
Bus itu mengantarku kembali kesebuah apartemen yang megah. Setahuku apartemen ini memang tersohor dikota. Hanya orang-orang elit saja yang mampu membayar kamar disini.
Orang tadi menghentikan busnya dipinggir jalan untuk menurunkanku. Ia menyerahkan kuncinya kepada satpam disana untuk memarkirkan mobilnya. Sementara aku dibawa masuk ke apartemen itu.
Orang yang lewat disana merasa risih didekatku. Beberapa dari mereka berbisik satu sama lain tentangku. Wajar saja sebab bajuku lusuh, penuh luka ditubuh dan berjalan dengan kaki. Karena takut ditanyai aneh-aneh, aku melipat kertas yang kubawa lalu kumasukkan ke kantung celana.
Orang itu bertanya kamar orang bernama Arina kepada robot staf pelayanan tamu. Setelah diberi tahu jalannya orang itu berkata kepadaku,
"Kamu pergilah", "Tugasku hanya sampai disini".
"Aku belum melihat rumahku", "Bawa aku kembali", pintaku.
"Rumahmu sudah hancur", "Kalau kamu mau hidup, maka ikuti perintahku".
Aku sebenarnya menolak untuk memanutinya, tapi tetap saja kuikuti perintahnya. Didepan sebuah kamar aku menarik nafas panjang dan berharap hidupku bisa kembali sedia kala.
Aku secara perlahan mengetuk pintunya. Satu kali tidak ada jawaban. Dua kali masih tidak ada jawaban. Tiga kali tidak ada jawaban. Padahal indikator di pintu menandkan ada orang didalam. Aku geram dan memukul pintunya dengan keras.
Tiba-tiba sesorang memegang tangan kananku. Orang itu terlihat seumuran denganku, tapi dia sedikit lebih tinggi.
"Siapa kamu?"
"Okta Kuryakin", "Dan kamu?"
"Erkan", "Apa kamu pernah tahu fungsi tombol ini?", ucapnya sambil menekan sebuah tombol berwarna biru.
DING
"Tombol bel", lanjutnya.
"Iya iya aku tahu".
Aku menekan tombol itu lagi. Namun, saat kubalik badan untuk melihat orang itu, dia sudah tidak ada. Bahkan disepanjang lorong yang terang benderangpun ia tak terlihat.
Pintu akhirnya dibuka, terlihat sosok orang yang pernah kulihat. Orang tadi, dia menyambutku didepan pintu.
"Tunggu, kamukan yang-"
"Shht, masuklah dulu", "Akan kuceritakan didalam".
Aku perlahan masuk keruangan itu dengan. Siapa tahu dia bukan manusia. Kamar itu sangat luas, bahkan ada dapur dan empat kamar lagi. Keempat kamar itu berjejer berderet kedalam. Dipojok kanan adalah dapur dan depat didepanku adalah ruang tamu.
"Kamarmu ada disana", tunjuknya ke sebuah kamar yang paling pojok belakang.
Aku mengangukkan kepalaku. Saat pintu kamarku kubuka, terasa hawa-hawa apartemen mahal disana. Tempatnya luas, kasurnya lebar, dan tentunya dengan perabotan kamar lengkap. Aku terpaku beberapa saat didepan pintu.
"Woah".
"Indah bukan?", ucapnya.
"Tapi Erkan, kenapa aku harus kesini?"
"Sudah jelas bukan", "Kami membutuhkanmu", jawabnya santai.
"Juga, jangan panggil aku Erkan", "Sebut aku dengan sebutan paman", "Aku seumuran dengan orang tuamu?"
"Baiklah".
Aku langsung melompat ke ranjang dan berguling-guling disana. Rasanya sangat nyaman.
"O Paman", "Apa kamu mengenal ayahku?", tanyaku tiba-tiba.
"..."
"Halo?"
"Kamu akan mengerti",
"Yang jelas semoga nyaman disini", jawabnya sambil pergi menjauhi kamarku.
"Hey! Tunggu!"
Aku menutup kamarku dan merenung. Semuanya terjadi begitu singkat. Alur hidupku mulai kacau saat ini. Tak ada yang bisa kupalingkan dari kenyataan yang ada. Aku hampir menangis lagi ketika mengingat semuanya. Tapi ya, semoga besok tidak lebih parah.
Besoknya..
DING DING DING
"Okta, bangun!", panggil Paman Erkan sambil menekan bel berulang.
