
SLING
Yuki yang baru tersadar seketika melompat turun ke kawah dan menebas leher belakang Creatura dengan bulu tajam di sayapnya. Tebasan kuku Creatura akhirnya meleset mengenai alis kiri Tu San. Creatura ambruk seketika.
Tu San dan Yuki akhirnya bisa menarik nafas lega. Musuh mereka berdua akhirnya mati.
"Kerja bagus", ucap Tu San sambil tersenyum.
"Terima kasih", balasnya dengan nafas tersengal-sengal.
"Bisa minta bantuan sedikit", ucap Tu san sambil memberikan kode mata ketulang didadanya.
Yuki mencabut kuku yang menancap di dada Tu San. Membuat Tu San akhirnya terbebas dari benda maut itu.
"Ah.. ini lebih baik".
Yuki menempelkan tangannya pada leher Creatura untuk memastikannya tewas.
"Bagaimana?", tanya Tu San
"Dia sudah tewas", balasnya.
"Baiklah ayo kita naik!"
Tu San memegang tangan Yuki lalu berpindah keatas kawah. Tu San selanjutnya bersiap meruntuhkan tanahnya untuk mengubur jasad Creatura. Tapi sebelumnya ia bertanya kepada Yuki apakah memiliki pesan terakhir untuk Creatura.
Yuki hanya menggelengkan kepalanya. Selanjutnya Tu San merobohkan dinding-dinding kawah yang kemudian membuat bagian atasnya runtuh. Runtuhan itu kemudian dirapatkan sehingga membentuk lengkungan tanah landai.
Tak lama kemudian mereka tiba-tiba mendengar suara angin yang dipecah oleh segerombolan benda di langit. Benar saja saat mereka melihat kearah sana. Terlihat ribuan rudal berdatangan dan siap menghujani mereka.
Yuki meregenerasi sayapnya dan langsung terbang membawa Tu San kelangit. Namun, saat Yuki terbang kearah yang berlawanan, mereka disambut oleh robot raksasa setinggi 50 meter dan pesawat penyerang di baris terdepan.
Melihat Yuki yang panik ketakutan Tu San langsung memberi arahan kepadanya.
"Yuki! Terbang bawa aku kearah robot besar itu! Sisanya aku yang urus!!", perintah Tu San.
"Jumlah mereka banyak, itu mustahil!"
"Jumlah rudal itu jauh lebih banyak! Kita gunakan mereka untuk memberikan senjata makan tuan!!"
"Bagaimana jika kita tertembak?", tanya Yuki lagi.
"Lakukan saja, aku akan melindungimu!"
"Hmm...", Yuki semakin ragu dibuatnya.
"Apalagi yang kamu tunggu, lakukan saja!"
Yuki akhirnya terpaksa terbang kearah para tentara itu. Pesawat-pesawat didepan mereka langsung saja menembaki mereka yang semakin dekat. Yuki sontak melakukan manuver dibantu dengan Tu San yang membelokan peluru dengan telekinesisnya.
Semakin dekat semakin banyak peluru beterbangan kearah mereka. Yuki yang kerap terkena gesekan peluru terus meregenerasi dirinya. Sementara Tu San hanya bisa pasrah membiarkan tubuhnya ditembus peluru.
Yuki dan Tu San terus menembus pertahanan musuh tanpa menghancurkan pesawat apapun. Mereka hanya menghindar sambil terus menerobos masuk.
Karena mereka sudah berada tepat didalam pertahanan musuh. Rudal-rudal itu akhirnya menghantam pesawat-pesawat yang berada diposisi paling depan. Jika ada yang berhasil lolos dan hampir menyentuh mereka berdua. Tu San menahannya lalu melemparnya kerudal yang lain.
"Hampir sampai!"
Yuki dan Tu San berhasil melewati gerombolan pesawat. Namun, beberapa rudal masih ada yang berhasil lolos mengejar mereka.
Robot raksasa didepan mereka mengayunkan tangannya mencoba untuk menangkap mereka. Yuki terbang melingkari robot raksasa itu diikuti oleh rudal-rudal yang tersisa.
