The Last Era

The Last Era
Act 18 [Klimaks]


__ADS_3

Arina tampak sangat senang dengan anak kecil terutama laki-laki. Terlihat dari senyumnya yang terlukis di pipinya.


"Adiknya berapa tahun bu?", tanya Mabel.


"Oh ini baru 1 tahun", jawab robot maid itu.


Tak sengaja sebuah pertanyaan melintas di otakku.


"O iya, ngomong-ngomong apa di Aquopora ada hewan bumi?", tanyaku ke ibu anak itu.


"Katanya ada, kalau nggak salah sapi atau ayam namanya", jawabnya.


"Sapi, kambing, ayam adalah hewan langka dan harus di lestarikan dan tidak boleh dimakan dagingnya", jelas robot maid itu.


"Oh begitu ya".


"Kalian dari mana, kok nggak tahu hewan langka itu?"


"Dari sini juga, cuma pindahan luar kota", jawab Mabel.


"Oo ya salam kenal".


Aku melirik Nadia yang terlihat gusar dari tadi.


"Kamu kenapa, Nad?"


"Perasaanku nggak enak, rumput-rumput seperti mencoba memberitahuku ada bencana yang akan terjadi".


"Rumput-rumput?", tanya ibu itu.


"Oh nggak, dia cuma suka mengarang puisi, jadi sifatnya kebawa keluar", jawabku.


"Bagus itu, anak anak muda pewaris budaya".


"Ah iya bu", balasku.


"Mbak ayo kesini kita ngambil foto dulu", panggil robot maid itu ke Nadia sambil mengambil kamera di saku bajunya.


Aku dan Arina melambaikan tangan kearahnya. Matanya masih melihat kesana kemari.


"1..2.. "


"Apa rumput kecil?"


"Pelipis?"


Nadia melihat sebuah kaca tepat berada di pelipis kami berempat. Cahaya kamera membuat pandangan kami kabur. Dengan cepat kaca itu menepis pelipis kami dan membuat kami tak sadarkan diri.


"Aku tahu ini jebakan", suara terakhir yang kudengar sebelum pandanganku menghitam.


......\=......

__ADS_1


"Donny, Ramko", "Ibu, anak dan robot ini adalah robot yang diceritakan Dokter Jassen".


"Orang tua itu, selalu meninggalkan masalah untuk kita", sambung ramko.


Shina memunculkan pedang apinya dan menebas robot itu. Namun, tubuhnya yang terpotong seketika tersambung kembali.


Ibu, anak dan robot maid itu bersatu dan tangannya berubah menjadi pisau runcing yang akan menusuh Shina.


"Sial aku tak sempat"


Donny langsung menjulurkan syalnya dan menarik Shina sebelum pisau itu menusuknya.


"Seranganku tak akan mempan padanya", kata Shina.


"Ramko gunakan serangan jarak dekat dengan listrik tegangan tinggi, incar titik butanya!", perintah Shina.


"Di mengerti"


Kilatan kecil meloncat loncat dari tubuhku. Dari tanganku terbentuk kapak listrik berwarna biru menyala. Aku meloncat secepat kilat dan langsung menebas leher robot itu.


Namun, robot mengangkat tubuh Mabel dan menggunakannya sebagai pelindung. Seranganku seketika meleset. Aku meloncat ke titik buta atas robot itu. Lagi, robot itu menggunakan Arina sebagai pelindungnya.


"Dia di posisi buruk", " DONNY CEPAT TARIK RAMKO KEMBALI", teriak Shina.


Robot itu melempar tubuh Arina, Mabel, Nadia dan Linda. Kaki robot itu bercabang 20, membentuk pisau lalu terbang ke arahku. Syal Donny, terbang ke arahku namun ditangkis tentakel pisau robot itu. Donny memecah syal yang ditangkis tadi menjadi 20 dan berhasil menahan 19 pisau itu.


Salah satu pisau itu berhasil memotong kaki kananku. Sambil menahan rasa sakit, aku mengeluarkan petir dari langit yang langsung menyambar robot itu. Akibat gaya dorong dari sambaran itu, aku terlempar kearah Donny dan Shina juga aku kehabisan banyak tenaga.


"ARRGH..."


Donny merobek syalnya dan segera membalutkannya ke kakiku.


"Biar aku yang mengatasinya", "Bila serangan api dan jarak dekat tak mempat, artinya serangan ledakan jarak jauh pasti mempan", kata Donny marah.


"Don, jangan lakukan itu", balas Shina.


Donny tak menghiraukan perkataan Shina dan menjulurkan syalnya kearah robot itu. Robot itu sudah mulai malfungsi dan tidak jelas lagi bentuknya. Dia meraung raung dan berbicara tak jelas. Donny menggunakan kesempatan itu untuk membungkusnya dengan syal.


Syal Donny berubah menjadi biru bersisik naga. Dia tampaknya mengeluarkan semua tenaganya.