"Ah berisik, masih gelap tahu!", aku menutupi kupingku dengan bantal.
Tiba-tiba tubuhku diangkat dan digendong olehnya. Sejak kapan dia masuk dan bagaimana, itu membuatku panik. Belum lagi dalam satu kejapan mata aku sudah berada diluar kamar.
"Bangunlah dasar pemalas", "Ini sudah pagi", ia menjatuhkanku ke kursi sofa dengan posisi terduduk.
Semalaman aku tidak tidur nyenyak. Aku menggunakan pendeteksi suhu untuk mengetahui orang disekitarku. Jika ada yang mencoba menyerangku aku akan langsung menyerangnya. Meski begitu, pada akhirnya aku tepar juga di kasur.
"Makan", orang itu menyodorkan sebuah suplemen kafein.
"...", aku memandangi pil itu beberapa saat.
"Kenapa?"
"Tidak", "Tidak ada apa-apa", jawabku sambil memasukkan suplemen itu kemulutku.
"Bagus, segeralah mandi dan ganti bajumu!", "Lalu temui aku dibawah!", perintahnya.
Aku menganggukkan kepalaku. Pria itu melemparkan baju yang tiba-tiba muncul entah dari mana lalu berjalan pergi. Saat dia sudah di luar ruangan, aku memuntahkan kembali suplemen itu. Takut jika obat itu adalah sebuah racun.
__ADS_1
"Untuk kali ini aku akan mengikutinya", "Kenapa hidupku selalu dipenuhi orang-orang aneh", keluhku sambil masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju.
Setelah mengganti baju, aku lanjut turun kebawah sesuai perintah Erkan. Seperti katanya, dia sudah berdiri menunggu di depan meja reservasi.
"Lalu, Apa?", tanyaku.
"Sebentar"
Erkan menempelkan telepon gelang ditangannya ke telinga. Lalu menelepon seseorang melalui benda itu. Mereka bercakap-cakap sangat lama, sampai aku bermain dengan angin karena bosan.
"Baiklah kami kesana", ia akhirnya menetup teleponnya.
"Okta, jabat tanganku", pintanya.
"Untuk apa?"
"Lakukan saja".
Aku menjabat tangannya, seketika tempat disekitarku berubah dalam satu kedipan mata. Sama seperti tadi saat aku bangun tidur.
Saat ini aku berada dilapangan luas dengan banyak robot asisten yang mondar mandir disana dan panel-panel aneh di luar lapangan. Langitnya ditutupi dengan suatu atap yang tembus cahaya tapi bukan kaca.
Tepat didepanku ada Yuki dan Sami yang sedang mengobrol. Aku menepuk pundak Sami, dia langsung saja melompat dan secara tak sengaja menyengatku dengan listrik ringan. Hal itu membuat tubuhku kejang sebentar.
s
"Eh, maaf", katanya sambil menundukkan kepalansya.
"Lain kali jangan kagetan", aku sedikit emosi.
"I-iy55a maaf".
"Jadi, apa maumu kesini?", Yuki bertanya dengan nada kasar.
"Entah", jawabku.
"Ada yang ingin kutanyakan pada kalian bertiga", "Ikuti aku", ajaknya dengan ceria.
Kami bertiga dibawa kekantin yang saat itu masih sepi. Kami bertiga disuruh untuk memesan makanan dan minuman. Dengan menguras isi dompet Paman Erkan, tentu saja.
"Okta, bagaimana kamu bisa tertarik ke portal?"
"Saat itu aku sedang bertarung, tapi tiba-tiba sesosok monster besar keluar dari portal dan melemparku ke lingkaran kuning itu",
"Aku sudah dua dari mereka, tapi yang satu itu entah kenapa masih hidup", jelasku.
Semuanya mulai fokus padaku.
"Oo, trus trus?"
"Setelah masuk kedalam aku tiba-tiba diikat dengan sebuah rantai pasir, lalu aku lupa selanjutnya apa".
"Hmm ini aneh, kalian berdua tidak menemukan orang pasir itu?", tanya Paman Erkan kepada Yuki dan Sami.
Paman Erkan kemudian memegang janggutnya sambil bergumam-gumam.
"Oya, Ta", "Bagaimana dengan ibumu?", Sami mengalihkan pertanyaan.
"Dia.. Sudah wafat..", jawabku lirih.
"Oh... Emm...", "Turut berduka".
