
Cahaya pagi kebiruan menyeberangi jendela kamar Okta. Kasur reot yang sudah kosong tampak bersinar diraba cahaya. Di sampingnya terlihat Okta yang sedang memasukkan barang-barangnya kedalam tas coklat lapuk.
"Yosh, semua sudah siap",
"Pisau sudah, mesiu sudah, tali kawat sudah", tampa sengaja mata Okta melirik sebuah tongkat besi.
"Itu dia, tongkat besi!"
Tanpa sengaja saat ia mencoba mengambil tongkat besinya di atas meja. Sebuah kalung berwarna putih biru terjatuh karena tersenggol tangannya. Okta mengambilnya dan teringat jika kalung milik bibinya Arina.
Ia berniat mengembalikannya saat itu juga. Namun, Arina dan Yuki sedang tidak dirumah. Mereka sedang pergi kehutan untuk mengumpulkan bahan-bahan masakan. Sebab, pagi-pagi memang saat yang tepat untuk memanen tumbuhan.
Kalung itu tidak pernah meleleh dan masih saja sedingin es. Okta kemudian menyimpannya didalam tas karena takut sakunya membeku. Sambil menggendong tasnya ia segera pergi menuju kamar Shina.
Dipanggilnya Shina sebanyak 5 kali. Namun, Shina tidak menjawab. Karena penasaran Okta membuka pintunya dan mengecek isi didalamnya. Kamar itu sepi dan berantakan bahkan kaca jendelanya saja sudah pecah. Laci-laci lemari keluar hingga ada yang hampir jatuh.
"Orang ini sebenarnya tahu cara bersih-bersih atau tidak", gumamnya.
Disalah satu laci itu bersandar sebuah buku elektronik berwarna kehitaman. Okta sontak mengambil benda itu dan menghidupkannya. Dalam cahayanya yang remang-remang, hologram menampilkan rentetan foto-foto Shina dan yang lainnya saat masih muda.
Okta terkejut melihatnya dulu. Ia mengganti-ganti fotonya karena penasaran dengan masa lalu keluarganya. Disalah satu foto terlihat Shina, Linda, Mabel, Lava atau Donny, Ramko, Arina, Afton, Nadia, dan satu orang tua yang tidak diketahuinya. Foto itu sedikit tampak sudah direka ulang dengan AI. Sebab disekitar wajah mereka terdapat coretan tinta berwarna hitam.
Menemukan foto itu, membuat Okta semakin penasaran. Ia mengobrak-abrik seluruh kamar untuk mencari dokumen, foto, dan catatan yang disembunyikan Shina. Salah satu yang menarik simpatinya adalah sebuah kertas yang berisi tulisan tangan kristal manusia elemen.
'*Syal merah Donny mengandung material pemutasi. Kristal Thomson, kristal yang digunakan untuk membangkitkan potensi pengendali atom tertentu oleh sel manusia. Sel yang sudah terpapar atau termutasi oleh cairan kristal thomson akan mampu mengendalikan jenis atom atau senyawa tertentu (tidak semua).
Mampu menciptakan, mengendalikan geraknya, ataupun menguraikannya dengan mudah. Setiap sel akan berbeda-beda kemampuannya. Jika sel tidak kuat menahan radiasinya, akan menyebabkan tumor.
Tubuh Donny memiliki efek unik akibat mutasi itu. Ia mampu membuat atom dan senyawa baru dengan menambahkan proton, elektron, dan neutron dari atom dan senyawa disekitarnya. Lalu ia mampu mengendalikannya. Uniknya ia tidak membuat mereka meledak. Benar-benar menyalahi hukum fisika!
Dia berpotensi bisa mengendalikan semua elemen*.
Catatan : Kristal Thomson juga mampu memutasikan sel kera dan monyet atau sebangsanya.
__ADS_1
Catatan : Dari robekan syal yang kudapat beberapa tahun lalu syal itu sudah lengkap. Jika seseorang mengekstrak lalu memutasikan selnya dengan ekstrak itu dan selnya mampu bermutasi tanpa menciptakan tumor. Dia bisa mengendalikan semua elemen.
Catatan utama : Rebut dan musnahkan syal itu!!'
Okta membaca tulisan tangan itu dengan saksama. Tulisan ini adalah tulisan penelitian Shina. Selama ini ia menjauh bukan hanya karena eneg dianggap sebagai alat. Namun juga melakukan penelitian rahasia yang illegal dilakukan di Aquopora.
Sambil menggaruk kepalanya ia menatap sekeliling kamar yang porak poranda. Tangannya melipat kertas itu dan dia masukkan kedalam tas miliknya. Tak lama kemudian dia angkat kaki dari sana. Okta menutup pintu rumah itu dan menuruni tangga kayu.
Begitu sampai diluar bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Okta mengencangkan tasnya dan menatap sekeliling dengan saksama. Ia kemudian menarik resleting tasnya dan mengambil sebuah stik. Ketika stik itu dipegang oleh Okta, munculah mata pisau api berwarna oranye di bagian ujungnya.
Okta memandangi sekelilingnya. Mencari tahu siapa yang sedang mengawasinya. Tiba-tiba semak semak hutan didepan rumahnya bergerak-gerak seperti ada orang yang bersembunyi. Okta sontak mengeluarkan bola api dan membakar semak-semak.
