
Aku terbangun di sebuah tenda hijau yang lengkap dengan perlengkapan kemah. Ada tas ransel, pemanas, kantung tidur, botol minum, peralatan masak dan lain-lain. Bagian belakang atau tempat keluar tenda terbuka lebar. Terlihat seorang remaja laki-laki gemuk dan perempuan berambut panjang yang sedang berbincang satu sama lain.
Kala itu malam hari ditengah gurun. Untunglah ada pemanas di tenda itu karena seperti yang diketahui, gurun sangat dingin di malam hari. Aku secara perlahan mengangkat tubuhku yang penuh lebam. Saat menyadariku bergerak mereka terkejut lalu berkata,
"Tunggu, jangan bergerak dulu", "Itu masih sakit kan?", ucap gadis itu.
"Hanya kuka sedikit", "Nanti juga sembuh", balasku.
Sementara lelaki itu terkejut hingga terduduk ke belakang. Disaat itu juga lampu dan pemanas disana mati meledak. Kami semua terkejut hingga aku langsung lari keluar dari tenda.
Ketika kulihat dengan saksama, tangan lelaki itu memegang colokan listrik yang sepertinya terhubung ke semua lampu dan pemanas tanpa kabel.
"Sudah kubilang jangan kagetan!", "Sekarang bagaimana caranya kita memanaskan tubuh?", marah gadis itu.
"Maaf", sesalnya.
"Apa kalian punya ranting kering?", tanyaku.
"Aku rasa begitu", "Sebentar kuambilkan", balas lelaki itu.
"Siapa namamu?", tanyaku ke gadis itu.
"Aku? Yuki", "Kamu?"
"Okta", balasku.
"Senang bertemu denganmu", balasnya gembira.
"Aku rasa begitu".
"Cowo disana itu?", tanyaku lagi.
"Oh, Em, Namanya Sami", "Aku rasa aku pernah melihatmu".
"Aku tidak pernah melihatmu, maaf", balasku langsung.
Ia langsung terdiam dan membuang wajahnya, tampaknya dia tersinggung. Remaja laki-laki itu kembali sambil membawa tiga ranting kayu lalu melemparnya kearah kami. Aku menaruh dua ranting bersilangan ditanah, sementara yang satunya kugosokkan ke ranting yang paling atas.
Aku menggosokkannnya terus hingga panas. Tapi apinya tak kunjung menyala. Lelaki tadi tiba-tiba menganggukkan kepalanya lalu menunjuk ranting itu. Tak lama kemudian muncullah kilatan listrik ungu yang menyambar ke ranting itu. Aku menggosokkannya lebih keras hingga tak lama kemudian muncullah api kecil.
"YAY!!", pekiknya gembira.
"Tunggu dulu, aku lupa bertanya, siapa kalian dan kenapa kalian disini?"
"Alasan kami kesini adalah karena kamu", "Kami ditugaskan untuk membawamu kembali", jawab gadis itu.
"Apa kalian pemilik elemen itu?"
"Ya begitulah, sama sepertimu", balas gadis itu.
"Elemen?", "Sejenis kutukan?"
"Bukan, ada garis keturunan manusia buatan yang diberi kemampuan khusus untuk mengendalikan suatu elemen khusus", "Dan kamu adalah salah satunya", jelas gadis itu lagi.
"Aku tidak pernah melihat ibuku memakainya", "Tapi akhir-akhir ini aku merasakan adanya energi yang membuatku lebih ringan saat menggerakan benda".
"Seperti gravitasi?", tanya cowo itu.
"Bisa kayaknya, apa mungkin? Entahlah".
"Karena kami sudah menemukanmu", "Waktunya meminta Paman Erkan membukakan teleportasinya lagi", ucap cowo itu sambil berlari kembali ke tenda.
"Cepat-cepat".
Aku diam karena tidak paham apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian cowo itu terlihat gusar setelah mencari kedalam tenda cukup lama. Semua barang disana diobrak-abriknya sambil berlinang air mata.
"Apa kamu menemukannya?", tanya gadis itu.
__ADS_1
"Rusak..", jawabnya terisak-isak sambil menyuduhkan tombol kecil yang hancur meleleh.
"Lagi?! Sudah keberapa kali aku memberitahumu, berhentilah membuat ulah!!", gadis itu marah-marah sekaligus ketakutan.
