
Setelah cukup jauh berjalan dan kami mulai lelah. Kamipun memutuskan untuk beristirahat sejenak. "Apa kalian lapar?" tawar Nadia. "Ya tapi kita tidak punya makanan", balas Arina. "Tenang saja aku tahu caranya", jawab Nadia sambil tersenyum. Nadia kkemudian menepukkan tangannya ke lantai dan tumbuhlah pohon apel setinggi 3 Meter yang penuh dengan buah apel merah. "Makanlah", "Wah terima kasih Nadia, tapi bukannya itu ketinggian?", balas Arina. "Sini biar aku ambilkan", ucapku sambil mengambil semua buah apel itu dengan syalku. "Ini dia apelmu",
"Makasih", jawabnya sambil tersenyum gembira, Wah senangnya hatiku. Tiba-tiba Afton berteriak, "APEL!", "Berikan aku apelmu itu!" dan mengarahkan batuan runcingnya ke arahku. Hal itu sontak membuat Shina terbangun dan berkata, "Apel? Don aku mau apel 3."
"Iya-iya tenang saja, apel ini untuk kalian semua juga."
Afton yang selalu senang harus di bayarkan dengan porsi makan yang besar. Setelah kami makan, Nadia dan Arina tertidur dalam posisi duduk sambil bersender satu sama lain ditembok lorong. "Ya mungkin kalian berdua bisa tidur dulu," "Shina, Afton berjaga denganku ya?" "Shina kau di pojok kiri, Afton kau di tengah, sementara ku di pojok kanan", jawabku sambil menunjuk ke posisi mereka nantinya.
"Oke."
"Tidak masalah Don."
Setelah cukup lama, Shina terlihat sangat mengantuk. Sesekali matanya terpejam dan kepalanya tertunduk. "Hey Don, tutup telinga Arina dan Nadia dengan syalmu ya", kata Afton dengan suara pelan.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Lakukan saja!"
"Hmm oke", jawabku. Aku kemudian menutup telingan Arina dan Vanadia dengan syalku, kemudian Afton menerbangkan dua batuan yang saling berhadapan di belakang telinga Shina. Dan DUAR, Shina melompat terkejut dan kami berdua tertawa besar.
"Awas kalian ya", kata Shina dengan marah dan menyiapkan bola api di kedua tangannya.
"Tangkap kami kalau bisa" "Lari Afton lari", teriakku sambil tertawa. Kami berlari dan kejar-kejaran dengan senang, sementara Shina mengeluarkan rantai apinya dan siap mengikat kami. Ketika sedang asyik-asyiknya bermain. Lampu lorong tiba-tiba mati, kami bertiga terkejut dan menghentikan permainan kami. Aku dan Afton mendekati Shina karena dia memiliki cahaya. Aku menyiapkan senjataku, dan mengunci di posisi siap tembak.
Afton menggendong Nadia di punggungnya. Namun, karena cukup malu dengan Arina, aku mengikatnya dan menerbangkannya ke atas kepalaku. Kamipun berjalan dengan bentuk fromasi segitiga. Shina menganggap bahwa formasi ini adalah yang paling aman untuk bertiga. Shina didepan menjadi penerangan, sementara aku dan Afton berjalan bersandingan di belakang. "Hey Don, caramu membawa perempuan itu tidak sopan lho." kata Shina ketika ia melihat kebelakang.
"Hah? Inilah sesuatu yang paling kubisa", balasku. "Ohya, coba kau lakukan seperti Afton", balasnya sambil nyengir. Afton terihat kebingungan dan tidak paham apa yang kami bicarakan. Dengan rasa malu yang tinggi aku kemudian menggendongnya ke punggungku. "Nah gitu loh", kata Shina terlihat puas sambil memberikan jempolnya. "Kalian berdua cocok ternyata ya?" jawab Afton sambil nyengir. "HAH sudahlah, terus saja melihat kedepan", balasku sedikit emosi dan malu.
__ADS_1
Setelah cukup lama di kegelapan, Shina tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Afton.
"Aku memiliki perasaan buruk, seperti ada yang mengikuti kita", jawabnya dengan serius. Shina kemudian melemparkan bola api kedepan dan tak sengaja membentur benda keras. Shina lalu membesarkan api bola apinya. Terlihat 5 robot berbentuk manusia berkuda yang membawa pedang dan menggunakan baju zirah. Matanya berwarna biru menyala dengan pedang yang berapi-api. Kudanya mengeluarkan api di bagian mata dan mulutnya, sementara hidunya terluhat sesekali mengeluarkan asap.
