
Di saat Okta dan Yuki sedang bertarung dengan Arza. Donny bersama Arza bertarung di pesawat ukuran sedangnya. Debu-debu Kreza membentuk tubuhnya disamping meja makan. Dengan kekuatannya ia melelehkan pintu kabin seperti lilin dan melihat tidak ada orang disana.
Tiba-tiba dari atasnya meluncur kain merah menuju kepalanya. Kreza sontak mengelak kebelakang. Namun, tubuhnya langsung dililit syal Donny yang sudah bersembunyi di bawah karpet. Donny turun dari persembunyian sembari menekan tombol kecepatan cahaya.
Tanpa pilik panjang Kreza menyepak syal Donny sedikit saja dan syal itu seketika hancur seperti debu. Debu-debu itu kemudian memadat membentuk sebuah bunga. Donny mengisi tabung plasmanya dan langsung menembakkan kearah Kreza. Lagi-lagi plasma pas yang ditembak Donny ikut berubah menjadi debu sebelum mengenai Kreza.
Donny menjadi geram. Ia menembakkan segala kekuatan yang ia simpan dari Kreza lewat tabung itu. Tak ada satupun yang berhasil menggeser posisi Kreza. Meski begitu beberapa kali Kreza mengelak yang menghancurkan perabotan makan dan lemari di ruangan itu.
Tubuh Donny seketika kaku melihat semua upayanya tak berpengaruh kepada Kreza. Ia benar-benar tidak dapat dimusnahkan dan abadi. Keringat membasahi wajahnya dan matanya tak pernah mengedip sedikitpun. Dalam hatinya ia terus memarahi dirinya sendiri yang ketakutan seperti anak kecil.
Debu-debu tadi mendorong Donny dari belakang kearah Kreza. Selanjutnya debu itu memadat, membentuk kristal biru yang menjepit Donny dalam keadaan berdiri. Belum mau kalah Donny menggerakkan syal dilehernya. Dengan mudahnya Kreza mengendalikan serangan itu untuk menusuk bahu tuannya.
Ia meronta-ronta sekuat tenaga. Tapi kristal itu sangat keras dan kuat. Bahkan syalnya sendiri memerlukan tujuh lapisan untuk dapat menghancurkan batu kristal. Meskipun sudah diunjung tanduk Donny tetap bersikukuh akan membunuh Kreza.
"Kau ini tidak pernah menyerah ya", ejek Kreza sambil menujukkan gigi taringnya.
"Aku tidak akan mau bergabung dengamu lagi!"
"Oh, kau pikir aku mau kamu melakukan itu?"
Kreza mengepalkan tangannya. Ia kemudian meninju perut Donny hingga menembus punggungnya. Disaat itu juga Donny kemudian berubah menjadi lava cair yang mengalir dengan cepat ke belakang Kreza. Tak kehilangan akal, Kreza sempat merubah sedikit lava Donny menjadi debu sehingga perubahan Donny menjadi wujud manusia harus buntung tangan kiri.
Kepala Donny tiba-tiba terasa pening, matanya bercahaya oranye, dan kakinya mulai berubah menjadi debu. Rupanya kekuatan Kreza tadi adalah mengambil sisa tenaga milik Donny yang memaksa Donny untuk mati seperti Mabel.
"Kau bilang... teman-temanku akan hidup dengan damai",
"Tapi kamu mengingkarinya!!", bentak Donny kepada Kreza.
"Hehehe, oh ayolah.. mengapa aku harus melakukan itu?"
Donny menatap ke telapak tangannya yang mulai kabur. Tatapannya berubah menjadi lemah lalu berkata dia,
"Apa yang terjadi p-padaku?"
"Aku mengambil sisa tenagamu, kau tak punya tenaga lagi untuk beregenerasi",
"Jika kamu memaksa, itu akan membuatmu mati lebih cepat".
Kreza berjalan mendekati Donny lalu menarik rambutnya ke atap. Ia berbicara didepan wajah Donny yang sudah tak berdaya.
"Aku tahu kau akan menyadari rencanaku",
__ADS_1
"Sudah kuduga...",
"Kau memang alat yang bagus"
Donny seketika menjadi marah dan memukul Kreza dengan kepalan tangannya. Kreza dengan mudah menangkap tangan itu lalu membekukannya didalam es. Donny menjerit kesakitan. Es itu terus naik ke pundak, memaksa Donny menghancurkan seluruh lengannya kebawah menggunakan syalnya.
Syal itu kemudian melilit tangan Kreza yang masih menjambak rambut Donny. Lilitan yang lemah itu dengan mudah ditarik Kreza dengan tangan yang satunya. Ia kemudian menghujam kepala Donny ke lantai sambil berkata,
"Dasar cecunguk biadap!!"
Kreza menarik lagi wajah Donny yang sudah bonyok. Hidungnya patah dan sebagian wajahnya ditutupi darah. Lalu mengujamkannya lagi beberapa kali dengan penuh amarah.