"Apa itu?", tanyaku.
"Se-sebuah alat untuk memberi sinyal ke markas", "Tapi sekarang kita tidak bisa kembali karena sudah rusak", jawabnya mau nangis.
'Cengeng', batinku.
"Oh ayolah, pasti ada cara lain", "Apa kamu tahu dimana markas musuh?"
"Sekitar 5km dari sini".
"Baiklah, ayo kita kesana".
"Untuk apa?", "Kita dilarang kesana oleh ketua".
"Mungkin saja mereka punya portal itu", "Kalau tidak mereka tidakmungkin bisa membawaku kemari".
"Itu berbahaya, kita bisa ditangkap dan dibunuh oleh mereka", "Itu berbahaya, bahkan serjan bintang lima pun tak mampu selamat!", bantah cowo itu ketakutan.
"Belum tahu kalau belum dicoba", "Lagipula kamu itu laki laki kan?", "Kenapa takut mati?", balasku.
Wajah cowo itu merah padam namun kakinya gemetaran. Semenatar gadis itu terlihat bingung dan memilih untuk menutup mulutnya. Setelah, melihat situasi yang kian memanas ia kemudian berkata,
"Ka-kalau begitu, kita tidur dulu saja", "Be-besok kita kesana".
Aku menganggukkan kepalaku lalu mengambil posisi tidur. Sambil mengucapkan selamat malam aku tidur diatas batu. Sementara cowo itu ngacir masuk ke dalam tenda dan menutupi tubuhnya dengan karung tidur dan selimut hingga kekepalanya.
......\=......
Besok paginya, aku bangun dengan tubuh bugar dan tanpa luka lebam. Tak ada yang sakit satupun, mulai dari tangan hingga kaki. Disana aku melihat Yuki yang duduk termenung menghadap api unggun yang telah padam. Seperti seseorang yang tengah putus asa.
Sementara itu, Sami terlihat mungkin masih tidur didalam tenda. Aku menepuk pundak Yuki sambil berkata ayo. Saat ia menatapku, aku terkejut karena matanya bercahaya hijau kemerahan.
"Cuma lemas",
"Apa lagi ayo pergi".
"Tunggu dulu", aku menahannya yang hendak berdiri.
"Kamu terlihat lemas", "Lebih baik tidurlah dulu".
"Tidak apa-apa", "Aku memang seharusnya melakukan ini", balasnya dengan mata tertutup.
Ia semakin lemas hingga akhirnya jatuh tertidur diatas pasir. Aku segera membereskan barang-barang dan membangunkan Sami. Mengajaknya adalah cobaan bagiku, sebab dia keras kepala enggan untuk pergi.
Tapi, pada akhirnya, dia mau juga. Setelah mengemas barang aku menggendong Yuki dibelakang punggungku, sementara tas barang ada didepanku. Untunglah aku punya elemen angin yang memperingan bebanku.
Aku sengaja pergi dipagi hari karena gurun pasti akan panas di siang hari. Juga menurut perhitunganku, musuh akan lebih tahu posisi kita jika berada di sinar terang. Kami pergi dengan berjalan kaki yang diperingan oleh anginku. Sehingga langkah kaki tak terasa bobotnya.
Saat jarak kami mendekati 5 km, mulai banyak terlihat klona cyborg yang mondar mandir berjaga-jaga. Hal itu membuat kami sering bersembunyi di balik batu atau gumukan pasir.
Saat markas besar musuh sudah terlihat. Tampak ribuan cyborg dan robot bersenjata ramai melindungi pintu markas. Disana juga ada jalan dan truk box yang dicek satu persatu sebelum masuk.
"Bagaimana ini?", "Mereka terlalu banyak", bisik Sami.
"Hmmm", aku memutar kepalaku.
"Itu dia", "Kita akan masuk ke dalam truk itu", "Setelah sampai didalam", "
Aku akan menerbangkan pasir dengan anginku",
"Dengan begitu, badai pasir akan tercipta dan mengkaburkan pandangan mereka".
"Hem", ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Aku membuka ranselku untuk mencari kain lap. Selanjutnya kain itu kurobek menjadi tiga lalu kubalutkan menutupi wajah bawahku dan Yuki.
