
Pagi hari sebelumnya, Shina memenuhi panggilan Donny untuk bertemu di sebuah hamparan rumput. Berbeda dengan bumi atmosfer di planet ini membuat pagi berwarna violet kebiruan.
Ketika hendak keluar dari rumah. Shina bertemu dengan Arina dan Yuki di pintu rumah. Mereka berdua ingin mencari bahan makanan. Yuki melihat Shina membawa sebilah tongkat besi yang biasanya ia gunakan untuk melatih Okta. Yuki yang penasaran bertanya ke Shina,
"Mau kemana?", tanya Yuki dengan polosnya.
"Ada hewan penganggu yang mengintai rumah beberapa hari terakhir, jadi aku harus memburunya".
Arina yang merasa curiga membalikkan badannya kearah Shina. Ia melirik tangan Shina yang mencengkram tongkat itu sangat kuat. Seperti ia sedang menahan amarahnya dan berusaha bersikap tenang.
"Aku duluan ya", ucap Shina sambil berjalan memasuki hutan.
"Yaa", balas Yuki dan Arina.
Arina terus melirik Shina yang berjalan semakin jauh kedalam hutan. Setelah Shina sudah sangat jauh, Arina memiringkan kepalanya lalu pelan-pelan mengikutinya dari belakang.
"Ibu, jalannya lewat sini", kata Yuki sambil menunjuk kearah hutan sebelah kiri.
"Tetap dirumah, Yuki!", perintah Arina.
"Tapi nanti mala-"
"Tetaplah dirumah bersama Okta", "Nanti malam kita cari ikan saja!", Arina menegaskan mandatnya.
"I-iya ibu".
Yuki segera masuk kerumah sambil menenteng keranjangnya. Dalam lubuk hatinya, Yuki menampung heran kepada Arina yang selalu saja curiga terhadap setiap pekerjaan yang dilakukan Shina.
Bak penampung kesabaran Yuki sudah penuh. Anak tangga ia naiki bertubi-tubi lalu melempar keranjangnya ke sudut ruangan. Sambil menjaga jarak dari Arina, perlahan tapi pasti ia menjaga posisinya supaya tidak kehilangan jejak.
Langkah kaki Shina berhenti ketika mencapai tepi luar semak-semak hutan. Rumput-rumput yang panjang dan indah menyambutnya bersama dengan sinar biru di langit. Diantara rerumputan itu berdiri tegap seorang pria dengan setelan berwarna hitam pekat.
Setelannya dikelilingi bercak-bercak robekan sehingga yang membuatnya tampak kumal. Amarah dan dendam terpampang jelas di matanya. Kepalanya menunduk dengan tangan yang terbuka lebar seperti siap memegang sesuatu.
"Jelaskan tujuanmu, Donny!", tanya Shina sambil berjalan mendekatinya.
"Membunuhmu", ujarnya.
"Selalu saja, apa kesalahanku membuatmu membenciku sebesar ini?"
Shina mencoba meredam amarah Donny dengan membuatnya mengingat sedikit masa lalunya.
"Aku minta maaf karena sudah membuatmu seperti ini",
"Jika saja trauma itu tidak terjadi, maka aku juga tidak akan membuatmu seperti ini", ucap Shina sambil membentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Jadi.. Kamu minta maaf?", Donny mendangakkan kepalanya.
Shina menggelengkan kepalanya sambil mengangkat pundaknya sebelum menurunkan tangan.
"Lupakan, beri tahu aku dimana serpihan kristal itu!"
Shina terkejut mendengar itu. Selama ini menyimpan sisa kristal itu untuk diteliti di suatu tempat. Seharusnya tempat itu hanya diketahui olehnya dan Okta yang pernah tanpa sengaja masuk kesana.
"Kristal apa? Aku tidak punya benda itu?", ucap Shina seolah menuju kepada Afton.
"Tidak perlu basa basi, berikan saja! Aku tahu kamu menyimpannya di suatu tempat", bantah Donny.
"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan, untuk apa benda itu?"
"Peduli setan, berikan saja!!", bentaknya.
"Aku tidak tahu bentuk kristal itu jika kamu tidak memberi tahuku!!"
Donny menundukkan kepalanya lalu bercerita sambil menahan amarahnya.
"Kreza membutuhkannya untuk membuka potensi terkuat dari sel manusia, manipulasi unsur",
"Dengan kemampuan itu, Kreza akan membangun tentara yang baru dan membuat kita bebas seperti mimpi kita selama ini", Donny mencoba membujuk Shina.
"Maka dari itu, ikutlah bersamaku!"
"Setelah kau membunuh semuanya? Termasuk tman-teman kita sendiri?! Aku lebih baik mati!!",
"Kita kehilangan semuanya Donny... kita sudah tamat..."
"Tidak ada lagi perbaikan... ini semua omong kosong...".
"Kekuatan manipulasi unsur Kreza membutuhkan kristal itu atau... dna pemilik kekuatan elemen utama",
"Kini hanya tersisa api dan es yang belum ia miliki", Donny mencurahkan semua pikirannya untuk meyakinkan Shina.
"Lalu, kenapa kamu mau membunuhku?", tanya Shina balik.
"Kedua elemen yang sama dari dna yang sama akan memusnahkan satu sama lain jika mereka berdekatan".
Shina menarik nafas dalam-dalam. Ia yang sebelumnya berniat mengembalikannya, namun sekarang membulatkan tekatnya untuk membunuh Donny.
"Aku kecewa kepadamu, Don",
"Sangat kecewa..."
