The Last Era

The Last Era
Act 23 [Kacau]


__ADS_3

Aku kembali ke penginapan paling telat dari yang lain. Aku kemudian memberikan peta tadi kepada mereka. Lalu kamipun memutuskan untuk pergi kekota Rowl keesokan harinya.


Barangkali menemukan teman kami di sana. Bagaimana caranya, tapi yang jelas keesokan harinya. Shina mendapat sebuah mobil yang lebih kecil dari mobil lama kami.


Dia bilang ia menemukan sebuah bongkahan emas besar di belakang penginapan. Kami kemudian memindahkan semua barang kami dan


"Memanya kamu bisa nyetir benda ini, Shin?", tanya Ramko ragu.


"Aku tahu, aku sudah diberitahu sebelumnya sama penjualnya".


"Lebih baik aku mengikatkan badanku ke bangku", jawabku.


"Kalau begitu kita berangkat!!", kata Shina sambil mendorong penuh stik mobil.


Mobil melaju dengan cepat. Sesekali mobil ini kehilangan daya angkatnya dan hampir menghantam salju dan pepohonan.Untungnya mobil ini tidak pakai ban.


"Shin, AWAS SHIN!!" "KANAN! POHON SHIN POHON!!", pekik aku dan Ramko ketakutan.


"Shht, diamlah".


Setelah beberapa menit melewati hutan, kami akhirnya kembali ke hamparan salju yang luas. Aku dan Ramko pucat pasi ketakutan.


"Bagaimana teman-teman?", tanyanya santai.


"Kau diamlah, kepalaku pusing", jawabku sambil memegang kepala.


"Aku mau muntah", jawab Ramko sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Pohon".


"Kamu masih kepikiran hutan tadi ya, gitu saja takut".


"APA MATAMU BUTA LIHATLAH KEDEPAN!! BELOK!!!".


Shina membanting mobil untuk menghindari pohon besar didepan kami. Lalu mobil kamipun menghantam tumpukan salju. Mobil kemudian tersangkut menusuk salju yang cukup dalam itu.


"Sial, kenapa ada pohon di sekitar sini?".


"Makanya lihat depan pak pilot", ejekku.


"Diamlah".


Aku keluar dari mobil dengan cara memanjat dan keluar lewat pintu belakang. Kemudian mengikatkan syalku dengan mobil itu. Kemudian membawanya terbang untuk mengeluarkannya dari salju.


Sementara itu Shina mengecek mobil dan Ramko mengecek pohon yang hampir ditabrak tadi. Dari belakang pohon, matanya tak sengaja menangkap pecahan robot dan sebuah bangunan besar di tengah hamparan salju.


"Hey Don, Shin, cepat kemari!", teriaknya kearah kami dambil melambaikan tangannya.


"Lihat apa yang kutemukan", tangannya menunjuk ke bangunan dibelakang pohon itu.


"Don, turunkan mobilnya, coba lihat bangunan apa itu!", suruh Shina.


"Oke".


Aku lalu terbang memutari atap bangunan itu. Bangunan itu sangat luas dan megah. Terlihat seluruhnya terbuat dari logam yang sama dengan bangunan saat aku pertama kali dibangkitkan.


Aku kembali dan memberitahukan teman temanku tentang hal itu. Kami bergegas menyelinap ke bangunan itu. Tak ada penjaga sama sekali sehingga mempermudah kami untuk melewati setiap ruangan.


Anehnya setiap beberapa meter di sepanjang lorong terdapat patung manusia dan pecahan-pecahan kayu. Sampai ditempat dimana kami merasa ada yabg janggal dengan bangunan ini.


Yaitu saat dimana menemukan pecahan-pecahan logam dan sebuah ventilasi yang koyak.


"Menurutmu apa itu, Don", sambil menunjuk karah lubang di ventilasi.

__ADS_1


"Entahlah, Ram", "Kalau memang ada pertarungan", "Seharusnya ada pecahan logam di sini", balasku.


"Oh, tidak, tidak mungkin", Shina tiba-tiba terkejut ketika mengetahui apa isi kepalanya. Dia kemudian berlari meninggalkan kami menyusuri lorong sendirian.


"Shin, kamu kenapa?", suaraku percuma karena dia sudah cukup jauh.


"Kejar, Don!".


"Ayo!".


Kami lantas mengejarnya sampai kami menemukan pertigaan di lorong. Aku memilih kanan, sementara ramko memilih lurus.


"SIAPA DISITU?!".


Dengan cepat aku menarik tubuhku ke atas langit bangunan. Terlihat dua orang cyborg berputar putar di bawahku.


"Sepertinya ada sesuatu di sini".


"Mungkin cuma perasaanmu saja", jawab temannya.


"Mana mungkin, aku jelas sekali mendengar suara siulan roket di sekitar sini", balasnya.


"Bunyinya halus, seperti suara siulan burung tapi sedikit bergetar seperti suara roket", jelasnya lagi.


"Setelah ini, kamu tidur dulu", balasnya sambil menepuk pundaknya.


"Hey!! Apa yang kalian lakukan?", tanya seorang cyborg lagi yang berlari kearah mereka.


"Lanjutkan membersihkan di lorong delapan belas!", sambungnya.


"Siap boss", balas mereka berdua.


'Mereka benar-benar terlihat seperti hewan atau monster. Pantas saja kalau manusia menjulukinya seperti itu', batinku.