"Ikuti aku"
Kami secara perlahan mendekati truk yang paling belakang lalu bersembunyi di belakangnya. Aku mengintip melihat situasi, disana ada seorang penjaga yang akan datang kemari untuk mengecek situasi. Aku secara perlahan berjalan memutari truk sambil memantaunya lewat kolong truk.
"Ada yang tidak beres", ucap cyborg itu ketika mengecek bagian belakang truk.
Ketika cyborg itu hendak pergi kembali, Sami langsung melompat dan menusuk dadanya dengan pedangnya. Cyborg itu seketika tumbang dan tidak bergerak lagi.
"Tidak berdarah?", tanyaku berbisik
"Mahkluk ini hanya otaknya saja yang mahkluk hidup", "Semua tubuhnya adalah mesin", balasnya.
"Siapa disana?", suara berasal dari dalam kemudi truk.
"Gawat, ayo cepat naik ketas truk".
Aku melompat dengan anginku keatas truk lalu menjulurkan tanganku ke Sami. Tapi Sami justru tegang dan bersembunyi di belakang truk. Cyborg yang mengemudikan truk turun dari mobil untuk mengecek keadaan.
Cyborg tanpa sengaja itu melihat tubuh cyborg lain yang tersungkur disamping mobil. Segera ia kembali ke mobil untuk memberitahu markas. Disaat itulah Sami langsung mengejar lalu menyengatnya dengan listrik hingga konslet.
"Apa yang kamu lakukan?!", bisikku dengan nada tinggi.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Menyamarlah menjadi cyborg itu lalu kemudikan mobilnya!"
"Tidak bisa, aku tidak mungkin melakukan itu".
"Lakukan saja", "Salahmu membunuh mereka".
"Ini salahmu juga tidak menghapus jejak dipasir!"
Aku terdiam sejenak.
"Sudah lakukan saja!"
Pada akhirnya Sami menyamar dan mengemudikan mobilnya. Tubuh kedua cyborg itu dikuburnya dipasir sekaligus menutupi jejak kaki kami.
Sami juga mengambil senjata plasma dan beberapa perlengkapan lainnya lalu mengemudikan truk yang sudah ketinggalan jauh itu. Sementara aku dan Yuki tetap menunggu diatap truk.
Ketika sudah giliran kami, aku langsung membuat badai pasir yang aku buat cukup jauh dari pintu masuk. Dengan begitu mereka tidak akan mencurigai ini ulah manusia elemen.
Cyborg disana seketika panik lalu segera menutup pintu masuk. Memotong antrian setelah kami dan menyuruh kami langsung masuk tanpa pemeriksaan. Badai pasir itu kemudian kupecahkan ketika membentur keseluruhan markas.
Tampaknya aku mulai biasa mengendalikan elemen angin ini. Bahkan aku juga bisa merasakan sesuatu lewat anginku. Yuki juga masih belum sadar, aku bisa merasakan lewat kecepatan nafasnya yang masih lambat.
Didalam markas besar itu, banyak sekali truk yang sedang dibongkar muatannya. Para pekerja tampak lalu lalang membawa senjata dan peluru termasuk juga bom dan rudal dari dalam truk.
Truk kemudian parkir di bagian paling ujung dan cukup jauh dari pintu masuk. Sami turun dari truk lalu mengetuk box truk, menyuruhku turun. Aku perlahan turun kesisi samping truk yang tertutup oleh box truk lain.
"Apa kamu baik-baik saja?", tanyaku.
"Tidak baik, tidak sama sekali aku baik", "Aku belum pernah latihan seperti in-
"Shht, diamlah", "Tetaplah menyamar dan ikuti cara cyborg lain bertingkah",
"Apa kamu punya alat komunikasi seperti telepon jarak jauh?"
Ia langsung merampas ransel didadaku dan mengobrak-abrik mecari alat itu. Setelah dapat, ia langsung memberikan satu kepadaku.
"Baiklah, kamu pergi ikuti cyborg yang lain", "Bagaimanapun caranya lakukan saja!", perintahku.
"Aku bisa", "Aku pasti bisa", Sami menyemangati dirinya sendiri.
"Benar, sekarang pergilah!", "Kami akan menyusul".
__ADS_1
Sami menganggukkan kepalanya. Ia keluar dari sana dan berjalan membuntuti cyborg yang lain ke area yang lebih dalam. Sementara aku tetap berada dilokasi yang sama sampai dia menghilang dari pandanganku.