Berlarilah Okta ke arah semak semak itu. Namun, ternyata di sana tidak ada apapun. Tarian semak-semak itu diteruskan ke semak-semak yang semakin dalam. Okta mengambil langkah seribu mengejar mahkluk yang melarikan diri diantara semak-semak.
Okta menembakkan rantai api dari telapak tangannya kearah dahan pohon besar. Ia kemudian melompat dan mendarat diatas dahan pohon. Dari atas sana, Okta masih belum mampu mengenali apa yang sedang ia kejar.
Rantai api kembali lepas dari tangan tanan Okta. Rantai itu selanjutnya menjadi tali bagi Okta untuk bergelantungan. Semakin lama benda itu bergerak semakin cepat, ditambah lagi gerakannya yang acak kerap membuat Okta kewalahan. Karena kesal ia akhirnya mematahkan ranting pohon lalu melemparkannya.
Kemampuan spesial Okta yang tidak dimiliki Shina yaitu menanamkan sumber api kepada benda yang disentuhnya lalu membesarkannya secara tiba-tiba. Saking cepatnya perbesaran api itu, membuat perbedaan suhu antara bagian luar dan dalam benda tidak stabil. Pemanasan yang tidak tidak merata ini menghasilkan efek ledakan.
Ranting kayu itu meledak, menciptakan api yang membakar semak-semak disekelilingnya. Okta melompat ke dahan terdekat dari tempat itu. Dari sana tampak seekor anjing yang memiliki cula seperti badak.
Tubuh belakangnya terkena luka bakar akibat ledakan ranting tadi. Ia tak sanggup berdiri lagi. Okta melompat turun mendekati mahkluk itu. Begitu Okta mendekatinya, ekor mahkluk itu tiba-tiba hancur dan terbang seperti abu hingga terus ke mukanya. Tak lama kemudian anjing bercula itu menghilang dari pandangan.
Disaat itu juga Okta mendengar dentuman keras dari arah belakangnya. Dentuman itu menggertak seluruh pepohonan dihutan hingga membuat hewan-hewan berlarian.
Rantai api kembali menancap ke ranting, Okta menarik tubuhnya keatas lalu terbang kelangit dengan anginnya. Dari atas lautan merah pepohonan. Tampak kepulan asap hitam yang menjulang keatas langit dari arah luar hutan.
Okta menghempaskan anginnya sekuat tenaga untuk mencapai tempat itu. Kini ia sadar bahwa dia pergi terlalu jauh. Untuk meningkatkan kecepatannya Okta menancapkan rantai pada pohon yang dianggapnya paling jauh lalu menarik tubuhnya sekuat tenaga.
Ketika sampai disana, Okta terkejut bukan kepalang. Ia melihat rumahnya hangus terbakar. Okta seketika panik dan berlari menuju air keran yang ada diluar rumah. Tangan stik yang ia pegang ditangan kirinya ia hempaskan ke keran itu, membuat air yang berada disana menyembur ke langit.
Belum sempat Okta memutar arah air itu dengan anginnya. Sebuah mahkluk humanoid dengan tubuh raksasa mendarat tepat dirumahnya. Apinya padam, tapi dengan cara yang salah.
__ADS_1
"Jadi kamu yang sudah melakukan ini?",
"Kamu akan membayarnya!"
Okta mengluarkan bola api dari tangannya dan melemparkannya bertubi-tubi kearah mahkluk itu. Setelah beberapa kali tembakan, mahkluk itu bahkan tidak bergerak satu incipun dari tempat itu.
"Giliranku", ucap mahkluk itu dengan suara mengerikan.
Mahkluk itu memperbesar tinjunya dan melompat secepat sambaran elang. Mahkluk itu menyambar kepala Okta dan membantingnya ketanah. Alih-alih untuk menghancurkan kepala Okta, ia justru menghancurkan tas yang dibawa Okta.
Okta tiba-tiba muncul dari balik belakang punggungnya. Tangan kanan Okta yang membara dihantamkannya kepunggung mahkluk itu. Serangan jarak dekat, kuat dan panas itu masih belum mempan menghadapi kerasnya tubuh mahkluk itu. Sebelum Okta menarik tangannya tulang-tulang rusuk muncul dari punggung mahkluk itu dan mencengkram tangan Okta.
Okta berusaha menarik tangannya. Namun, mahkluk itu mampu memutar kepala juga tangannya 180 derajat lalu menghajar wajah Okta dengan hingga ia terpental jauh.
"Mahkluk apa dia sebenarnya, kekuatannya seperti Yuki tapi 10 kali lebih kuat", gumam Okta sambil mencoba bangkit.
"Sakit?", gertak mahkluk itu kepada Okta.
Okta melemparkan bola api kearah mahkluk itu. Dengan cepat mahkluk menggeser kepalanya, sehingga bola api Okta hanya mendarat di atas tas milik Okta.
"Hanya segitu saja kemampuanmu?!"
"Boom!", Okta bicara nglantur dengan nada lemas.
"Apa??", pekik mahkluk itu terkejut.
"Maksudku adalah ..."
KABOOM
"... itu dia", ucapnya sambil tersenyum puas.
.
__ADS_1
"Keparat itu, menjebakku!!", pekik mahkluk itu.