
Singkat cerita mereka sampai di bumi dengan selamat. Donny dan AI yang kurang memahami geografis bumi tidak mengetahui posisi markas mereka dulu. Karena kelamaan berputar-putar, energi pesawat mulai habis.
Untuk mencari bahan bakar pengganti, mereka terpaksa mendaratkan pesawat mereka di suatu tempat yang bersalju. Tidak ada pohon disana dan hanya sebuah lapangan luas yang ditutupi selimut putih. Kala itu sore hari, sehingga mereka tidak punya banyak waktu sebelum malam tiba.
Donny menyelimuti tubuhnya dengan syal hangatnya sebelum ia pergi keluar. Sementara Okta dan Yuki dilarang keluar karena mereka tidak punya baju musim dingin. Dengan berbekal sebuah pisau Donny keluar dari pesawat.
Syalnya melilit kakinya lalu membuat roket seperti yang dulu ia lakukan. Baru juga terbang 10 menit Donny langsung dihantam suhu dingin yang luar biasa. Kebetulan saat itu ia menemukan sebuah reruntuhan bangunan yang tampaknya bekas sebuah kota koloni.
...''РОССИЯ''...
"Huruf romawi ya, sebentar kalau dibaca...",
"Poc-poc-nr, poccnr!!", Donny bergumam sambil membaca papan besi yang tidak sengaja dia injak.
Sayangnya setelah lama berputar-putar disana. Donny tidak menemukan baterai ataupun sumber energi listrik lainnya. Deangan tangan hampa Donny akhirnya kembali ke kapalnya.
Dengan bahan bakar yang tersisa Donny terpaksa meninggalkan hanya satu mesin yang hidup. Sisa beban pesawatnya ia tompang sendiri dengan roket syalnya.
Hingga pesawat mereka tiba-tiba mati memaksa untuk turun. Kali mereka sampai di pegunungan yang di kelilingi hutan rimbun. Kebetulan juga disini tidak ada salju dan suhunya lebih hangat. Di balik pepohan tampak sebuah bangunan berwarna hitam legam. Bangunan itu tampaknya terbuat dari besi dan di tumbuhi lumut hijau.
Atap bangunan itu berbentuk melingkar. Beberapa atapnya sudah jebol. Area bangunan itu sangat luas dan terdapat seperti lorong yang menghubungkan satu sama lain. Mereka bertiga menuruni pesawat lalu berputar-putar di sekeliling bangunan untuk mencari pintu masuk.
"Yuki! Dibelakangnya ada taman bunga!", ujar Okta.
"Wah, sayang nggak kerawat", jawab Yuki kecewa.
Donny terdiam memandang taman bunga itu. Tiba-tiba Donny mendekati dinding bangunan disamping taman.
KRANG
Dengan tusukan kedua ujung syalnya Donny menjebol tembok keras itu. Okta dan Yuki mengalihkan pandangannya kepada Donny. Mereka berdua kemudian mengikutinya memasuki bangunan reot itu.
Didalam sana udaranya sangat pengap dan gelap. Lumut-lumut dan ilalang memberikan berbau tidak sedap. Banyak celah-celah atap yang meneruskan cahaya matahari kedalam. Sebagai penerangan tambahan Okta memantik api di tangannya.
Seketika itu juga terlihat jelas puing puing robot yang berserakan dimana mana. Ruangan-ruangan yang ditutup ilalang dan lumut tebal. Lantai baja yang menghubungkan tiap ruangan lantai dua dan tiga banyak yang berkarat hingga hampir runtuh.
Mereka memutari ruangan utama berbentuk lingkaran itu. Mereka berkeliling seisi bangunan. Terkadang Donny juga menjelaskan fungsi ruangan itu. Ia juga menghancurkan pintu-pintu yang macet karena berkarat dengan syalnya untuk melihat isi didalamnya.
Di lantai atas terdapat satu ruangan mengejutkan Donny. Tempat itu berisi kasur bertingkat yang sudah lapuk dimakan rayap. Di seberang pintu masuk terdapat jendela kecil berbentuk persegi yang kacanya sudah pecah. Tetapi bingkainya masih utuh dan hanya berkarat. Donny kemudian berkata kepada mereka Yuki dan Okta,
"Dulu kami tidur disini, perempuan di kamar sebelah".
Yuki memiringkan punduknya keluar kamar. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari posisi kamar perempuan. Karena Okta dan Donny sibuk mengobrak-abrik seisi kamar. Yuki memutuskan untuk berkeliling sendirian.
