The Last Era

The Last Era
Act 45 [Tinta Merah Terpakai Kembali]


__ADS_3

......***......


Disaat yang sama, serangan juga terjadi di laboratorium. Pelakunya adalah sebuah mahkluk berkekuatan logam cair yang bisa merubah tubuhnya menjadi apapun. Mahkkuk itu menyamar menjadi petugas keamanan dan mencuri sebuah kristal beradio aktif.


Kebetulan disana ada Ramko dan Arina yang sedang berjaga. Serangan fisik tak mempan melawan logam cair itu. Sehingga mereka terpaksa memakai elemen mereka masing-masing.


Bantuan pasukan elemen kristal dan tumbuhan datang. Duri-duri kristal hijau bermunculan dari tanah menusuk mahkluk itu bertubi-tubi hingga tak berbentuk.


Namun, tubuhnya yang terpecah segera menyatu kembali dan kembali utuh. Mahkluk itu mengalihkan serangan kepada tentara elemen. Ia merubah bentuk tubuhnya menjadi kalajengking raksasa.


Ia mengobrak-abrik semua peralatan laboratorium yang memicu ledakan yang memporak porandakan seisi ruangan. Capit-capitnya digunakan untuk menggunting para tentara dengan mudahnya.


Arina mulai frustasi, ia mengeluarkan raksasa esnya yang muncul melalui pusaran angin dingin. Raksasa langsung melompat menginjak mahkluk itu. Ia lalu mengeraskan tubuhnya menjadi kristal es yang membuat mereka berdua terkunci dan tidak bisa digerakkan.


"HANCURKAN DIA SEKARANG!!", teriak Arina kepada para tentara kristal dan tumbuhan.


Akar raksasa muncul dari tanah dan melilit tubuh kalajengking itu. Selanjutnya para tentara kristal melemparkan batu-batu raksasa kearahnya hingga tubuhnya hancur pecah seperti kaca.


"Cepat pergi dari sini!", perintah Ramko kepada mereka semua.


Disaat mereka semua berlari keluar. Tiba-tiba dari depan mereka muncul naga berwarna oranye menyala yang keluar dari tanah. Naga itu segera melupat para tentara dengan mudahnya. Saat naga itu mendekati Arina, Ramko dengan cepat melompat dan membawanya jauh dari sana.


Setelah menghabisi semua tentara. Naga itu menyemburkan api ke atas yang melelehkan atap logam dan sekitarnya. Selanjutnya ia terbang memutar, melelehkan semua logam di dinding laboratorium.


Ramko tak tinggal diam, dia mengeluarkan pedangnya dan langsung melebas leher naga itu. Tapi, pedangnya seketika meleleh ketika menyentuh leher naga itu. Bajunya juga ikut terbakar karena terlalu dekat dengannya.


Arina mengeluarkan raksasa es lagi. Menarik Ramko dan melindunginya dengan punggungnya dari semburan naga itu. Api naga itu melelehkan tubuh raksasa itu, termasuk juga pecahan kalajengking itu.


Kalajengking itu membentuk tubuhnya kembali menjadi seukuran manusia dengan tangan yang merucing seperti pedang. Sementara naga tadi meledak melontarkan tetesan magma panas dimana-mana. Arina segera meresponnya dengan membentuk tembok es untuk bersembunyi di belakangnya.


Dari tubuh naga tadi, muncullah orang lain dengan zirah lengkap berwarna merah tua. Orang itu berdiri berjalan mendekati mahkluk logam tadi dan berdiri berdampingan dengannya.


"Kalah dengan es?", ucap orang itu sambil mencekik mahkluk logam yang tubuhnya baru setengah jadi.


"Maafkan aku tuan", jawab mahkluk itu ketakutan. Orang itu kemudian melemparkannya kearah Ramko sambil berkata, "Lawan dia kalau begitu".


