The Last Era

The Last Era
Act 2 [Es Tajam]


__ADS_3

Setelah cukup jauh menyusuri lorong, aku mendengar suara gemuruh dan guncangan kuat dari arah depan. Aku juga merasakan suhu yang berubah semakin dingin ketika aku semakin mendekat.


Setelah sampai di lokasi, kulihat banyak sekali es yang meruncing dan robot-robot berukuran sedang yang terombak. Terlihat juga seorang gadis berambut putih pendek tengah berhadapan langsung dengan robot-robot itu. Aku segera menembak robot-robot itu dari jarak jauh.


Namun, karena aku belum bisa mengontol seberapa kuat tembakanku, hal itu justru membuatnya terpental kearahku. Aku segera menangkapnya dengan syalku.


"Kau tak apa-apa?"


"Ya", jawabnya pelan. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat robot berukuran besar dengan mulut yang mengeluarkan api biru datang kearah kami. Gadis itu langsung mengayunkan tangannya dan terlemparlah balok-balok es yang entah dari mana.


Tapi balok es itu hancur ketika membentur robot itu. Robot itu bergerak lambat namun tak terhentikan, bahkan es-es yang keras dan menghalangi itu tetap dilibasnya dengan mudah. Setelah cukup dekat, robot itu menembakkan apinya ke arah kami. Gadis itu kemudian membentuk tembok es dan kami berlindung di belakangnya.

__ADS_1


Karena tidak ingin dianggap lemah aku langsung melompat dan berlari ke arah robot itu dengan bantuan pelindung dari syalku. 


"HEI KEMBALI JANGAN GEGABAH", teriak gadis itu. Api itu sangat panas namun tidak mendorongku mundur. Aku juga meletakkan syalku cukup jauh dari lokasi benturan dengan api, sehingga membuatku berada di suhu panas biasa. Sambil berlari aku terus mengisi senapanku hingga maksimum. 


"MAKAN INI", teriakku sambil menembakkan senjataku. Tembakan berwarna merah itu sangat kuat bahkan es es penghalangnya hancur dengan mudah. Gadis itu tepelanga dengan ledakan dahsyat itu. Robot itu rusak parah, namun masih bisa bergerak maju walaupun 2 kali lebih lambat. Robot itu terus mengeluarkan apinya yang menjalar. Hingga ia melemparkan api yang memiliki dorongan yabg sangat kuat hingga membuatku terpental cukup jauh. 


"Kamu tidak apa-apa?" tanya gadis itu sambil mendekatiku.


"Ya, aku tidak apa-apa", jawabku. Gadis itu terlihat kesal dan mengeluarkan es yang sangat besar. Es itu menusuk robot itu hingga melepas salah satu lengannya. Dari dalamnya aku menyadari sesuatu bahwa ada sesuatu yang bercahaya di dalam robot itu. Benda itu tersembunyi dan tertutupi oleh kaca yang sangat keras. Aku menyimpulkan bahwa itu adalah inti tenaga robot itu.


"Aku perlu waktu untuk ini, lakukan selanjutnya",

__ADS_1


"Baik",


Robot itu menembakkan api kuat lagi, namun ditahan dengan tembok es yang dibuat miring lancip. Hal itu membuat titik buta pada posisiku, karena terhalang oleh apinya. Disaat apinya sudah tidak bertenaga, namun masih menyala. Aku mengikat syalku ke kepala robot itu dan menarik tubuhku ke arah robot itu. Setelah berada tepat di atas kepala robot itu. Aku menembakkan tembakanku dan membelah robot itu secara vertikal menjadi dua. Tembakan yang keluar kali ini berwarna oranye terang dan lebih kuat dari yang tadi. Seisi lorong itu bergemuruh dan bergetar kuat, hingga membuat gadis itu terjatuh. Karena terbentur cukup ketas dan kelelahan akupun jatuh pingsan.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya gadis itu sambil duduk di depat wajahku.


"Hah! Apa?!! Oo iya, aku tidak apa-apa", 


"Apa kepalamu pusing?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku baik-baik saja,"

__ADS_1


"Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanyaku memberanikan diri. "Arina", jawabnya sambil memalingkan wajahnya. "Oh maaf kalau aku blak-blakan bertanya", jawabku dengan sedikit tertawa sambing berubah posisi ke duduk.


"Namaku Donny, senang bertemu denganmu," jawabku sambil menjulurkan tanganku untuk bersalaman. Arina hanya diam, kemudian memalingkan wajahnya dan berjalan meninggalkanku. "Eh?" ucapku keheranan, kemudian mengikutinya dari belakang. Dia hanya sesekali melihat ke belakang nemun dengan cepat melihat ke depan. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa lemas. Tapi aku tetap berfikir positif, mungkin saja dia sedang kelelahan.


__ADS_2