The Last Era

The Last Era
Act 14 [Mode Terakhir]


__ADS_3

Hari itu datang juga. Kami berempat diterbangkan ke lokasi. Disana hanya terdapat sedikit oksigen, sehingga kami perlu alat pernafasan khusus. Kami ditemani robot-robot Aquopora yang lengkap dengan senjata mereka.


Robot dan cyborg milik lawan berjumlah jauh lebih banyak dari pihak kami. Senjata mereka juga beragam dan lebih modern dari kami. Tapi hal itu tak membuat kami gentar dan melupakan misi kami.


Peperangan dimulai dengan serangan dari pihak lawan. Beragam warna tembakan plasma menghiasi langit medan perang. Meskipun kalah jumlah, bukan berarti kami menyerah. Aku langsung menciptakan monster batu raksasa, supaya dapat menyaingi robot yang berukuran sama dengannya.


Karena terbuat dari batu dan tanah. Monsterku tidak akan mempan dengan tembakan plasma. Artinya pertarungannya berupa hand to hand berupa pukulan langsung. Monsterku hanya sebagai pengalih perhatian supaya kami bisa menyelinap masuk.


Markas mereka sangat besar seperti labirin dari logam. Pintu masuk mereka hanya satu dan penuh dengan robot yang keluar menuju medan perang. Robot disini juga bisa melacak kami dengan sensor panas, sehingga penyelinapan tidak semudah di film-film.


Belum lagi cyborg mereka berotak sel hidup yang tentu memiliki kecerdasan yang setara dengan manusia. Jadi aku dan Ramko masuk terlebih dahulu, sementara Shina dan Donny membakar dan meledakkan pintu masuk untuk mengacaukan sensor panas robot, dan membuat cyborg terfokus pada kebakaran.


Kami tak punya pilihan lain selain masuk melalui saluran air. Tempatnya gelap tanpa cahaya sedikitpun. Aku berjalan mengikuti ketiga temanku karena aku tidak memiliki penerangan. Entah mengapa aku punya perasaan buruk yang menghantuiku.


Sampailah kami pada percabangan jalan kekanan dan kiri. Aku melihat peta yang di berikan Dokter Jassen. Lokasinya ternyata tepat didepan kami, hanya saja tak ada jalan untuk langsung kesana dan harus berjalan memutar.


"Don, bagaimana jika kita hancurkan saja penutup ini?", tanyaku.


"Aku setuju"


Aku mengeluarkan tangan monster batu siap menghantam. Donny sudah menyiapkan senapan mode naga oranyenya. Tiba-tiba Ramko menangkis sebuah serangan tangan dari cyborg. Untunglah dia punya reflek dan kecepatan secepat kilat, sehingga dia dengan tepat waktu mampu mengeluarkan pisau berlistriknya.


Cyborg itu kemudian berpecah menjadi 3 lalu Donny dan aku. Cyborg ini punya senjata pedang, dan kecepatan yang setingkat dengan Ramko. Hanya saja ramko tidak mampu mengklona dirinya sendiri.


"Kalian para manusia, memang sangat licik."


"Kau bisa berbicara bahasa kami?", tanya Ramko.


"Meskipun kalian licik, bukan berarti kalian lebih pintar dari kami", balasnya sambil mengeluarkan pistol plasmanya diikuti kedua klonnya.


Ramko tiba-tiba melesat sekedipan mata dan langsung menujuamkan pedang panjangnya ke cyborg itu. Sementara kedua klon cyborg itu menembakkan senjatanya ke arah kami bertiga. Pertarungan Ramko dengan cyborg itu belangsung cukup lama. Setiap serangan yang meluncur dari mereka, terlihat seperti garis-garis cahaya.


Sebuah cahaya terbang kearahku, dengan sigap aku menahannya dengan tanganku yang terlapisi bebatuan. Setelah menangkap pedangnya, aku meremasnya sampai hancur lalu menghantam tubuhnya dengan tangan kiriku.


Ketika tubuhnya terpental, ia berubah menjadi dua dan salah satunya berlari ke arah Shina dengan pedangnya.


"SHINA AWAS".


Serangan cyborg itu berhasil menggores muka Shina dan membuatnya terpental ke belakang.


"Shin, kamu nggak apa-apa?!", tanya Donny.


"Shin?", tanyaku lagi.

__ADS_1


Dia tak menjawab apapun. Tiba-tiba saja dia berdiri dengan tubuh terbakar api biru terang, dan berlari menyerang cyborg itu. Kukunya mulai memanjang, mulutnya mulai berasap, dan matanya mengeluarkan lidah api. Dia lebih mirip ke iblis dan berbeda dengan Shina yang bersikap tenang.