Mahkluk itu jatuh tersungkur ke lantai. Ramko dan Arina seketika melompat menjauh dari lemparan itu.


"Arina ambil kristal itu dengan membekukannya, lalu bawa jauh dari sini!", bisik Ramko.


"Bagaimana denganmu?"


"Lakukan!"


Arina langsung berlari kearah kristal yang terlempar bersama ledakan makluk logam cair tadi. Saat hampir menggapainya, sebuah anjing mava berwarna oranye melompat dan menggigit kristal itu dengan mulutnya. Anjing itu segera berlari membawa kristal itu kepada orang berzirah merah.


Arina sontak melemparkan bola esnya. Bola es ini bisa membekukan apapun yang dikenainya. Sayangnya bola es itu langsung berubah menjadi uap ketika menyentuh tubuh anjing pijar itu.


Mahkluk logam tadi bangun dan langsung menyerang Ramko. Mereka langsung berdua beradu pedang. Mahkluk itu berulang kali tertembus serangannya, tapi dia dengan cepat membentuk kembali tubuhnya.


Melihatnya yang terus beregenerasi, membuat Ramko geram. Ia memegang tangannya yang lengah dan langsung melemparnya ke orang tadi. Disaat yang sama, dari langit tiba-tiba jatuh gurita air raksasa yang menimpa keduanya.


Gurita itu pecah mengisi seisi ruangan dengan air. Arina mengeluarkan raksasanya lagi, membawa Ramko dan dirinya keluar dari gedung yang penuh air itu.


"Kalian berdua baik-baik saja?", tanya Mabel dari atas dari atas pesawat.


"Mabel!", pekik Arina dan Ramko.


"Tenang saj-"


Dari bawah air tadi muncul elang lava raksasa yang setengah dari tubuhnya membatu akibat berubah didalam air. Elang itu menyambar pesawat Mabel dan pesawat-pesawat tempur yang lainnya. Ledakannya mirip seperti ledakan kembang api dengan skala ledakan masif.


Syukurlah Mabel memliki elemen air, membuatnya bisa langsung beregenerasi diudara. Raksasa es Arina sontak menangkapnya dengan tangan yang sama yang dipakai untuk memegang Ramko.


"Bagaimana lukamu?", tanya Mabel kepada Ramko.


"Aku baik-baik saja".


"Dimana Sami?"


"Dia bersama Yuki ditempat yang aman", jawab Ramko.


"Untunglah".


Elang itu memecahkan batu yang menempel ditubuhnya dan meregenerasinya kembali menjadi lava. Dipunggungnya ada sebuah logam yang kemudian muncul kembali membentuk tubuhnya.


Kembali ke apartemen.


Erkan masih berlindung bersama Tu San dibalik meja. Sementara Okta tinggal seperempat jalan lagi kesana.


Mahkluk bersayap itu menyerang pesawat yang menyerangnya dengan tusukan bulu-bulu keras dan tajam yang langsung mengarah kemesinnya. Pesawat tempur bantuan berdatangan, mereka menembaki mahkluk itu secara brutal. Tembakan yang meleset menghancurkan gedung-gedung disekitarnya.

__ADS_1


Mahkluk itu sekarat, merubah tangan dan kakinya menjadi seperti monyet. Ia langsung yang memanjat dan melompat dari gedung ke pesawat-pesawat tempur. Satu persatu dari mereka berjatuhan dengan mesin yang terbakar.


Para tentara tidak berani menembakkan peluru pesawat karena bisa membunuh teman sendiri. Semenatara mahkluk itu melindungi tubuhnya dengan cangkang kepiting yang mampu menahan panasnya peluru plasma senjata.


Erkan mengambil itu sebagai kesempatan, berlari meninggal Tu San dan langsung melompat ke mahkluk itu. Tu San menembakkan penjerat talinya supaya terikat dengan Erkan. Erkan yang tidak mengetahui kakinya terikat sesuatu dan berhasil melompat kepunggung mahkluk itu langsung saja berteleportasi ke atas langit.