"Informasi yang diberikan orang itu salah".
"Siapa? Paman Ramko?"
"Ya, si petir itu", "Seharusnya dia memberitahuku informasi yang sebenarnya", keluhku kesal.
Yuki terlihat naik darah mendengar ucapanku. Saat dia mau membuka mulut, Sami menutup mulutnya dengan tangan sambil menggelengkan kepalanya. Sementara aku hanya melirik sedikit dan membuang wajahku. Paman Erkan hanya melipat tangannya sambil menggelengkan kepala kearah Yuki.
"Paman Erkan", aku menoleh kearahnya.
"Ya".
"Apa kamu mengenal ayahku?"
"Tidak", ia membuang wajahnya.
Yuki dan Sami terkejut melihat tingkah Paman Erkan yang begitu. Selama ini dia belum pernah bersifat seperti itu. Tingkahnya menyulut emosiku saat itu juga.
Aku berdiri dari kursi berniat untuk memegang kerah bajunya supaya dia mau bicara. Tapi setelah aku berdiri tubuhku membatu, tidak dapat digerakkan.
"Tubuhku tidak mau bergerak?"
"Aku menguasai kekuatan psikis teleportasi dan telekinesis", "Lalu sejak aku dicairkan lagi, aku bisa membuka kekuatan telepatiku", "Jadi jangan macam-macam denganku", ucapnya tegas sambil menatapku tajam.
"Hentikan paman, kami juga mau penjelasan darimu", ucap Yuki.
"Ya, masalahnya masalah kami juga", sambung Sami.
"Cih"
Aku dilepaskan dari telekinesisnya, memberikan efek terpental ke meja dan kursi di sebelah. Suasana menjadi riuh, orang-orang disana berlari menjauhi kami. Yuki dan Sami beranjak dari kursi dan membantuku berdiri.
"Ayahmu itu egois", "Dia meninggalkan teman-temannya hanya karena kepentingan pribadi", ucap Paman Erkan dengan nada rendah dan kasar.
"Lalu, apa dia memang seburuk itu?", "Dia melakukan itu pasti ada sebabnya".
Paman Erkan menarik nafas dalam-dalam lalu untuk menenangkan pikirannya. Lalu ia mulai menceritakan kejadiannya.
__ADS_1
"Saat itu, terjadi serangan di kota. Lingkaran cahaya dimana-mana, para penduduk terpaksa diungsikan keluar planet dengan pesawat didalam perlindunganku",
"Saat itu, Sami dan kamu masih bayi, kamu mungkin tidak mengingatnya",
"Ramko dan Ayahmu bertarung melindungi Linda yang berlari menggendongmu kepesawat terakhir. Ramko dan ayahmu terkepung oleh ribuan monster. Membuat pandangannya lepas dari Linda. Terpaksa Linda menggunakan kekuatannya untuk bertarung sambil melindungimu. Tapi naas, Linda tidak sanggup menghadapi para monster sendirian",
"Untunglah saat itu Mabel sempat melihatmu, dengan cepat dia mengejarmu dan membawamu masuk kepesawat. Mabel memberikan pertarungannya kepada ayahmu. Dia marah besar, kukunya memanjang, apinya berubah menjadi biru terang. Ia menyerang semuanya seperti memotong buah yang dilemparkan".
"Lalu, apa hubungannya dengan egois?", tanyaku.
"Setelah kejadian itu, dia depresi berat", "Berulang kali dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya, tapi kami terus mengingatkan dengan anak yaitu kamu", "Kami memanggil hampir aetiap psikologi di planet untuk membuatnya kembali seperti dulu", "Tapi itu dia pernah membuahkan hasil".
"Setiap kali aku mengintip kamarnya, dia selalu bersamamu", "Tidur bersamu, bermain, bahkan semuanya", "Ia tak membolehkan kami atau siapapun mendekatimu", "Dia tak segan-segan menyerang kawannya sendiri jika berani melewati batasnya",
"Sampai suatu hari, pemerintah memecatnya jabatan keamanan negara", "Sebab, dia sering bolos kerja dan tidak semangat melakukan sesuatu", "Dia kesal dan melakukan ide yang gila bagiku".
"Suatu hari, dia menghilang dari rumahnya bersamamu", "Kami mencari keseluruh kota, tapi ayahmu tidak ada", "Sampai saat aku berteleportasi tak sengaja aku menemukannya yang berjalan diantara gedung tapi tidak membawamu lagi".