__ADS_1
Melihat Shina yang hendak memulai pertarungan. Donny segera terbentuk pedang panas yang menempel di punggung tangannya. Ledakan keluar akibat dari loncatannya di tanah. Segera pedang itu ia sambarkan keleher Shina.
Tiba-tiba, ketika Shina hendak menangkis serangan Donny. Tembok es tiba-tiba muncul diantara mereka. Kedua kekuatan api itu tertahan oleh tebalnya dinding es.
Arina seketika muncul dari belakang Shina dan menebas Donny dengan es runcing di tangan kanannya. Dengan respon cepat Donny bertolak kebelakang.
"Rin, bukankah sudah kubilang tetaplah dirumah!?", Shina berkata dengan keras.
"Diamlah, aku sudah tahu kamu pasti ingin bertemu seseorang!!"
Donny terkejut melihat Arina yang beridiri didepannya. Seketika ia teringat saat-saat bersama Arina. Namun, Donny menggelengkan kepalanya untuk membuatnya melupakan kisah itu. Meskipun orang yang ia cintai sudah berada didepannya, tekadnya tetap tidak goyah.
"Cukup Donny, kau sudah melampaui batas!!", bentak Arina.
Arina mengeluarkan es runcing dari telapak tangannya dan langsung menelemparkannya kearah Donny. Dengan respon cepat Donny menunduk dan berlari menerjang Arina dengan tinjunya yang terbakar. Arina menjatuhkan alisnya dan ikut berlari menerjang Donny menggunakan kepalan tangannya yang membeku.
"RIN! JANGAN!!", pekik Shina.
Donny yang melihat Arina bersungguh-sungguh menyerangnya. Membuka telapak tangannya dan menangkap tinju dingin milik Arina. Arina menarik tangannya dan melakukan serangan tangan lagi. Lagi-lagi Donny tidak tega menyerang Arina dan hanya menangkis semua serangannya.
Pada saat yang bersamaan Donny melihat syal putih yang dipakai Arina. Serangan Arina semakin lama semakin lambat. Disaat itulah Donny meluncurkan tangannya untuk merampas syal dari leher Arina.
Namun, kesenangan Donny tidak bertahan lama karena Shina segera merampasnya dari tangan Donny. Belum sempat membalikkan badannya, kaki Donny tiba-tiba di cengkram oleh es putih yang tumbuh dari bawah tanah.
Arina melompat sambil mendepak punggung Donny dengan kakinya. Seketika tubuh Donny mengkristal dan membentuk bongkahan es raksasa. Namun, Donny tidak akan kalah semudah itu. Dari balik putih dinginnya es, sebuah tangan lava mencengkram tangan kanan Arina yang masih menempel pada es itu.
Perlahan-lahan Donny keluar dari bongkahan dengan melelehkan semua es itu. Kemudian Donny menjegal kaki Arina dan menjatuhkannya menjatuhkannya ke tanah. Tak lupa ia memberi tali lava yang mengikat perutnya ke tanah sehingga Arina tidak bisa kemana-mana.
Setelah mengatasi Arina, Donny segera melompat dan mengejar Shina. Shina yang melihat Donny mengejarnya melompat masuk kedalam hutan dan bergelantungan dengan rantai apinya dari ranting keranting. Shina juga sesekali melemparkan api kearah Donny untuk memperlambatnya.
Api-api yang dilempar Shina mengenai beberapa pepohonan. Hal itu membuat kebakaran hebat disana. Niat Shina melakukan itu adalah untuk memerangkap Donny di ruang yang panas itu dan tertutup kepulan asap itu.
Rencananya berhasil, Shina lepas dari kejaran Donny dan ia terkurung didalam. Donny yang kesal melemparkan bola lavanya secara membabi buta. Asap yang tebal membuat Shina sendiri kesulitan untuk melihat. Alhasil ia diterkam oleh ribuan bola magma yang beterbangan kearahnya. Bola-bola lava itu sebenarnya memberi tahu posisi Shina.
Bola-bola yang sudah melewati Shina menyatu membentuk tubuh Donny. Dengan kepalan tangannya yang membara, Donny menghantam kepala Shina dengan sangat keras ke pepohonan.
Di antara pepohonan yang terbakar api. Donny kemudian menduduki perut Shina, lalu meninju wajahnya terus menerus hingga ia babak belur. Tak lupa ia mengambil syal merah yang ada di tangan Shina kemudian mengalungkannya ke leher.
"Kalau saja kamu mendengarkanku, ini tidak akan terjadi!", ujar Donny sembari hendak mnusuk Shina dengan tangannya.
Dari balik semak semak yang terbakar, muncu Yuki yang melompat menendang Donny. Dengan respon yang cepat, Donny menahan tendangan itu dengan syal merahnya.
Yuki memanjangkan kukunya seperti harimau. Kemudian menyerang wajah Donny. Selembar kain merah seketika menangkis serangan. Kemudian kain yang lain menebas wajah Yuki secara menyilang.
Yuki sontak menusukkan kukunya ke leher Donny lalu mencabutnya dengan cepat. Donny yang terdesak langsung saja melempar Yuki hingga menghantam pepohonan yang membara.
__ADS_1
Disaat yang sama, Shina segera bangkit dan menghajar wajah Donny dengan keras. Rupanya kedatangan Yuki disana adalah untuk menyembuhkan Shina. Yuki kini telah berhasil meningkatkan kemampuannya menjadi penyembuh.
Shina menjejakkan kakinya ke tanah sekuat tenaga untuk meloncat kelangit. Donny yang terpental kelangit segera menyembuhkan diri lalu terbang dengan roket syalnya untuk menyambar Shina. Shina mengeluarkan tongkat api berantai, lalu mencengkram kaki Donny.