Ketika diatas langit, ia baru sadar kalau Tu San ikut terbawa naik ke atas langit. Akhirnya Tu San tak ada pilihan lain selain ikut bertarung bersama Erkan sambil melawan pacuan angin.


Mahkluk itu mengubah bentuk tangan kanannya menjadi pedang ikan martin. Ia menebas leher Erkan dengan sekuat tenaga. Erkan meresponnya dengan berpindah punggungnya lalu mencekiknya.


Jarak yang sangat dekat itu tidak bisa Tu San gunakan untuk menembak. Meskipun dia sedang terpojok, ia sendiri masih kesulitan melawan arus angin. Salah salah dia bisa menembak kepala atasannya.


Erkan dan mahkluk itu jatuh dengan cepat. Tu San mengejarnya sambil mencoba meraih tali yang masih terikat di kaki Erkan. Mahkluk itu menembakkan bulu-bulunya kearah Tu San. Tu San dengan sigap berguling menghindari benda-benda tajam itu sambil terus mengejar mereka.


Mahkluk itu mulai kehabisan nafas, ia tiba-tiba menumbuhkan tulang-tulang punggungnya yang lancip untuk menusuk Erkan. Erkan tak sempat mengelak, seluruh tubuhnya tertembus oleh benda-benda lancip itu.


Tulang yang masih menempel ditubuh Erkan itu, berubah menjadi merah. Menghisap darah dari Erkan yang sekarat. Tu San sangat marah, ia terjun dengan cepat menuju mereka berdua. Sembari mendekati mereka, Tu San menembakkan semua peluru yang ia bawa.


Plasma itu tidak mempan begitu banyak dan hanya menahannya untuk sesaat. Namun, disaat ia lengah itulah Tu San mengambil pisau yang terlempar dari tangan Erkan. Ia langsung menancapkan pisau itu ke leher mahkluk itu dengan kedua tangannya.


Mahkluk itu terus beregenerasi sambil menebakkan bulu-bulu tajam kearah Tu San. Tu San tak mempedulikannya, ia terus memperdalam tusukannya hingga akhirnya lehernya melayang hampir terputus.


Erkan kembali mengambil kesadarannya, matanya berubah kuning menyala. Ia memegang kaki Tu San dan meneleportasikannya kembali keapartemen. Tu San terlempar kearah pintu apartemen dengan sangat keras.


Sementara Erkan dan mahkluk itu masih berada diatas. Erkan menendang makluk itu untuk melepaskan tubuhnya dari tusukan tulang-tulang tajam itu. Ia juga mengambil pisau yang ada di leher mahkluk itu.


"Aku sudah tahu semua seranganmu"


"Sekarang giliranku!"


Sebelum makluk itu memulihkan kepalanya, Erkan menyerangnya secara zig zag dan cepat. Hal itu membuat mahkluk itu kebingungan dan terluka dengan sangat parah. Mahkluk itu mencoba melarikan diri dari serangan itu, namun Erkan tak kenal ampun. Ia menebas sayap yang baru saja tumbuh dari punggungnya secara terus-menerus.


Saat jaraknya sudah dekat ke tanah, Erkan memegang tangannya dan langsung meneleportasikannya ke tempat-tempat secara acak. Di tempat-tempat itu ia membantingkan tubuhnya ke tanah. Mulai dari batu karang hingga kayu hutan.


Tubuhnya mulai bereaksi dengan lukanya, penahan telekinesisnya tidak akan berkerja lama untuk tenaga yang sudah lemah. Melihat makluk itu yang sudah kehilangan banyak anggota tubuh. Terakhir, ia berteleportasi ke luar angkasa lalu mendorongnya luar orbit, sekaligus sebagai tolakan untuknya kembali ke Aquopora.


