnye dan sesekali muncul lidah api.


DYAARR


Angin ditanganku tiba-tiba meledak seperti bom dan membakar jasad monster itu. Klona monster itu memudar dan menghilang. Sementara aku yang terpental tak sengaja masuk kedalam lingkaran itu.


Hal terakhir yang kulihat adalah sekolahku yang hancur dan teman-temanku yang kaku berlumuran darah. Setelah terjatuh ke tanah aku kembali berlari ke lingkaran itu. Sayangnya lingkaran cahaya itu keburu tertutup dan lenyap begitu saja.


"Oh tidak... sekarang... bagaimana caraku keluar?"


Aku berdiri sambil memegang tangan kananku yang terluka sambil melihat sekeliling. Sebuah tanah lapang yang luas, langit berwarna biru tua, berangin dengan debu oranye pasir yang beterbangan. Platfom yang kuinjak terbuat dari batu sandstone berwarna jingga.


Angin disekitarku kuputar menjauh untuk menghindari pasir masuk ke mataku dan hidung. Aku terus berjalan lurus sambil mencari sebuah bangunan untuk berlindung. Tapi aku terus saja kembali ke tempat semula, aku tahu karena bekasku jatuh terdapat bekas gesekan.


"Yah.. Sudahlah", "Aku lelah.."


Tiba-tiba aku mendengar siulan bernada.


"Siapa disana?!"


"Tunjukkan dirimu!"


Tak lama kemudian pasir di kakiku berkumpul menjadi satu. Pasir itu membentuk sebuah tali yang langsung mengikat tangan kiriku. Sontak kuputar angin ditanganku dan memecah tali pasir itu. Tangan kananku berganti terikat, ditambah dengan kedua kakiku.


"Sialan!", "Tunjukkan dirimu dasar pengecut!!"


"Dibelakangmu.."

__ADS_1


Belum sempat melihat, leherku tertepis sebuah benda. Kepalaku langsung pening dan telingaku berdenging. Tak lama kemudian tubuhku lemas dan jatuh pingsan.


__ADS_2