Setelah Kreza mengungkapkan semua kekesalannya. Tiba-tiba lampu merah peringatan menyala. Pesawat tiba-tiba berguncang hebat. Dilihatlah oleh Kreza kedepan jendela kokpit. Tampak disana sebuah cincin cahaya yang ditengahnya terdapat lingkaran hitam pekat menutupi kilauan bintang-bintang disekitarnya.
"Benda it-?!",
"K-KAU MEMBAWA KITA MENUJU LUBANG HITAM?!!",
"DARI AWAL KAU MEMANG BERNIAT UNTUK MATI!!"
"KAU GILA?!"
Donny tidak mengangkap kepalanya dari lantai. Tetapi ia bisa berkata,
Kreza menegaskan rahangnya dan mulai terlihat panik. Ia mencoba membalikkan pesawat kemudian menekan tombol kecepatan cahaya berulang kali. Namun, pesawat itu justru mati dan perlahan bergerak maju sendiri. Cahaya bintang disekitar lubang hitam, bersinar kedalam pesawat. Mematahkan kesombongan Kreza yang sudah meremehkan Donny dalam hal pertarungan.
"Tidak... Ini tidak boleh terjadi",
"Aku tidak boleh gagal lagi!!", pekik Kreza ketakutan.
Kreza menumbuhkan sayap daun keluar pesawat. Belum sampai dua kepakan syap itu membeku dan tidka dapat bergerak. Ia terus mencobanya dengan api, air, tanah, kristal, kayu, bahkan es itu sendiri. Tetap tak berguna.
"Menyerahlah... Aku sudah menang", ucap Donny dengan tubuh yang tersisa badan dan kepala.
"Setidaknya kita mati bersama..",
"Bukan kan begitu Donny!!"
"Kau setia kepadaku untuk selamanya sekarang!!"
Donny mendangakkan kepalanya. Ia melihat Kreza yang mulai gila karena frustasi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hey.. Apa yang lucu!?"
"Kamu lihat darah yang melingkari pesawat?", ucap Donny.
Kreza mendangakkan kepalnya memperhatikan darah Donny yang membentuk garis kelangit pesawat dan membentuk lingkaran. Garis itu memisiahkan Donny dengan Kreza. Ketika Kreza sudah menyadarinya Ia langsung saja mencoba melompat ke sisi bagian Donny. Namun syal Donny sudah mengikat kakinya ke kursi kokpit.
Tiba-tiba pesawat itu terbelah dua. Bagian Kreza yaitu kokpit teratik ke dalam lubang hitam lebih cepat. Kreza menghancurkan syal Donny dan mencoba untuk melompat. Namun, usahanya digagalkan dengan angin yang melemparnya keluar dari pesawat. Kreza yang berada diluar kokpit langsung ditumbuhi es dan tertarik kedalam lubang hitam. Ia lenyap bersama ruangan kokpit dan menghilang untuk selama-lamanya.
Donny memakai roket syal di tangannya untuk keluar dari pesawat. Ia terbang menjauhi lubang hitam itu. Tetap saja, gaya tariknya yang kuat bukanlah tandingan sepadan bagi roket Donny.
Tangannya mulai ditumbuhi bunga es yang terus membeku hingga ke wajahnya. Nafasnya mulai berhenti. Oksigen di dadanya perlahan habis. Didalam hatinya ia bergumam,
'Ini berakhir...'
'Akhirnya... Aku bisa menciptakan perdamaian'
'Arina... Aku berhasil!'
.......
.......
...^^^.^^^...
"Ayah.. Dia membuka mata!"
"Ayah! Ayah! Lihat!!"
Suara anak kecil menganggu kepalaku ketika aku membuka mata. Terlihat seorang anak laki laki melompat-lompat bersemangat memanggil ayahnya. Aku melihat sekeliling, tampak puing-puing besi bangunan yang cukup bersih. Tubuhku terbaring di ranjang empuk dengan alat bantu pernafasan menempel di hidungku.
Tak lama kemudian datanglah seorang pria berbadan tegap bersama seorang wanita cantik disebelah kirinya. Wanita itu menatapku haru sambil menggendong seorang anak laki-laki tadi. Mereka berpakaian yang sama dengan yang kupakai dulu sewaktu kecil. Kaus putih dan celana panjang. Pria itu ditambah dengan almamater profesor yang mirip dengan Dokter Jassen dulu.
"Sudah sangat lama ya... Donny", ucap pria tadi.
"Si..siapa..?", aku membalas dengan suara lemah.
Pria itu menarik nafasnya lalu berkata,
"Aku benci mengakui ini...",
"Tapi ini aku... Keponakanmu..."
__ADS_1
.......
"Kuryakin... Okta Kuryakin...", jawabnya sambil ia melipat tangannya.