__ADS_1
Gerakan robot itu tidaklah lambat, hampir sama dengan kecepatan mereka. Hal itu membuat Yuki kewalahan dan kerap kali hampir menabrak tubuh robot itu.
"Yuki! Bawa aku keatas kepalanya!!", perintah Tu San.
Setelah sampai diatas kepala robot itu. Tu San langsung meneleportasikan Yuki ketempat lain. Selanjutnya dia berteleportasi keleher robot itu dan masuk melewati celah-celah armornya.
Karena Tu San masuk ke robot itu. Rudal-rudal tadi secara otomari mengunci robot raksasa sebagai targetnya. Rudal-rudal itu beterbangan menghantam seluruh tubuh raksasa itu satu persatu lalu membuatnya tumbang ketanah.
Tu San daalm posisi aman, sebab dia terus menyelinap masuk dan mempreteli mesin masif itu dari dalam. Hingga tanpa sengaja dia menemukan sumber energi robot itu yang terletak didadanya.
Sumber tenaga yang dipakainya adalah tabung nuklir berukuran kecil. Tu San kemudian mencabutnya dengan kuat untuk mematikan robot itu.
Tiba-tiba salah satu rudal membuka celah bagian dada robot itu. Kemudian salah satu rudal tanpa sengaja mengenai tabung tadi dan membuatnya ikut meledak bersama rudal itu. Tu San yang masih memegang benda itu tak sempat bereaksi untuk berteleportasi keluar.
Sementara Yuki yang diteleportasikan tiba-tiba, membuatnya tercampak dan terguling-guling di tanah. Setelah berhenti berguling, Yuki mengangkat tubuhnya dan melihat sekeliling hutan.
Hutan itu masih hijau dan rimbun. Yuki berjalan sedikit sambil menghilangkan sayapnya dan mencari tahu posisinya. Sampai ia berhenti disebuah pohon besar. Disana tersandar tubuh seorang manusia yang menunduk kaku tak bergerak.
"PAMAN!!", pekiknya.
Yuki langsung berlari kearah tubuh Erkan. Ia memegang tangan kanan Erkan lalu memakai sisa tenaganya untuk meregenerasi tubuhnya. Sayangnya, Erkan tak kunjung bangun dan tubuhnya tidak bisa diregenerasi.
"Kenapa? Tidak bekerja...."
"Paman... Ayo bangunlah paman...."
"Paman... Ayolah...", ucap Yuki menganyunkan pundak Erkan sambil menangis terisak-isak.
Yuki akhirnya menyerah, ia menunduk sambil menangis didepan tubuh malang itu. Tak lama kemudian terdengar suara dentuman keras di langit. Namun, Yuki tak menghiraukannya.
"Maafkan aku Yuki...", sebuah suara tiba-tiba muncul dari belakangnya.
Yuki melihat kearah sumber suara itu. Disana berdiri Tu San dengan tubuh yang tubuh yang hampir hancur. Hanya menyisakan kepala, dada dan perut, serta kedua kaki. Rambut bagian kanannya ikut hangus bersama ledakan termasuk menghilangkan telinga kanannya.
Ketakutan, rasa bersalah, dan bersedih. Hingga dia ditolong Okta yang menjadi sahabatnya kemudian. Tu San menundukkan kepalanya lalu meminta bantuan kepada Yuki.
"Yuki, bolehkah aku meminta sedikit bantuan?"
"Apa itu...?", balasnya sambil mengusap air matanya.
"Bawa kami kepuncak gunung berapi disana", pintanya.
"Kenapa?"
"Kami berdua terkena radiasi kristal", "Pecahannya masih berada ditubuh kami",
"Dan jika tubuh kami ditemukan, maka musuh akan mampu membuat tentara elemen dan mendapat kekuatan psikis",
"Kekuatan ini, terlalu kuat, dan tak seharusnya ada", jelasnya dengan suara pelan.
"Lalu.. apa hubungannya dengan gunung itu...?"
"Aku benci mengatakannya ini, tapi aku harus membakar tubuh kami, supaya musuh tidak mendapatkannya".