Terkesima dengan bentuk bangunan tua yang indah. Yuki tidak melihat patahan lantai didepannya. Tanpa sengaja ia tersandung lalu terjerepak ke lantai. Baja yang hanya ditompang dengan satu cagak karatan ditambah dengan beban Yuki yang terpleset membuat jalan yang menyusuri lantai dua runtuh.
KRANGG KRANGG
Untunglah Yuki sempat mencengkram salah besi pegangan yang sudah bengkok kebawah. Tinggi antara lantai dasar dari lantai kedua sekitar sepuluh meter. Yuki mengeluarkan sayapnya untuk terbang. Sayangnya sayap itu seketika pupus karena Yuki yang sudah melemah dan kurang tidur.
Donny dan Okta sontak keluar karena mendengar teriakan Yuki dan suara gemuruh. Kemanapun mereka mencari mereka tidak bisa menemukan Yuki. Melihat debu yang beterbangan Okta langsung saja berlari kesana.
"Okta awas!!", pekik Donny sambil melatakan syalnya melewati lantai.
Hentakan keras dari kaki Okta membuat lantai dibawahnya runtuh. Untunglah syal Donny berhasil menangkap kaki Okta. Dengan posisi kepala yang berada dibawah lantai. Okta berhasil menemukan Yuki yang masih berpegangan pada pipa besi.
Okta segera menarik Yuki menggunakan rantai api.
"Aku menemukan Yuki!", ujar Okta kepada Donny.
Donny mengirimkan dua syalnya yang langsung melilit Okta dan Yuki satu persatu. Donny menurunkan mereka stu persatu karena takut lantai yang diinjaknya ikutan runtuh. Setelah menarik kembali ketiga syalnya yang memanjang. Donny turun melewati tangga perlahan-lahan.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa kan?", tanya Okta.
"He-em", jawab Yuki sambil mengaggukkan kepalanya.
"Lain kali hati-hati makanya".
Yuki menundukkan kepalanya lalu melihat ke dinding sebelah kiri. Kebetulan di sana ia melihat pintu besi seperti lift yang tampaknya memerlukan tapak tangan untuk membukanya.
"Apa itu?"
Yuki berjalan mendekati benda itu lalu menempelkan tangannya kesana.
BIP
Lampu berwarna merah diatas pintu menyala. Tandanya tangannya tidak cocok disana. Donny berjalan kesamping Okta yang berdiri diatas puing lantai melihat kearah Yuki.
"Tempat itu ... Ruang kerjanya...", gumam Donny.
Ia kemudian mendekati ruangan itu lalu menempelkan tangannya seperti Yuki.
BIP
"Memang benar, kami tidak pernah boleh masuk kesini".
"Memang apa isinya?", tanya Yuki.
"Entahlah", balasnya sembari menempelkan tangan di dagu.
"Tapi yang jelas kita harus menyingkirkan benda yang menghalangi pintu masuk ini", ujar Okta sambil menunjuk ke runtuhan lantai di kakinya.
Dengan kekuatan syal elemen lavanya, Donny memotong logam-logam baja itu. Kemudian menumpuknya ke dinding maka bersihlah pintu masuk itu.
"Apa syalmu itu tidak memakai tenagamu?", tanya Okta.
Okta menyandarkan telapak tangannya ke pintu itu sambil berkacang pinggang melihat Donny. Kemudian Donny berjalan menaiki tangga ke lantai puncak yang kemudian diikuti oleh Yuki.
"Ayo, Ta!", ajak Yuki.
"Iya iya", balasnya malas.
Saat Okta hendak berjalan ia terpleset. Tangannya yang menempel pada pintu tanpa sengaja berpegangan pada tombol tangan tadi.
DING
Lampu diatas pintu berubah warna menjadi hijau. Lalu pintu besi itu terbuka seperti terbukanya lift. Okta terkejut bukan main. Dia sendiri sebenarnya tidak berniat membuka pintu itu.
Di dalam sana tidak terlihat apapun kecuali anak tangga yang menuju kebawah. Okta menengok ke belakang. Yuki dan Donny sudah menghilang. Karena penasaran, ia kemudian menyalakan api di tangannya lalu masuk ke tempat itu. Baru dua anak tangga dia turuni empat ekor tikus berlarian keluar yang membuat jantungnya hampir copot.
Sementara itu Donny dan Yuki menuju observaserium di lantai paling atas. Di sana terdapat buku-buku yang sudah tertutupi debu dan jaring laba laba. Ada juga sebuah teleskop besar nan canggih di tengah tengah yang menghadap ke langit. Sementara atap tempat itu terbuat dari kaca yang kini sudah pecah dan runtuh.