Perlahan tubuh mereka berdua dilapisi oleh es beku. Nafas Erkan mulai melambat, ia berteleportasi untuk yang terakhir kali. Ia kembali kembali ke apartemen dengan tubuh yang sangat dingin.


Tubuhnya terlempar ke pintu sama seperti Tu San tadi. Saat itu Okta dan Tu San kebetulan masih ada disana. Erkan tak sadarkan diri, tenaganya benar-benar habis. Denyut jantungnya juga sangat lemah. Okta terus mencoba memanggil Sami dan Yuki. Tapi, mereka tidak dapat tersambung.


Tiba-tiba sebuah elang lava menyambar masuk ke apartemen. Ia mencengkram tubuh Erkan dan membawanya terbang ke langit.


Tu San mengabaikan lukanya dan melompat memegang kaki Erkan yang dibawa mahkluk itu. Okta yang hendak mengejarnya ditahan oleh Ramko untuk tidak mendekat.


Es itu ikut membekukan tangan Tu San yang membuatnya tersangkut disana. Kristal yang dibawa mahkluk logam cair itu terjatuh sesaat sebelum seluruh tubuhnya membeku.


Erkan secara tiba-tiba kembali terbangun dengan satu matanya yang terbuka. Ia menangkap kristal itu dan langsung menggunakan telekinesisnya untuk yang terakhir kali.


Telekinesis itu sangat kuat hingga mampu mendorong semua benda disekitarnya. Saking kuatnya, gedung-gedung disekitar terdorong hingga runtuh ke sisi sebelah.


Kristal es yang sangat keras itu hancur berkeping-keping, persis seperti kaca yang dihantam benda keras. Termasuk tubuh pengendara elang itu dan tangan Tu San.


Kristal yang ia pegang ikut hancur. Hal itu membuat ledakan sebesar dinamit dan memberikan radiasi singkat kepada orang di sekitar sana.


Sayangnya Tu San terkena ledakan itu. Saat itu jaraknya dari sumber ledakan hanya dua meter. Membuatnya terkena luka bakar dibagian wajah dan tangan kanannya. Untunglah ia sempat ditangkap oleh gurita air Mabel.


Pecahan dari tubuh kedua mahkluk itu menghilang. Tak ada satupun kepingan dari tubuh mereka yang jatuh ke tanah. Mereka menghilang begitu saja. Mabel segera menyuruh Arina untuk mencari Erkan.


"Arina, cepat cari Erkan!", suruh Mabel.


"Arina?"


"Ramko! Kau lihat Arina?!"


"Tidak, kan kamu yang bersamanya".


Tapi Arina juga menghilang. Padahal jaraknya dengan Mabel hanya beberapa meter karena mereka menggabungkan kekuatan mereka.


"Okta, pegang temanmu".


Mabel menyerahkan tubuh Tu San kepada Okta. Sementara ia pergi mencari Arina dan Erkan bersama dengan Ramko ke semua sudut gedung.


Mereka kesal dan putus asa. Mereka berdua meluapkan amarah dengan menghancurkan semua reruntuhan yang menghalangi pencarian mereka.


"Apa kamu menemukan mereka?", tanya Ramko ketika berpapasan dengan Mabel.


"Tidak", Mabel menjawabnyasambil berlinang air mata.


"Sudahlah, kita pasti akan menemukan mereka", Ramko mencoba menenangkan istinya itu.


Untuk kesekian kalinya, mereka gagal menyelamatkan kawan mereka sendiri. Petugas medis datang beberapa menit kemudian. Mereka membawa Tu San yang terluka parah langsung ke rumah sakit.

__ADS_1


Ramko juga berpesan kepada petugasnya untuk segera membawanya ke perawatan tingkat tinggi. Okta bertanya kepada Ramko mengenai hal itu. Ia menjawab kalau ledakan itu memberikan sebuah radiasi yang sangat berbahaya bagi ras selain manusia.