Semakin dia menyerang, dia mulai bertingkah semakin brutal dan liar. Sambil tertawa liar, dia sukses Donny dan aku keheranan sekaligus ketakutan. Dengan mudahnya ia menebak arah serangan cyborg itu dan mengikatnya dengan rantai api. Ia kemudian membakarnya hingga mencair.


Cyborg yang menyerangku dan Donny, beralih menyerang Shina. Dengan teknik yang sama ia menghabisi kedua cyborg itu dengan cepat. Meskipun secepat Ramko, ternyata Shina mampu membaca setiap serangannya.


Shina kemudian melemparkan sebuah pisau yang terikat dengan rantai dan langsung menusuk dan tersangkut di tubuh cyborg yang menyerang Ramko. Ia lalu menarik cyborg itu dan melelekannya.


"Shin, itu masih kamu kan?", tanyaku.


"Shin?"


Dia masih tidak menggubris pertanyaan kami. Shina berjalan kearah percabangan tembok dan menghancurkan dinding tebal itu untuk membuat jalan pintas. Apinya mulai mereda, Shina menatap kedua tangannya sambil mengeluarkan air mata.


"Apa aku ini?", "Apa aku ini monster?"


"Shina, tenan-"


"Menjauhlah, aku tak mau melukaimu".


"Tak peduli apapun wujudmu, apapun yang telah kau lakukan", "Kau tetap sahabat kami".


"Ramko".


"Donny".


"Jadi jangan pernah lupakan sahabatmu, meskipun ia telah tiada".


"Afton", "Kalian ini ternyata pandai membuat kiasan ya?"


"Okelah sekarang kita hanya perlu me benda itu".


Lubang serangan itu, menampakkan sebuah tabung berisi kristal bersinar yang tersambung dengan beberapa kabel. Tiba-tiba tanah diatas kami runtuh, dan Afton langsung menyangganya dengan batuan. Jalan keluar sudah runtuh, dan kami terjebak disini.


"Selalu saja ada masalah", gumam Ramko.


"Sepertinya kita masih bisa mengancurkannya", "Biar aku ledakkan benda itu",pinta Donny.


"Jangan, kita masih terjebak disini", "Kalau kita meledakkannya itu juga akan membunuh kita", potong Shina.


"Halo, apa kalian baik-baik saja?", tanya seseorang dari telepon kami.


"Tidak baik, kami terjebak disini dan oksigen kami sudah menipis", jawab Donny.

__ADS_1


"Kita harus membatalkan misinya", "Kita juga sudah kehabisan senjata dan bala bantuan".


"Tak ada yang di batalkan", jawabku.


Aku membuat monster batu dan mengangkat reruntuhan ke atas. Begitu kami melihat cahaya, kami telah hujam senjata. Regu penolong terakhir datang dan menyuruh kami untuk naik dan pergi dari sini.


Senjata musuh menembaki kami dan pesawat regu penolong. Sulit bagi kami untuk naik, tak ada cara lain. Aku menyuruh monster batuku untuk menutupi kami dan melemparkan ketiga temanku ke pesawat.


"Ton, jangan lakukan ini".


"Aku tak punya pilihan lain, Ramko".


"Aku bisa membawa kita semua pergi dari sini".


"Tidak, kalau kita semua pergi, tak ada mampu yang menahan serangan ini", "Aku tak ingin melihat kalian semua mati", jawabku.


"Shina, tolong lindungi mereka", aku memohon sambil berlinang air mata.


Monsterku akhirnya melespaskan lemparannya.


"Jangan lupakan aku".


Mereka terlihat sedih dan tak terima debgan keputusanku. Tapi masa kesenangan berakhir disini. Demi melindungi yang lain, perlu pengorbanan sebuah jiwa.


Tubuhku ditumbuhi berlian keras. Dari tanah munculah dua ekor naga berlian yang langsung menyampar markas musuh. Daya ledak bom lawan tak sebanding dengan kekerasan batu berlian. Oksigenku sangat kritis, pernafasanku mulai melambat.


Kulihat pesawat terakhir sudah pergi, ini saatnya bagiku untuk meledakkannya. Aku melompat ke arah sumber tenaga, dan menghantamnya dengan tanganku.


Suara ledakan mendengingkan telingaku. Semuanya hitam, aku tak mampu melihat apapun. Aku mengusap mataku.


Pelahab terlihat sebuah pekarangan rumah lama yang tak asing bagiku.


"Afton", panggil seorang perempuan dari dalam rumah.


"Ayo masuk".


Air mata kembali mengalir di pipiku. Sosok itu adalah


"Ibu?"


"Selamat pulang, nak".


"Iya bu, aku pulang", jawabku sambil menangis bahagia.

__ADS_1


__ADS_2