Ruangan itu cukup kecil. Tapi berisikan banyak barang termasuk komputer dan puing puing robot. Sehingga tampak sumpek dan membuat sesak nafas karena banyaknya debu.
Donny langsung saja menuju meja komputer yang ada di seberang pintu masuk. Ia mencoba menekan nekan tombol itu. Tentu saja tidak bisa menyala karena tidak ada sumber energi.
Di saat yang sama Okta menemukan sebuah tempat berisi generator. Disampingnya terdapat pula tabung besar menyala berwarna biru langit. Tabung itu adalah satu satunya sumber cahaya di sana. Di kanan dan kiri terdapat lorong lagi yang sangat gelap dan mencekam. Hanya terdengar tetesan air di sepanjang Okta menyusuri tangga.
Di generator itu terpasang sebuah tuas yang sudah patah karatan. Okta yang penasaran fungsi benda itu langsung saja menariknya ke bawah. Tiba tiba..
BLAR
Seketika terdengar suara dentuman dari tabung didepannya. Lampu-lampu menyala secara bersamaan sehingga tempat yang gelap tadi tidak lagi menakutkan baginya.
__ADS_1
Yuki dan Donny terkejut karena lampu yang tiba-tiba menyala disertai suara dentuman keras. Komputer didepannya juga hidup dan menampirkan layar hologram persegi panjang.
"Apa yang terjadi", gumam Yuki.
"Coba kamu cek ke bawah!", perintah Donny.
Yuki langsung berlari keluar. Ia melihat kebawah dari pagar besi penghubung antar ruangan. Semua lampu menyala, bahkan terdapat dua robot kecil yang hidup meski hanya berupa lampu pada matanya.
"Semua lampu hidup", pekik Yuki.
"Bagaimana mungkin".
"Okta sepertinya menemukan sesuatu", balas Yuki.
Yuki membalikkan badannya lalu berjalan mendekati teleskop di tengah ruangan. Ibu jarinya mengusap lensa okuler teleskop lalu ia menempelkan matanya pada lensa itu. Sementara tangan kirinya memutar-mutar gerigi besi untuk mengatur penglihatannya.
"Ngomong-ngomong apa yang mau anda lakukan?", tanya Yuki.
"Memancing mereka kemari", balasnya.
"Siapa mereka... Apa jangan-jangan!", Yuki menarik wajahnya dari teleskop itu.
"Kamu benar, kita harus mengalahkan mereka",
"Sebelum mereka memusnahkan mahkluk hidup di planet laik huni lainnya".
"Tapi bagaimana caranya melawan Kreza",
"Dia punya kekuatan untuk mengendalikan semua elemen bahkan bisa membuat segalanya".
"Itu.."
Donny ragu untuk menjawabnya. Tapi segera di meyakinkan Yuki dengan berkata,
"Serahkan urusan dia padaku!"
Yuki menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengeluarkan yang terbuat dari jarinya untuk mencari Okta.
"Hidupnya lama sekali",
"Dimana temanmu itu?"
"Okta?", "Sepertinya masih di bawah".
"Anak itu...".
Donny yang geram langsung berjalan kebawah. Karena takut kenapa-napa lagi, Yuki pun mengikuti Donny.
Okta yang masih asik memperhatikan tabung nuklir dan mesin generator didepannya tidak melihat kehadiran ular Yuki dari belakang. Ular itu kemudian digerakkan Yuki menaiki punggung kaki Okta. Sontak ia melompat dan berlari keluar. Begitu sampai di luar, Donny menjerat kakinya dengan syal lalu mengangkatnya secara terbalik ke langit.
Di samping Donny ada juga Yuki dan sama sama berkacak pinggang dan melipat tangan karena kesal dengan kelakuan Okta.
"Hai", ucap Okta sambil tersenyum.
"Kamu ini dari mana saja?!", bentak Yuki.
"Aku dari tempat itu? Ada tabung biru disana", jawab Okta sembari menunjuk ke arah ruangan tadi.
Yuki dan Donny sontak melihat ke dalam tempat kumuh itu. Terutama Donny, ia memperhatikan semua sisi pintu yang terbuka. Tidak terdapat bekas hangus ataupun penyokan. Donny langsung melihat kearah Okta seolah tidak percaya apa yang dilihatnya. Yuki dan Okta sama-sama memasang wajah heran.
"Jadi.. Itu kamu"
__ADS_1
"Aku paham sekarang!"