Setelah mereka pergi, aku turun secara perlahan dengan memanjangkan syalku. Kemudian melanjutkannya dengan berjalan kaki untuk menghindari kecurigaan.


Di dalamnya ku menemukan beberapa alat seperti pengikat tangan yang tidak terpakai. Seperti sebuah penjara yang menggantungkan tahanan diengan tangan terikat.


Di sampingnya terdapat ventilasi yang telah terlepas dan sebuah biji kacang tanah. Biji ini seketika mengingatkanku pada sesuatu.


Di saat tengah memperhatikan biji kacang itu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan menampakkan tiga sosok cyborg dari ras yahma.


"Siapa kamu?", tanya salah seorang penjaga sampi mengarahkan pistolnya kearahku.


"Tunggu! Lihat tangannya dia dari suku yadewa", jawab penjaga yang satunya seyelah melihat tangan robotku.


"Kamu budak baru itu ya?".


"Iya", balasku sambil mengangkat tanganku.


"Cepat ambilkan penyedot debu untuknya!", jawab temannya yang paling belakang.


"Beres".


"Aku kira kamu manusia asli".


Mereka kemudian menurunkan senjatanya. Aku bersyukur karena tangan robot palsu ini belum kulepas.


Beberapa menit kemudian, aku di beri penyedot debu dan disuruh membersihkan ruangan itu.


"Ras yadewa memang pantas mendapatkan ini".


Jujur aku marah besar, tapi aku menahannya suapaya tidak membuat keributan. Ruangan itu sangat besar dan ketiga cyborg itu masih keluar masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Setelah sekian lama membersihkan, akhirnya kelar juga pekerjaanku. Aku bahkan berkeringat di suhu seperti ini.


"Wah, bersih sekali".


"Sekarang lorong ini!", kata seorang cyborg itu dengan santainya.


Emosi tak tertahankan lagi. Syalku langsung melayang dan menggulung tanganku membentuk tabung kanon.


"CUKUP SUDAH BERMAIN-MAINNYA!!", bentakku sambil mengarahkan kanonku kearah mereka.


"MANUSIA!! CEPAT BUNUH DI-"


...\=...


"Akhirnya ni orang bisa diam juga", gumamku sambil menggeret tangan Shina yang pingsan. Ia kusengat karena tak berhenti berlari.


Tiba-tiba seisi lorong bergetar sekaligus terdengar suara ledakan berulang kali. Alaram berbunyi keras, dan lampu merah berkelap kelip di sepanjang lorong.


"Kerja bagus, Donny", gumamku lagi.


Tak lama kemudian dari langit-langit lorong, muncul senapan laser yang semuanya mengarah kearah kami.


Seketika aku mengoyang-goyangkan tubuh Shina.


"SHIN BANGUN!!".


Ini salahku juga membuatnya pingsan.


Satu persatu senapan menembakkan laser kearah kami. Sekat lorong tiba-tiba muncul dan membuat kami terjebak disana. Aku menghindari setiap tembakkan sambil menggendong tubuh Shina.


Laser itu tidak hilang setelah menabrak dinding, melainkan memantul sampai tiga kali sebelum menghilang. Sesekali laser itu hampir mengenaiku.


Hingga tenagaku menipis, senapan itu tak kunjunh berhenti menembak. Hingga akhirnya beberapa laser mengenai baju dan tubuh kami.


Aku mencoba menghancurkan senjatanya dengan menggunakan pedang panjang. Tapi laser itu tak memberikan bagiku sebuah harapan untuk mencapainya.


Sebuah ide gila memasuki kepalaku, ketika tangan robotku memantulkan laser itu. Hanya ada satu harapan, jangan sampai Donny berada di lantai karena ini akan membahayakannya.


Tak ada cara lain, atapi aku tak mau membunuh temanku. Bagaimana ini?


Sayu-sayu terdengar dengungan halus seperti jet kecil yang semakin jelas. Di saat itulah aku langsung melemparkan Shina ke langit.


Dengan cepat, aku mengisi tubuhku dengan listrik terkuat yang pernah kubuat. Lalu memindahkannya ketangan dan membenturkannya ke lantai.


Seluruh ruangan memunculkan sambaran kilat-kilat biru dan membuat senapan di langit-langit konslet sketika. Sesekali aku melempar Shina ke langit lagi seperti sebuah bola.


Seluruh lampu lorong mati termasuk kipas ventilasi. Udara menjadi panas


"BERHASIL!!", teriakku gembira setelah itu menarik salah tanganku dari lantai.


"RAM!! KAMU DIDALAM?!", teriak Donny dari luar.


"YA!!"


"KALAU BEGITU MUNDURLAH!".


Aku menangkap Shina dan menggendongnya di punggungku. Lalu, Donny menembak pintu itu hingga jebol. Untungnya Donny datang sehingga aku tidak kehabisan oksigen didalam.


Donny kemudian mengikatku dan Shina, kemudian keluar dari bangunan itu dan kembali ke mobil. Listrikku sepertinya berhasil merusak seluruh alat elektronik yang ada di bangunan itu.


"Don, ambil stir kemudi!", "Kita pergi sebelum ada yang mengetahui kita".


"Baiklah", "Apa Shina baik-baik saja?".

__ADS_1


"Dia baik", "Hanya butuh waktu untuk kembali siuman".


Aku segera menghidupkan mobil dan menirukan apa yang di lakukan Shina tadi. Setelah mulai lihai, aku mengikuti peta kembali.


__ADS_2