.......
"*Dimana Okta?"
"..."
"Aku tanya dimana anakmu?", aku membentaknya dengan keras.
"Apa itu berguna bagiku?"
"Jangan-jangan", "Cih!"
"Shina, kamu sudah kelewatan, Aki tanya diamana dia?!", aku mengeluarkan pistol.
"Berisik, disini ramai tahu", jawabnya hampa.
Dia melemparkan bola api padaku. Dengan cepat aku berpindah ke belakangnya lalu melepaskan tembakan kearahnya.
Ia tiba-tiba mengilang dan langsung muncul didepanku. Ia seperti berteleportasi atau bergerak secepat Ramko, yang jelas aku hanya sempat melihat garisan biru tua.
Ia memengang pistolku dengan kuat sambil membakarnya hingga meleleh. Disaat itu kami sangat dekat, aku mampu melihat matanya yang kosong dan sepi. Benar-benar bukan mata bagi orang yang hidup dengan rasa sakit biasa.
Setelah melelehkan pistolku ia mencengkram telepon di tanganku hingga meledak. Aku sontak berpindah menjauh dan menahannya dengan telekinesis. Shina sama sekali tidak menerima luka apaoun dari ledakan itu.
Aku geram, kemudian membenturkannya ke dinding gedung beberapa kali. Sampai dia tidak kuat berdiri dan jatuh telentang.
"Shina, jelaskan padaku sekarang!", perintahku sambil menginjak tangan kanannya.
"Kamu akan mengetahuinya".
Tiba-tiba lingkaran api muncul dan menutupi tubuhnya. Aku segera menjauh sambil melempar jaketku yang terbakar. Setelah api itu padam, dia menghilang entah kemana.
Suara tadi membuat orang-orang datang melihatku. Aku tidak menggubris pertanyaan mereka dan mengilang saat itu juga.
Malamnya, aku mendapat kabar tiba-tiba dari Ramko kalau Shina kabur dengan pesawat luar angkasa pribadi model lawas secara ilegal. Kontak pesawatnya menghilang baru di ribuan tahun cahaya. Kami semua menganggapnya mati karena ia mungkin jatuh diplanet lain, atau melarikan diri.
Namun, pemerintah mengatakan kepada masyarakat kalau Shina mati terbunuh karena kecelakaan kerja. Kami sebenarnya sangat tidak setuju dengan pernyataan itu. Tapi kami tidak pernah bisa menentang yang diatas.
Tidak akan pernah*!
.......
"Saat itu kami menganggapnya telah membunuhmu", "Tapi ternyata tidak, dia justru meninggalkanmu bersama orang lain".
"Aku dan Ramko masih menelusuri motifnya melakukan itu", "Tapi yang jelas dia telah meninggalkan tanggung jawabnya karena masalah kecil".
Mendengar itu semua aku langsung terdiam. Tubuhku langsung lemas. Aku hanya tahu itu sebagai mimpi, tapi tak kusangka jika itu benar-benar terjadi.
"Maaf menceritakan itu", "Aku merasa atas kejadian itu".
"Tidak Paman, aku berterima kasih", "Sekarang kepingan puzzle yang susah sudah mulai terbuka".
"Aku senang kamu mengerti, tapi aku harus pergi", ia menghilang setelah itu.
Yuki dan sami membantuku berjalan dan merapikan meja disana. Paman Ramko baru saja datang dan panik melihat meja yang berantakan disana sini.
"Ada apa ini?", tanyanya.
"Sudah selesai ayah, hanya pertarungan kecil", jawab Sami.
"Dimana Erkan?"
"Dia menghilang", jawab Yuki.
"Ya ampun", "Dia memang sensitif dari dulu",
"Sudahlah ayo kita bertemu yang lain".
"Yay", pekik Sami sambil berlari kearah ayahnya.
Aku dan Yuki mengikutinya sambil berjalan santai. Selama perjalanan aku berbincang dengan Yuki.
"Yuki, siapa orang tuamu?", tanyaku.
"Tidak ada ayah", "Ibuku bernama Arina".
"Apa kalian akrab", "Aku sangat jarang melihatnya".
"Aku rasa begitu, taoi aku tidak yakin dia ibu asliku".
"Loh, kenala bialng begitu?"
__ADS_1
"Umm.. Nanti kuceritakan", ia mempercepat jalannya.
"Baiklah", balasku kecewa.