Aku dan Afton menidurkan Arina dan Vanadia di lantai. Sementara kami bertiga kemudian bersiap bertarung dan membelakangi Arina dan Nadia. Kuda kuda robot itu mengerang dan bergerak maju. Tanpa pikir panjang aku memulai pertarungan dengan menembakan peluruku panasku ke arah mereka. Namun mereka bergerak cepat menghindar dari seranganku. Shina berhasil mengikat salah satu dari mereka, lalu membakarnya dengan semburan api di tangan yang satunya. Namun, robot itu kebal dengan panasnya api Shina dan memutus rantai api dengan pedangnya. Kemudian Shina bergerak melompot menghindari serangan robot itu.
Sementara Afton bertarung dengan pedang dan tamengnya yang terbuat dari batuan keras. "Afton ada yang mendekati Arina dan Nadia!" teriakku. "Aku sedang sibuk disini", balasnya. Aku seketika tertarik emosi dan syalku berubah menjadi oranye dan bercahaya "Sial, ENYAHLAH kalian" teriakku sambil menebas mereka dengan syalku. Namun, robot itu benar-benar kuat dalam menahan serangan. Mereka juga handal dalam bertarung dan juga bergerak sangat cepat dalam berpindah posisi. Karena terlalu fokus dengan posisi di belakang, aku lupa dengan robot didepanku tadi.
Robot itu menggores pipiku, aku kemudian mengikat robot itu dan melempar penunggangnya ke dinding. Shina kemudian mengambil pecahan batuan Afton tan menggunakannya sebagai pisa berapi, lalu memisahkan kepala robot kuda itu. Sementara itu Afton terlihat sangat kesulitan karena dia tidak memiliki penerangan sama sekali. Kuda robot itu tiba-tiba saja menendang Afton dan membuatnya kehilangan tameng batunya. Saat tangannya hendak mengumpulkan batuan untuk tameng baru. Robot itu akan menebas kepalanya namun ditahan dengan pedang batunya. Pedang batunya mulai retak dan dia tak pinya pilihan selain menghindar. Afton kemudian memutuskan untuk membentuk pedang saja dari pada tameng. Afton sekarang terlihat lebih gesit. Ia mampu menghindari serangan pedang robot itu dan menebas kepala robot itu. Namun, robot tubuh penunggang itu masih bisa bergerak dan menusuk telapak tangan Afton.
Afton mengerang kesakitan, dan robot tanpa kepala itu mulai bergerak kearahnya. "AFTON!" Kami segera berlari menghampiri Afton yang sungkur kesakitan sambil memegangi tangannya. Shina kemudian mengikat kedua robot itu dan aku menembakkan peluruku hingga menembus kepala kuda itu. Setelah kepala kuda itu hancur, robot itu langsung tumbang dan mati. "Donny kelemahan robot ini terletak pada kudanya, hancurkan kepala kudanya!" kata Shina. "Aku mengerti", balasku. Tiba-tiba ketika aku melihat kebelakang, Arina dan Nadia telah menghilang bersama ketiga robot berkuda itu. "AFTON SHINA, ARINA DAN NADIA HILANG", teriakku.
__ADS_1
"Donny, itu pasti mereka pasti mereka", kata Shina sambil menunjuk ke arah remang-remang cahaya yang mulai menjauh. Cahaya itu dengan cepat menghilang. Aku mengikat tubuh Afton dan Shina lalu menggunakan roket dikakiku untuk terbang mengejar robot-robot itu. Setelah cukup dekat terlihat, Arina dan Nadia yang sedang tertidur dimasukkan ke dalam suatu tabung dan terikat di kuda robot itu. Shina mengubah rantainya menjadi pecut yang bila di kibaskan akan muncul api berbentuk sabit. Afton melemparkan batuannya yang berkuran besar ke arah robot itu. Sementara aku tetap fokus pada penerbangan. Kuda itu mampu menghindari pecut Shina dan batuan Afton. Sementara penunggangnya mengeluarkan tameng besi yang tahun dari benturan batuan Afton dan potongan api sabit milik Shina.
Kuda robot itu kemudian melayang, kakinya berpindah ke belakang dan berubah menjadi roket. Dalam sekejap mereka menghilang seperti cahaya kedipan. Emosiku semakin meningkat. Aku menghimpitkan Afton dan Shina ke tubuhku. Syalku berubah warna menjadi biru terang. Api roketnya juga berubah menjadi biru. Aku terbang sambik memutar tubuhku secara spiral untuk mengurangi gesekan di udara. Denagn begitu kecepatanku menyamai kecepatan cahaya, hingga aku tak mampu melihat sesuatu di lorong itu. Aku yang terbutakan emosi mulai kehabisan tenaga, saat mulai mendekati robot-robot itu. Pandanganku mulai kabur, kepalaku mulai pening. Tubuhku bergemetar seluruhnya. Tapi demi temanku akan kulakukan semuanya.