"Tidak! Aku tidak akan melakukan itu!", bantah Yuki.
"Yuki... Ini demi kebaikan seluruh manusia, juga tubuhku sama-sama sudah mati",
"Sekali lagi aku berteleportasi, aku akan mati".
"Aku akan menguburnya saja", balasnya sambil memalingkan wajah.
__ADS_1
"Tidak bisa, musuh akan segera tahu posisi tubuh ini memakai pelacak radiasi".
Yuki terdiam. Dia tak tahu mau berkata apa lagi.
"Kumohon... Kamu harus kuat...".
"Hmmh, baiklah", ucapnya terpaksa.
Yuki memegang tangan Erkan lalu mengubah tangan kirinya menjadi ekor ular yang melilit tubuh Tu San. Yuki kemudian menumbuhkan sayapnya lagi dan membawa mereka terbang kepuncak gunung berapi.
Disana mereka berdiri dipinggir teping rapuh yang bila runtuh akan meluncur segera kedalam kubangan lava panas didalam kawah. Yuki berlutut dan memeluk tubuh Erkan dengan erat. Selanjutnya dia juga memeluk erat tubuh Tu San. Ia sendiri sebenarnya masih belum tahu nama asli Tu San.
"Apa kamu tidak keberatan? Aku sedikit bau busuk", ucap Tu San.
Yuki hanya menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih.."
"Tentu saja", jawab Tu San sambil tersenyum puas.
"Sekarang... menjauhlah..."
Yuki secara perlahan berjalan mundur.
"Tunggu! Siapa namamu?", tanya Yuki saat dia berhenti berjalan.
"Ehem, Tu San!", ucapnya senang.
"Oh... ya..."
"Tenang saja, kita akan bertemu lagi, bersama Okta dan yang lainnya", sambung Tu San
"Ya, ya.. aku yakin itu", jawab Yuki sedikit gembira.
Setelah Yuki keluar dari zona runtuhan, Tu San memakai telekinesis terakhirnya untuk meruntuhkan tebing itu. Yuki terpaku menatap mereka berdua yang terjatuh kedalam lava panas sambil melambaikan tangannya.
Setelah itu dia memalingkan wajahnya dan terbang menjauh sambil menangis tak henti-henti.
Tiba-tiba didepannya muncul lingkaran kuning. Yuki yang terlalu sedih tak sempat berberbelok dan masuk kelingkaran cahaya itu. Tanpa sengaja kaki Yuki menjeduk tanah dan membuatnya terguling-guling untuk kedua kalinya. Untunglah sesorang langsung menangkapnya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja", ucap Arina sambil memeluk Yuki dengan erat.
"Ibu?"
Disana Yuki melihat portal yang aktif dan Ramko yang mengontrol portal itu. Disekeliling mereka banyak tentara dan robot yang mereka kalahkan. Yuki sadar ia terlempar dari portal itu dan memakainya setelah Ramko dan Arina merebutnya dari musuh.
"Portal baru sudah diaktifkan, kalian berdua masuk!", perintah Ramko.
Arina menggendong Yuki dan berlari masuk kedalam portal. Sementara Ramko memasang bom dan mematikan portal saat ia melompat masuk kedalam. Portal itu mati setelah Ramko meloloskan diri. Benda itu lalu meledak tanpa memberikan efeknya kepada mereka bertiga.
"Kita berhasil!", ucap Ramko.
"Itu Tuan Ramko!", ucap seseorang.
"Ayo bangun pak", sambung seseorang sambil menjulurkan tangannya kepada Ramko.
"Cepat telepon ambulan!", perintah yang lain kepada temannya.
"Bagaimana keadaanmu?", tanya orang pertama tadi kepada Arina.
"Aku baik-baik saja", jawab Arina sambil berdiri.
__ADS_1
Yuki hanya diam, dia tak bisa berkata apa-apa setelah semua yang dilihatnya.
Di lubuk hatinya dia merasa menyesal membuat dua orang berkorban hanya untuk dirinya.