Meskipun kristal itu diambil serbuknya untuk membuat tentara elemen dan ras yadewa bisa menerimanya. Tetap saja sering terjadi penolakan dari beberapa tubuh, belum lagi jumlah radiasi yang diterima belum diketahui.


Hal itu bisa memicu kanker yang membahayakan tubuh. Kebetulan Tu San adalah ras yadewa sehingga perlu dilakukan perawatan intensif. Untuk alasan kenapa Erkan melakukan itu masih belum diketahui.


"Lalu, dimana Paman Erkan?", tanya Okta kepada Ramko.


"Nanti saja kita bahas itu", jawabnya tanpa sedikitpun meliriknya.


"Tunggu dulu dimana dia?!", "Hey!", panggil Okta dengan nada tinggi.


Ramko menghilang secepat kilat. Ia langsung pergi mencari Sami dan Yuki di bunker yang letaknya jauh dari kota. Sampai disana ia terkejut karena bunkernya hancur dan banyak kendaraan medis dimana-mana. Saat Ramko berjalan mendekati mereka, kebetulan ia berpapasan dengan Sami yang duduk murung dengan baju penuh darah.


"Kamu luka? Nggak apa-apa kan?", tanya Ramko sambil memegang kedua bahu Sami.


"Sami oke", jawabnya lesu.


"Dimana Yuki?"


"Dia ditangkap tiba-tiba", jawabnya sambil menangis.


"Ditangkap bagaimana?"


"Entahlah... kami berdua bermain catur bersama opsir Wyan", "Tapi tiba-tiba terdengar suara gesekan dan tembakan plasma, lalu seseorang setinggi tiga meter dengan topeng senang dan jubah hitam mengangkat tutup bunker dengan mudah",


"Orang itu lalu menangkap Yuki", jawabnya terisak-isak.


"Kejadiannya cuma terjadi selama lima detik", "Waktu seperti terhenti, tapi Sami secara kebetulan tidak terpengaruh", sambungnya.


"Terus opsir Wyan bagaimana?"


"Dia terluka parah, tertusuk dibagian jantung", "Dan.. tewas ditempat", "Sami nggak mau mengingat itu".


"Lalu.. apa yang terjadi dengan Yuki?"


"Saat Sami keluar mengejarnya", "Sami melihat tentara-tentara sudah bergelimpangan di tanah",


"Lalu dia, membawa Yuki pergi masuk keportal dan menghilang".


"Apa dia terluka?",


"Tidak, tapi dia diculik!", "Sami aman, karena Sami sempat menghindari tebasannya".


"Apa kamu tahu kekuatannya?", tanya Ramko lagi.


"Entahlah, yang jelas tangannya mengeluarkan pisau yang terbakar".


"Terbakar?", tanya Ramko.


"Hmmh", Sami mengangguk.


"Shina..", gumamnya.


"Shina?", tanya Sami balik.


"Tidak mungkin, dia seharusnya sudah mati".


"Apa dia keluarga kita?"


"Iya, tapi tingginya tidak sampai tiga meter", "Atau jangan-jangan dia.."


"Ayah segera kembali".


"Kenapa yah?"


Kebetulan saat Ramko hendak pergi dia bertemu dengan dua orang tentara yang sedang berjaga.


"Kalian jaga anakku ya".


"Eh, Siap laksanakan!", jawab mereka berdua serentak.


"Kalian tahu cara menjaga anak dua belas tahun?"


"Tahu komandan!"


"Hibur dia pakai senjata yang kalian bawa, asal jangan sampai menembak anakku, mengerti?", Ramko mengubah nadanya sedikit mengancam.


"Siap komandan!"


"Bagus, saya peegi dulu", Ramko seketika menghilang secepat cahaya.

__ADS_1


Ramko berlari pusat militer untuk melaporkan kabar buruk itu. Namun, disana dia mendapat sebuah kabar buruk tambahan. Yang mengancam seluruh nyawa penduduk Planet Aquopora.


__ADS_2