"Pergilah"


"Ke Jahanam"


Syal Donny yang membungkus robot itu langsung berbentuk bulat dan terbuka celah di bagian atasnya. Cahaya plasma biru terlihat menyambar ke atas menembus langit disertai suara gemuruh.


Donny menarik syalnya lagi. Warna kembali merah normal dan dia jatuh tersungkur.


"Tenang Shin aku tak akan merusak kota", ucap Donny.


Debu tanah menghilang, robot itu sudah lenyap.

__ADS_1


Tapi, mereka tak lagi ada di sana. Shina melihat kesana kemari dan melihat robot lain membawa Linda dan yang lainnya ke sebuah pesawat. Pintunya tertutup dan pesawat itu akan terbang ke langit.


"JANGAN KABUR KAMU!!", teriak Shina sambil mengikat pesawat itu dengan rantainya.


Mulutnya mengeluarkan asap, matanya mengeluarkan lidah api. Dia benar-benar marah dan menarik pesawat itu supaya tidak terbang lebih tinggi.


Api roket pesawat itu membesar dan mengangkat Shina yang masih tergantung ke langit. Ketika sampai di tengah kota terlihat tembakan laser dari robot keamanan Aquopora berdatangan ke arahnya.


Tak tinggal diam, pesawat itu menggunakan pelindung transparan yang langsung membuat rantai Shina terputus. Shina terbang bebas dan membentur pohon di taman kota. Sementara pesawat itu berhasil lolos dan menghilang.


Untungnya Shina berhasil selamat dan hanya terkena patah tulang pada kaki kanannya. Pandangannya mengkabur dan tak sadarkan diri.


......*......


Saat aku siuman, aku berada di rumah sakit. Ketika kesadaranku kembali aku langsung bangun dari kasurku. Aku cemas dengan keempat orang temanku yang ditangkap. Aku turun dari kasur sambil memegang dinding karena belum sepenuhnya siuman.


Ketika sampai di depan pintu kamar, dua orang berdiri menungguku di depan pintu.


"Kau sudah siuman, sekarang ikutlah dengan kami!", sambil menarik tanganku.


"Siapa kalian?", sambil menarik paksa tanganku.


"Hakim ingin menanyakan beberapa hal karena kalian bertiga telah membuat kerusakan lagi".


"Kerusakan, aku hanya ingin menolong temanku yang tertangkap".


"Aku rasa hakim akan senang mendengar cerita kalian", jawab temannya sambil memborgol tanganku.


Menaiki mobil polisi, aku di bawa keruang sidang bersama ketiga temanku. Mereka hanya menunduk dan membungkam ketika kutanyai. Aku tidak ingat jelas apa yang terjadi sebelumnya.


Di ruang sidang, hawa panas memenuhi ruangan. Detak jantungku tak karuan dan keringat dingin membasahi tubuhku. Donny dan Shina saling membuang muka. Aku mencoba menyatukan mereka, namun mereka justru membentakku.


Hakim memasuki ruang sidang, diikuti robot dan yang yang lainnya. Dr Jassen tak terlihat di manapun. Dia selalu meninggalkan masalah kepada kami dan menghilang begitu saja.


Sebuah robot datang membawa kertas holo yang berisikan data dari para pengamat bencana. Dia berjalan dan berdiri di depan hakim lalu berkata, "Menurut data yang kami peroleh, dilaporkan bahwa elemen petir memecahkan kaca-kaca kota, dan hampir memekakkan telinga orang-orang rentan. Elemen Api merusak jalan dan kendaraan. Untuk plasma, harus dijatuhi hukuman yang setimpal dengan ketiga temannya karena ikut serta dalam kerusakan kota".


"Begitu saja laporannya hakim yang terhormat, untuk vonis dan selanjutnya kami persilahkan", ucapnya sambil mengosongkan pandangan hakim.


"Sebelumnya, saya bertanya kepada nak bertiga, atas dasar apa kalian melakukan ini?"


"Tuan Hakim, maaf sebelumnya, tapi kami melakukan itu karena keempat teman kami ditangkap oleh para alien itu", jawab Donny lantang.


"Juga, bila Hakim mengizinkan, kami meminta bantuannya untuk membebaskan kami dan meminjamkan bantuan untuk menyelamatkan teman-teman kami", samsung Shina blak-blakan bicara.


"Siapa saja teman kalian?", Hakim mulai penasaran.


"A... Arina, Vanadia, Linda, dan Mabel".


"Sebentar", "Cevi kemari", kata Hakim itu sambil memanggil robot tadi.


Robot itu kemudian berbisik-bisik dengan Hakim dan dewan yang lainnya.

__ADS_1


"Maaf, tapi nama mereka tidak terdaftar sebagai orang resmi Aquopora, dengan kata lain keberadaan mereka ilegal dan tidak ditanggung pemerintah".


"Tunggu sebentar! Apa?"


__ADS_2